
*********
"Ra .. kamu udah siap?" tanya Arsen dengan suara parau. Ara mengangkat wajahnya menatap wajah suaminya yang juga sama-sama memerah. Namun kali ini karena Arsen sedang menahan hasratnya dengan sekuat tenaga. Ara mengangguk lalu tertunduk, Arsen meraih dagu Ara dan memiringkan wajahnya. Perlahan ia memagut bibir tipis Ara yang tampak sangat menggoda. Ara memejamkan matanya saat bibir Arsen yang terasa kenyal dan lembut itu menempel dengan sempurna di bibirnya. Arsen membenamkan ciumannya semakin dalam dan menuntut."
Arsen mengurai ciumannya, ia menyeka sudut bibir Ara yang basah karena salivanya. Wajah Ara memerah bahkan dia terus memejamkan mata tak berani menatap wajah Arsen. Arsen menyentil dahi Ara hingga gadis itu membuka mata dan mengerang.
"Aargh .. sakit A." Ara mendelik kesal. Sedang Arsen masih terus memindai wajah Ara yang tampak berbeda. Bahkan gadis itu memakai parfum dengan aroma Vanila yang sangat lembut.
Arsen tersenyum dan mengusap kening Ara.
"Beneran kamu udah siap?" Tanya Arsen sekali lagi, Ara hanya melirik Arsen dengan ekor matanya lalu kembali mengangguk.
Seketika Arsen langsung mengangkat tubuh Ara dan membawanya ke peraduan. Ara melingkarkan tangannya di leher Arsen.
"Tapi nanti pelan-pelan ya A .. " lirih Ara, Arsen mengangguk. Tentu saja dirinya akan pelan-pelan karena dirinya pun juga saat ini dalam tahap baru belajar. Tidak mungkin dia akan bertindak asal-asalan.
Arsen meletakkan tubuh Ara dengan hati-hati. Arsen melepas kaos yang dia kenakan hingga terpampanglah tubuhnya yang atletis. Wajah Ara merah padam. Lagi-lagi dia melihat tubuh Arsen yang sixpack. Beruntung saat tadi bangun tidur dia masih belum terlalu sadar jadi tidak terlalu malu. Tapi sekarang dia benar-benar dalam keadaan sadar, Arsen mendekat dan mengungkung tubuh Ara. Ia mengecup kening Ara begitu dalam Ara memejamkan mata saat bibir Arsen menyentuh keningnya, perasaan hangat menjalari relung hati Ara. Dengan kemantapan hati Ara mulai membuka matanya menatap wajah tampan yang saat ini menatap nya dengan teduh. Tangan Ara bergerak membelai wajah Arsen, dan kini kedua tangan Ara berada di leher Arsen. Ara menarik tengkuk Arsen dan mencium bibir pria yang telah resmi menjadi suaminya. Meskipun gerakan Ara tampak kaku, tapi Arsen menikmatinya. Keduanya mulai terbakar hasratnya. Tangan Arsen bergerilya nakal di dua gundukan sekal milik Ara, tangannya mulai melepas seluruh atribut yang melekat di tubuh Ara. Kini Ara benar-benar polos di hadapan Arsen. Pria itu juga mulai melepas kain terakhir yang menempel di tubuhnya. Arsen mulai memposisikan dirinya diantara kaki Ara. Tubuhnya meringsek maju mencoba mendorong juniornya. Tapi saat ujung junior mencoba meringsek masuk Ara menjerit lirih. Air matanya mengalir deras. Tangan Ara mencengkeram kuat pundak Arsen.
"Sa-kit Aa .. " Arsen menghentikan gerakannya, Ia mengusap air mata Ara yang menetes.
"Tahan sebentar lagi Ra .. Ujar Arsen langsung memagut bibir Ara. Saat cengkeraman tangan Ara melemah, Arsen menghentak juniornya hingga terasa oleh Arsen seperti menembus sesuatu.
__ADS_1
" Aargh ... sshhh" Ara menggigit bibirnya saat rasanya tubuhnya terbelah dari bawah. Bahkan nafas Ara terengah-engah, Arsen menghentikan gerakannya lagi.
"Apakah sakit sekali?" tanya Arsen mulai mencemaskan Ara, gadis itu sepertinya kesulitan bernafas.
Ara menggeleng lemah, ia bahkan tersenyum pada Arsen. "Teruskan saja A ...! Nanti lama-lama pasti hilang rasa sakitnya." Ujar Ara, ia pun tak tega mengeluh pada Arsen. Melihat wajah cemas Arsen membuat Ara merasa tak enak hati.
Arsen kembali menyeka air mata Ara dan mulai menggerakkan tubuhnya dengan gerakan yang lembut dan intens. Hingga 30 menit kemudian ia merasakan sesuatu seperti mendesak ingin keluar dari inti tubuhnya. Arsen semakin mempercepat gerakannya dan tubuh Ara mengelinjang, ia mendes*h lirih.
"Aa aku mau pipis." Desis Ara dengan wajah memerah.
"Keluarkan saja Ra .. " Ujar Arsen dengan terengah-engah. Gerakannya semakin cepat seakan memburu sesuatu.
"Aarrghh .. Ara!!" Tubuh Arsen menegang diikuti oleh Ara. Keduanya terkulai lemas tak bertenaga.
.
.
.
Di lain tempat Veni dan Aldo sedang bersiap menuju ke bandara. Aldo memutuskan membawa Veni pulang. Ia memerintahkan Alex untuk menangkap Martinus dengan memakai Maria sebagai umpan. Semua di lakukan atas keinginan Maria sendiri. Ia ingin mengakhiri semua hasil perbuatannya.
__ADS_1
"Baby .. " Aldo mendekati Veni. Namun ternyata kemarahan Veni masih tersisa untuk Aldo.
"Hmm .. "
"Baby, katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkanku? Aku hanya berniat agar kau lepas dari bayang-bayang ibumu itu saja. Aku benar-benar tidak ada maksud lain." Aldo berlutut di depan Veni. Veni mendesah lelah menatap Aldo dengan mata yang berkabut.
"Aku tidak marah padamu baby, aku hanya lelah. Lelah menjalani semua ini. Rasanya tidak ada yang mudah sama sekali. Selama ini aku berusaha mengubur semua kenangan pahit itu dalam-dalam. Tapi nyatanya selalu saja ada hal yang membuatnya muncul lagi ke permukaan. Jika mengingat saat itu rasanya aku ingin mati saja." ujar Veni lemah. Aldo meringsek memeluk Veni. Rasanya penyesalan Aldo semakin menimbun dirinya.
"Maaf baby, aku bersalah. Kau boleh menghukumku apapun. Asal jangan diamkan aku seperti ini." Ujar Aldo menangis di pangkuan Veni. Begitupun Veni yang terlebih dulu terisak. Keduanya menangis menumpahkan segala rasa yang menyesakkan dada.
"Aku pernah menyayangi ayahku, tapi nyatanya dia memiliki ***** padaku dan pada akhirnya menyakiti hatiku. ---- Aku pernah menyayangi ibuku tapi dia justru menjadikanku jaminan hutang-hutangnya. Tak hanya luka tubuh yang ku dapatkan tapi luka hati yang hingga sekarang tak kunjung sembuh. ---- Aku juga pernah mencintaimu segenap hatiku tapi apa yang kau lakukan padaku? Kau menambah deretan luka di hati yang tak seberapa ini. Mungkin lebih baik disakiti oleh orang lain yang tidak kita kenal daripada kita harus di sakiti orang yang memegang hati ini."
Aldo semakin menenggelamkan wajahnya di perut buncit Veni. Ia terisak dalam diam. Semua ucapan Veni tidak ada yang salah. Tapi mengapa menerima kenyataan itu rasanya sangatlah menyakitkan bahwa dirinya terlibat menambah luka hati Veni.
"Ayo kita bergegas. Jika perlu tidak usah kembali ke indonesia lagi. Kita menetap disana saja." Kata Veni beranjak berdiri, membuat Aldo mau tak mau ikut bangkit. Aldo mengusap air mata Veni dan mengecup kening istrinya itu.
"Apa kau tak keberatan menetap disana?" tanya Aldo. Veni menggeleng lemah.
"Aku akan tinggal dimana aku merasa nyaman. Kau tidak usah mengkhawatirkanku." Ujar Veni dingin. Sejak Aldo membawa Maria ke mansion, sejak itu pula Veni merasakan kebekuan hati terhadap Aldo. Terlepas apapun niat Aldo saat itu, kenapa dia tidak lebih dulu meminta saran padanya. Bahkan dia yang bersangkutan langsung.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
__ADS_1
Udah kan? lega kan? enak kan?
Jangan berharap lebih untuk detil enaknya karena ga kan bisa kalian baca nanti. Jadi kurasa seperti ini saja.