Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Extra Bab 9


__ADS_3

Sesuai permintaan Dian, hari ini dirinya akan mendatangi rumah istri baru Rian. Untuk memastikan kondisi Zafrina. Dian begitu mencemaskan putrinya yang manja dan sedikit melow.


Gerry hanya akan mengantar Dian. Karena dia akan berkunjung ke makam adiknya bersama Sekar dan ketiga anaknya.


Gerry menurunkan istrinya didepan rumah Velia. Jantung Dian berdebar kencang, ia takut istri baru Gerry akan berpikiran macam-macam tentangnya. Namun demi Zafrina, Dian memberanikan diri mengetuk pintu rumah itu.


Dian mengetuk pintu rumah Velia. Baru sehari Zafrina pergi darinya membuatnya tak nyenyak tidur. Bahkan Gerry sampai memarahi Dian karena tak memikirkan kesehatannya.


Velia membuka pintu, dia sedikit terkejut melihat kedatangan ibu dari Zafrina. Namun Velia tetap mempersilahkan masuk.


"Maaf saya mengganggu waktu anda." Kata Dian sungkan.


"Tidak apa-apa. Oh iya kemarin kita belum berkenalan secara langsung." Kata Velia.


"Ah .. anda benar. Perkenalkan saya Dian."


"Aku Velia. Kakak bisa panggil aku Veli saja." Ujar Velia santai.


"maaf Veli, apakah Zafrina rewel disini?' tanya Dian.


"Sama sekali tidak. Dia gadis yang sangat manis." Kata Velia. tak lama Rian datang menggendong Zafrina.


"Ada apa? apa kamu datang untuk mengambil Zafrina?" tanya Rian cemas. Dian menggeleng dan tersenyum.


"Mama .." Zafrina turun dari gendongan Rian lalu merangkul Dian. Sudut mata Dian basah. Velia dapat melihat itu semua.


"Aku hanya khawatir dengannya di tempat baru. Tapi melihat ia tersenyum rasanya kekhawatiranku terlalu berlebihan." Kata Dian.


"Kau kemari sendirian?" tanya Rian menengok sekeliling dan hanya ada Dian dan Velia.


"Iya, mas Gerry sedang di pemakaman disekitar sini. Anak-anak semua ikut." Kata Dian. Rian mengangguk.

__ADS_1


"Veli maafkan aku mengganggu waktu kalian." Ucap Dian.


"Jangan sungkan padaku. Kita bisa berteman." Kata Velia.


"Terimakasih." ---- "Sayang mama pulang dulu ya. Ina harus jadi anak baik disini. Dan jangan menyusahkan papi dan maminya Ina." Kata Dian. Gadis kecil itu mengangguk dengan penuh semangat. Dian langsung berpamitan dan berjalan menuju rumah Sekar. Dia sengaja ingin menghabiskan waktu menikmati suasana di kampung halaman Sekar.


Orang-orang disana sangat ramah. Dan Dian menyukai situasi seperti ini. Seandainya suaminya tak memiliki tanggungjawab besar di perusahaan pasti Dian akan meminta Gerry untuk tinggal disana lebih lama. Bahkan Dian merindukan hangatnya rumah mereka yang ada di New York. Tempat kenangan manis mereka terukir.


Sesampainya di rumah Sekar, Dian duduk termenung. Ada rasa syukur di hatinya, ada banyak hal yang telah ia lewati hingga sampai dititik sekarang ini. Andai semua kepahitan takdirnya tidak pernah terjadi mungkin dirinya tidak akan bertemu dengan Gerry dan memiliki anak bersama pria itu. Dian tersenyum tipis. Tanpa diduga Gerry memeluk tubuh Dian dari belakang hingga membuat wanita itu tersentak.


"Sayang, kenapa mengagetkanku?" Dian mengerucutkan bibirnya. Gerry langsung menyambarnya.


"Papa .." teriak Zayana. Dian dan Gerry saling memandang lalu tertawa.


"Putrimu benar-benar posesif." Bisik Dian. Gerry mengangguk lalu mengecup puncak kepala Dian. Zayana mendekat kearah kedua orangtuanya, ia lalu masuk kedalam pelukan ibunya.


"Mama, Ana bosan. Kita ke rumah maminya Ina ya." Ujar Zayana sembari memainkan kancing blouse Dian.


"Kenapa mama? tidak boleh ya?" tanya Zayana.


"Boleh, tapi Zafrina dan maminya sedang tidak bisa diganggu sayang."


"Oh, tapi Ana bosan, Ana tidak punya teman main." Kata gadis cantik itu merajuk.


"Kan ada kakak Zafa dan Zayn." Jawab Dian, seraya tersenyum menatap kedua jagoan kecilnya yang dari tadi hanya memasang wajah cool mereka, tanpa ingin mengganggu adiknya yang sedang merajuk.


"Bagaimana kalau kita piknik di dekat danau?" tawar Gerry. Zayana menatap ayahnya sebentar lalu mengangguk berulang kali.


"Ana mau, Ana mau .." Kata Zayana bersemangat. Dian merasa ada sudut hatinya yang terasa hampa tanpa kehadiran Zafrina di dekat mereka. Dan dia harus mulai bisa membiasakan dirinya.


Gerry mengusap bahu Dian. Wanita itu mendongak menatap suaminya. Gerry tersenyum lembut. Ia tahu apa yang saat ini Dian rasakan dari tatapan matanya yang sendu meskipun senyumnya tak pernah sedikitpun pudar. Ia pun merasakan hal yang sama. Ada kekosongan melihat anggota keluarga mereka berkurang satu.

__ADS_1


.


.


.


Veni terlelap setelah menjalani serangkaian tes. Pagi ini dokter Fani sudah memeriksanya. Setelah diUSG diketahui usia kandungan Veni menginjak 11 minggu. Dan Veni sama sekali tak merasakan gejala apapun. Sejak pengobatannya selesai Veni memang memiliki masalah dengan siklus datang bulan. Dalam satu waktu Veni bisa mengalami menstruasi sebulan dua kali. Dan di waktu berikutnya selama dua sampai tiga bulan dia tidak mendapatkannya sama sekali. Maka dari itu sulit baginya memprediksi masa suburnya. Namun siapa yang menyangka hari ini dia mengalami hal buruk untuk mendapatkan kabar baik.


Aldo masih setia duduk menemani Veni. Didi mengetuk pintu ruang perawatan Veni. Ia masuk membawakan pesanan Aldo, dua paper bag dia serahkan pada Aldo.


Didi duduk di sofa dan mendesah berat. Aldo mendekati Didi lalu duduk disebelahnya.


"Bagaimana, apa kau dapat rekamannya?" tanya Aldo, Didi menyerahkan ponselnya kepada sahabatnya itu. Aldo melihat rekaman dimana Viona mendatangi istrinya dan berulah. Tangan Aldo terkepal saat melihat Viona mengusik istrinya. Untung saja tidak terjadi sesuatu hal yang buruk dengan calon bayinya. Jika sampai itu terjadi ia tak akan pernah memaafkan ketiga wanita itu.


"Bagaimana kondisi istrimu?" tanya Didi ia menatap wajah lemah Veni, mengingatkan padanya akan sosok gadis yang membuatnya sampai saat ini belum bisa move on.


"Sejauh ini ia baik-baik saja. Beruntung kejadian kemarin tidak mempengaruhi kandungannya." Ujar Aldo sembari melempar pandangannya kearah Veni.


"Kau beruntung masih memiliki keduanya." Gumam Didi dengan raut wajah yang berubah sendu.


"Kenapa kau tidak mencarinya?" tanya Aldo, ia ikut prihatin dengan Didi.


"Aku harus mencarinya kemana lagi? sudah 5 tahun berlalu tapi aku sama sekali tak mengetahui keberadaannya." Desah Didi.


"Suatu saat kalian pasti bertemu, jika berjodoh." Kata Aldo berusaha menghibur Didi.


"Terkadang aku iri dengan kalian. Kau dan Gerry bisa begitu mudah menghadapi masalah kalian sedangkan aku. Bahkan sampai 5 tahun berlalu dia masih tak menunjukkan kehadirannya." Tutur Didi, sudut mata pria itu basah. Ada sesuatu yang merobek hatinya saat membicarakan pacar dadakannya dulu. Ia tak menyangka hatinya akan bertekuk lutut pada gadis itu. Dan disaat dia benar-benar mencintai gadis itu, justru gadis itu meninggalkannya. Sudah 5 tahun berlalu, Didi tidak tau apakah gadis itu masih hidup atau sudah tiada. Namun cinta untuk gadis itu sungguh sangat menyiksanya.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


Extra Bab sudah habis ya. Kita akan melangkah ke S2. Kehidupan tentang Veni dan Aldo yg pasti tak kalah seru.

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan Vote. Hadiah dari kalian juga othor tunggu.


__ADS_2