Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 66


__ADS_3

โ›… Selamat membaca โ›…


**Ga da capeknya othor ingetin buat vote atau setidaknya tinggalkan setangkai bunga mawar untukku. Biar karya othor yang remahan ini ga ke geser sama karya yang terinspirasi dari karya othor ini. Othor ga mau bilang itu plagiat. Othor udah seneng karya othor menginspirasi orang lain buat berkarya. Cm kalo sampai karya othor tersisih othor juga hilang semangat buat nulis ๐Ÿ˜ฉ๐Ÿ˜ฉ.


Neh othor kasih bonus kreji up. Jangan lupa jempolnya ditekan gaes.


โ›…โ›…โ›…โ›…โ›…โ›…โ›…โ›…โ›…โ›…โ›…**


Setelah mendengar alasan Aldo, Dian memutuskan esok hari akan ke rumah sakit untuk menjenguk Veni.


Saat ini Dian ada di gerbang penghubung antara mansion milik Gerry dan mansion warisan kakeknya. Namun yang menjadi perhatian Gerry dan Dian adalah mobil Porsche hitam yang terparkir di halaman rumah kakek Dian.


"Apa ada tamu penting sayang?" tanya Gerry pada Dian. Dian hanya mengangkat bahu pertanda ia pun tak tahu apapun. Keduanya berjalan bergandengan, seperti pasangan baru.


Saat memasuki ruang utama alangkah terkejutnya Gerry mendapati Rian ada disana sedang berbincang dengan ayah mertuanya. Begitupun Dian yang tak kalah terkejutnya, Zafrina sedang digendong oleh wanita yang beberapa waktu lalu sempat mengatai dirinya di rumah sakit.


Ada apa sebenarnya? kenapa mereka begitu akrab? bukankan kata kakeknya jika keluarga nyonya Santika sempat tidak terima dengan penolakan ayahnya dulu. Batin Dian terus bertanya tanya.


Sedang Gerry mencoba membuang nafas kasar. Agar ia tidak emosi menghadapi keluarga Rian.


"Ah itu mereka datang." Ucap tuan Hanafi membuat fokus kedua tamu itu beralih menatap Dian dan Gerry.


Nyonya Santika berjalan mendekat ke arah Dian hingga Dian mundur selangkah karena merasa takut. Namun tanpa di duga nyonya Santika memeluk tubuh Dian yang masih berdiri kaku.


"Maafkan atas sikapku tempo lalu." Ucap nyonya Santika tulus. Dian pun akhirnya membalas pelukan itu dan mengangguk.


Keduanya lalu mengurai pelukan, mata nyonya Santika melirik ke arah Gerry lalu menggenggam tangan Gerry.


"Aku minta maaf untuk sikapku beberapa hari yang lalu. Aku terlalu terbawa emosi mengetahui tiba-tiba putraku memiliki anak." Gerry akhirnya tersenyum pada ibu dari rivalnya itu.


"Tidak apa apa nyonya, saya paham perasaan anda." Ujar Gerry.


"Apa tidak apa apa jika ibu menemui Zafrina nak?" tanya nyonya Santika penuh harap.


"Tentu saja nyonya. Zafrina cucu anda juga."

__ADS_1


Nyonya Santika tersenyum, ada sedikit rasa sesal pernah memperlakukan Dian dengan buruk.


"Baiklah, sekarang waktunya kita makan malam." Ujar kakek Kusuma. Ia pun merasa lega keluarganya bisa berdamai dengan masa lalu.


Semua orang berkumpul mengelilingi meja besar di taman belakang milik tuan Kusuma.


Dian duduk bersebelahan dengan Gerry dan berhadapan dengan Rian dan ibunya. Sementara Zafrina duduk di samping Dian memakai baby chair dan duduk dengan tenang. Sedang Zafa di gendong oleh pengasuhnya.


"Bi, Zafa bawa kesini. Bibi ikut yang lain makan malam dulu saja." Kata Dian dengan lembut.


"Tapi non kan juga belum makan?" ujar bi Esih tak enak hati.


"Ga apa apa bik. Lagi pula Dian belum berselera makan." Kata Dian meyakinkan bi Esih, akhirnya mau tak mau bi Esih menyerahkan Zafa pada Dian.


"Uuh .. sayangnya mama." Dian mengusap kening Zafa. Anak itu memang tampak tak sempurna tapi Dian tak pernah membedakan anak-anaknya.


"Ina mama." Zafrina tampak protes. Perkembangan Zafrina lebih cepat dari usianya yang menginjak usia 14 bulan. Gadis kecil itu sudah bisa mengucapkan beberapa kata dan menyebut namanya, meskipun belum sempurna.


"Iya .. Zafrina juga kesayangan mama." Gadis kecil itu langsung tersenyum dan kembali sibuk dengan makanan yang ada di hadapannya.


"Apa dia bisa makan sendiri Dian? Apa ibu boleh menyuapi Zafrina?" tanya nyonya Santika. Dian merasa tak enak jika menolak.


Zafrina menatap nyonya Santika, lalu gadis kecil itu tersenyum dan memanggil Dian dengan isyarat tangan.


"Yes .." Jawab gadis itu singkat sembari tersenyum menutupi mulutnya. Semua orang dibuat gemas dengan gadis satu itu.


"Zafrina mau." Ucap Dian. Ia pun menyerahkan Zafa pada Gerry dan menggendong Zafrina, seorang pelayan mengangkat baby chair Zafrina untuk dipindahkan di dekat nyonya Santika.


"Aduh cucu oma pintar sekali." Puji nyonya Santika. Dian kembali ke kursinya untuk kembali mengurus Zafa. Semua makan dengan khidmat tidak ada kekakuan, semua berbaur penuh suka cita.


.


..


...

__ADS_1


Di tempat lain Selena berjalan terseok-seok berusaha bangkit berdiri. Tubuhnya semakin kurus tak terurus. Saat ia merasa bumi tempatnya berpijak terasa berputar, Selena berusaha mencari pegangan hingga tangan kokoh seorang pria menopangnya.


"Apa kau baik-baik saja nona?" tanya pria itu. Selena berusaha membuka matanya namun begitu sulit. Akhirnya ia terkulai tak sadarkan diri.


Pria itu lantas membawa Selena masuk ke dalam mobilnya dan langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit tempatnya bekerja.


.


..


...


Aldo masih setia menemani Veni yang tertidur pulas di ranjangnya akibat pengaruh obat tidur yang Arya berikan tadi. Ia semakin merasa bersalah pada gadis itu saat mengetahui jika gadis itu menderita kanker. Pantas saja tubuhnya dari hari ke hari semakin terlihat kurus. Atau jangan-jangan karena ia selalu menyiksa gadis itu? Semua rasa sesal berkumpul menjadi satu membuat dada Aldo serasa sesak.


"Maafkan aku. Bersediakah kau memaafkanku?" gumam Aldo, ia mengecup jemari Veni dengan lembut.


Aldo semakin menyadari jika ia ternyata mencintai Veni. Melihat gadis itu di boking pria lain, padahal Aldo sudah memasang tarif tinggi agar tak satupun orang akan menjamahnya ternyata salah besar. Justru itu membuatnya semakin sering menyiksa Veni karena cemburu melihat tubuh Veni di gerayangi pria lain.


"Aku akan menebus semua kesalahanku padamu. Jadi kau harus sembuh." Aldo membelai kening Veni, menyingkirkan anak rambut yang menutup sebagian wajahnya.


.


..


...


Setelah makan malam di keluarga Kusuma selesai. Mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Gerry terus mendekap Dian posesif karena melihat mata rivalnya tak pernah lepas memandang sang istri. Ingin rasanya Gerry mencongkel mata Rian yang terus memandang Dian tanpa berkedip.


"Oh ya Dian kapan kamu lahiran?" tanya Nyonya Santika.


"Mungkin sekitar 3 bulan lagi ibu." Jawab Dian, nyonya Santika tersenyum mendengar Dian mau memanggilnya ibu.


"Nanti kalo sudah lahiran, ibu akan sering sering berkunjung untuk menemani Zafrina. Biar ibu ibumu itu membantu merawat anak-anakmu. Apakah kau keberatan?"


"Tidak ibu, bagaimanapun kita sudah seperti keluarga. Ibu boleh menemui Zafrina sewaktu waktu." Kata Dian, nyonya Santika benar benar lega bertemu dengan wanita sebaik Dian. Bahkan wanita itu tidak sedikitpun menyimpan dendam padanya.

__ADS_1


โ›…โ›…โ›…โ›…โ›…โ›…โ›…โ›…โ›…โ›…โ›…


Terimakasih sudah mampir. See you ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2