Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Memaafkanmu & Sampai Jumpa Lagi


__ADS_3

*******


Kao sangat senang bisa menemukan adiknya tanpa kurang suatu apapun, dan dirinya bersyukur karena setidaknya ia belum keduluan oleh Archel.


"Beruntung kita bertemu sebelum Archel. Jika sampai keduluan dia entah apa yang akan dia lakukan." Ujar Kao, Selin hanya tersenyum.


"Archel sudah menemukanku kak, jauh sebelum kak Araya mengabariku." Jawab Selin, Kao menginjak remnya mendadak, hingga membuat tubuh Araya dan Selin terdorong ke depan. Selin mengusap perutnya. Semua gerak gerik Selin diperhatikan oleh Araya dari depan.


"Kau serius Selin?" tanya Kao. Selin mengangguk, Kao menatap adiknya dari kaca spion kemudi.


"Iya kak, sudah hampir seminggu orang-orang diperkebunan bilang ada mobil dari kota yang selalu terparkir tidak jauh dari sana. Namun saat orang-orang itu ditanya mereka tidak bisa menjawab. Kata salah seorang pekerja nenek Soraya mereka memakai bahasa asing tapi bukan bahasa Inggris."


"Siapa nenek Soraya?" Tanya Araya.


"Dia orang baik yang mau menampung adikmu ini kak." Jawab Selin matanya perlahan mulai terpejam, ia sangat lelah berjalan menyusuri berhektar-hektar kebun untuk mencapai perkampungan itu.


Sesampainya di hotel, Kao mengangkat tubuh Selin. Ia merasa adiknya lebih kurus dari sebelumnya.


"Apa kebebasan seperti ini yang kau inginkan?" gumam Kao mencium kening Selin


Araya mengikuti langkah suaminya. Ia masih memikirkan tindakan Selin tadi saat di mobil. Apakah mungkin adik iparnya sedang hamil?


Karena asik memikirkan Selin Araya tak memperhatikan jika sedari tadi Kao terus menatapnya.


"Sayang, cepatlah! apa yang sedang kau pikirkan?" Kao tampak tak sabar menunggu istrinya. Araya tersentak lalu mengikuti Langkah suaminya.


"Tidak ada .." Jawab Araya singkat.


.


.


.


Ditempat lain Archel tampak gusar, ia sama sekali tak mendapatkan laporan sejak pagi. Biasanya dijam seperti ini anak buahnya sudah mengirim beberapa gambar Selin yang beraktivitas di kebun. Tapi mengapa hari ini sepertinya ada sesuatu yang aneh.


Archel mengambil ponselnya lalu menghubungi orang kepercayaannya.


"Bagaimana, apa ada perkembangan?" tanya Archel pada orang itu.


"Tidak tuan, sepertinya pagi ini nona tidak keluar dari rumah." Kata orang yang dipercaya mengawasi Selin di perkebunan.


"Awasi terus disana, besok kita akan langsung menjalankan rencana." Kata Archel. Bagaimanapun dia harus bisa menjalankan rencananya untuk membalas penghinaan yang keluarganya terima.


.

__ADS_1


.


.


Didi bangun dengan kepala yang terasa berat. Perutnya mual serasa diaduk-aduk seperti hari-hari sebelumnya. Ia berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Nyonya Clara masuk ke kamar putranya. Akhir-akhir ini Didi sering pulang ke rumah orangtuanya hanya untuk sekedar menyapa dan memeluk ibunya. Kebiasaan aneh baru Didi, jika sehari saja tidak memeluk dan mencium sang mama tubuh Didi akan terasa lemas dan dia akan terus muntah.


"Ada apa lagi denganmu sayang?" nyonya Clara terlihat cemas melihat putranya muntah tiada henti.


"Mama .." Wajah Didi pucat, ia bersandar di pelukan sang mama. Biasanya jika seperti ini mualnya akan hilang.


Arya bersandar di pintu, ia mengikuti ibunya tadi. Setiap pagi Didi akan membuat keributan dengan mualnya. Dan benar saja, tubuh kekarnya kini bersandar di pelukan ibunya.


Arya tersenyum, Ia bersyukur Tuhan memberi Didi balasan atas kelakuannya. Dia mengalami cauvard sindrom atau sindrom simpatik. Dia yang merasakan morning sickness disaat Selin justru dengan enteng menjalani masa kehamilannya.


"Sebesar ini masih saja manja." Desis Arya, Didi hanya mengerucutkan bibirnya.


"Apa masih tidak nyaman?" tanya nyonya Clara namun Didi hanya menggeleng.


"Kau ini seperti orang hamil saja setiap pagi muntah seperti ini." Kata nyonya Clara. Didi diam tercenung, apa jangan-jangan Selin sekarang sedang mengandung anaknya?


Disaat semua sedang serius dengan Didi, ponsel Arya berdering. Nayla memanggil, dengan tersenyum dia mengangkat panggilan wanita itu.


"Halo .."


"Tuan bisakah anda kemari? nona Selin menghilang." Kata Nayla suaranya terdengar parau.


"Apa sesuatu terjadi pada nenek kak?" tanya Didi.


"Iya, dan aku harus kesana." Kata Arya ia mendekati ibunya lalu mencium kening sang ibu. --- Arya pergi dulu ma." Kata Arya.


.


.


.


Selin sudah tampak segar. Rambutnya yang setengah basah di biarkan terurai begitu saja. Ia duduk sambil melamun. Kao datang menghampiri Selin.


"Ada apa sayang? apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Kao mengusap rambut sang adik.


"Kapan kita akan pulang kakak?" tanya Selin, tampaknya ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan ibunya.


"Nanti malam .. kenapa?" Tanya Kao.


"Aku ingin menemui temanku dulu."

__ADS_1


"Baiklah, tapi kau akan dikawal oleh orang-orangku." Jawab Kao.


Selin mengangguk. Malam ini dia akan menemui Didi untuk menyelesaikan segalanya. Setelah itu Selin akan mengubur perasaannya untuk Didi.


Malam hari Selin tiba disebuah klub Araya memaksa ingin menemani adik iparnya itu. Akhirnya dengan berat hati Selin mengijinkan.


"Selamat datang nona Selin." Sapa penjaga pintu, tentu saja mereka mengenal siapa Selin. Araya menatap heran. Bagaimana adik iparnya bisa dikenal di tempat seperti ini.


Selin hanya mengangguk, tapi kemudian dia bertanya pada salah seorang penjaga pintu itu.


"Apa Didi ada didalam? tanya Selin.


"Ada nona .." Jawab penjaga itu Selin mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan menyerahkan pada penjaga itu.


"Bagi dua dengan temanmu." Kata Selin lalu melenggang pergi diikuti oleh Araya dan 4 orang pengawal Kao.


Selin mengetuk pintu ruangan Didi. Satu hal yang sangat jarang ia lakukan.


"Masuk .." Ujar Didi mendengar ketukan pintu.


Selin masuk ke ruangan itu, Didi menatapnya tak percaya dia langsung bangun dari duduknya dan memeluk Selin.


Didi terisak memeluk Selin. sedangkan Selin diam mematung. Wajah Didi terlihat begitu tirus. Bahkan dagunya kini ditumbuhi bulu-bulu halus.


Araya menatap heran dengan interaksi keduanya. Apa pria ini tidak tahu siapa Selin. Beraninya dia menaruh tangannya di tubuh adik iparnya yang berharga.


"Maafkan aku yang bodoh ini. Maaf Selin, aku menyakitimu." Ujar Didi penuh penyesalan.


Selin tak kuasa menahan haru, ia membalas pelukan Didi, dan terisak. Hatinya benar-benar sesak. Ia membenci Didi, namun rasa cintanya lebih besar dan kuat.


"Sudahlah, semua sudah berlalu." Kata Selin parau.


"Apa kau mau memaafkanku?" tanya Didi penuh harap.


Selin terdiam. Tatapan mata Didi begitu sendu. Dan hati Selin seakan tersayat melihat tatapan mata itu. Itu melukai hatinya. Selin mengusap air mata Didi.


"Aku kemari untuk memaafkanmu. Dan sampai jumpa lagi. Karena aku akan pulang. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Jadi jangan merindukan aku ya." Kata Selin menyelipkan candaan untuk Didi. Namun bukannya tersenyum Didi kembali menangis.


"Tidak bisakah kau disini saja. Aku benar-benar minta maaf padamu." Kata Didi.


Selin menggeleng, namun bibirnya tersemat senyum tipis. Ia kembali memeluk Didi.


"Suatu saat aku akan kembali. Jika kau bisa memastikan hatimu hanya untukku aku akan kembali menemuimu."


⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


Jangan lupa jempolnya buat like vote dan komen.


__ADS_2