Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Sadarlah baby


__ADS_3

*******


Singapura


Veni begitu bahagia mendengar kabar jika Dian sudah melahirkan. Saat ini dirinya sedang menikmati sore di balkon kamarnya. Namun dengan wajah yang ditekuk. Ia merasa bosan sekarang karena sejak dirinya di bawa oleh Nick, Aldo sama sekali tak mengijinkan Veni keluar rumah meskipun Veni telah mengatakan jika Nick tidak akan mungkin menculik dirinya lagi.


Aldo yang baru pulang dari mengurus perusahaan milik papanya menghampiri sang istri yang sedang rebahan malas menatap hamparan rumput dan taman bunga. Sejak usia kandungan Veni menginjak 7 bulan mereka menempati kamar utama di rumah itu. Sedang orang tua Aldo memilih menghabiskan masa tua mereka dengan melakukan perjalanan keliling dunia. Aldo mengecup kening Veni sekilas. Veni melirik sang suami dengan tatapan kesal.


"Hei, kenapa melirik dengan pandangan seperti itu?" tanya Aldo yang tak mengerti dengan tatapan Veni kali ini.


"Apa hidungmu tersumbat baby? Kau dari mana? dan bertemu siapa? kenapa aroma mu bercampur dengan parfum perempuan? Veni mendelik kesal.


Aldo menarik kedua sudut bibirnya, rasanya sudah lama tidak di cemburui seperti itu.


"Tadi aku memakai lift umum karena lift khusus yang biasa ku gunakan sedang ada perbaikan. Dan tentu saja saat memasuki lift aku berpapasan dengan beberapa karyawan. Ayo lah baby hanya kau yang selalu ada di hati dan pikiranku." Desis Aldo, Veni menarik Jas Aldo dan menelisik kemeja yang suaminya kenakan. Aldo hanya melipat bibirnya agar tidak tertawa melihat kelakuan Veni.


"Awas saja jika kau berani macam-macam." Kata Veni masih dengan kekesalannya.


"Katakan sebenarnya ada apa? kenapa kau terlihat sangat kesal?"


"Aku bosan, aku ingin pergi ke mall untuk membeli barang-barang untuk bayi kita nanti." Ucap Veni merajuk.


"Kita pesan saja ya. Kau bisa melihat katalog dari rumah nanti." Bujuk Aldo, Veni mendengus kesal.


Veni bangun dengan susah payah dari posisinya yang sedang rebahan, Aldo memegang tangan Veni namun seketika langsung ditepis olehnya. Entah mengapa rasanya hati Veni begitu kesal. Ia berjalan masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Veni menutupi tubuh hingga kepala memakai selimut. Aldo mendesah berat, ia dilema sekarang antara menuruti keinginan istrinya atau membiarkan istrinya merajuk. Namun hatinya mengatakan jika lebih baik dia membiarkan istrinya dulu. Setelah itu ia akan membujuk Veni. Aldo tak pernah tau apakah pilihannya benar atau salah. Dia hanya ingin yang terbaik untuk Veni dengan cara pikirnya. Aldo meninggalkan kamar dia memilih melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Begitu mendengar pintu tertutup Veni membuka selimutnya dia terisak. Kembali ucapan Nick terngiang di kepalanya. Apakah sekarang dia menyesali pilihannya? Tapi hatinya begitu mencintai Aldo. Apakah cinta yang selama ini dia pertahankan salah? kenapa rasanya sakit sekali. Bahkan Aldo tidak mau berusaha sedikit lebih keras untuk membujuknya. Apakah ini cinta yang Aldo tawarkan untuknya? Kenapa hatinya sakit sekali. Veni memukul dadanya yang terasa sesak. Veni menangis terisak cukup lama hingga ia merasakan nyeri di perutnya.

__ADS_1


"Akhh .. sayang maafkan mama." Ujar Veni meringis seraya mengusap perutnya. Namun bukannya reda rasa sakitnya semakin menjadi, Sekuat tenaga Veni berusaha turun dari ranjang dan berjalan. Rasa sakitnya semakin terasa menusuk.


"Sabar sayang, mama minta maaf mama tidak akan sedih lagi." Gumam Veni seraya berusaha mencapai pintu toh berteriak pun rasanya percuma karena kamar mereka kedap suara.


Semakin lama rasa sakit itu membuat Veni tidak kuat berjalan. terduduk di lantai dengan wajah pucat pasi.


"Ya Tuhan, kuatkan aku. Selamatkan anakku ..!" Ujar Veni dengan suara melemah, Rasa sakit yang ia rasakan sedikit demi sedikit merenggut kesadarannya.


Aldo Pov


Melihat wajah kesal dan suntuknya membuatku merasa dilema. Apakah aku harus menuruti keinginannya kali ini? Aldo menyangga kepalanya yang terasa berdenyut.


Apakah aku terlalu egois jika aku takut kejadian beberapa waktu yang lalu kembali terulang, Tapi melihatnya tadi membuatku merasa bersalah telah merenggut kebebasannya. Toh hanya pergi ke mall apa salahnya? Aku akan menemaninya hingga ia terpuaskan dan bahagia.


Setelah memutuskan untuk mengijinkan Veni keluar rumah, aku segera ke kamar untuk menemuinya dan meminta maaf padanya.


Ceklek ..!!


Pintu kamar terbuka, dan mata Aldo seketika terbelalak kaget melihat Veni terduduk di lantai dan hampir limbung. Aldo segera berlari menahan kepala Veni yang hampir terbentur lantai.


"Tidak .. tidak ku mohon sadarlah baby! Maafkan aku." Ujar Aldo panik. Ia melihat lantai basah dan dari sela dress yang Veni kenakan mengalir darah.


Aldo segera mengangkat tubuh istrinya dengan susah payah. Ia segera berteriak memanggil kepala pelayan, dan meminta kunci mobilnya. Dengan sigap pria paruh baya itu berlari mengambil kunci dan membukakan pintu mobil untuk nyonya dan tuannya.


Aldo segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tak peduli lagi dengan sumpah serapah pengguna jalan lain yang merasa terancam keselamatannya karena ulah Aldo. Baginya yang terpenting keselamatan Veni saat ini.


Setibanya di depan rumah sakit mount Elisabeth Aldo segera meminta bantuan tenaga medis menyediakan brankar untuk istrinya.

__ADS_1


Dan tak butuh waktu lama Veni langsung ditangani oleh beberapa dokter. Aldo menunggu di depan ruang Intensive care unit atau lebih di kenal dengan IGD. Ia mengusap wajahnya kasar. Lagi-lagi sikapnya justru membuat Veni dalam kondisi yang buruk.


Seorang suster menghampiri Aldo dan mengatakan dokter Obgyn yang menangani Veni ingin berbicara kepadanya. Dengan jantung yang berdebar tak beraturan Aldo menghampiri Ruangan dokter itu.


"Selamat siang tuan, saya memanggil anda kemari karena anda harus menandatangani surat pernyataan ini. Kondisi bayi istri anda lemah, kami harus segera mengeluarkannya.


" Tapi dokter ini masih terlalu jauh dari perkiraan kelahirannya." Sanggah Aldo.


"Saya sudah mengantisipasi dengan memberi suntikan untuk memperkuat paru-parunya." Kata dokter tersebut. Aldo mengusap wajahnya kasar.


"Tolong segera putuskan tuan. Nyawa istri anda jadi taruhannya." Lanjut dokter itu dan kini suaranya terdengar lugas dan tegas.


Akhirnya Aldo menandatangani persetujuan dilakukan operasi sesar demi menyelamatkan istri dan anaknya.


Kini Aldo duduk sendirian di depan ruang operasi. Perasaannya benar-benar tak karuan saat ini. Dia merasa benar-benar menjadi suami yang buruk untuk Veni.


Ingin rasanya Aldo menerobos masuk untuk melihat kondisi Veni saat ini. Perasaannya semakin tak karuan saat melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah dua jam lebih ruang operasi itu tertutup dan tak kunjung terbuka.


"Tuhan, tolong selamatkan istri dan anakku." Dari lorong tampak seorang pria gagah dan tampan berjalan dengan wajah yang merah padam menahan amarah. Ia mendapat laporan dari mata-matanya jika Veni dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan tak berdaya. Darahnya seketika mendidih mendapat laporan itu. Meskipun dia mengikhlaskan Veni bersama Aldo tak serta merta membuatnya lepas tangan terhadap wanita itu.


Ia langsung menarik kerah baju Aldo dan memberi pria itu bogeman tepat di hidungnya hingga berdarah.


"Bang_sate ... aku melepaskan dia bukan untuk terus menerus kau sakiti. Jika kau tak bisa menjaganya lepaskan dia." Pekik Nick tepat di hadapan Aldo.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Happy reading ya .. pokoknya disini ga ada yang sad ending. Bahagia butuh proses oke. ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ

__ADS_1


__ADS_2