Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Cemas


__ADS_3

*********


Selin sama sekali tak terganggu dengan kehadiran Didi. Bahkan ketika Didi mengecup dan memagut bibirnya Selin masih diam saja. Perlahan Didi menurunkan tangan kanannya dan mengusap perut Selin dengan lembut.


"Semoga kau benar-benar tumbuh di perut Momy. Dan Dady berharap kelak kau bisa melindungi momy jika Dady tidak bisa lagi bersama kalian."


Saat Didi berniat menyusul istrinya di mansion Gerry, tanpa sengaja dia mendengar perkataan Dian pada Selin. Ia merasa terharu sekaligus tak tega, jika Selin harus merasakan gejala morning sickness. Karena dia pernah merasakannya dan itu sangat membuatnya menderita. Didi baru mengetahui jika dirinya mengalami morning sickness setelah hampir 5 bulan lamanya berjuang melawan rasa tak nyaman karena terus muntah. Bahkan sesuai ucapan Arya jika 4 bulan setelahnya Didi pagi itu merasakan sakit perut yang begitu dahsyat. Rasanya seperti diaduk-aduk. Seperti ingin buang air tapi tidak bisa. Dan sakit itu timbul tenggelam hingga puncaknya ketika menjelang siang, rasanya ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam perutnya. Hingga Didi jatuh pingsan. Dan itu adalah pengalaman yang tak pernah bisa ia lupakan.


Didi kembali mengecup bibir Selin. "Aku harus pergi, menyelesaikan semua kemelut yang menyelubungi mu selama ini. Aku akan korbankan nyawaku agar kau dan Judy bisa tenang menjalani kehidupan kedepannya.


Didi pergi dari mansion Gerry menuju ke tempat dimana Archel berada.


Archel sudah memutuskan ia akan konsen ke planning awal, ia akan melenyapkan putri dari Selin. Setelah itu dia akan kembali ke negaranya.


Dengan tangan berbalut perban, Archel keluar dari persembunyiannya. Hari ini juga dia akan melancarkan aksinya. Ia tak menyadari sejak dirinya masuk ke mobilnya ada mobil lain yang mengikuti dirinya.


Dian dan Velia saling bertukar kabar. Mereka tidak lagi canggung, tiba-tiba bel sudah berbunyi, dan tandanya semua siswa sudah diperbolehkan pulang.


Mereka berjalan bersama-sama, kali ini Dian hanya mengandeng Judy. Karena Zafrina memilih bersama Velia begitupun dengan Zayana, ia memilih berjalan bersama Zafrina dan Velia.


Archel sudah bersiap di depan sekolah. Ia akan langsung mengambil tindakan begitu melihat Judy.


.


.


.

__ADS_1


Sementara itu Selin bangun dengan nafas terengah-engah dan keringat yang membasahi kening dan lehernya. Bajunya pun telah basah. Dia menangis, saat mengingat mimpinya barusan. Di dalam mimpi ia melihat Didi terbujur kaku, dan semua orang menangisinya.


Selin mengedarkan pandangannya. Sepi tidak ada siapapun disana. Ia meraih ponsel miliknya dan mencoba menghubungi Didi namun kontak pria itu juga tidak aktif.


Hati Selin semakin diliputi kecemasan. Ia menghubungi Dian. Namun tidak ada jawaban. Karena ponsel Dian dalam keadaan silent jika sedang menunggu anak-anak sekolah.


Selin bergegas keluar rumah, dia mencari siapapun yang bisa mengantarkannya ke sekolah Judy. Beruntung saat itu Pablo baru saja datang. Selin segera mencegat mobil Pablo dan memintanya mengantar ke sekolah Judy. Pablo hanya menurut dengan wajah bingung.


.


.


.


Di tempat lain Gerry merasakan dadanya seakan sesak. Perasaannya mendadak tidak tenang. menghubungi Diego dan menanyakan keberadaan pria itu. Dan Diego mengatakan jika dirinya masih berada di lingkungan sekolah anak-anak Gerry.


Archel sudah melihat kedatangan Judy dan Dian. Ia keluar dari mobil saat Dian asik berbicara dengan Judy. Archel menggenggam pistol miliknya. Ia turun dengan tergesa-gesa.


Seketika dia menarik tubuh Judy namun dapat ditahan oleh Dian.


"Siapa kamu .." Dian terus mempertahankan setengah tubuh Judy. Namun cengkeraman Archel di lengan Judy tak kalah kencang. Hingga gadis itu menjerit kesakitan. Diego dan Apri mendekat. Namun Archel sudah terlanjur menodongkan pistolnya ke pelipis Judy.


Suasana menjadi riuh, satpam tidak ada yang berani mendekat atau bertindak karena ada sandera yang terancam nyawanya.


"Lepaskan dia, atau aku akan menembaknya?" teriak Archel. Tangan Dian bergetar. Memori akan masa kecil Zafrina terulang lagi. Tapi kali ini nyawa Judy bisa saja melayang jika dirinya salah mengambil tindakan. Dian menatap mata Judy dan berkata tanpa suara jika semuanya baik-baik saja.


Archel terus mengedarkan pandangan, jangan sampai ia tertangkap polisi sebelum berhasil melancarkan balas dendamnya. Tubuh Judy bergetar ia meronta dan terus menangis. Archel semakin keras menekan pistol itu di pelipis Judy.

__ADS_1


Orang-orang yang melihat itu langsung panik dan memilih kembali masuk ke area sekolah. Dian mendadak lemas. Tapi dia tidak boleh seperti ini. Dia harus kuat. Zafa, Zain dan Dino juga mendadak kehilangan tenaganya melihat wajah ketakutan Judy.


"Ku mohon lepaskan dia. Aku akan berikan apapun yang kau minta. Tolong lepaskan Judy!" --- suara Dian bergetar. Namun Archel tak peduli, dia menatap tajam Diego dan Apri. Perlahan Archel menuju ke mobil dia akan kabur setelah membunuh Judy.


Velia tampak syok namun dia masih bisa berpikir. Dia ingin melumpuhkan pria itu tapi dia takut salah langkah sedikit saja bisa-bisa nyawa seseorang melayang. Ia juga mengkhawatirkan Zafrina akan trauma karena melihat hal ini.


Archel tersenyum miring akhirnya. Sebentar lagi tujuannya akan segera terlaksana.


Archel sudah menarik pelatuknya lalu membuka pintu mobil untuk bersiap. Dian perlahan mendekat disaat Archel sibuk


Dan detik kemudian terdengar suara letusan dari senjata api.


Dor ..!!


"Mama .."


"Onty .."


"Dian .."


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


jempol mana digoyang..


jangan lupa giftnya dibanyakin biar Othornya cemungut ga lemes buat up part berikutnya. Oke!!😇😇😇😇


Yang menunggu papi Rian mungkin nanti malem atau besok mau crazy dulu. Untuk sekarang othor lagi mengembalikan sekeping hati yang tersakiti. Terlalu banyak alasan mereka buat othor mereview karya othor. Mungkin karena peminatnya sedikit jadi dipersulit. Padahal di tetangga sebelah yang desahannya makin mantep fine fine aja. Tapi banyak readersnya. Dan kemungkinan gitu kali ya. Makanya karna othor sering dapet teguran.

__ADS_1


__ADS_2