
*********
Kepanikan terjadi di rumah sakit. Semua orang sedang berkumpul. Dian dan Gerry serta Zayn menceritakan kekhawatiran Judy. Selin tak menyangka rindunya untuk mengunjungi keluarganya berimbas pada putri kesayangannya. Jangan sampai putrinya kenapa-kenapa. Ara dan Arsen pun langsung chek out dari hotel begitu mengetahui keponakan centilnya masuk rumah sakit. Padahal kemarin saat acara gadis itu terlihat baik-baik saja.
Dokter yang menangani Judy keluar, dia melempar senyum melihat banyaknya orang yang mempedulikan gadis kecil itu.
"Bagaimana keadaan putri kami dokter?"
"Bisa kita bicara di ruangan saya." Dokter berjalan terlebih dahulu, Selin dan Didi, Dian dan Gerry juga Zayn mengikutinya.
Sesampainya di sana dokter menjelaskan jika kondisi Judy.
"Begini tuan dan nyonya. Kondisi Judy saat ini sudah stabil, namun kami meminta ijin untuk melakukan CT-scan agar mengetahui penyebab sakit kepala yang putri anda rasakan."
"Lakukan apapun untuk putri saya dokter." Sahut Selin.
"Baiklah jika begitu kami akan melakukan CT-scan Dalam waktu kurang lebih 3 jam kita akan bisa melihat hasilnya." Ujar dokter itu.
Zayn duduk di sisi Dian, tampak sekali wajahnya begitu mencemaskan Judy.
"Mama, apa Judy akan baik-baik saja." Tanya Zayn, Dian tersenyum dan mengusap kepala putranya dengan lembut.
"Tentu saja. Kau tau jika Judy adalah putri yang sangat kuat. Dia pasti bisa melewati semua ini." Jawab Dian, Zayn tersenyum samar meski kecemasan masih melanda dirinya.
.
.
.
Arsen mengantar Ara pulang ke rumah yang Dian belikan. Karena rumah yang Arsen belikan untuk Ara belum selesai ditata.
Gadis itu tampak sangat lelah setelah dihajar habis-habisan oleh Arsen setelah sarapan. Sepertinya Arsen berubah menjadi pria mesum yang menakutkan bagi Ara.
__ADS_1
"Aa ga balik ke rumah sakit?" Tanya Ara, ia menatap heran pada Arsen yang justru sedang bergabung berbaring di sisiNya.
"Aku lebih mengkhawatirkan dirimu." Ujar Arsen.
"Memangnya aku kenapa A'?" tanya Ara bingung.
"Wajahmu sama pucat nya dengan Ara. Aku takut kamu kenapa-kenapa." Ujar Arsen memeluk Ara, menjadikan lengannya sebagai bantalan Ara.
"Ini semua juga karena ulah aa .. " Jawab Ara cemberut.
"Maka dari itu aku harus bertanggung jawab. Kau pucat karena ulahku." Bisik Arsen.
"Bilang saja modus. Tapi serius A jangan lagi ya? aku benar-benar capek." Kata Ara manja.
"Hhmm .. kita tidur sekarang. Nanti malam kita ke rumah sakit." Ujar Arsen memejamkan matanya Ara memutar tubuhnya menghadap kearah Arsen, Ia tersenyum menatap wajah lelap suaminya itu. Ara mengecup bibir Arsen sekilas.
"Jangan memancingku Ra .. aku bisa khilaf menerkam mu lagi." Ujar Arsen dengan mata terpejam. Ara hanya meringis mendengar ucapan Arsen. Ia langsung meringsek masuk memeluk tubuh Arsen.
"Terima kasih aa sudah hadir di hidup Ara dan mengisi kekosongan hati Ara." Desis Ara lirih. Ia pun akhirnya ikut terlelap dan nafasnya mulai teratur.
"Terima kasih juga kau telah hadir mengisi kekosongan hatiku. Aku berjanji akan selalu membahagiakan dirimu Tiara Syakila Amran. Karena ayahmu lah aku bisa menjadi seperti sekarang ini. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan putrinya yang sangat berharga."
.
.
.
Hasil yang ditunggu oleh Selin dan yang lainnya sudah keluar. Arya bahkan ikut mengawasi dan berkoordinasi dengan dokter yang menangani Judy.
"Begini tuan dan nyonya, setelah di lakukan CT-scan ternyata tidak di temukan masalah serius di kepala Judy. Mungkin masih ada sisa traumatis akibat cidera sehingga membuat pasien mudah lelah dan pingsan."
Semua orang tampak lega mendengarnya, Zayn tampak duduk setia menemani Judy. Bahkan Dian harus memaksa putranya untuk makan siang tadi. Zayn jarang bertingkah seperti ini. Bahkan saat saudaranya yang lain sakit pria kecil itu hanya memberi perhatian seperlunya. Tapi jika dengan Judy, Zayn seolah memiliki tanggungjawab sendiri.
__ADS_1
"Sayang, ayo kita pulang. Besok kita kembali lagi." Ujar Dian, Judy sudah sempat sadar, bahkan ia hanya mau makan jika Zayn yang menyuapi. Gadis kecil itu akan mengamuk jika Selin atau Didi mendekat. Ia terlalu takut jika orangtuanya akan membawanya ke Pattani.
Ara dan Arsen masuk ke dalam ruangan Judy. Di ruangan VVIP itu semua berkumpul. Mereka menyaksikan sendiri berapa kedua anak kecil itu saling membutuhkan dan melengkapi.
"Bagaimana kondisi Judy?" tanya Arsen pada Didi.
"Sejauh ini sudah membaik. Tapi sepertinya Judy tidak mau ikut kami ke Pattani. Jadi biar nanti orang tua Selin yang kemari. Lagipula kami sudah mengabari keluarga Selin jika Judy masih sakit.
Tak lama Dian dan Zayn pamit pulang. Sedangkan Gerry sudah pulang terlebih dahulu atas permintaan Dian.
Setelah kepulangan Dian dan Zayn, hanya tinggal Ara, Arsen, Didi dan juga Selin. Keempatnya menunggu dalam keheningan. Selin merasa perutnya terasa mual lalu ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Didi mengikuti Selin dan membantunya, semua itu tak luput dari penglihatan Arsen. Wajahnya tampak datar dengan dahi berkerut. Ada yang mengganggu pikirannya saat ini.
"Ada apa dengannya?" tanya Arsen pada Didi saat adiknya dengan hati-hati memapah Selin berjalan. Wajah Selin tampak pucat, dia hanya bersandar di dekapan Didi.
"Ya biasalah bang, namanya juga hamil muda. Mual muntah itu sering terjadi." Ujar Didi, Arsen hanya memindai iparnya dengan tatapan iba. Ia langsung mengalihkan pandangannya pada Ara yang sedang mencari sesuatu di dalam tasnya.
Ara mengeluarkan botol berwarna hijau. Dan menyerahkan botol itu pada Didi.
"Pakai ini kak. Siapa tahu rasa mualnya hilang." Ujar Ara, Didi menerimanya dan langsung di sambar oleh Selin. Ia membuka tutup botol itu dan mulai menghirup aroma dari minyak kayu putih itu.
"Terimakasih ya Ra, ini sudah lebih mendingan." Biasanya aku juga bawa. Tapi karena tadi terburu-buru aku lupa." Kata Selin.
"Sama-sama .. " Ujar Ara tersenyum hangat.
Arsen mengeratkan pelukannya, hingga membuat Didi dan Selin geleng kepala dengan sikap posesif Arsen.
"Aku keluar sebentar, kau sejak tadi belum makan. Aku akan sekalian cari susu hamil yang sekali minum untukmu." Ujar Didi, ---- "Apa kakak ipar ingin sesuatu?" Didi beralih menatap Ara.
"Air mineral saja jika tidak merepotkan." Kata Ara, Didi mengangguk.
"Bisakah kalian menjaga Judy untukku. Aku ingin ikut Didi keluar sebentar sepertinya aku butuh udara segar."
"Tentu saja. Pergilah ..! kami akan menjaganya dengan baik." Kata Arsen dan diangguki oleh Ara. Akhirnya Didi dan Selin pergi meninggalkan pasangan baru itu untuk menjaga Judy.
__ADS_1
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Birukan Jempolnya. Karena yang manis-manis nanti otewe