
*******
Hari ini tiba waktunya Selin dan Didi serta keluarga Kao berangkat ke negara T. Selin terus menangis saat harus berpisah dengan Judy. Judy terpaksa tidak ikut ke bandara untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
"Sayang, berjanjilah pada mommy! Judy harus jadi putri yang tangguh. Sejak mommy memilikimu, kau adalah sumber kebahagiaan mommy, sumber kekuatan mommy. Jadilah tangguh untuk bisa melindungi dirimu sendiri."
"Iya mommy, mommy jangan khawatir. Begitu momy kembali aku akan jadi gadis yang kuat dan tangguh." Kata Judy.
Selin mengecup puncak kepala Judy berulang kali. Sedangkan Didi hanya memeluk dan mencium Judy sekali dengan begitu dalam di kening gadis itu.
Didi berharap semoga saja masalah di kerajaan dapat di selesaikan dengan cepat. Dirinya pun tak akan sanggup berpisah terlalu lama dengan putrinya. Apalagi Didi baru saja bertemu dan belum sempat membahagiakan putrinya.
"Maaf jika aku merepotkan kalian." Kata Didi, Gerry menepuk pundak sahabatnya.
"Kau tidak perlu mencemaskan putrimu disini. Fokuslah pada apa yang harus kalian selesaikan disana." Ujar Gerry, Didi hanya mengangguk lalu akhirnya mereka berenam meninggalkan kediaman Gerry menuju bandara.
"Kau sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka." Puji Kao.
"Ya, aku sangat-sangat beruntung karena merekalah aku menjadi seperti yang sekarang kalian lihat."
mereka tiba di bandara dan menuju pintu gate khusus pesawat pribadi. Kali ini mereka memakai jet pribadi milik keluarga Kusuma demi menghindari Archel.
Setelah beberapa jam mengudara kini mereka tiba di negara T, Tepatnya di provinsi selatan Thailand yaitu Pattani Darussalam atau Pattani Raya. Mereka tanpa pengawalan, dan terpaksa menaiki mobil perusahaan cabang Nino. Agar musuh² yang mengincar mereka tak mengetahui kepulangan mereka. Ditambah lagi sebentar lagi Kao akan dilantik menjadi penerus pemegang tampuk kekuasaan setelah raja Aaron.
"Selina .." Kejut ratu Rakila. Namun mata sang ratu tak lepas dari pria tampan yang ada di belakang Selin.
"Ibunda ratu, aku merindukanmu." bisik Selin saat keduanya saling berangkulan.
"Mana Seldi?" tanya ratu Rakila mencari cucu perempuannya.
"Dia masih tinggal di Indonesia ibu." Jawab Selin.
"Apa ..? kalian meninggalkan dia seorang diri disana? Ujar ratu Rakila terkejut.
"Iya ibunda ratu, dan ini kami lakukan demi keamanan Seldi. Ibunda ratu tidak perlu cemas." Sambung Araya seraya memeluk tubuh ibu mertuanya dengan erat.
"Apa kalian yakin. Karena sampai sekarang kita belum bisa mengungkapkan kejahatan keluarga Archel. Bahkan mereka berani menyabotase mobil Selin waktu itu. Beruntung Saat itu Seldi tidak bersama Selin. Jika sampai saat itu cucuku ikut entah apa yang akan terjadi. Mungkin saja Seldi sudah tiada." Tutur ratu Rakila. Mata Didi membulat sempurna ia belum mendengar cerita kecelakaan Selin.
"Apakah sebegitu parahnya?" gumam Didi.
Kao menghampiri ibunya lalu memeluk wanita paruh baya itu. Senyumnya mengembang melihat wanita yang melahirkannya tampak begitu bahagia.
Selin menarik tangan Didi ke hadapan ratu Rakila.
"Siapa dia, sayang?" tanya Ratu Rakila.
"Dia Didi mah, em dia .."
__ADS_1
"Ayah Seldi?" tebak Rakila. Selin mengangguk seraya menatap ibunya. Ratu Rakila menatap Didi. Sepertinya dia pernah melihat Didi tapi entah dimana. Karena kejadiannya sudah lama berlalu.
Didi membungkukkan badannya sedikit. Ia lalu menarik tangan ratu Rakila dan mencium punggung tangan wanita itu dengan santun.
"Siapa namamu?" tanya ratu Rakila.
"Perkenalkan saya adalah Ardian Hutapea, yang mulia ratu."
"Kenapa kau baru terlihat? kemana saja kau selama ini?" Ujar Ratu Rakila.
"Karena takdir baru mempertemukan kami. Selama ini saya sudah mencarinya. Namun pencarian saya selalu tak membuahkan hasil. Mencari satu orang diantara milyaran orang yang tinggal di bumi itu sama seperti mencari jarum di tumpukan jerami yang mulia. Apalagi putri Selin tidak pernah sekalipun menceritakan siapa keluarganya sebenarnya." Jawab Didi.
"Baiklah ayo kita masuk dan kita lihat apakah ayahmu mau menerimanya atau tidak." Gumam ratu Rakila.
Entah mengapa mendengar ucapan sang ratu membuat nyali Didi menciut. Padahal awalnya dia begitu yakin untuk menghadapi orang tua Selin. Keberanian Didi menguap, ia mengikuti langkah yang lainnya dengan wajah pias.
Raja Aaron duduk di singgasananya, Hari ini ada rapat untuk membahas pelantikan Kao putra tertuanya.
"Salam yang mulia raja." Seru Selin, Didi, Araya dan Kao serta kedua putra Kao serempak.
"Raja Aaron mengernyit melihat wajah Didi. Wajah yang tak asing baginya. Ia menatap Ratu Rakila dan sang ratu memberi isyarat senyuman kepada raja Aaron.
Raja Aaron lantas membubarkan rapat itu. Dan semua orang pergi dengan menatap heran ke arah Didi.
"Salam, ayah." Kata Selin sedikit membungkukkan badannya. Raja Aaron masih tak mengalihkan perhatiannya kepada Didi.
Judy sedang bermain bersama Zayana dan Zafrina. Gadis itu sedang berusaha menutupi kesedihannya dengan menyibukkan dirinya.
Saat Judy berlari mengejar Zayana, dirinya tersandung dan hampir terjatuh. Namun beruntung ada tangan lain yang memegangi dirinya.
Judy mengangkat kepalanya. Zayn tersenyum seraya membantu Judy agar berdiri tegak.
"Apa kau baik-baik saja Seldi?" tanya Judy, alis Judy mengernyit, Mendengar Zayn memanggilnya.
"Kau tau nama lengkapku?" tanya Judy takjub.
"Tentu saja aku tau." Jawab Zayn.
"Tapi kenapa memanggilku Seldi?" tanya Judy.
"Aku ingin memiliki panggilan tersendiri untukmu." Kata Zayn, padahal pria kecil itu biasanya akan irit berbicara. Tapi dengan Judy dia begitu penasaran.
Judy tertawa mendengar alasan Zayn. Ana dan Ina mendekati Judy.
"Judy apa Zayn sedang menggoda dirimu?" tanya ana. Judy menatap Zayn sebentar lalu menggeleng. Mereka bertiga kembali bermain, sedang Zayn kembali duduk di sisi Zafa.
"Huh .." Desah Zayn.
__ADS_1
Zafa tersenyum dan menggeleng melihat tingkah adiknya itu.
"Apa kau menyukainya Zayn?" tanya Zafa.
"Sepertinya aku menyukainya kak. Dia gadis yang tegar." Jawab Zayn bersemangat.
"Jika kau menyukainya yang perlu kau lakukan sering lah ajak dirinya bermain. Kau harus tau kesukaannya dan mengajarkan padanya apa yang kau sukai." Kata Zafa memberitahu adiknya.
"Apa harus begitu?" tanya Zayn tak mengerti.
"Wanita itu ibaratnya sama seperti rumus di komputer, terlihat mudah tapi memusingkan. Terkadang hal yang kita anggap sepele bisa jadi besar jika yang kau hadapi itu wanita." Ujar Zafa.
"Dari mana kakak tau semua itu?"
"Aku membaca buku milik kakaknya Lauren."
"Apakah kau menyukainya kak?" Tanya Zayn penasaran. Dengan Lauren sahabat Zafa di sekolah.
"Dia gadis yang baik." Kata Zafa.
Entahlah pembicaraan dua pria kecil itu sudah seperti pembicaraan orang dewasa. Sepertinya mereka dewasa sebelum waktunya.
Judy masih bermain-main dengan Ana dan Ina sesekali dia mencuri pandang kearah Zayn.
Yang kangen visual bocil
Judy
Zayn
Zayana
Zafa
Zafrina
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
__ADS_1
Maaf molor up. Ponsel othor lagi kumat.