
********
Setelah mobil yang membawa Dian dan Gerry melaju. Zafa menunggu kakek dan neneknya datang berikut oma dan opanya. Sebuah mobil mini bus mewah berhenti di depan mereka.
"Oma, opa .... " Sambut kelima anak-anak Gerry.
Nyonya Arini dan Gama memeluk satu per satu cucu mereka. Zafia memeluk lengan opa nya dengan erat.
"Semua akan baik-baik saja sayang percaya pada opa." Zafia mengangguk lemah. Tak lama Arimbi dan Hanafi ikut bergabung.
"Dimana istrimu sayang?" tanya Arimbi pada Zayn.
"Judy sedang tidak enak badan nenek. Mungkin dia terlalu lelah dengan persiapan pernikahan kami yang serba mendadak. Tadinya dia ingin ikut tapi aku melarangnya, takut malah nanti kepikiran kalau sampai dia kenapa-kenapa." Jawab Zayn.
"Baiklah ayo kita segera berangkat." Kata Zafa, semua naik kedalam mini bus mewah itu. Zafrina duduk di sebelah Zayana, sedangkan Zafa duduk bersebelahan dengan Zafia. Zayn memilih duduk di depan di samping kursi pengemudi.
"Kakak, Fia takut ... "
"Ada kakak disini. Fia tenang saja ok ... !!" Zafa mengusap rambut Zafia dengan lembut.
"Kenapa mama ingin merahasiakan semua ini dari kita?" tanya Zayana pada Zafrina kakaknya.
"Entahlah, apapun yang menjadi keputusan mama kita harus hargai. Yang terpenting kita akan memberi mama dukungan sebelum melakukan operasi."
Flashback
Zafrina menghadang Zafa di depan kamar dengan tatapan menyelidik. Mendapat tatapan tak biasa dari Zafrina membuat Zafa kesulitan menelan salivanya.
"A-ada apa Ina ... " Zafa mengusap dahinya yang mulai berkeringat.
"Apa yang sedang kakak sembunyikan dariku?"
"Tidak ada Ina .... " Jawab Zafa.
"Kakak kita ini keluarga, aku tahu kakak tau sesuatu tentang mama. Apa sakit mama serius?" Zafa tampak berpikir, dia tidak mau lancang mendahului papanya yang lebih berhak untuk memberitahu yang lainnya mengenai penyakit mamanya.
"Aku akan bawa kau menemui papa. Biar papa yang jelaskan padamu."
Setelah berkata demikian, Zafa menemui Gerry dan mengatakan yang jika Zafrina meminta penjelasan tentang penyakit Dian, bukannya marah Gerry justru meminta Zafa memanggil anggota keluarga yang lain. Gerry ingin terbuka dan tidak menutup-nutupi masalah ini. Dia melakukan ini pun karena ada kesempatan. Setelah acara pernikahan Zayn tadi Dian langsung masuk ke kamar untuk beristirahat.
"Kenapa papa memanggil kami?" tanya Zayn, Zayana dan Zafia pun merasa heran
"Sebentar sayang, tunggu oma dan yang lainnya datang dulu." Tak berapa lama semua keluarga sudah berkumpul, papa dan mama Gerry serta ibu dan ayah Dian turut hadir dengan pertanyaan yang sama yang bersarang di kepala mereka masing-masing. Untuk apa mereka di kumpulkan?
Gerry berdehem lalu menatap semua yang ada di ruang kerjanya.
__ADS_1
"Aku tidak akan berbicara panjang lebar. Aku mengumpulkan kalian disini untuk mengatakan sesuatu mengenai Dian. Saat ini kondisi Dian sudah dikatakan jauh membaik. Tapi masih ada tindakan yang perlu di lakukan," Gerry membagi tatapan mata pada semua orang yang ada disana dan berakhir di kelima anaknya.
"Malam nanti Dian akan menjalani operasi pemasangan Ring jantung." Semua yang ada di ruangan itu terperangah, Anak-anak Gerry yang lain terkejut terkecuali Zafa karena lebih dulu mendengarnya.
"Tapi tadi papa dan mama bilang mau ke Singapura?" Zayana menatap Gerry dengan mata berkaca-kaca.
"Itu hanya alasan yang dipakai mama kalian. Agar kalian tidak terlalu mengkhawatirkannya. Kalian tau bukan jika kalian sedih mama akan lebih sedih lagi. Maka dari itu setelah kalian tahu papa harap kalian tetap memasang wajah seperti biasanya. Papa berharap nanti saat sebelum operasi kalian datang dan memberi dukungan pada mama agar mama mendapat semangat untuk sembuh." Kata Gerry, nyonya Arimbi bahkan menangis di pelukan suaminya.
"Ibu dan ayah tenang saja. Aku dan Rian sudah mendatangkan beberapa dokter ahli untuk menangani operasi ini.
Flashback off
Dan di sinilah sekarang mereka berdiri. Semua anggota kkeluarga Gerry berkumpul di depan ruang operasi. Sebentar lagi perawat akan mendorong brankar Dian. Jadi mereka lebih memilih menunggu di sana.
.
.
.
Dian termenung setelah berganti baju pasien, Gerry tak pernah sedikitpun bergeser dari duduknya. Dian menatap Gerry dan tersenyum lembut. Senyum yang mampu menghangatkan hati Gerry. Bahkan hingga detik ini Gerry masih sering berdebar jika melihat senyum Dian.
"Apa kau sudah siap?" Dian mengangguk. Gerry meraih jemari Dian dan mengecupnya. ----- "Tenanglah, semua yang ada di ruang operasimu adalah dokterยฒ pilihan."
"Kenapa kau menggodaku disaat seperti ini sayang."
Dian menarik sudut bibirnya. "Aku hanya mengambil ciuman penyemangatku."
"Jangan tegang, rileks saja. Aku akan menemanimu di dalam sana." kata Gerry.
Tak lama dua perawat masuk dan memberitahu Dian jika sudah waktunya dia menjalani operasinya. Sebelumnya Dian memang disuruh puasa sejak berada di rumah dan hanya Gerry yang tahu.
Gerry mengiringi brankar Dian yang di dorong oleh perawat. Mereka memakai lift untuk menuju ruang operasi yang berada di lantai 5 gedung rumah sakit itu. Sesampainya di sana Dian tidak akan menyangka akan mendapat kejutan dari keluarganya.
Keluarga Gerry pun sama berdebarnya saat menanti brankar Dian melewati mereka.
"Mama .... " Kelima anak Dian berseru kompak saat brankar Dian tiba di depan pintu ruang operasi. Dian membelalakkan tak percaya. Seketika air matanya luruh. Kedua perawat itu menyingkir memberi waktu pada keluarga itu untuk berbicara.
"Mas ini .... " Dian menatap Gerry. Gerry yang tau arti tatapan mata Dian tersenyum.
"Aku tidak bisa menyembunyikan hal sebesar ini pada mereka. Kau adalah ibu yang sangat berharga bagi mereka. Mereka berhak tau kondisimu sayang."
Zafia menghambur memeluk Dian. "Mama harus segera sembuh dan sehat. Kalo mama sakit siapa yang akan bantu Zafia mengikat rambut."
Zayana pun mendekat. "Mama harus semangat, dan harus sembuh. Aku juga mau nanti mama mendampingiku saat aku menikah seperti Zayn. Jadi mama harus semangat." Dian tidak bisa membalas ucapan kedua putrinya dia hanya mengangguk dengan linangan air mata yang sepertinya tak bisa surut.
__ADS_1
Zafa dan Zafrina turut mendekat dan memeluk Dian.
"Mama harus sembuh demi kami."
Zayn pun mendekat dan mengecup pelipis ibunya.
"Mama adalah ibu terhebat yang aku kenal. Mama pasti sembuh." Ujar Zayn.
Zayn mengusap air mata Dian dan memberi senyuman pada Dian. Setelah kelima anaknya kini giliran orang tuanya dan mertua Dian yang maju untuk menyemangati Dian.
Brankar Dian kembali di dorong masuk di ikuti Gerry. Kelima anak Dian saling berpelukan dan menguatkan satu sama lain.
Dian masih menunggu dokter anastesi. Matanya masih menatap langit-langit ruang operasi itu. 3 dokter terbaik di datangkan oleh Gerry untuk menyertai dokter di rumah sakit itu. Gerry tidak mau ada sedikit pun masalah nantinya. Karena dokter sempat mengatakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi selama operasi berlangsung.
Gerry berdiri di samping Dian dan mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut.
"Aku akan menemanimu hingga semuanya selesai."
Tak butuh waktu lama Dian sudah mulai menjalani tindakan operasi. Meskipun dokter ahli yang didatangkan olehnya mengatakan jika saat ini operasi pemasangan ring jantung atau stent sudah umum dan prosesnya tidak rumit. Hanya saja resikonya tetap harus di pertimbangkan.
Keluarga Dian dan anak-anaknya menunggu resah. Sudah 1 jam masih belum ada tanda-tanda Dian akan keluar. Zafia tertidur dengan kepala berada di pangkuan Zafa. Sementara Zafrina dan Zayana masing-masing bersandar di pundak Zayn kanan kiri.
"Nenek dan oma ke kamar saja. Nanti jika mama sudah di bawa ke ruang perawatan Zafa kabari. Jangan sampai kalian sakit. Nanti mama malah kepikiran." Kata Zafa. Kedua wanita paruh baya itu mengangguk dan akhirnya mereka diantar oleh suami mereka naik ke ruang pribadi yang memang disiapkan khusus untuk keluarga Gerry.
Selang 30 menit Brankar Dian sudah di dorong oleh perawat. Hanya Zayn, Zayana dan Zafrina yang berdiri mendekat. Sementara Zafa mengangkat tubuh Zafia yang terlelap.
"Papa bagaimana operasinya?"
"Semuanya lancar sayang, berkat doa kalian." Ucap Gerry seraya tersenyum --- "Ayo sekarang ke ruangan mama." lanjut Gerry.
Keesokan harinya semua anak-anak Dian sudah terbangun dan mengelilingi brankar ibunya. Tak ada lagi raut kesedihan yang ada raut kebahagiaan dari wajah semua orang.
"Maaf sudah membuat kalian khawatir." Kata Dian.
"Lain kali jika ada apa-apa mama bilang pada kami. Jika mama diam saja seakan-akan kami ini anak yang tidak berguna." Kata Zayn, Dian mengangguk. Judy, Selin dan Didi ikut menjenguk Dian. Ruangan itu ramai penuh canda tawa. Dian hanya menatap semua orang yang ada di sekelilingnya dengan penuh rasa syukur.
...**Tamat...
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Alhamdulillah othor tiba di penghujung kisah keluarga mereka. Terimakasih untuk kalian para pembaca yang setia menemani setiap tulisan othor dengan like komen dan gift dari kalian.
Sampai bertemu di kisah yang lain. Semoga kalian sehat selalu
Malak boleh ga seh berhubung sudah tamat gift nya di banyakin donk ๐๐๐**.
__ADS_1