
🌼Selamat membaca🌼
Part agak panas 21+ yang belum cukup umur atau jomblo scroll aja ya. Jangan lupa vote ini Senin.
Kini Gerry dan Dian sudah ada di NY untuk kembali melakukan medical check up kondisi Zafa. Sejauh ini memang yang tampak pada Zafa adalah betuk wajah yang sedikit berbeda dari bayi lain pada umumnya, dan juga setiap dipanggil Zafa tidak merespon.
Menurut dokter semakin bertambahnya usia Zafa akan semakin nampak hal hal signifikan lain yang akan terlihat. Seperti gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, anak menjadi antisosial, dan hiperaktif.
Mendengar penjelasan dokter tadi cukup membuat hati Dian seperti terjatuh dari ketinggian. Meskipun bayi itu bukan darah dagingnya. Tapi Dian benar benar menyayangi Zafa.
Suasana hening saat mobil yang dikendarai Gerry meninggalkan rumah sakit tempat Zafa melakukan medikal cek up.
Dian terus menatap Zafa yang ada dalam gendongannya. Gerry melirik dari ekor matanya. Bahkan Gery tau saat ini Dian sangat sedih dengan kondisi Zafa.
Setibanya di rumah milik Gerry, Dian membawa masuk Zafa, Musim semi di kota new York. Harusnya keduanya menikmati perjalanan mereka di negri itu. Tapi faktanya setiap ke negara itu selalu membuat hati Dian semakin rapuh, semakin tidak bisa untuk mengalihkan perhatiannya pada Zafa. Sekarang usia Zafa sudah 6 bulan lebih, dia sudah mulai di beri makanan pendamping ASI. Zafrina kali ini tidak turut serta, karena kondisi Zafrina sedang masa pemulihan sehabis sakit. Untungnya gadis kecil itu tidak terlalu bergantung dengan ASI Dian saja.
"Kamu ada tempat yang ingin dikunjungi?" tanya Gerry, Dian menggeleng.
"Kalo ada kamu bilang aja sama mas, Nanti biar mas atur jadwal audit perusahaan." Sambung Gerry.
"Tidak mas, mas gunakan waktu sebaik²nya. Dan secepat mungkin kita pulang.," Ucap Dian Gerry tau posisi Dian serba salah disini karena keberadaan anaknya yang terpisah.
"Baiklah secepatnya mas akan segera menyelesaikan tugas mas." ujar Gerry, Dian hanya memberikan senyum terbaiknya untuk suaminya itu. Rasa²nya Tuhan sudah terlalu baik menggiring dirinya masuk ke dalam keluarga Ardana.
Memiliki mertua yang pengertian dan suami yang sangat menyayanginya, juga anak² yang tak ternilai harganya bagi Dian. Sekarang ia tak lagi hidup serba kekurangan, apa yang Dian inginkan selalu dituruti oleh Gerry.
Gerry hari ini ada pertemuan dengan seorang klien, Untuk pembangunan pulau buatan dan resort mewah di sebuah negara bagian.
Kali ini kliennya membawa seorang wanita cantik yang mungkin seumuran dengan Gerry.
"Selamat malam tuan Alonso .." Sapa Gerry, tuan Alonso menjabat tangan Gerry.
"Oh iya .. perkenalkan dia putriku, Ghea" ucap tuan Alonso menunjuk putrinya.
"Gerry ..!" tangan Gerry terulur menjabat tangan Ghea, Ghea tertegun menatap wajah Gerry yang tampan, bahkan dia menggenggam erat tangan Gerry, membuat Gerry merasa tak nyaman.
__ADS_1
Gerry berdehem hingga akhirnya Ghea melepas tangan pria itu dengan tak rela.
Pertemuan bisnis berkedok makan malam itu berjalan sukses. Kesepakatan sudah ditanda tangani kedua belah pihak.
"Tuan Gerry, bagaimana jika kau ku undang menghadiri makan malam di kediamanku besok." Kata tuan Alonso, Ghea sangat senang mendengar usulan sang ayah. Wajahnya nampak berbinar.
"Maafkan saya harus mengecewakan anda tuan. Saya besok malam ada acara bersama istri dan anak saya." Jawab Gerry, ia paham maksud undangan itu pasti untuk mendekatkan dirinya dan putri semata wayangnya.
"Anda sudah menikah?" tanya tuan Alonso terkejut. Pasalnya tak ada pemberitaan tersebar jika rekannya itu memiliki seorang istri. Sangat disayangkan.
"Iya tuan, saya sudah menikah beberapa waktu lalu." Jawab Gerry dengan sopan, wajah Ghea berubah masam, impiannya untuk memiliki Gerry pupus di tengah jalan.
"Tapi tidak ada pemberitaan di media massa?" sanggah tuan Alonso.
"Ya itu saya lakukan agar kecantikan istri saya tidak jadi konsumsi publik." Ujar Gerry dengan senyumnya yang menawan.
Tuan Alonso menjadi semakin penasaran dengan sosok istri dari seorang Gerry Ardana.
"Kalo begitu baiklah, senang berbisnis dengan anda." Ujar tuan Alonso berpamitan. Ghea menatap berat hati namun langkahnya tetap mengikuti sang ayah.
Tuan Alonso menatap penuh kasih sayang pada putri semata wayangnya itu.
"Apa kau juga ingin suatu saat ada yang menggantikan posisi ibumu disampingku?" Tanya tuan Alonso, ia yakin Ghea tidak mau ibunya tersakiti.
"Tentu saja tidak, ayah harus terus bersama dengan mama sampai kapanpun."
"Lalu menurutmu apa ayah harus mengabulkan permintaanmu? apa kau tega membuat anak lain harus kehilangan sosok ibu mereka dan tergantikan dengan wanita lain?" Tanya tuan Alonso, dan Ghea tertegun mendengar ucapan sang ayah yang bagai tamparan untuknya. Ghea terdiam hatinya menginginkan Gerry tapi ucapan ayahnya melukai harga dirinya.
"Ayah tau kau kecewa karena tak dapat memilikinya, tapi ayah lebih tahu kau tak akan tega menyakiti hati orang lain. Ayah percaya suatu saat kau akan mendapatkan jodoh yang lebih baik darinya."
Gerry masuk ke dalam rumah, Dian sedang membereskan ruang makan. Ia menatap dengan wajah cemberut karena Gerry yang baru tiba. Suaminya itu tak mengatakan jika akan pulang terlambat.
Gerry merengkuh tubuh Dian, mengecup lembut kening, pipi, mata dan bibir istrinya yang sedang merajuk itu.
"Maafkan aku, tak mengabarimu jika akan terlambat pulang."
__ADS_1
"Apa kau sudah makan? tanya Dian, Gerry tak ingin membuat istrinya semakin merajuk akhirnya ia menggeleng.
Dian kembali menata meja makan dan menyiapkan makan untuk suaminya menu yang tidak terlalu berat tapi cukup mengenyangkan. Mashed potato dan steik salmon di atasnya di beri guyuran saus lemon dan asparagus.
"Tadinya aku ingin mengajakmu makan malam tapi kau malah tidak ada kabar sama sekali." Gerutu Dian.
"Maaf sayang .." hanya itu yang terucap dari bibir Gerry. Gerry menatap Dian tanpa berkedip. Ia seolah susah menelan salivanya. Gerry segera menghabiskan makannya dengan lahap, setelah mengelap mulutnya Gerry mengangkat tubuh Dian ke atas meja makan.
"Aku sudah menghabiskan makan malam ku, aku ingin penutup." Gerry menatap Dian penuh hasrat.
"A-aku akan ambilkan puding di kulkas!" ujar Dian tergagap.
"Aku hanya ingin ini .." Gerry mengangkat dagu Dian dengan cepat lalu menyambar bibir tipisnya.
Gerry me*lu*mat bibir Dian dengan rakus hingga terdengar bunyi decakan dari kedua bibir mereka. Ia mengangkat kaos yang Dian kenakan. Inilah yang membuat Gerry dari tadi tak sabar ingin melahap istrinya. Karena Dian hanya memakai kaos tipis tanpa bra, hingga ujungnya dadanya seolah menantang Gerry.
Tangan Gerry bergerak aktif di dua bukit padat milik Dian yang terasa lembut jika di re*mas seperti merem*as squishy.
Bibirnya kini menuruni leher jenjang Dian, menghisap dan sedikit menggigit meninggalkan bekas kemerahan hingga membuat Dian mendesah pasrah dengan ulah suaminya itu. Tak cukup sampai di situ Gerry mulai turun menjilati ujung dada Dian yang terpampang di depan wajah Gerry. Dian menggigit bibir bawahnya agar suara desahannya tertahan.
"Jangan di tahan sayang, keluarkan suara merdumu. Aku menyukai saat kau menyebut namaku." Ujar Gerry dengan suara parau.
Gerry menurunkan resleting celananya dan mengeluarkan pusakanya yang sudah tegak menantang, Dengan gerakan cepat Gerry mengangkat rok Dian dan menarik ****** ******** hingga terlepas. Gerry merebahkan Dian di atas meja makan. Dian hanya pasrah dengan semua perlakuan Gerry. Gerry menarik kaki Dian hingga ujung meja. Lalu dengan sekali hentak Gerry melesakkan pusakanya hingga mata Dian terbuka.
"Aaahh .. mas Gerry pelan!" Dian mendesah, Gerry tersenyum lalu mulai menggerakkan tubuh bawahnya dengan gerakan tak teratur. Dian terus menerus memanggil nama Gerry, hingga setelah beberapa saat tubuh Dian menegang dan ia mengerang.
"Aarggh .. mas Gerry!!" Gerry pun menyusul pelepasan Dian dengan mata terpejam. Ini hal ternikmat yang pernah ia rasa. Sensasinya berbeda.
Keduanya masih ngos-ngosan mengatur nafas.
Mata Dian terpejam tubuhnya seakan remuk tak bertulang, lelah sekali.
❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️
Maafkan daku yang kemarin lupa pamit. Tapi di awal aku da bilang ya Minggu aku libur up.
__ADS_1