
*********
"Hihihiii paman Arsen so sweet sekali ya oma?" Ejek Judy saat mama Clara mengajaknya masuk ke ruangan pasangan baru itu.
"Hai nenek Rimbi .. dimana pangeranku?" Tanya Judy, ibu Arimbi terkekeh begitupun dengan mama Clara sedangkan Arsen hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah keponakannya yang centil itu.
"Mungkin sekarang pangeranmu sedang bersama putri dari Kerajaan lain Judy." Ujar Arsen bercanda, namun gadis kecil itu menanggapinya dengan serius.
"No .. nenek Rimbi ayo kita keluar. Aku harus menemui Zayn agar dia tidak bersama dengan putri yang lain. Karena Zayn hanya milik Judy." Gadis kecil itu merenggek pada ibu Arimbi. Arsen terkekeh melihat sikap posesif Judy pada Zayn putra Gerry.
Ibu Arimbi pergi dari ruangan itu diikuti Judy yang sudah berkaca-kaca karena ucapan Arsen. Mama Clara berdecak karena keusilan Arsen.
"Kamu itu Sen .. kalo nanti kalian punya anak dan di usili sama Judy baru tau rasa kamu." Ujar mama Clara meninggalkan pasangan itu. Ara dan Arsen sudah menghabiskan makanan mereka bertepatan dengan para perias yang mulai berdatangan. Arsen diminta berganti dengan tuxedo berwarna putih. Sedangkan Ara sedang dilepaskan setiap atribut dan kebaya yang menempel di tubuhnya. Sekarang tubuh Ara hanya terbungkus kemben berwarna hitam, Arsen keluar dari ruang ganti dengan wajah cengo melihat Istrinya hanya berbalut kemben dan hot pant. Arsen menelan salivanya kasar.
"Terkamnya nanti saja ya mas, jangan sekarang ..!" Ujar salah satu perias. Arsen menggaruk pelipisnya karena ketahuan menatap Ara penuh minat.
Wajah Ara langsung merah padam menyadari Arsen ternyata sedang menatapnya.
"Aa hadap sana .. iihh!" Ara menatap Arsen dari pantulan cermin.
"Udah sah Ra .. " Dengus Arsen.
"Iih .. mentang-mentang."
Ara hanya mendengus lalu kembali fokus dengan para perias yang mulai mengganti riasan di wajahnya.
Setelah hampir 45 menit 3 perias berhasil memake-over wajah serta merubah tampilan Ara menjadi semakin cantik. Arsen semakin terkesan melihat perubahan Ara.
Keduanya sudah bersiap untuk menjadi ratu dan raja semalam, Saat keluar dari ruangan ternyata semua keluarga sudah bersiap menyambut mereka. Bahkan anak-anak Gerry pun mengenakan pakaian yang senada dengan warna gaun Ara.
Dan yang lebih mengesalkan bagi Arsen melihat sang keponakan Judy bergelayut manja di lengan Zayn yang terlihat tak terganggu sama sekali bahkan seakan dia menikmatinya.
__ADS_1
"Jaga putrimu baik-baik ..! Hati-hatilah lihat saja tingkahnya itu." Celetuk Arsen di depan Didi. Selin melirik tajam ke arah kakak iparnya mendengar putrinya di katai seperti itu.
"Tenang saja bang, calon mertuanya saja mau mengawasi Judy." Jawab Didi santai, Gerry hanya tersenyum miring matanya pun tak lepas menatap sang putra yang terlihat tenang tak terganggu sama sekali dengan ucapan Arsen.
"Ayo sekarang bersiap ..! tamu undangan sudah banyak yang datang." Ujar mama Clara.
Semua mengikuti mama Clara keluar kecuali Arsen dan Ara. Mereka harus menunggu MC mempersilahkan mereka masuk.
Dian dan keluarga kecilnya menduduki kursi di depan dengan tambahan anggota Judy yang selalu menempel pada Zayn. Gadis kecil itu akan tenang dan jarang berulah jika ada di dekat Zayn.
"Zayn, momy sebentar lagi ingin mengajakku dan dady pulang ke Pattani." Ujar Judy sendu, Zayn melirik kearah gadis yang setiap bertemu selalu bergelayut manja lengannya itu.
"Kapan ..? berapa lama ..?" tanya Zayn dengan dahi berkerut.
"Aku tidak tahu .. bisakah kau bujuk mommy biar aku tinggal saja di mansionmu. Aku tidak mau ke sana Zayn." Ujar Judy dengan berkaca-kaca.
"Sudah jangan menangis. Aku akan bicara dengan mama dan mommy mu." Kata Zayn menenangkan Judy. Gadis kecil itu tersenyum senang.
Berbeda dengan saudaranya, Zafa justru menjadi pengasuh Ina dan Ana
"Kakak, aku lapar .. aku juga kak!" rengek Ina dan Ana pada Zafa. Zafa melihat sekeliling dan memanggil seorang pramusaji yang sedang membawa minum di meja sebelah nya.
"Bisakah saya meminta beberapa appetizer?" Pinta Zafa dengan sopan
"Baik tuan muda .. akan saya bawakan." ujar pramusaji itu dengan gemetaran saat tahu sang pemilik hotel sedang menatap interaksi dirinya dengan putra pertamanya.
Beberapa waktu berlalu, tibalah pasangan pengantin yang ditunggu-tunggu memasuki ballroom dengan senyum yang terus mengembang dari bibir keduanya.
Setelah mempelai duduk serentetan acara pun dimulai. Semua tamu tampak menikmati sajian dan mereka terlihat puas. Raja dan ratu sehari sedang sibuk melayani sesi foto bersama. Dan lagi-lagi putri kecil Didi berulah. Gadis kecil itu tidak mau foto bersama Didi dan Selin. Gadis itu memilih bikut foto di keluarga Gerry. Semua hanya bisa geleng kepala dengan tingkah Judy.
__ADS_1
.
.
.
Tak terasa acara sudah tiba di penghujung. Ara dan Arsen masuk ke kamar hotel presiden suit yang disiapkan oleh Gerry sebagai hadiah. Semua keperluan keduanya pun sudah di sediakan oleh keluarga mereka.
Wajah Ara terlihat sangat lelah saat menunggu lift dari atas turun. Saat lift terbuka dan sepi Arsen meraih tubuh Ara dan membopong tubuh istrinya.
"Aa turunin aku .. " ujar Ara, dengan wajah merah padam karena malu.
"Kamu terlihat sangat lelah. Biarlah seperti ini dulu. Aku tidak ingin malam pertama kita terganggu karena kau kelelahan." Bisik Arsen di telinga Ara. Darah Ara seketika berdesir, tubuhnya terasa panas dingin mendengar ucapan Arsen.
"Apa harus sekarang?" Tanya Ara panik.
"Tentu saja, karena ini malam pertama kita berbagi ranjang dan selimut yang sama."
"Ta-tapi a-apa kau akan meminta itu sekarang?" tanya Ara ragu.
"Aku tidak akan melakukannya tanpa persetujuan darimu Ra." ---- Arsen, Hati Ara menghangat mendengar ucapan Arsen yang begitu membuai dirinya.
Setibanya di depan pintu kamar Ara membantu Arsen membuka pintu dengan key card yang dibawanya.
Mata Ara membola melihat dekorasi kamar itu apalagi diatas kasur ada satu benda yang membuat Ara merinding membayangkan akan memakainya."
Arsen menurunkan Ara di sebuah sofa dan membantu istrinya melepaskan high heels yang digunakannya.
"Istirahatlah dulu sebentar ..! Aku akan mandi dulu." ujar Arsen yang diangguki oleh Ara. Memang dirinya sudah sangat lelah ditambah semalaman dia tidak bisa tidur dan makan dengan benar karena terlalu grogi.
Tak butuh waktu lama Ara langsung terlelap. Sementara Arsen masih mengguyur kepalanya menggunakan air dingin. Ia perlu meredam sesuatu yang bergejolak saat menggendong Ara tadi. Sesuatu yang sesungguhnya sudah tak sabar ingin memasuki sarangnya. Tapi sepertinya Arsen harus sedikit bersabar, karena ia tak ingin Ara nantinya justru malah takut melakukannya. Ia akan melakukan pendekatan secara perlahan-lahan mengingat rentang usia dimana Ara mungkin masih terlalu polos belum berpikir kearah sana.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Wes lega udah nikahin mereka berdua. Detik-detik menuju yang enak. Tapi entahlah mungkin bakalan othor singkat takut kena sempritan kaya papi Rian.