Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 74


__ADS_3

⛅ Selamat membaca ⛅


Part ini mengandung unsur xxx yang belum cukup umur menepi, yang jomblo scroll aja dari pada pengen.


"Sayang kamu disini rupanya?" nyonya Arimbi mendekati sejoli yang sedang dilanda birahi. Wajah keduanya memerah takut jika apa yang mereka perbuat diketahui oleh nyonya Arimbi.


"I-iya Bu .." Jawab Dian tergagap.


"Ayo keluar tamunya sudah banyak yang datang." Kata nyonya Arimbi.


"Tapi Dian pusing Bu, Dian mual melihat kerumunan banyak orang."


"Oh ya sudah kalo gitu kamu istirahat dulu saja. Ibu akan bilang pada ayah dan kakek." --- "Kamu temani Dian saja ya Ger, siapa tau nanti dia memerlukan sesuatu." Nyonya Arimbi kembali keluar. Karena acara intinya akan segera di mulai.


Dian dan Gerry saling menatap dan tersenyum. Dengan gerakan yang cepat Gerry mengangkat tubuh Dian ala bridal style. Ia melangkah menaiki anak tangga menuju lantai 2 dimana kamar Dian berada.


Gerry meletakkan Dian perlahan diatas ranjang. Tatapan mata Gerry sudah sangat berkabut. Dian membantu melepaskan kancing kemeja Gerry. Gerry menarik perlahan-lahan dress yang Dian kenakan. Ia menindih tubuh Dian, setelah melepaskan kain terakhir yang menempel di tubuh istrinya begitupun kain yang menempel ditubuhnya. Keduanya kini polos tanpa sehelai benang pun. Gerry mulai menyatukan inti tubuh mereka perlahan, matanya seketika terpejam merasakan kehangatan dari inti tubuh Dian.


Bibir mereka saling memagut, Dian mencengkeram lengan Gerry saat geleyar kenikmatan mulai menyeruak didalam inti tubuhnya.


"Lebih cepat laghi mas ..!" Ujar Dian manja. Gerry semakin mempercepat gerakannya. Keduanya sama-sama melenguh, tubuh Dian terasa menegang saat menguarkan cairan hasil percintaan mereka. Gerry langsung ambruk disamping tubuh Dian. Ia mengusap peluh yang membasahi pelipis Dian.


"Terimakasih sayang." Gumam Gerry.


"Ya mas, sama sama." Dian mengecup bibir Gerry, entah mengapa akhir akhir ini Dian sangat suka sekali mencium Gerry.


"Mas masih sanggup bikin kamu susah berjalan. Jangan goda mas terus." Kata Gerry protes. Karena sentuhan sentuhan Dian mampu membuat senjatanya turn on lagi.


"Ih .. aku cuma ingin cium saja." Kata Dian merajuk. Gerry terkekeh melihat wajah cemberut Dian.


Saat keduanya sedang menikmati suasana romantis versi mereka, pintu kamar Dian diketuk dari luar. Gerry segera memakai kembali bajunya yang berserakan. Dian menutup tubuhnya yang masih polos. Karena kelelahan Dian tak ada tenaga untuk sekedar turun memunguti bajunya.


Gerry membuka pintu kamar Dian. "Ada apa ma?" tanya Gerry saat mendapati mamanya ada diluar pintu kamar Dian.

__ADS_1


"Ada yang cari kamu."


"Siapa ma?"


"Sahabat sahabat kamu. Aldo juga bawa seorang perempuan tapi sepertinya mertua kamu kenal baik sama gadis itu. Cepat bawa Dian turun jangan cuma dikelonin aja." Ujar nyonya Arini langsung pergi dari kamar Dian. Dian yang mendengar ucapan terakhir ibu mertuanya langsung memerah wajahnya.


.


..


...


Dian duduk di kursi roda, ia sudah tidak sanggup berjalan lagi. Gerry dengan setia mendorong Dian hingga menuju taman belakang. Disana ada Rian Al Fares yang sedang menggendong Zafrina, Aldo dan Didi juga, namun fokus Gerry dan Dian bukan pada ketiga orang itu. Tapi pada sesosok gadis yang bersimpuh di kaki Hanafi, siapa lagi jika bukan Veni. Bahkan semua tamu tampak menatap ke arah mereka.


"Bangunlah nak. Ini semua bukan salahmu." Ujar tuan Hanafi dengan bijaksana. Namun Veni masih terus bersimpuh.


"Veni salah, Veni ikut ikutan membohongi paman dan mengatakan jika Dian sudah meninggal."


"Bangunlah dulu. Para tamu sedang melihat kita, kau mau paman dicap sebagai pria kejam tak berhati membiarkan mu bersujud di kaki paman." Veni menggeleng. Ia langsung bangun dibantu oleh Aldo.


Tuan Hanafi hanya mengangguk dan mengusap puncak kepala Veni. Pria paruh baya itu sama sekali tak menaruh dendam. Ia hanya kecewa dengan apa yang diperbuat oleh keluarga Burhan.


"Dian .." Panggil tuan Hanafi dan lagi lagi dengan langkah lemah Veni bersimpuh di kaki Dian.


"Dian maafkan aku." Dian membantu Veni berdiri.


"Sudahlah Veni, aku sudah memaafkan dirimu dari dulu. Kita adalah saudara. Jangan seperti ini." Kata Dian, semua orang yang melihat sendiri betapa Dian begitu berbesar hati menjadi semakin kagum pada wanita itu. Dan Gerry dapat menangkap kekaguman 3 pria dihadapannya.


"Jaga mata kalian. Kalian seolah ingin menerkam istriku." Ujar Gerry datar. Ketiga pria itu merasa salah tingkah ketahuan memandang Dian penuh kekaguman.


Tuan Hanafi dan tuan Kusuma dan yang lain hanya tertawa. Sedangkan tuan Soni menjadi yakin jika Burhan memang pernah berbuat buruk pada Hanafi dan keluarganya.


Suasana yang sempat membeku kembali mencair. Veni begitu bersyukur semua mau memaafkan dirinya. Dia sudah memutuskan akan merubah dirinya toh Aldo juga sudah mau berusaha berubah demi dirinya.

__ADS_1


.


..


...


"Paman, berhati-hatilah ayah masih berkeliaran di sekitar Jakarta. Aku takut ayah akan mencelakai keluarga kalian lagi."


"Kamu jangan khawatir. Fokuslah pada pengobatanmu. Paman berharap kau bisa segera sembuh dan bisa kembali ke sini lagi." Kata tuan Hanafi. Veni merasa senang bisa merasakan kasih sayang tuan Hanafi lagi. Sejak dulu pria penyabar itu selalu memperhatikan dirinya walaupun dia bukanlah putrinya.


"Pa-pa .." Zafrina memanggil Gerry. pria itu langsung tersenyum senang. Meskipun saat ini dia berada di gendongan Rian tapi gadis kecil itu tak melupakan dirinya.


"Apa sayang .."


"Papa .. papa" celoteh Zafrina sembari menggerakkan tangannya berusaha menggapai Gerry yang duduk di hadapan Rian. Meja bundar yang dipenuhi oleh keluarga besar Kusuma, dan juga tambahan sahabat Gerry, Veni dan Rian.


"Sini sayang," Gerry berputar menghampiri Zafrina. Dengan berat hati Rian menyerahkan putrinya pada Gerry.


"Nino, nanti jangan begadang biar wajahmu besok pagi fresh." Kata nyonya Arimbi yang tau betul kebiasaan keponakannya itu.


"Iya, tenang saja Bu. Nino seminggu kedepan hanya akan begadang dengan Sasa." Kelakar pria itu. Semua tertawa mendengan ocehan Calon mempelai pria itu.


"Dasar kau itu."


"Oh iya, ibu tau kemana mama pergi?" tanya Dian, wajah nyonya Arimbi memucat. Gerry memandang heran kenapa mertuanya bertingkah aneh saat ditanya keberadaan ibunya.


"I-ibu juga tidak ta-hu." Jawab nyonya Arimbi gugup.


Didi dan Gerry saling pandang. Lalu Gerry mengangguk memberi isyarat Didi. Didi yang tahu kode dari Gerry, pamit pada yang lain. Begitupun Gerry ia menyerahkan Zafrina pada Dian dan beralasan harus ke toilet.


"Aku sudah menghubungi Sigit." Kata Didi, Gerry hanya mengangguk. Pikirannya mengarah pada satu orang. Tapi apakah mungkin benar? Jika benar ibunya pergi kesana apa tujuannya? Bahkan ibunya membawa Zafa? Atau jangan-jangan terjadi sesuatu pada ibunya?


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅

__ADS_1


Wah maknya Gerry ilang guys kira kira hangout kemana ya?


hari ini othor up satu aja dulu ya. othor lagi ga bisa mikir masih cenat cenut. Adakah yang tau obat sakit gigi? otor juga lagi takut keluar rumah soalnya Di daerah othor ada yang positif covid. Semoga kita semua dijauhkan dari wabah penyakit itu. Semoga Covid lekas pergi dari bumi kita...


__ADS_2