Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
New Season 4. Kondisi Dian


__ADS_3

*********


Kepanikan terjadi di mansion Gerry, jeritan suara Zayana membuat semua keluarga berkumpul di rumah itu, Nino membantu mengangkat tubuh Dian dan memindahkannya di atas kasur. Dokter Arya sudah berhasil menghentikan pendarahan dari luka di tangan Dian, dan akhirnya Dian mendapat satu jahitan di tangannya. Dian masih memejamkan matanya wajahnya tampak berantakan dan kantung matanya terlihat menghitam.


"Biarkan dia istirahat terlebih dulu. Aku sudah memberikan suntikan obat tidur, Semoga besok kondisinya sudah jauh lebih baik." Ujar Arya, Zayana hanya menatap nanar melihat kondisi mamanya. Ia tak menyangka jika mamanya akan sesedih itu berjauhan dengan kakak-kakaknya.



Zayana membagikan story di WA nya Get well soon mom, I love you ๐Ÿ’ž tulis gadis itu. Tak lama ponsel Zayana berdering ia segera mengangkatnya.


"Mama kenapa?" Tanya Zafrina cemas, yang kebetulan tanpa sengaja bermain ponsel saat itu. Namun bukannya menjawab Zayana justru terisak, hal itu tentu saja membuat Zafrina semakin cemas.


"Katakan Anna mama kenapa?"


"Apa peduli kakak sama mama? bukannya kakak senang lihat mama sedih?" Entah kenapa setelah mendengar perkataan Dian tadi membuat Zayana marah dan sedih.


"Apa maksud kamu Anna? jangan buat kakak bingung .. " lirih Zafrina.


"Lupakan saja ..! mama hanya sedang tidak enak badan." Zayana langsung mematikan sambungan teleponnya. Tak lama kini giliran Zayn menghubunginya.


"Mama kenapa Anna? suara Zafa terdengar serak, mungkin ia baru bangun tidur.


"Mama pingsan Zayn, aku takut mama kenapa-kenapa Zayn." Zayana kembali terisak, Neneknya sedang menemani Zafia. Sedangkan Nino sudah kembali ke mansion, dan kakeknya tidak bisa kemana-mana karena kondisinya kurang baik.


"Tenanglah, mama pasti baik-baik saja. Aku akan segera pulang." Zayn segera menutup teleponnya, Judy mendekat karena ia baru saja dari kamar mandi sedangkan Zayn terbangun karena Judy meninggalkannya.


"Ada apa Zayn?" Judy mengernyit melihat Zain tampak buru-buru mengenakan jaketnya.


"Mama pingsan, ayo kau ikut aku ke mansion, aku juga tidak tenang meninggalkan kamu sendirian. Bawa obat-obatmu." Ujar Zayn.


"Tapi bagaimana dengan infusku Zayn."


"Nanti kita mampir ke rumah om Arya dulu." Ujar Zayn, ia meraih sweater dari dalam lemari Judy, dengan penuh kelembutan Zayn memasangkan sweater itu di tubuh Judy. Mereka berdua akhirnya meninggalkan apartemen menuju rumah Arya terlebih dahulu.


*


*


*


Gerry merasa tak nyaman entah mengapa dadanya mendadak terasa sesak. "Ada apa ini, kenapa rasanya perasaanku tidak enak sekali?" Gumam Gerry. Ia menyempatkan diri membuka aplikasi WA untuk menghubungi anak-anaknya, tapi mata Gerry langsung membelalak saat melihat story Zayana.

__ADS_1


"Pantas saja perasaanku rasanya tidak nyaman. Ku mohon kuatlah sayang," Gumam Gerry lirih.


Sesampainya Gerry di bandara Soetta, Sigit sudah menunggu kedatangan bossnya. Dengan sigap Sigit membukakan pintu mobil untuk Gerry. Meskipun hari sudah merayap siang Gerry ingin segera tiba di rumah, ia tak sabar ingin melihat kondisi istrinya.


Begitu tiba di mansion, Gerry membuka pintu mobil mewah itu dengan tidak sabaran. Bahkan sapaan kepala pelayan pun ia tak acuhkan. Gerry sedikit berlari menaiki anak tangga.


Saat membuka pintu kamarnya hal yang pertama dia lihat adalah putrinya yang sedang bersandar di bahu Dian yang terlelap.


"Anna .. " Lirih Gerry, Zayana menoleh mendapati sang cinta pertamanya telah tiba, Zayana berlari dan menghambur memeluk Gerry.


"Papa kenapa lama sekali?" Rengek Zayana.


"Maaf sayang, papa harus benar-benar memastikan kakakmu baik-baik saja."


"Tapi disini mama ga baik-baik saja pah, semalam mama menangis dan pingsan. Bahkan tangan mama terluka hingga mendapat Jahitan dari om Arya." Gerry sedikit terkejut mendengar cerita putrinya. Ia perlahan mendekat ke ranjangnya, Gerry mengusap wajah pucat Dian, ada sejumput penyesalan di hati Gerry meninggalkan Dian begitu lama di Amerika.


Gerry menggenggam jemari Dian dan mengecup punggung tangan itu perlahan. Setetes air mata menitik dari sudut mata Gerry.


"Maaf sayang .. " lirih Gerry, Zayana menatap sendu papa dan mamanya.


*


*


*


"Apa kau sakit sayang?" tanya Rian khawatir melihat putrinya. Zafrina mengangkat kepalanya menatap papinya, ia tersenyum tipis dan menggeleng lalu kembali menunduk.


"Ina tidak apa-apa pi."


Velia juga tak kalah heran, karena biasanya Zafrina akan berulah dan mengganggu kedua adik laki-lakinya hingga kedua anaknya menangis.


"Papi Ina mau ke apartemen kakak Zafa boleh?"


"Memang kenapa? bukankan semalam kalian baru bertemu?"


"Aku ingin memberitahu Zafa jika mama sakit." Tutur Zafrina lirih, tatapan matanya berubah sendu dan tertutup kristal bening yang siap menetes.


Velia menghampiri putri sambungnya dan memeluk Zafrina, seketika tangisan Zafrina pecah. Mendengar ucapan Zayana ia semakin merasa bersalah pada sang mama."


Velia mengusap punggung Zafrina dengan lembut.

__ADS_1


"Memang mama Dian sakit apa sayang?" Velia bertanya dengan suara lembut.


"Ina juga tidak tahu, Anna marah katanya ini semua karena aku dan kak Zafa."


"Ya sudah nanti biar mami yang telepon. Mami akan tanyakan kenapa Anna marah pada Ina. Jangan berburuk sangka dulu ya. Jika kau ingin ke apartemen Zafa biar di antar papi." Zafrina mengangguk lemah dalam pelukan Velia.


"Hu dasar cengeng." Ejek salah seorang putra Rian.


"Raiden .. jangan seperti itu." Tegas Velia, putranya itu menunduk.


"Hahaha .. makanya jangan usil kak." Ujar Ravelo adik Raiden.


Rian akhirnya mengantar Zafrina ke apartemen Zafa. Zafa sedikit terkejut melihat Rian ada di hadapannya.


"Ina .. " Zafa terkejut karena adiknya langsung memeluk dirinya dan terisak. Zafa menatap Rian seakan meminta penjelasan.


"Mama kak .. "


Deg ..!!


Perasaan Zafa mendadak tak nyaman begitu Zafa menyebut mamanya. Zafa memang berniat menghindar dari Dian. Zafa sedih karena mengetahui fakta jika dirinya bukan anak kandung Dian. Padahal selama ini dirinya lah yang paling dekat dengan Dian.


"Mama kenapa?" Suara Zafa seakan tercekat di tenggorokan.


"Mama sakit kak." Zafa mendekap erat Zafrina air matanya pun tak urung ikut menetes.


"Sebaiknya kita masuk dulu. Biar nanti aku bantu kalian hubungi papa kalian." Ujar Rian, Akhirnya Zafa mempersilahkan Rian masuk.


Rian sedang menghubungi Gerry, ia pun menyalakan loudspeaker di ponselnya.


"Aku dengar Dian sakit apa itu benar?" Tanya Rian tanpa basa basi.


"Ya dia sepertinya masih berat melepas Zafa dan Zafrina." Kata Gerry dengan nada lesu. Zafa dan Zafrina dapat membayangkan betapa sedihnya Gerry saat ini karena mamanya sakit.


Namun disaat sambungan telepon masih terhubung, suara teriakan Zayana dan Zayn membuat jantung mereka semakin tak beraturan.


"Mama .. kakak mama kenapa?" Zafrina semakin terisak, wajah Zafa pun tak kalah pucat karena sambungan telepon tiba-tiba terputus begitu saja.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Maaf ye, othor kemarin ketiduran. Seharian repot banyak urusan jadi capek. Kalo kalian tanya tapi di telur DBJ (Dia bukan Janda) sampai 2x up itu karena othor udah nabung bab lama. Dan itu berati pasti akan liris pada waktunya. ๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡

__ADS_1


__ADS_2