
Pagi ini kegaduhan dirumah Sekar begitu terdengar hingga keluar rumah. Jerit anak-anak Gerry dan Dian membuat suasana di rumah itu semakin berwarna.
Dian sedang membantu menyiapkan sarapan. Pagi ini rencananya mereka akan berjalan-jalan mengelilingi kampung.
Setelah semua makanan tertata rapi di meja Dian memanggil suami dan keempat anaknya.
Mereka semua duduk mengelilingi meja makan.
Sekar sangat bahagia, kehadiran Gerry dan anak-anaknya mampu mengobati rindu Sekar pada Gerald.
"Kata Gerry semalam kamu muntah-muntah sayang?" tanya Sekar pada Dian.
"Iya ma, mungkin karena kecapekan. Ditambah lagi semalam hujan jadi hawanya dingin." Kata Dian. Wajah Dian memang sudah tidak pucat seperti semalam. Gerry masih memperhatikan Dian terus menerus.
"Yakin bukan karena yang lain?" tanya Sekar penuh maksud.
Dian tersenyum lalu menggeleng. "Aku tidak mau berharap terlalu banyak ma, sejak kelahiran twins sampai sekarang kita sudah coba berbagi cara tapi mungkin Tuhan belum berkehendak menghadirkan lagi." Kata Dian menanggapi pertanyaan Sekar.
Ia tak mau terlalu gamblang menyebut bayi. Karena takut anak-anak mereka berharap lebih.
Gerry mengusap bahu Dian. Dan wanita itu menoleh kearah suaminya, lalu tersenyum.
Setelah selesai sarapan mereka langsung bersiap untuk jalan-jalan. Keempat anak Dian nampak antusias. Mereka selalu begitu setiap tahunnya.
Dian berjalan mengandeng lengan Gerry sedang Zafrina dan Zayana digandeng oleh Sekar. Dan putra mereka berjalan mendahului semuanya. Saat tiba di persimpangan persawahan dengan kampung sebelah Zafrina melihat sosok yang sangat ia kenal berjalan dengan seorang perempuan, dan dua orang laki-laki. Zafrina menghentikan langkahnya. Dian mendekati putrinya.
"Sayang ada apa?" tanya Dian.
"Mama, itu kaya papi Ina." Ujar Zafrina, ketiga orang dewasa itu lalu menengok kearah yang ditunjuk oleh Zafrina.
"Iya sepertinya itu papi kamu." Kata Gerry menyahut. Tak lama gadis kecil itu berseru.
"Papi ..! Mama, itu papi Ina" teriak gadis kecil itu histeris. Keempat orang itu menoleh. Rian mengucek matanya. meyakinkan dirinya jika itu bukan hanya halusinasinya.
Gadis kecil itu berlari hingga beberapa kali hampir terperosok karena tanah yang licin. Rian berlari menyongsong putrinya karena ia pun takut jika putrinya terjatuh. Rian mengangkat Zafrina dan menciumi gadis itu bertubi-tubi.
__ADS_1
"Papi ..!" Zafrina tampak senang sekali bertemu Rian disana.
Dibelakang Zafrina, Dian dan Gerry berjalan bersama anak-anak mereka yang lain. Dan juga seorang wanita paruh baya bersama mereka.
"Nona Velia .." Sapa wanita itu.
"Eh ibu Sekar."
"Kalian mau kemana? saya tidak menyangka papinya Zafrina, adalah suaminya nona Veli." Ucap Sekar lagi.
Semua yang ada dikubu nyonya Sekar tampak terkejut. Zafrina membulatkan matanya yang berwarna biru keabu-abuan mirip seperti mata Rian. Wajahnya tampak menggemaskan sekali.
"Benarkah itu mami untuk Ina?" tanya gadis kecil itu pada Rian. Rian tersenyum dan mengangguk.
Setelah Zafrina mengenal ibu sambungnya, Rian meminta ijin pada Dian untuk membawa Zafrina. Dan Dian mengijinkan Zafrina ikut dengan Rian dan ibu sambungnya.
"Nanti mas Gerry yang akan mengantar baju-baju dan keperluan Zafrina." Ujar Dian pada Rian, Ia mendekat kearah Putrinya lalu mengusap kepala Zafrina dengan lembut.
"Sayang, jangan nakal ya dirumah mami." Kata Dian. Zafrina mengangguk antusias.
"Saya titip Zafrina ya Veli." Kata Dian, Velia tersenyum dan mengangguk.
Setelah mereka berpisah di persimpangan wajah Dian langsung terlihat murung. Bagaimanapun ia tak boleh bersikap egois. Tapi mengingat ia tak pernah jauh dari Zafrina membuatnya langsung diserbu oleh rasa rindu yang menyiksa.
"Apa kau baik-baik saja sayang?" tanya Gerry, ia tahu betul kesedihan yang Dian rasakan.
Meski sebenarnya ia memiliki hak penuh atas Zafrina, dan bisa saja melarang gadis kecilnya bertemu Rian. Tapi Gerry memilih memberikan kebebasan pada gadis kecilnya untuk mengenali siapa orangtua kandungnya. Agar kelak tidak ada siapapun yang bisa memanfaatkan situasi untuk membuat Zafrina membenci Gerry.
Dian memaksakan untuk tersenyum meskipun dalam hatinya menangis. Ia tak ingin membuat suami dan anak-anaknya yang lain merasakan kesedihannya.
"Aku baik-baik saja mas."
Semuanya sudah kembali ke rumah Sekar. Dian langsung masuk ke kamar. Lagi-lagi perutnya terasa tak nyaman, rasanya begitu bergejolak. Ia kembali memuntahkan apa yang pagi tadi sempat ia makan. Bahkan kali ini durasi muntah Dian lebih lama. Gerry yang khawatir menyusul Dian. Dengan telaten ia memijat tengkuk Dian. Wajah Dian kembali memucat, hati Gerry dilanda kecemasan.
Gerry dan Dian saling memandang lewat cermin Wastafel. Dian bisa melihat sorot mata Gerry yang begitu mencemaskan dirinya.
__ADS_1
Gerry memeluk Dian dari belakang. Mencium kepala Dian berkali-kali.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Gerry, Dian mengusap tangan suaminya yang melingkar di perutnya. Lalu tersenyum meski wajahnya sangat pucat.
"Dengan mas selalu ada untuk Dian saja. Aku sangat bersyukur." Ujar Dian, namun tak berapa lama pijakan kaki Dian goyah. Kepalanya terasa berdenyut dan berputar. Gerry langsung mengangkat tubuh Dian yang tak sadarkan diri.
Ia berjalan cepat keluar mencari keberadaan Sekar.
"Ma .." Seru Gerry. Sekar yang sedang bermain dengan anak-anak Gerry langsung berdiri melihat wajah panik pria itu.
"Ada apa Ger?"
"Ma, tolong panggil dokter atau bidan atau apa saja lah. Dian pingsan." Ujar Gerry melupakan keberadaan ketiga anaknya yang tengah menatapnya serius.
Sekar langsung masuk ke kamar mengambil ponselnya dan menghubungi bidan di kampungnya.
Zayana mendekati Gerry, begitu juga dengan Zayn dan Zafa. Wajah ketiga anak itu tak kalah cemas. Mereka menarik ujung baju Gerry.
"Mama kenapa pah?" tanya Zafa, Gerry tertegun melihat ketiga anaknya. Mata mereka berkaca-kaca.
"Mama butuh istirahat. Kalian main sendiri dulu ya. Papa harus menemani mama." Ujar Gerry.
"Ana mau lihat mama." Ujar gadis kecil itu.
"Sayang. Anak baik harus nurut. Kalo Ana ga nurut sama papa, nanti mama sedih." Bujuk Gerry. --- "Kalian main dulu dikamar, nanti kalo mama sudah istirahatnya. Papa ajak kalian melihat mama." Kata Gerry membujuk putrinya. Zayana mengangguk. Zafa yang mengerti perintah Gerry langsung langsung mengandeng adiknya masuk ke dalam kamar. Sedang Zayn masih sesekali menoleh.
Setelah beberapa saat bidan yang dipanggil Sekar datang, ia langsung memeriksa tubuh Dian. Bidan itu tersenyum lalu membuka tasnya.
"Sebaiknya nanti jika nyonya Dian sadar. Mintalah dia untuk melakukan tes urine. Saya memprediksi nyonya Dian sedang hamil. Tapi untuk lebih jelasnya kalian bisa melakukan tes itu agar lebih meyakinkan." Saran bidan itu. Ia meresepkan Vitamin yang harus Gerry tebus di apotek. Namun Gerry masih diam terpaku tak bergerak dari sisi Dian.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Jangan lupa like komen dan Vote ya.
Love you all. Kalau ceritanya mulai ngebosenin kalian bilang ya. Nanti othor langsung cut
__ADS_1