
⛅ Selamat membaca ⛅
"Mas, bangun ..!" Dian menggoyangkan tubuh Gerry, suaminya itu dengan enggan membuka matanya perlahan.
"Ada apa sayang?" tanya Gerry dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Aku dan anak²mu lapar."
Gerry meraih ponselnya di atas nakas, ia melihat jam digital itu masih menunjukkan angka setengah tiga.
"Tapi ini masih terlalu pagi sayang." Gumam Gerry setengah mengantuk.
Dian merasa kesal dengan suaminya yang sama sekali tidak peka. Dan justru malah kembali tertidur.
Dian turun dari ranjang dan berjalan mendekati koper miliknya. Lalu ia segera memakai setelan celana kulot dan blouse berwarna navi.
Setelah memakai semua pakaiannya Dian melirik ke arah ranjang yang beberapa waktu lalu mereka gunakan untuk bercinta.
Dian mendekati lagi ranjang itu lalu berkata setengah berbisik di telinga Gerry.
"Baiklah, lanjutkan tidurmu. Aku dan anak kita akan keluar mencari makan."
satu detik
dua detik
tiga detik
Mata Gerry langsung terbuka lebar. Seketika ia terduduk dari tidurnya. Dan menelisik istrinya yang kini sudah rapi.
"Kita pesan saja. Hotel ini kan milik kita sayang." Ujar Gerry sembari menguap.
"Apa kau tahu apa yang ingin ku makan?" tanya Dian dengan tatapan jengkel. Gerry menggeleng.
"Kau belum mengatakan apa apa padaku, bagaimana aku bisa tahu."
"Nah itu ngerti, kenapa mas justru mengusulkan untuk memesan di hotel?" ketus Dian.
"Sayang, ini jam berapa kamu lihat deh."
Mata Dian berkaca kaca. Baru kali ini Dian merasa keinginannya tidak terpenuhi.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan ajak Nino saja. Sepertinya dia lebih layak menjadi ayah anak anakku." Dian yg hendak beranjak pergi, langsung berbalik saat Gerry sudah mencekal pergelangan tangannya.
"Sayang, maafkan aku ya. Sekarang katakan apa yang ingin istri dan anak anakku makan? daddy akan belikan apapun yang kalian mau?"
"Kita mau martabak telur di pinggir taman kota." Ujar Dian semangat. Mendengar permintaannya akan dikabulkan Gerry.
Rahang Gerry seketika hampir terjatuh mendengar permintaan istrinya.
"Ini sudah hampir pukul 3 sayang. Apa kau yakin masih ada pedagang di sana?" Tanya Gerry ragu, namun Dian tampak begitu antusias. Dan Gerry tak ingin membuat istrinya bersedih. Dengan menahan kantuk, Gerry berjalan ke kamar mandi untuk sekedar mengembalikan kesadarannya.
Ia lantas mengambil kaos oblong dan memakainya. Dengan senyum yang sedikit dipaksakan Gerry meraih jemari Dian.
"Ayo .. jangan sampai anak-anak kita kelaparan."
Dian tersenyum puas, keduanya keluar dari hotel dengan berjalan kaki. Semua tak luput dari permintaan Dian yang Gerry rasa semakin aneh.
"Itu dia mas.." Dian menunjuk gerobak yang sedikit lusuh menurut Gerry.
"Apa kau yakin ingin beli disitu? kita bisa cari pedangan lain." Tawar Gerry, ia merasa tak yakin dengan pedagang yang di minati istrinya itu.
"Iya ih .. sudah ga usah banyak nanya. Kalo mas ga mau nemenin Dian, mas kembali ke hotel saja. Biar Dian nanti kembali ke hotel sendiri, kalo Dian sudah selesai." Ujar Dian ketus namun langkahnya tetap menghampiri pedagang yang sepertinya sedang tertidur menunggu pelanggan.
"Neng Dian ..!" seru kakek itu terkejut.
"Iya Abah, apa masih martabaknya?" tanya Dian. Pria tua itu mengangguk antusias.
"Masih neng, neng Dian mau yang seperti biasa?" tanya kakek penjual itu.
"Iya bah. Abah sendirian, Ara mana bah?"
"Sudah abah suruh pulang neng. Besok kan dia sekolah." Ujar kakek itu, Dian terlihat begitu akrab dengan sang penjual martabak. Gerry yang dibuat penasaran pun akhirnya mendekat.
"Sayang ..."
Dian menoleh ke arah Gerry lalu Dian memanggil Gerry dengan isyarat agar lebih dekat dengannya. Setelah Gerry mendekat, Dian memperkenalkan penjual martabak itu pada Gerry.
"Mas, ini kenalin namanya Abah Usman panggilannya Abah Us Us. Beliau ini langganannya kakek" kata Dian.
Abah Us Us dengan sungkan menjabat tangan Gerry.
"Saya Gerry bah, suami Dian." Kata Gery memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Wah suami neng Dian teh kasep pisan." Puji Abah Usman. Gerry hanya tersenyum. Ia terus memperhatikan pergerakan pria tua itu. Tangan Abah Usman tampak terus bergetar tanpa henti, namun Abah juga terlihat begitu terlatih sekali dalam mengolah martabak untuk istrinya itu.
"Bah, gimana? tawaran Dian waktu itu udah dipikirkan belum?" ujar Dian memecah keheningan.
Abah Usman tersenyum sungkan mengingat tawaran Dian. "Abah sepertinya tidak bisa neng. Abah juga terimakasih neng udah mikirin nasib cucu Abah. Tapi Abah beneran ga enak. Neng sudah terlalu baik sama keluarga Abah.
"Ini neng.." ujar Abah menyerahkan sepiring martabak pesanan Dian.
"Dian sama sekali ga keberatan. Justru sekarang Dian tanya sama Abah. Abah ga kasihan sama Ara? dia pinter lho. Sayang kan kalo cuma tamat SMA." Dian terus berbicara, sedang Gerry hanya jadi penonton, karena belum paham situasi.
"Martabaknya keburu dingin sayang." Tegur Gerry, Dian pun hanya nyengir kuda. Ia segera mengambil sepotong dan memakannya dengan lahap. Gerry pun melakukan hal yang sama. Namun belum sempat tertelan, Gerry langsung tersedak dengan wajah yang begitu merah. Dian segera meraih botol minum dan memberikannya pada Gerry sembari menepuk punggung Gerry dengan perlahan.
Gerry berdehem untuk menghilangkan rasa panas yang menjalar di dadanya.
"Kenapa martabak ini pedas sekali?" protes Gerry pada istrinya. Abah Usman tersenyum, dulunya ia pun merasa aneh dengan pesanan Dian. Meminta isian martabaknya langsung dicampur dengan cabai utuh dengan jumlah tak main-main.
"Ini enak mas." Ujar Dian acuh, ia tetap menikmati martabak telur itu walau dengan wajah berkeringat.
.
..
...
"Burhan, apa kau serius ingin menghabisi pemilik klub tempat putrimu bekerja." Tanya teman Burhan.
"Ya tentu saja Son, putriku disana dipaksa bekerja bukan dasar kemauan dia sendiri." Jawab Burhan dengan tatapan dingin seraya menghembuskan asap rokok di depan Soni.
"Tapi kau harus berhati-hati. Dia bukan orang sembarangan." Kata Soni memperingati teman lamanya itu.
Di tempat lain, Aldo lagi lagi menyiksa Veni di atas ranjang, hingga gadis itu tak sadarkan diri. Setelah itu Aldo membiarkan tubuh Veni tergeletak tak berdaya. Keesokan harinya, Veni terbangun dengan wajah pucat. Nyeri dibagian bawah perutnya begitu terasa. Veni merintih kesakitan.
"Aarggh.. perutku sakit sekali." Pekik Veni. Tak lama seorang pengawal yang bertugas menjaga Veni langsung masuk ke kamar gadis itu.
"Ada apa denganmu? pagi pagi sudah bikin ribut." Bentak pengawal itu.
"To-long aku perutku sakit sekali." Ujar Veni terbata, Pengawal itu tak berani mendekati Veni. Ia pun bergegas ke luar memanggil Aldo yang tertidur di ruang kerjanya.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Hay semua. Otor mau mengucapkan rasa terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendoakan kesehatan untuk kami sekeluarga dan kesembuhan untuk anak aku. Alhamdulillah pemeriksaan hari ini hasilnya bagus paru paru anakku juga bersih. Semangatku bangkit lagi. Semoga othor nanti ga sampai akhir bulan depan kisah ini bakalan tamat. Biar ga bosen juga yang baca.
__ADS_1