Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 37


__ADS_3

🌼Selamat membaca🌼


Dian tersadar dari pingsannya. Dia langsung terduduk namun kepalanya terasa berdenyut. Gerry langsung memeluk tubuh Dian.


"Sayang.. Jangan seperti ini lagi. Kau membuatku hampir tidak bernafas." Ucap Gerry, Dian tersenyum lemah, karena saat ini mereka di saksikan oleh 4 pasang mata.


"Mas, aku malu." Ucap Dian lirih, Gerry langsung melepas pelukannya.


"Biarkan aku mengecek kondisi Dian." Ucap Arya mendekat. Gerry terpaksa sedikit beralih memberi ruang Arya untuk memeriksa Dian.


"Dian apa aku boleh tau sesuatu?" tanya Arya, Dian mengangguk.


"Apa kau pernah mengalami kecelakaan sebelumnya?" tanya Arya.


Dian mengangguk. Dia memang selama ini selalu memendam semuanya sendirian tanpa memiliki tempat berbagi. Sedang Sasa sahabatnya, sejak lulus SMP mereka berpisah karena Sasa pindah ke ibu kota.


"Apa..?" tanya Arya. Dian menghela nafasnya berat lalu ia mulai membuka kisah kelamnya.


"Dulu setelah orangtuaku meninggal, saat itu paman Burhan dan Veni minta aku membelikan sarapan untuk mereka. Tapi aku tidak punya uang. Karena uang hasil bekerjaku sudah diminta bibi, dan sisanya sudah ku pakai untuk membayar sekolah, tapi mereka ngotot minta aku membelikan sarapan. Sampai aku di seret di tepi jalan raya. Veni langsung mendorongku. Saat itu dari arah samping ada mobil yang melaju kencang hingga aku tertabrak. Setelah itu paman Burhan marah pada pemilik mobil dan meminta uang ganti rugi dengan alasan untuk berobat Dian, tetapi nyatanya uang itu justru dipake mereka untuk bersenang-senang. Setelah itu setiap Dian tidak menuruti kemauan mereka, mereka selalu mengancam akan melemparkan Dian ke jalan lagi. Dian takut.. !" Ujar Dian memejamkan matanya dan menutup telinganya . Bayangan saat dirinya tertabrak mobil dengan keras selalu menghantuinya. Bahkan dulu pergelangan tangannya sempat retak, beruntung ia di tolong oleh seorang pria paruh baya yang begitu baik mau membiayainya berobat.


Gerry langsung menggeser tubuh Arya, hingga pria itu hampir terjengkang kebelakang. Gerry langsung merengkuh tubuh Dian.


"Ssstt.. sekarang tidak akan ada yang berani mengancammu. Kau istriku, kau istri seorang Gerry Ardana. Aku pastikan mereka semua yang telah menyakitimu akan menderita." Ucap Gerry, Dian masih memejamkan matanya. Sepertinya pikirannya terlalu lelah, hingga akhirnya ia kembali tertidur.


Gerry perlahan meletakkan Dian di atas ranjang. Matanya lekat menatap sang istri. Ia beranjak dari sisi ranjang dan meraih ponselnya. Ia menghubungi Sigit untuk segera mencari pelaku yang hampir menghilangkan nyawa istri dan ibunya.


"Aku akan kirimkan foto dan rekaman CCtv padamu. Dalam waktu satu jam aku ingin dia segera ditangkap." Ujar Gerry tegas.


"Baik tuan akan saya laksanakan." Jawab Sigit


"Bagaimana bisa kejadian seperti ini jeng?" tanya nyonya Clara.

__ADS_1


"Saya juga tidak tau jeng, kejadiannya cepat sekali. Tadinya posisi Dian ada di kiri saya, tapi tiba² dia menarik tangan saya hingga saya terpelanting ke belakang. Untung saya ga pake sepatu hak tinggi. Masih bisa jaga keseimbangan. Tapi saya ga nyangka justru tubuh Dian terdorong ke arah mobil. Untungnya tadi ada pria yang nolong Dian. Kalo ga, duh saya ga kebayang jadi apa Dian tadi." Tutur nyonya Arini, bahkan membayangkan kejadian tadi saja membuat tubuhnya merinding.


"Mah, kita bawa Dian pulang!" ujar Gerry langsung mengangkat tubuh Dian.


Didi mengikuti langkah Gerry, ia membantu membukakan pintu mobil untuk Dian. Setelah meletakkan tubuh Dian, Gerry mengatur posisi jok Dian agar Dian merasa nyaman.


"Gue bakalan bantu Sigit menangkap pelakunya ." Ucap Didi, Gerry menatap sahabatnya singkat lalu mengangguk.


Tak lama Gerry meninggalkan pelataran resto milik nyonya Clara.


"Gue bakal pastiin pelakunya akan mendekam lama di penjara." Ucap Didi tangannya terkepal kuat.


Ia pun segera meninggalkan resto setelah mendapat laporan dari Sigit bahwa pelaku yang hampir mencelakai Dian adalah OG di perusahaan Gerry.


Veni tidak tau bahwa nyawanya sedang di ujung tanduk. Dia kembali ke kost kecil di dekat perusahaan. Kebetulan daerah itu tidak terlalu ramai. Veni berjalan sendirian, ia tak menyadari ada dua orang pria tinggi besar mengikuti langkahnya. Salah satu diantaranya memukul tengkuk Veni hingga pingsan. Lalu dua orang itu membawa Veni ke rumah kosong sesuai perintah tuannya.


Sigit dan Didi sudah berada di depan pintu kost Veni, namun sepertinya kost itu kosong karena lampu dalam dan lampu diluar kost mati.


Sigit membuka paksa kamar kost Veni. Namun ternyata sesuai dugaannya gadis itu tidak ada disana. Namun pakaian dan barang²nya yang lain masih ada disana.


Dengan ragu Sigit menghubungi Gerry.


"Bagaimana, kau sudah meringkusnya?" tanya Gerry. Dengan suara sedikit bergetar Sigit menjawab.


"Maafkan saya tuan, saya tidak dapat menemukan gadis itu."


"Apa aku harus menggantimu Sigit? tugas semudah ini kau tidak becus menanganinya?" Gertak Gerry, Sigit menelan salivanya kasar.


"Sepertinya ada yang mendahului kita tuan."


Gerry mengepalkan tangannya, lagi - lagi dia telat selangkah dari Rian. "Si*alan .. sepertinya Rian sudah bergerak mendahului kita." Gerry menggengam erat ponselnya, tatapan matanya penuh amarah. Lagi² pria itu ikut campur urusannya. Sebenarnya apa yang diinginkan Rian? Gerry memejamkan matanya mencoba menekan amarah yang hampir menghanguskan hatinya.

__ADS_1


"Tidak ada yang boleh merebutmu dariku Dian." Desis Gerry dia menghela nafasnya berat.


Dian terbangun dari tidurnya, perutnya terasa berat tertindih tangan Gerry yang memeluknya dengan posesif.


"Aku pasti sudah membuatmu begitu khawatir, maafkan aku mas. Aku tidak bisa menjaga diriku sendiri." Ujar Dian, tangannya menyentuh rahang tegas Gerry. Dian mengusap perlahan alis mata Gerry yang tebal, beralih ke hidung mancung suaminya, lalu tangannya bergerak turun mengusap bibir Gerry. Dengan gerakan perlahan Dian mengecup bibir Gerry. Sudut mata Dian basah. Mengingat kejadian tadi, bagaimana jika ia tak selamat. Bagaimana nasib kedua anaknya." Semakin memikirkannya dada Dian semakin terasa sesak. Gerry membuka mata kala mendengar suara isakan Dian.


"Kenapa kamu menangis sayang? apa ada yang terasa sakit?" Gerry langsung terduduk di hadapan Dian. Gadis itu semakin terisak dan meringsek di pelukan Gerry.


Gerry mengelus perlahan puncak kepala Dian, sesekali mengecupnya. Nyaman, itulah yang keduanya rasakan saat ini.


"Aku tidak bisa membayangkan, jika tadi aku tidak selamat. Bagaimana dengan Zafa dan Zafrina?" ucap Dian dengan suara parau.


"Ssstt .. aku tak akan membiarkan semua itu terjadi padamu, percayalah!!" Ujar Gerry. Ia kembali mempererat pelukannya.


.


.


.


Di sebuah rumah kosong, Veni mulai membuka matanya, kepalanya terasa berat.


"Dimana aku?" Veni terkejut mendapati tubuhnya terikat. Dan mulutnya tertutup lakban.


Dia terus menggerakkan badannya. Ada apa sebenarnya? siapa yang menculikku disini?" batin Veni bertanya².


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Duh kalo banyak pelakor udah biasa ya!! otor lebih suka banyak pebinor, biar kayanya Dian yang imut itu keliatan pemes kaya artis gitu.. 😂😂.


Kalo garing ga usah maksa ketawa

__ADS_1


__ADS_2