
⛅ Selamat membaca ⛅
Gerry berjalan tergesa-gesa, ia mencari kamar rawat inap si pendonor jantung. Nafasnya terengah-engah, saat ia mencapai pintu ruang ICU. Perlahan Gerry mendorong pintu itu hingga terbuka. Gerry melihat seorang wanita paruh baya tersenyum kepadanya.
Gerry mendekati brankar pemuda itu. Pemuda itu memiliki garis wajah yang hampir sama dengan wajah Gerry. Tak diragukan lagi jika pemuda itu adalah adiknya dari wanita lain.
Wanita paruh baya itu menatap Gerry lalu beralih ke putranya. Segaris senyum terbit dibibirnya. Ia mulai membuka suara.
"Namanya Gerald, dia adalah anak yang tak sengaja lahir dari kesalahan kami. Waktu itu ayahmu dan aku pergi bertemu dengan klien diluar kota. Namun siapa sangka klien yang kami temui sengaja memberikan obat di minuman kami, karena dia ingin merusak citra ayahmu. Tapi tanpa mereka duga ayahmu bisa mengelabuhi mereka dan membawaku menjauh. Tapi apa mau dikata, kami berdua sama-sama dalam pengaruh obat. Hingga malam tragis itu terjadi. Aku tidak mempermasalahkan semuanya. Karena itu bukan salah ayahmu. Tapi karena aku tulang punggung keluargaku. Begitu ayahmu mengetahui aku hamil dia memutuskan menikahiku secara siri. Aku sudah katakan kepadanya untuk menceritakan masalah ini pada ibumu tapi ayahmu menolaknya. Dia tidak ingin menyakiti hati ibumu. Kebaikan hati ayahmu membuat aku lupa diri bahwa pernikahan ini terjadi hanya karena ayahmu iba kepadaku. Sampai suatu hari apa yang kamu lihat saat itu, bukanlah yang sebenarnya terjadi. Karena permintaan Gerald, kami bersandiwara di depan Gerald agar terlihat romantis. Dia ingin seperti teman-temannya yang lain. Pergi bersama orangtua mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Hingga kau memergoki kami waktu itu, saat itu ayahmu benar-benar terpukul dan kaget. Apalagi saat tiba dirumah, kau dan ibumu sudah pergi. Sejak saat itu hubungan kami merenggang. Ayahmu tidak pernah lagi mau datang dan menemui Gerald. Tapi saat umur Gerald 8 tahun dia di vonis dokter menderita kanker darah, ayahmu kembali mau datang dan memberi semangat kepada Gerald. Karena waktu itu Gerald masih kecil, Gerald hanya menjalani kemoterapi. Dan setelah beberapa bulan dia dinyatakan sembuh. Tapi siapa sangka penyakit itu kembali menyerang Gerald saat ini, bahkan dalam waktu singkat Gerald dinyatakan leukemia stadium akhir." Kata wanita itu.
"Apa tidak ada cara lain lagi agar dirinya bisa sembuh?" tanya Gerry.
"Sayangnya semua sudah terlambat."
"Kenapa Tante Sekar diam saja selama ini? kenapa Tante biarkan kesalahpahaman ini terus berlanjut. Bagaimana jika saat ini nyawa papa tidak bisa diselamatkan, apakah Tante Sekar ingin membuatku hidup dalam kubangan penyesalan?" Ujar Gerry.
__ADS_1
"Ini semua kemauan ayahmu. Dia hanya tidak bisa membuatmu semakin merasa bersalah. Dan menyalahkan dirimu sendiri."
"Kenapa kalian memperlakukanku seperti ini. Kalian anggap aku apa?" Ujar Gerry marah.
"Ka-kak .." lirih pemuda itu, ternyata suara Gerry membangunkan jiwa Gerald yang sedang lemah itu.
"Sayang .. apa kau perlu sesuatu?" tanya Sekar pada putranya. Gerald menggeleng lemah.
"Mah, apa benar ini kakak Gerald?" tangan Gerald terulur berusaha meraih Gerry. Tapi pria itu masih terdiam terpaku menatap nanar ke arah pemuda itu terbaring.
Gerald tersenyum. "A-aku se-nang, akhirnya kakak menemuiku." gumam Gerald lirih. Mata Gerry terasa panas mendengar ucapan adik tirinya itu. Perlahan Gerry mendekati brankar Gerald.
"Jika kau senang bertemu denganku kau harus sembuh." Kata Gerry, tanpa disadarinya air mata Gerry jatuh membasahi pipinya.
Gerald menggeleng lemah. "Aku sudah lelah dengan tubuhku ini. Sebentar lagi kita akan selalu bersama-sama. Aku akan menemani ayah. Sampai ayah menua dan menutup mata. Aku akan selalu dekat dengan kalian." Kata Gerald dengan nafas tersengal-sengal.
__ADS_1
"Mama panggilkan dokter dulu. Gerald harus bertahan." Ujar Sekar dengan air mata yang berderai. Gerald menggeleng.
"Maukah kakak memelukku?" pinta Gerald, dengan langkah gemetaran Gerry mendekat ke brankar Gerald. Gerry menunduk dan memeluk adik tirinya untuk pertama kalinya.
"Gerald titip mama .. ya kak! jangan marah sama mama!" kata Gerald lirih. tak berselang lama tubuh Gerald terkulai. Bunyi nyaring dan panjang terdengar di elektokardiogram yang ada di samping brankar Gerald. Pelukan pertama dan terakhir yang begitu menyayat hati Gerry.
Sekar menangis tanpa suara. Putranya sudah meminta dia untuk mengikhlaskan kepergiannya. Tapi hati seorang ibu tetaplah hati yang begitu rapuh. Melihat putranya terbaring tak bernyawa di depannya. Siapa yang sanggup.
Gerry melepas pelukannya. Ia mencium kening sang adik yang telah berpulang. Gerry menekan emergency bell. Dan tak lama dokter berdatangan.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Lanjut nanti malam ya guys othor mau elap ingus dulu. Nulis part ini benar-benar nguras air mata dan ingus othor.
Jangan lupa like komen dan tetap kasih Vote juga hadiah buat othor ya. Love you all 😘😘
__ADS_1
Tetap stay healthy, dan lakukan prokes sesuai anjuran pemerintah. Biar kita dan keluarga kita selalu sehat.