Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 77


__ADS_3

⛅ Selamat membaca ⛅


Gerry berjalan tergesa-gesa di lorong rumah sakit. Setelah mendapat telepon dari Rian, yang mengabarkan kondisi ibunya. Gerry segera menitipkan Dian di rumah mertuanya. Meskipun rumahnya banyak memiliki pelayan, tapi Gerry tak ingin Dian merasakan kesepian.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Rian masih menunggu kedatangan Gerry. Ia duduk di luar ruang ICU.


"Maaf aku lama. Aku harus memastikan keadaan Dian terlebih dahulu." Kata Gerry. Rian hanya mengangguk.


"Putramu ada di ruangan atas. Sedang ibumu beristirahat di dekat brankar ayahmu. Gerry masuk ruangan dengan kaki bergetar. Untuk pertama kalinya ia bertemu dengan ayahnya kembali. Setelah hampir 11 tahun mereka tidak bertemu. Pria yang dulu tampak gagah, kini tubuhnya kurus kering, Gerry menatap wajah pria tua itu dengan perasaan yang campur aduk.


Rian menepuk pundak Gerry untuk memberi semangat. Ia tau kini tak ada lagi kata rival. Zafrina menyatukan dua orang yang telah lama berseteru.


"Beliau butuh donor jantung secepatnya. Ibumu sedikit syok setelah mendengar hal itu. Sekarang ibumu sudah tidur karena aku meminta dokter memberikan obat tidur dalam infusnya. Aku khawatir ibumu akan ikut sakit jika terus menerus memaksakan dirinya." Kata Rian.


Pria itu benar-benar menunjukkan perubahan yang begitu banyak pada sifatnya. Dulu dia pria dingin yang kejam tak pernah mengenal kata maaf. Tapi kini pria itu menjadi sosok lembut, sifat kebapakan nya begitu ketara setelah dirinya sering bertemu dengan Zafrina.


Saat Rian akan keluar dia teringat sesuatu. Lalu berbalik. "Soal Selena, aku sudah transfer uang ganti yang kau gunakan untuk membiayai perawatannya. Biarlah dia yang jadi tanggunganku."


"Bagaimana kondisinya?" tanya Gerry.


"Dokter berkata harapan hidupnya tipis." Jawab Rian.


"Aku akan menengoknya setelah ini."


Gerry kembali menggenggam tangan pria tua itu. Sudut hatinya berdesir, dulu jemari yang kini ia genggam begitu kokoh, seolah mampu menahan apapun untuk Gerry. Tapi kini tangan itu begitu lemah tak berdaya. Jemari ayah Gerry menunjukkan pergerakan. Gerry sangat terkejut saat mata sayu itu menatapnya penuh haru.


"Ghe-ry .." Ucap pria tua itu lemah.


"Jangan banyak bicara dulu, aku akan panggilkan dokter untukmu." Kata Gerry mengusap air matanya yang menggenang di sudut matanya.


Pria tua itu menggeleng lemah. Jemarinya menggenggam erat tangan Gerry.


"Tidak perlu. Akhu hanya ingin minta maaf padamu. Akhu sudah menyakitimu dan ibumu."

__ADS_1


"Jika kau ingin maaf dariku. Maka kau harus sembuh. Aku tak akan membiarkan dirimu menyakiti ibuku lagi dengan kepergianmu." Gerry menekan emergency bell. Dan beberapa menit kemudian dokter datang untuk memeriksa kondisi tuan Gama. Gerry menunggu dengan cemas diluar ruangan. Apakah seperti ini perasaan ibunya saat menunggu ayahnya.


Dokter keluar dari ruang ICU. "Tuan, kondisi tuan Gama sudah melewati masa kritisnya. Tapi kita tetap harus mencari pendonor jantung untuk tuan Gama, karena kondisi jantungnya sudah mengalami kerusakan." Kata dokter Daulay.


"Saya akan secepatnya mengusahakan dok." Jawab Gerry.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Ayah, ibu Gerry sudah dipindahkan ke ruangan sebelah ruang pribadi milik Gerry yang saat ini ditempati oleh Zafa. Karena memang rumah sakit ini salah satu warisan kekayaan yang Gerry miliki.


Gerry tertidur disebelah Zafa setelah ia meminta suster yang mengurusi Zafa untuk meninggalkan mereka berdua.


Nyonya Arini masuk kedalam kamar yang ditempati putra dan cucunya. Pagi ini wajah wanita paruh baya itu begitu cerah. Saat dirinya mengetahui kondisi mantan suaminya sudah sedikit membaik.


"Gerry bangun sayang .."


"Sebentar lagi ma." Gerry merapatkan pelukannya pada Zafa.


"Ini sudah jam 7, kamu ga datang ke acara pernikahan Nino."


"Loh kamu kenapa Ger?" nyonya Arini mengusap air mata Gerry. Gerry juga merasa aneh dengan dirinya yang mudah sekali menangis sekarang.


"Maaf ma, Gerry selama ini tidak pernah peka dengan perasaan mama." Gerry memeluk ibunya. Nyonya Arini pun tak kuasa menahan air matanya.


"Ger, bagi mama kebahagiaan kamu adalah segalanya buat mama. Dan mama akan korbankan apapun demi meraih kebahagiaanmu itu." Ujar nyonya Arini.


"Makasih ma .. sekarang aku juga ga akan halangi mama lagi. Kalo mama mau kembali sama papa. Aku akan kasih ijin. Mama juga harus bahagia." Tutur Gerry. Akhirnya setelah sekian lama keluarga Gerry akan kembali bersatu.


.


..


...


Dian mondar-mandir cemas. Suaminya sama sekali tak memberi kabar padanya. Dian juga sulit menghubungi Gerry.

__ADS_1


"Kamu kenapa Dian?" tanya ibunya.


"Mas Gerry kok ga kasih kabar Dian ya Bu?" kata wanita itu, gerakannya melambat saat dirasa perutnya terasa mengeras.


"Kamu kenapa?" tanya nyonya Arimbi cemas. Semua saudara almarhumah ibu Nino pun memandang cemas kearah Dian.


"Ga tau Bu, perut Dian sakit." Ujar Dian sembari duduk diatas ranjang keringat dingin membasahi kening Dian. Nyonya Arimbi meminta pelayan membawakan air putih hangat.


"Makanya kamu itu yang tenang. Jangan mudah panik seperti itu." Dian meneguk air putih itu sembari mengatur nafas. Tak lama Gerry masuk dengan wajah cemas.


"Kamu kenapa? kata pelayan perut kamu sakit?"


"Kamu itu Ger, kalo kamu pergi setidaknya sering kasih kabar ke istrimu. Dian orang yang mudah cemas dan panik." Kata nyonya Arimbi menasehati Gerry setengah menyalahkan menantunya.


"Iya bu, maaf semalam karena buru-buru Gerry lupa bawa power bank sedang ponsel Gerry dari semalam mati karena habis daya." Jawab Gerry.


"Sekarang gimana perut kamu? apa kita ke rumah sakit dulu sekarang?" tanya Gerry pada Dian.


"Ga perlu mas. Ini udah mendingan. Mungkin tadi aku kebanyakan mondar-mandir." Jawab Dian memeluk perut Gerry sambil memejamkan mata. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Gerry yang menjadi candu untuk Dian. Rasanya ia ingin berlama-lama menggelayuti Gerry.


Gerry menepuk pundak Dian perlahan. Ia tau istrinya pasti begitu cemas menanti kabar darinya.


"Ya sudah, ibu kebawah dulu. Kalian turun saat ijab kabul dimulai saja. Biar Dian bisa istirahat sebentar. Sejak pagi dia sudah kaya setrikaan bikin ibu pusing lihatnya." Nyonya Arimbi keluar dari ruangan yang di sulap menjadi ruang rias. keluarga pengantin pria.


Gerry mengangkat tubuh Dian disaksikan keluarga besar mama Nino. Mereka tersipu melihat betapa romantisnya Gerry pada Dian. Begitupun para MUA yang sedang merias mereka senyum senyum sendiri melihat kedua orang itu.


Dian menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gerry. Ia malu dengan saudara-saudaranya yang lain.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


Hai hari ini satu part dulu ya. Seharusnya libur karena ini Minggu. Cm tangan othor juga gatel kalo ga ngetik. 😂😂😂


ayo ayo jangan lupa untuk selalu like dan komen. ditunggu juga Vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2