Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
New season 20 Mama Juga Menyayangimu


__ADS_3

********** Zona wajib siapin tisu *********


"Papi akan menebus kesalahan papi dan mengembalikan semuanya seperti sedia kala, meskipun itu sulit. Papi akan berusaha sayang." Gumam Rian setelah meletakkan tubuh lelah Zafrina di ranjang mansionnya.


Rian mengambil ponselnya dan menghubungi Velia lewat video call.


"Honey ... aku merindukanmu." Lirih Rian, dari wajah Rian tampaknya masalahnya belum terselesaikan.


"Apa mbak Dian masih belum memaafkanmu?"


Rian menggeleng lemah. "Tadi aku menemuinya di rumah sakit. Setelah masalah kemarin dia di larikan ke rumah sakit karena terkena serangan jantung."


Velia menutup mulutnya terkejut. "Bagaimana kondisinya sekarang?" Rian menggeleng, Velia menatap iba ke arah suaminya.


"Tadi aku menemuinya tapi saat aku meminta maaf dia kembali anfal."


"Apa kau baik-baik saja sayang? apa aku perlu menyusulmu?" tanya Velia.


Namun lagi-lagi Rian menggeleng. Velia dapat melihat sudut mata Rian yang basah. Mungkin suaminya sangat menyesali ucapannya saat itu.


"Lalu bagaimana dengan Ina?"


"Dia sepertinya membenciku honey. Karena aku memang layak dan patut untuk di benci." Ujar Rian tanpa terasa bulir air mata pria penguasa itu jatuh juga. Hatinya tersakiti melihat kesedihan putrinya. Bagaimanapun Rian sangat merasa bersalah telah membuat putrinya menangis.


"Aku akan menyusulmu, aku akan membantumu berbicara pada Ina dan mbak Dian." Kata Velia, dia menjadi semakin tak tega melihat air mata suaminya yang jarang menetes kecuali waktu Velia melahirkan putra pertama mereka.


"Tidak perlu sayang, kau cukup menjaga putra-putra kita saja. Aku akan secepatnya menyelesaikan masalah yang telah aku buat. Bahkan jika perlu aku akan bersujud agar mereka semua memaafkanku."


Zafrina mendengar semua pembicaraan papi dan maminya karena dia terbangun saat Rian membaringkan tubuhnya di ranjang. Gadis itu menangis dalam diam bahunya tampak bergetar karena Ina menutup mulutnya agar tak bersuara. Setalah Rian mematikan sambungan teleponnya Zafrina bangun dari tidurnya dan berlari memeluk papinya. Gadis itu kembali sesenggukan di punggung Rian. Rian begitu terkejut saat Zafrina memeluknya. Rian yakin putrinya pasti mendengar ucapan nya saat berbicara dengan Velia tadi.


"Maafin Ina papi ... "


"Hei girl kamu tidak salah, papi yang salah." Rian mengusap lengan Zafrina yang masih tergantung di perutnya.

__ADS_1


Zafrina menggeleng kuat. "Semua salah Ina papi, Ina yang membawa masalah ini sampai ke mama. Ina yang menyebabkan mama sakit." Lirih nya.


Rian membalik tubuhnya dia mendudukkan dirinya di sofa sedangkan Zafrina duduk di pangkuan Rian. Rian menangkup wajah Zafrina dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap lelehan air mata yang terus mengalir dari mata putrinya.


"Ina dengarkan papi, anggap saja semua ini memang sesuatu yang harus kita jalani. Ina tau? papa Gerry sudah mendengar semuanya dan papa tidak marah ataupun menyalahkan papi maupun Ina. Karena papa yakin semua sudah di atur oleh Tuhan. Sekarang yang perlu kita lakukan doakan mama semoga mama segera sembuh." Zafrina mengangguk.


"Apa ini artinya papi dimaafkan?" Tanya Rian seraya membelai rambut kecoklatan milik Zafrina, Gadis itu mengangguk. Rian mengecup kening Zafrina dalam. Maaf dari putrinya sangat berarti bagi dirinya.


"Ina sayang papi."


"Papi juga sangat menyayangimu sayang, maafkan papi yang sempat menolak kehadiranmu dulu. Maafkan kebodohan papi sudah mensia-siakan Ina dulu. Papi baru menyadari bahwa papi sangat menginginkan Ina, saat papi melihat Papa Gerry selalu tersenyum saat membawamu bermain di mall, papi selalu membayangkan andai saat itu papi tidak berbuat kesalahan dan meninggalkan mama semua tidak akan seperti ini jadinya. Tapi sekarang papi bersyukur karena lagi-lagi mungkin itu cara Tuhan mempertemukan papi dengan mami Velia."


Ina memeluk leher Rian dan meletakkan kepalanya untuk bersandar di bahu papinya. Rian lega akhirnya putrinya sudah mau memaafkan dirinya.


.


.


.


"Mas ... "


"Ada apa sayang? apa kau perlu sesuatu?" Gerry mendekatkan wajahnya pada Dian. Wanita itu tersenyum lemah menatap wajah suaminya.


"Bisakah memanggil Selin dan Didi kemari. Ada hal yang perlu aku bicarakan mengenai pernikahan Zayn dan Judy."


"Ku mohon jangan terlalu memaksakan diri sayang. Sebaiknya acara Zayn kita tunda sampai kau benar-benar sehat."


"Jika kau menunda acara itu sebaiknya kita batalkan juga rencana dengan dokter kemarin." Ujar Dian, Gerry terkesiap mendengar ancaman Dian.


"Tapi sayang ... "


"Tidak ada tapi-tapian mas." Saat ini di ruangan itu hanya ada Dian dan Gerry karena Zafa sedang ke kafetaria.

__ADS_1


"Ku mohon sayang, jangan seperti ini. Jika sampai terjadi sesuatu padamu aku tidak akan sanggup."


"Maka turuti aku mas, aku hanya ingin semuanya berjalan sesuai apa yang sudah kita rencanakan. Jika nanti saat operasi terjadi sesuatu padaku, aku tidak memiliki tanggungan janji apapun." kata Dian dengan tatapan memohon.


"Tapi ... "


"Mas aku mohon." lirih Dian, untuk kesekian kalinya lagi-lagi Gerry memilih diam. Mendengar kata-kata istrinya saja membuat hatinya sakit apalagi jika benar sampai terjadi sesuatu pada istrinya. Gerry tidak ingin membayangkannya.


Flashback


"Bagaimana dokter? apa ada cara agar Dian bisa sembuh?"


"Kami hanya bisa mengupayakan yang terbaik tuan. Kami menyarankan pemasangan ring untuk jantung nyonya Dian.Tapi saya mengingatkan ini adalah operasi besar, jadi banyak kemungkinan yang bisa terjadi selama di meja operasi." Tutur dokter Dzaki.


Gerry hanya tertegun mendengar ucapan dokter itu. Sementara Dian hanya diam saja tak menanggapi. Pikirannya entah terbang kemana karena dia seperti sedang melamun.


Flashback off


Tanpa diketahui Gerry dan Dian, Zafa berdiri di balik pintu ruangan Dian. Dia terduduk bersandar dengan tangan yang masih memegangi gagang pintu. Air mata Zafa seakan tak mampu terbendung. Kenapa orang tuanya selalu menyembunyikan sesuatu yang penting seperti hal yang saat ini ia dengar. Zafa bangkit berdiri. Dia masuk ke ruang perawatan Dian dengan mata memerah.


"Sayang kamu kenapa?" Dian mempertanyakan kondisi putranya yang masuk dengan mata memerah.


"Sampai kapan mama dan papa akan selalu merahasiakan sesuatu yang penting untuk kami ketahui. Apa kalian benar-benar menganggap kami anak kalian?" Zafa menangis sesenggukan seperti anak kecil yang kehilangan kesayangannya.


Dian tersenyum, lalu memberi isyarat agar Zafa mendekat. Zafa pun mendekat dan duduk di samping Dian.


"Apa Zafa menyayangi mama?" tanya Dian seraya mengusap air mata Zafa. Pemuda itu mengangguk.


"Mama juga sangat menyayangi Zafa. Apa Zafa senang melihat mama menangis?" Zafa menggeleng.


"Jika Zafa tidak suka mama menangis, begitupun mama, Mama juga tidak suka melihat anak-anak mama menangis. Itulah alasan mama ingin papa merahasiakan semuanya dari kalian. Karena mama akan sakit melihat kalian bersedih. Apalagi penyebabnya adalah mama sendiri." Kata Dian panjang lebar. Ia berharap anaknya bisa mengerti.


"Tapi kami berhak tau keadaan mama." Dian tersenyum lembut melihat putranya terus menitikkan air mata.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi. Mama sangat menyayangimu." Bisikan Dian seraya memeluk Zafa. Gerry hanya menatap nanar kearah istri dan anaknya. Jika boleh meminta dia ingin bertukar posisi dengan istrinya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2