Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Kamu Dimana Ra?


__ADS_3

*******


Ara langsung keluar dari komplek mansion dan mencegat taksi yang kebetulan lewat. Dia melihat ke dalam tasnya beruntung ia membawa kunci rumah yang Dian belikan untuknya. Memang dia belum sempat membicarakan perihal rumah itu pada Arsen. Karena keburu membahas soal pernikahannya.


Membicarakan pernikahan rasa-rasanya Ara mulai ragu dengan keputusannya. Mungkin Arsen memang selalu bersikap baik kepadanya. Tapi sifatnya juga mudah meledak-ledak. Sedangkan ara tidak menyukai itu. Ara sejak kecil hanya dekat dengan dua pria, yaitu ayahnya dan Abah. Teman, bagi Ara adalah sesuatu yang begitu bermakna dalam. Dia bukan tipe orang yang mudah bergaul jadi jika ada seseorang uang benar-benar bisa mengerti dirinya, maka sebisa mungkin Ara akan menjaganya dengan baik hubungan mereka. Ara memiliki sifat cenderung introvert, dan tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi yang membuat dia kesulitan memiliki teman. Dulu saat SMP dia hanya memiliki satu teman laki-laki yang selalu melindungi dirinya. Temannya itu bahkan tidak pernah membedakan kasta dirinya dan Ara, meskipun dia tahu Ara berasal dari keluarga miskin. Tapi setelah lulus dari SMP mereka terpisah karena temannya harus ikut orang tuanya pindah tugas.


Ara mengambil ponselnya dan menghubungi Dian. Dia berpesan jangan sampai memberitahu siapapun tentang alamat rumah itu. Dia hanya berkata butuh sendiri untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. Beruntung Dian bisa menerima semua alasan Ara.


Turun dari taksi, Ara segera membayar dan menatap supermarket yang ada di dekat komplek perumahan miliknya. Ara masuk kesana membeli beberapa makanan instan dan juga kebutuhan lainnya. Beruntung Supermarket itu juga menjual keperluan seperti baju dan lain-lain. Ara hanya membeli beberapa potong saja. Karena dia harus berhemat. Setelah membayar semuanya Ara memanggil tukang ojek yang mangkal disana untuk membawanya ke rumah.


Ara membuka pintu rumah barunya. Seharusnya ia menempati rumah itu bersama dengan Abah. Tapi sekarang dia sendirian disana. Tanpa terasa air mata Ara kembali mengalir.


"Abah, ini rumah baru kita. Bagus ya bah rumahnya adem. Teteh sama almarhum kakek Kusuma baik banget ya bah." Ara meletakkan barang-barang dan bahan makanan ke dapur. Bahkan rumah yang kakek Kusuma sediakan komplit beserta furniture, kitchen set, bahkan kamar Ara dan Abah memiliki AC. Dian juga berkata semua biaya listrik dan air dirumah itu ditanggung oleh Dian Sesuai pesan wasiat dari sang kakek. Ara benar-benar tidak bisa menolak apalagi itu wasiat dari orang yang sudah meninggal. Ara mengunci pintu rumahnya. Dia mulai masuk kamar dan membersihkan diri. Tadi dirinya juga sempat membeli perlengkapan mandi.


Selesai mandi Ara membuka lemari hendak menaruh baju-baju yang sempat ia beli tadi, tapi Ara terkejut ternyata lemarinya sudah dipenuhi pakaian-pakaian untuknya oleh Dian.


Ya Allah, keluarga teh Dian baik banget. ----- Ara.


.


.


.


Arsen memutar balik mobilnya dan mulai mencari keberadaan Ara, ia menyesali perbuatannya. Benar kata Ara, seharusnya dirinya tak membawa persoalan dalam kantor saat berada di luar kantor.

__ADS_1


Ia menghubungi ponsel Ara namun tidak aktif. Gadis itu memang mematikan sambungan teleponnya setelah menghubungi Dian. Dia butuh sendiri dan mencari ketenangan.


Hingga malam Arsen tak dapat menemukan Ara. Bahkan dia meminta bantuan Didi untuk mencari Ara di rumah Dian namun tetap saja gadis itu tidak ada disana. Arsen masuk ke dalam mansion dan di sambut wajah cemas Clara.


"Sen .. " Mama Clara mendekat. Arsen langsung memeluk ibu sambungnya dengan erat. Ia membutuhkan bahu Clara untuk bersandar.


Mama Clara mendapat kabar dari Didi jika Ara menghilang. Entah apa yang terjadi tapi dia ingin putranya terbuka dan menceritakan masalahnya.


"Ada apa hmm ..?"


"Ara marah sama Arsen ma .. " Adu Arsen pada mama Clara layaknya anak kecil.


"Kenapa bisa marah? Setahu mama Ara bukan orang yang mudah tersulut emosinya."


"Semua salah aku ma, aku marahin Ara karena aku cemburu melihat Ara jalan sama pria lain."


"Dia bilang itu dosennya ma. Tapi Arsen takut jika Ara akan berpaling dari Arsen." Nyonya Clara mengulum senyum melihat Arsen saat ini.


"Sen, dengerin mama. Sebentar lagi kalian nikah. Mama ga tau motif apa yang mendasari kamu menginginkan pernikahan ini secepatnya. Tapi mama kasih tahu kamu ya. Berumah tangga itu dasar yang paling penting bukan terletak pada cinta. Tapi pada kepercayaan. Seberapa cinta kamu, seberapa cinta kalian. Jika kalian tidak memiliki kepercayaan satu sama lain kalian justru akan saling melukai." Kata Mama Clara bijak.


"Apa hanya karena itu Ara marah?" tanya mama Clara lagi.


"Arsen bentak Ara mah."


"Kamu tau dia gadis yatim piatu. Sudah tidak memiliki siapa-siapa. Kenapa kamu malah menghardiknya? Ga hanya menyakiti perasaannya tapi kamu juga dosa Sen. Sebaiknya kamu bersihkan dirimu dulu lalu makan. Semoga saja Ara hanya butuh waktu untuk menenangkan diri." Arsen menuruti ucapan mama Clara. Dirinya masuk ke kamar yang beberapa hari ditempati oleh Ara. Bahkan aroma Ara masih melekat di kamar itu yang membuat perasan Arsen kian sesak.

__ADS_1


.


.


.


Ara memanaskan air. Dia hanya berniat makan mie instan malam ini. Setelah memotong sayur sosis dan cabai. Ara memasukkan semua bahan dan mie nya. Ara juga menambah telur sebagai pelengkap.


Ara hanya mendesah berat saat merasa kesepian. Ternyata dia merindukan saat makan ditemani oleh Arsen. Padahal biasanya dia tidak pernah merasa begini. Setelah selesai makan Ara membawa laptopnya ke ruang tengah, ruang itu berisi sofa besar meja dan televisi layar datar. Dan lagi-lagi mengingat kemewahan rumah ini membuat Ara kembali bersedih mengingat Abah.


Ara menyalakan ponselnya yang dimatikan sejak siang tadi. Ada 65 panggilan tak terjawab dan 100 pesan WA dari orang yang sama. Saat baru akan membuka pesan ponsel Ara langsung berdering. Dan ternyata Arsen yang menghubungi dirinya.


Ara menghembuskan nafasnya lalu mengangkat panggilan itu.


"Ra kamu dimana? aku jemput kamu sekarang ya Ra? maafin aku tadi marah-marah sama kamu."


Ara mendesah, perasaannya semakin merasa bersalah. Pria itu pasti sangat khawatir pada dirinya.


"Iya Ara maafin Aa .. "


"Ya udah sekarang kamu dimana aku jemput." Ujar Arsen.


Akhirnya Ara memberitahu dimana alamatnya. Dia kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya. Namun hingga beberapa jam menunggu Arsen belum juga datang. Kini perasaan cemas menggelajuti perasaan Ara. Namun tak lama pintu diketuk dari luar. Ara melihat mobil Arsen ada di depan rumahnya ia segera membuka pintunya. Namun alangkah terkejutnya Ara saat membuka pintu.


"Aa .. "

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Jempolnya ditekan yang banyak ya.. ๐Ÿฑ๐Ÿฑ๐Ÿฑ๐Ÿฑ


__ADS_2