
⛅ Selamat membaca ⛅
(Awas part ini agak panas. Kalo yang belum cukup umur skip aja. Daripada mupeng 😂)
Nyonya Arini kini merasa tenang, putranya sudah kembali seperti dulu. Kini waktu sudah menuju pada puncak acara dimana pasangan Nino dan Sasa berada di panggung utama. Sasa tampil cantik dengan mengenakan gaun berwarna putih tanpa lengan, dengan panjang semata kaki, gaun yang tampak simpel namun mewah karena dihiasi dengan Swarovski membuat Sasa malam ini tampil layaknya seorang putri.
Nino juga mengenakan jas senada berwarna putih dengan kemeja berwarna merah maroon serta bunga mawar yang terselip di sakunya. Membuat tampilan Nino semakin menawan.
Setelah acara tukar cincin terlaksana dan hanya menyisakan hiburan, Gerry langsung pamit pada kakek Kusuma dan yang lain dengan alasan demi buah hati mereka.
"Kenapa masih cemberut hemb?" Gerry mengangkat dagu Dian.
"Kenapa membawaku ke kamar?"
"Kau harus istirahat sayang." Ujar Gerry lembut. Dirinya menuntun Dian untuk duduk bersandar di headboard ranjang dan mengganjal punggung Dian dengan bantal.
"Tapi aku masih ingin disana." Gerutu Dian, Gerry hanya tertawa melihat tingkah Dian.
"Benarkah ..?" Gerry mulai mengusap dan mengecup perut Dian yang membuncit. Senyum Gerry mengembang saat janin Dian memberi respon dengan tendangan.
"Apa kalian merindukanku?" lanjut Gerry, Dian hanya diam saja saat tangan Gerry menyingkap gaun Dian ke atas. Ada geleyar aneh yang tiba² Dian rasakan saat tangan Gerry mengusap pahanya dengan gerakan sensual.
Dian memejamkan matanya menahan desakan hasrat yang tiba-tiba meninggi. Ia bahkan menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan desahan.
__ADS_1
"Jangan ditahan sayang, keluarkan lah suara merdumu." Ujar Gerry, tak hanya tangannya yang terus bergerak merayapi tubuh Dian, tapi bibir Gerry ikut menyusuri setiap lekuk tubuh bagian bawah Dian.
Dengan gerakan cepat Gerry melucuti jas yang dia pakai dan menggulung lengan kemejanya hingga ke siku.
Dian membuka matanya terkejut saat Gerry tiba² menarik segitiga pengaman miliknya.
"Mas, k-kamu mau apa?" tanya Dian gugup.
"Aku hanya ingin menyenangkan dirimu sayang. Jadi rileks dan nikmatilah." Gerry mulai menunduk memposisikan dirinya diantara sela paha Dian. Gerry menekuk lutut Dian dan sedikit membuka celah, Gerry langsung menyusup diantara sela paha Dian menghadap inti tubuh Dian yang terlihat seperti irisan buah peach itu.
Gerry mulai mendekatkan wajahnya ke inti tubuh Dian dan mulai menjulurkan lidahnya untuk memberikan servis terbaiknya, yang membuat Dian terus menggerakkan tubuhnya gelisah, bahkan Dian tak mampu lagi menahan desahannya dan disaat yang bersamaan tubuh Dian menegang merasakan inti tubuhnya berdenyut hebat. Tubuh Dian seketika lemas mendapatkan serangan dadakan dari Gerry.
Gerry tersenyum puas melihat Dian yang masih mengatur nafas dan memejamkan mata, Sudah terlalu lama keduanya berpuasa melakukan hal yang demikian. Bahkan kini senjata Gerry sudah berdiri tegak meminta keadilan. Gerry merebahkan tubuhnya di samping Dian. Dian melirik suaminya dengan tatapan ragu, entah mengapa tiba-tiba dalam dirinya seperti ada dorongan untuk bertindak agresif. Pikiran Dian menolak hal itu tapi hati dan tubuhnya seolah berkhianat. Dian melucuti dress yang ia kenakan lalu tubuhnya bergerak menindih Gerry.
"Ummh ... ssshh" Bibir Gerry mengeluarkan desahan saat Dian mulai menghisap ujung tombaknya. Dian terus memainkan senjata Gerry hingga hampir lima belas menit. Dian merasa senjata Gerry berdenyut. Lalu tangan Dian bergerak semakin cepat naik dan turun dengan tempo tak beraturan hingga tubuh Gerry bergetar, merasakan pelepasan pertamanya. Tak cukup sampai disitu Dian segera memposisikan senjata Gerry di inti tubuhnya, dengan sekali hentak senjata Gerry tenggelam seutuhnya ke dalam inti tubuh Dian.
"Siapa yang mengajarimu? kau semakin pandai saja sayang." Gerry menatap wajah cantik Dian yang terus memacu senjata Gerry dengan gerakan yang halus.
Wajah Dian langsung merona, ia sendiri tak menyangka dirinya bisa seagresif ini.
"A-aku hanya mengikuti naluri." ujar Dian terengah-engah. Yg Gerry segera membalik posisi Dian hingga kini tubuh mungilnya berada dalam kukungan tubuh Gerry.
Gerry mulai memacu tubuh sang istri hingga beberapa saat tubuh keduanya sama-sama bergetar merasakan pelepasan. Gerry melu*mat bibir Dian rakus saat pelepasan itu terjadi. Keduanya sama-sama terengah-engah. Gerry mengecup kening Dian lalu bergeser dari atas tubuh istrinya.
__ADS_1
"Gerry menatap intens wajah Dian yang terlelap. Namun sedetik kemudian ia langsung turun dari ranjang mengambil handuk kecil dan mangkuk yang di isi air hangat.
Dengan hati hati Gerry membasuh tubuh Dian menghilangkan keringat yang membasahi tubuh Dian. Dian membuka matanya lemah, tubuhnya benar-benar lelah.
"Mas, apa yang kamu lakukan?" tanya Dian masih setengah memejamkan mata.
"Aku hanya membasuh keringatmu. Agar kau nyaman saat tidur." Gerry langsung meraih handuk kering dan menyeka badan Dian lalu ia mengambilkan baju tidur untuk istrinya yang sudah terlelap karena lelah.
.
.
.
"Apa kau akan memberitahu Gerry?" tanya Aldo pada didi. Setelah Aldo menceritakan kehadiran Burhan beberapa waktu lalu.
"Tentu saja, bagaimana jika orang itu memiliki niat jahat pada Dian?" Ujar Didi cemas.
"Kau benar .." jawab Aldo
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Halo my beloved reader, hari Senin yuk kasih Vote kalian dan juga hadiah untukku ok.
__ADS_1