
********
"Apa ini ..?"
"Itu, masakan dari rumah mama. Aku kira kau belum makan dan pasti tidak leluasa meninggalkan abah sendirian. Maka dari itu aku membawanya kemari. Apa kau mau makan bersamaku? Rasanya aneh makan sendirian." Kata Arsen. Ara hanya manggut-manggut, ia berpikir untuk apa Arsen makan sendirian sedang di rumah ada mamanya. Tapi Ara tidak mau ambil pusing.
"Baiklah, aa tau aja aku lapar." Ara tersenyum lebar, Arsen seperti tertular ia pun ikut tersenyum.
Ara membuka rantang makanan yang dibawa Arsen masing-masing rantang ada 3 tumpuk. Yang paling bawah berisi nasi tengah berisi sayur dan paling atas berisi lauk. Mata Ara berbinar. Namun saat dilirik satu paperbag milik Arsen belum di sentuh Ara berinisiatif membukanya untuk Arsen. Hingga Ara tau isinya sama persis. Ara tersenyum sepertinya memang Arsen sengaja membawa makanan ini untuknya.
Arsen tersenyum kaku melihat tatapan mata Ara. Namun detik berikutnya dia tersenyum senang.
"Terimakasih untuk makanannya ya Aa." Kata Ara, sesaat ia terpejam membaca doa, dan Arsen mengikutinya. Lalu keduanya makan dalam hening. Ara memejamkan mata saat makanan itu menyentuh lidahnya. Baru kali ini dirinya makan seenak ini selama hidupnya. Tanpa terasa air mata Ara mengalir.
"Apa makanannya tidak enak? kenapa kau menangis? Arsen menyerahkan sebotol air mineral pada Ara setelah sebelumnya ia membuka penutupnya. Ara meminum air itu dengan terburu-buru hingga tersedak. Arsen meletakkan makanannya dan menepuk punggung Ara. Wajah Ara langsung memerah antara menahan rasa tak nyaman karena tersedak dan malu. Baru kali ini tubuhnya disentuh laki-laki selain abahnya.
"Bagaimana, apakah sudah lebih baik? Jangan dimakan jika masakan mama tidak enak." Kata Arsen, wajahnya pun tak kalah canggung karena tanpa disadari posisi keduanya berdekatan. Ara berkedip berkali-kali untuk menghilangkan debaran jantungnya yang seakan habis lari maraton.
"I-ini makanan terenak yang pernah ku makan." Ujar Ara seraya menunduk. Wajahnya benar-benar merah padam. Arsen segera kembali ke tempatnya duduk. Dia menghembuskan nafas lewat mulut berulang kali. Sejujurnya dia pun merasa grogi. Meskipun kehidupan yang Arsen jalani menarik banyak minat lawan jenis tapi Arsen tidak pernah menanggapi para wanita itu. Namun berbeda dengan Ara. Hanya menatap manik matanya yang hitam kelam membuat jantung Arsen seakan berdebar tak menentu.
"Lalu kenapa malah menangis?" Tanya Arsen bingung.
__ADS_1
"Aku hanya ingat abah, pasti abah juga akan senang mendapat makanan seenak ini." Ujar Ara perlahan ia menghapus air matanya dan mulai melanjutkan makannya.
"Aa bilangin sama mamanya, Ara terimakasih sekali sudah dikasih makanan seenak ini." Lanjut Ara. Arsen hanya mengangguk dan tersenyum. Entah kenapa gadis ini terlihat manis tidak dibuat-buat.
Setelah keduanya menghabiskan makanannya Ara membawa kedua tempat makan itu ke wastafel di kamar mandi toilet dan mencuci wadah makanannya dan Arsen. Setelah selesai Ara melihat Arsen sedang bermain ponsel. Rasanya menatap ponsel Arsen membuat Ara merasa sedih. Jika saja abah mengijinkannya kerja pasti dia bisa mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Termasuk membeli ponsel.
"Tempat makanannya sudah bersih A'." Ujar Ara. Arsen memandangnya sebentar lalu memanggil Ara untuk mendekat.
"Kemarilah .. ! Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan." Arsen merogoh saku celananya mengeluarkan sebuah ponsel dan menunjukkan ponsel itu pada Ara.
"Bagus hapenya A' .. "
"Maksudku, apa kau menyukainya? ini ponsel lamaku tapi masih bisa dipakai. Maaf bukan aku menghinamu tapi tadi aku lihat ponselmu rusak saat terjatuh jadi kamu bisa memakainya." Kata Arsen. Ara tersenyum lalu menggeleng.
"Maaf ya A' bukannya Ara nolak rejeki. Tapi kata abah Ara ga boleh serakah. A' Arsen udah nemenin Ara disini saja Ara mengucapkan banyak terimakasih. Terus aa juga bawain Ara makanan. Masa iya sekarang aa mau kasih hape ke Ara. Ara ga mau dikira ga tau diri A' .. "
"Siapa yang bilang kamu ga tau diri. Aku sejak awal emang niat mau bantu kamu. Kalaupun tadi aku mau aku bisa beliin kamu hape baru. Tapi karena aku tahu kamu orang yang seperti apa jadi aku kasih hape aku yang lama." Ara mencibir, ia tak percaya dengan ucapan Arsen yang baru sekali lihat langsung tahu siapa dirinya.
"A' Arsen bercanda ya?"
"Aku serius Ara, aku tahu kamu adalah gadis yang sangat sayang sama keluarga, aku tahu kamu juga pekerja keras. Kamu gadis mandiri yang tidak suka bergantung pada siapapun." Ujar Arsen dengan yakin. Sementara Ara langsung tersenyum mendengar ucapan Arsen.
__ADS_1
"Iihh ... aa mah bikin Ara jadi baper." Kata Ara dengan mata yang kembali berkabut. Selama ini teman-teman kuliahnya tak ada yang mau dekat dengan Ara karena Ara miskin. Bahkan dia selalu jadi korban buli di kampus tempatnya menuntut ilmu. Ara merasa sendirian tak memiliki tempat bersandar. Bahkan Dian sekalipun, Ara tak ingin merepotkan orang lain dengan masalahnya. Maka dari itu Ara tidak pernah berkeluh kesah pada siapapun. Baru kali ini ada orang yang bisa melihat siapa dirinya hanya dengan sekali bertemu.
Arsen tertawa melihat gadis di depannya terharu. Bahkan dia ingin membawa gadis itu kedalam dekapannya menjadi sandaran bagi Ara.
"Udah ga usah cengeng, malu sama umur. Ini mau diterima tidak?" Arsen kembali mengulurkan ponsel itu. Akhirnya Ara menerimanya, dengan senyum canggung. Belum ada satu hari mereka berkenalan tapi Ara sudah mendapatkan banyak hal.
"Tapi A' Ara ga punya apa-apa untuk bales kebaikan Aa." Kata Ara.
"Cukup kamu jadi temanku, dan mau berkeluh kesah padaku. Itu sudah cukup buatku." Kata Arsen.
"Aa kan orang kaya, sukses masa ga punya temen?" tanya Ara, dan Arsen menggeleng. Selama ini hidupnya hanya untuk membesarkan bisnis papanya sehingga dia tidak pernah menjalin hubungan pertemanan yang sama sekali tak ada manfaat untuknya. Setidaknya itu dulu, namun sekarang semenjak hubungannya dengan mama Clara membaik Arsen berubah menjadi pria yang lebih humble namun hanya pada keluarganya. Dan sekarang Ara masuk dalam urutan selanjutnya setelah mama, papa dan adik-adiknya.
"Tapi bagaimana cara pakainya, Ara ga ngerti A' ..?" Ara membolak balik ponsel milik Arsen dengan simbol apel digigit. Namun yang model lama.
"Ini kartu kamu ga bisa masuk gimana? Aku ada nomor yang bisa dipasang disini. Tapi nanti kamu perlu memberi kabar pada teman atau kerabatmu jika nomormu ganti." Kata Arsen, namun mampu membuat wajah Ara berubah sendu.
"Ga ada A' .. Aku bahkan ga punya teman. Kerabat juga sama. Nomor di ponsel itu juga cuma teh Dian sama dosen pembimbing aku." Kata Ara. Arsen semakin tak tega pada Ara, ternyata hidupnya lebih berat dari dirinya. Dirinya tak mempunyai teman karena memang menutup diri sedangkan Ara?
๐งโโ๏ธ๐งโโ๏ธ๐งโโ๏ธ๐งโโ๏ธ๐งโโ๏ธ๐งโโ๏ธ
Ayo sini tunjukin sama othor kalo jari kalian emang berfungsi baik tekan like nya ya.
__ADS_1