
*********
Ara dan Arsen saat ini sedang ada di dalam mobil. Mereka berniat mengunjungi makam abah dan kedua orang tua Ara.
"Kamu bener udah ga apa-apa Ra?" Arsen menatap wajah Ara yang masih sedikit pucat.
"Iya Aa, Ara udah baik-baik saja." Ujar Ara memaksakan tersenyum kearah Arsen.
"Maaf Ra .. " Wajah Arsen tampak sangat menyesal.
"Aa minta maaf karena apa ..?" tanya Ara bingung.
"Karena gara-gara aku sekarang kamu hamil. Dan menderita seperti ini." ---- Arsen.
"Siapa bilang menderita, nyatanya Ara menikmati proses bikinnya kok." Ujar Ara tanpa sadar namun seketika ia menutup mulutnya karena keceplosan mengatakan hal mesum pada suaminya.
Arsen menyeringai mendengar ucapan Ara baru saja. Ia lega istrinya sudah kembali ceria meskipun harus ada pancingan terlebih dulu.
"Beneran kamu suka Ra?" Arsen melirik sekilas kearah istrinya lalu kembali fokus menyetir.
"Udah ih ga usah dibahas. Yang jelas Ara Terima semua nasib dan takdir Ara. Mungkin ini yang terbaik buat Ara dari Allah. Karena sebelumnya Ara sering ngeluh kesepian, ga ada keluarga. Trus sama Allah dikasih Aa, dikasih mama, papa, punya adik ipar juga. Sekarang ada janin yang sedang bertumbuh di perut Ara. Itu suatu kebahagiaan buat Ara." Ujar Ara menyenderkan kepalanya di bahu Arsen.
"Begini Aa susah nyetirnya ga?"
"Engga Ra, senyamannya kamu aja. Jangankan bersandar. Kamu rebahan aja aku ga apa-apa kok."
"Huh dasar maunya Aa .. "
Mereka berhenti di toko bunga dan membeli 4 buket bunga. Ara juga minta 3 pack bunga melati untuk ditaburkan di makam.
"Aa .. Ara belum pernah ke makamnya mama Aa. A' Arsen ga kepengen ngenalin Ara gitu?" Tanya Ara perlahan.
"Besok ya .. kapan-kapan kita ke sana. Kamu kan ga boleh Capek-capek dulu."
Arsen kembali melajukan mobilnya. Jarak makam orang tua Ara dan abah sedikit jauh, mereka ke makam abah terlebih dahulu karena abah di makamkan di samping makam kakek Kusuma.
"Abah .. " Ara bersimpuh Arsen sudah menyiapkan kursi lipat kecil dan meletakkannya dibawah Ara agar gadis itu mau duduk. Arsen tahu pasti butuh waktu lama berada disana.
__ADS_1
"Makasih A' .. "
Ara menunduk sejenak untuk berdoa, tanpa terasa air mata Ara mengalir membasahi pipinya.
"Abah, Ara minta maaf. Ara udah lulus bah tapi Ara belum bisa mewujudkan cita-cita abah. Ara sekarang hamil bah. Maafin Ara kalo lagi-lagi Ara bikin kecewa abah."
Arsen hanya diam di samping istrinya. Ia pun merasa bersalah karena ia ikut andil besar membuat Ara tidak bisa mewujudkan keinginan abah.
"Aa ga pengen ngomong apa gitu ke abah?" tanya Ara, Arsen tersenyum tipis lalu berjongkok.
"Bah, sekarang aku sudah menikahi Ara cucu abah. Aku janji akan membahagiakannya dan mengangkat derajatnya. Abah tidak perlu khawatir orang akan mencemooh cucu Abah lagi. Sekarang Ara sudah jadi pemilik panti asuhan. Nanti Arsen akan memodali Ara jika Ara ingin buka usaha."
Arsen berdiri namun tanpa di duga Ara menghambur memeluk tubuh Arsen.
"Makasih ya Aa .. Aa sudah jadi suami terbaik bagi Ara."
"Ia Ra sama-sama." Arsen membelai kepala Ara yang tertutup hijab berwarna kuning pastel.
Ara juga menyambangi makam kakek Kusuma setelah itu mereka menuju ke makam kedua orang tua Ara.
.
.
.
"Iya mam, tenang saja. Aku baik-baik aja kok .. "
"Syukurlah, mami sampai kepikiran terus."
"Maaf ya mam, udah buat mami kepikiran." Ujar Veni menyesal.
"Itu gimana ceritanya? Dari mana kamu kenal pria itu?" tanya mami Vani penasaran.
Veni menggigit bibir bawahnya, tampak jelas kerisauan dari tatapan mata Veni.
"Udahlah mi .. biarkan Veni istirahat dulu" ujar Aldo menyela ucapan maminya.
__ADS_1
"Ah .. iya kamu benar Do." ---- "Sekarang kamu istirahat saja ya sayang. Mami sama papi harus pergi dulu." Ujar mami Vani berbicara dua arah menatap Aldo dan Veni bergantian.
Veni merebahkan kepalanya di pangkuan Aldo. Ia sudah memejamkan mata beberapa saat yang lalu. Aldo terus membelai kepala Veni dengan lembut. Ia masih tidak habis fikir tujuan Nick melakukan penculikan terhadap Veni. Apakah benar hanya untuk memastikan kebahagian Veni? jika benar begitu bukankah cinta Nick untuk Veni adalah cinta yang luar biasa. Bahkan jika Aldo menjadi Nick, ia akan gunakan kekuasaannya untuk memenjara Veni dalam sangkar emasnya.
"Maafkan aku baby .. Aku akan mencintaimu dengan benar. Aku tak ingin ada orang yang merebutmu dariku. Aku akan buktikan jika aku tidak akan pernah mensia-siakan perasaanmu padaku."
Aldo berulang kali mengecup puncak kepala Veni.
.
.
.
"Mama ... " Suara Zafa terdengar lirih memanggil.
"Ada apa sayang?" Dian mendekat menyentuh kening putranya.
"Mama aku bermimpi buruk .. " Lirih Zafa.
"Mimpi adalah bunga tidur sayang. Jangan dipikirkan ya ..!"
"Tapi mimpi itu menakutkan Ma .. "
"Ssshh .. Tenanglah sayang ada mama disini. Kita berdoa lagi sebelum tidur. Mama akan temani Zafa tidur disini." Ujar Dian. Zafa pun mengangguk. Setelah berdoa, Zafa memeluk tubuh Dian erat.
"Mama, jangan tinggalkan Zafa dan adik-adik ya!"
"Iya sayang .. " Dian dengan lembut mulai menidurkan putra pertamanya. Rasanya Dian jadi sangat merindukan Zafrina.
"Besok kita main ke tempat Zafrina saja bagaimana?" Tawar Dian, Zafa mengangguk lemah dan lama kelamaan tertidur. Dian masih mengusap dengan sayang rambut putranya. Entah apa yang Zafa mimpikan hingga Dian dapat merasakan pelukan putranya begitu erat di tubuhnya.
Gerry masuk ke kamar anak-anaknya. Ia menaikan selimut Zayn yang sudah melorot dibawah kaki, lalu memberikan ciuman di kening sang putra. Hal yang sama Gerry lakukan pada Zayana. Ia melabuhkan ciuman di kening gadis itu begitu dalam. Gerry sesaat melirik ke tempat tidur Zafrina yang masih sangat rapi. Gerry mendesah berat, rasanya ia merindukan gadis cerewet itu. Matanya kini terhenti pada ranjang putra pertamanya. Dimana Zafa sedang memeluk istrinya dengan posesif.
Dian sepertinya tak nyaman dengan posisi tidurnya. Gerry pun mendekat ke arah ranjang Zafa. Perlahan ia memindahkan tangan Zafa setelah itu ia mengangkat tubuh Dian yang tak lagi ringan tapi beruntung Gerry termasuk pria yang gemar berolahraga. Sehingga bukan masalah dia mengangkat tubuh sang istri ala bridal style.
Gerry meletakkan tubuh Dian perlahan, lalu memberi ganjalan bantal di sisi kiri dan kanan perut Dian. Wanita itu hanya menggeliat sesaat lalu kembali tertidur pulas. Gerry menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah sang istri setelah itu meninggalkan ciuman di bibir tipis Dian. Gerry bangkit berdiri lalu kembali ke kamar buah hatinya. Ia akan menggantikan peran Dian untuk merawat anak pertamanya.
__ADS_1
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Selamat membaca guys