Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Pelanggan Veni


__ADS_3

******


"Baby .... " Pekik Aldo untuk sepersekian detik jatung Aldo serasa di hempaskan ke tanah. Namun dirinya segera menguasai diri dan menghampiri Veni yang ada dalam rengkuhan seorang pria.


"Thankyou .. " Ujar Aldo pada pria yang berhasil menahan tubuh Veni.


"Kamu ga apa-apa baby? aku sudah hilang hati-hati jangan berlari. Kau sepertinya lupa jika sedang mengandung." Kata Aldo setengah khawatir sekaligus kesal.


"Hey long time no see. Didn't you miss me?" Tanya pria itu pada Veni.


"(Hai lama tidak berjumpa. Apa kau tidak merindukanku?)"


Tubuh Veni menegang, ia ingat dengan suara itu. Namun Veni tak berani menatapnya.


"Ternyata kau masih mengingatku .. " Ujar pria itu senang melihat wajah tegang Veni meskipun hanya dari samping. Dan wajah Veni semakin memucat saat dia mengangkat wajahnya mata keduanya saling mengunci. Dan Veni benar-benar mengingat wajah pria itu.


"Bisa kau lepaskan tanganmu dari tubuh istriku." Aldo menatap sengit kearah penolong Veni. Dia juga menatap aneh pada Veni. Kenapa istrinya tampak ketakutan. Aldo seketika menarik tangan Veni dari pria itu. Pria tampan dengan postur tinggi tegap, berkulit putih hidung mancung seperti pria blasteran. Tapi siapa dia? Aldo masih menatapnya dengan tatapan penuh aura permusuhan.



Pria itu kembali berdiri tegak merapikan pakaiannya. "Aku harap setelah ini kita masih bisa bertemu lagi sweety." Ujar pria itu tanpa memperdulikan Aldo yang memperlihatkan aura permusuhan.


Pria itu berlalu dengan senyum menawan yang mengembang di bibirnya. Berbeda dengan pria itu, Veni tampak tak dapat menahan bobot tubuhnya karena kakinya terasa lemas. Aldo menahan tubuh Veni, tatapan wanita itu kosong. Veni tak menyangka akan bertemu dengan mantan pelanggannya itu.


"Bawa aku pergi dari sini ..! aku takut baby." Lirih Veni. Aldo membawa Veni menjauh dari tempat itu Tanpa mereka berdua sadari jika pria yang tadi menolong Veni menatap keduanya dari tempat tersembunyi. Dia senang akhirnya bisa bertemu dengan wanita yang membuat jantungnya kembali berdebar keras.


Sesampainya di rumah Veni langsung ke kamar dan merebahkan tubuhnya. Rasanya sangat letih dan yang lebih mengganggu pikirannya saat ini adalah pria tadi yang mengenali dirinya.


"Siapa pria tadi baby?"


"Apa kau tidak mengenali wajah pelangganmu?" Kata Veni datar.


"Maksudmu dia ..?" Wajah Aldo memucat. Mungkinkah pria tadi pernah memakai jasa Veni?


Aldo menatap Veni dalam, gadis itu hanya diam dengan tatapan mata yang kosong. Lagi-lagi seperti diingatkan akan kejadian lampau Aldo semakin menyesali perbuatannya.

__ADS_1


*


*


*


"Zayn kau kemari?" wajah Judy terlihat begitu bahagia menyambut pangerannya. Pria kecil itu hanya tersenyum tipis dan mengangguk.


"Mama.. Ana mau pulang saja. Disini Judy hanya suka Zayn. pasti nanti mereka hanya sibuk berdua." Ujar Zayana sambil mendengus kesal.


"Ana bisa main sama kakak." Kata Zafa menyahut.


"No, Ana mau pulang saja."


"Ana, kamu itu jangan pelit. Zayn kan saudaramu. kau bisa bersamanya sewaktu-waktu sedangkan aku?" Wajah Judy berubah sendu. Dian merasa kasihan pada Judy. Sedang Selin hanya geleng kepala melihat akting putrinya.


"Sudahlah Ana jangan berlebihan. Kita tidak setiap waktu kemari." Ujar Zayn yang iba melihat wajah sendu Judy. Kini giliran Dian yang geleng kepala mendengar ucapan Zayn, sama dengan suaminya tadi Jangan berlebihan.


Ana menghentakkan kakinya kesal. Dia langsung duduk di samping Dian melipat kedua tangannya di dada.


Dian tersenyum dan mengusap kepala putrinya itu. Semenjak istri Rian hamil memang Zafrina jarang sekali datang ke rumah sehingga Zayana merasa kesepian.


"Owh ya Selin kau periksa kandungan dimana?" tanya Dian.


"Di rumah sakit milik kak Gerry juga kok, sama dokter Fany." Jawab Selin. Suasana kembali hening tanpa ada percakapan lagi. Karena Dian sibuk dengan ponselnya ia benar-benar tak tenang meninggalkan Gerry dalam keadaan sakit seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia tak mungkin menitipkan putranya disini. Karena Selin pun sendirian sedangkan Didi masih berada di restoran untuk melakukan pengecekan.


"Kalo mau pulang, pulang aja duluan ga apa-apa kak. Biar Zayn disini dulu. Nanti kalo daddy nya Judy pulang biar diantar kesana." Ujar Selin yang menangkap keresahan dari gestur tubuh Dian.


"Ga apa-apa kok, aku hanya sedang kepikiran mas Gerry, tadi aku ninggalin dia padahal posisinya sedang sakit."


"Mama, papa sakit?" tanya Zayana terkejut. Zayn yang sedang menemani Judy bermain langsung menoleh begitu mendengar suara Zayana.


Zafa mendekat ke arah Dian padahal semula dia sedang duduk menyendiri di dekat kolam. Saat ini mereka sedang berada di outdoor rumah Didi.


"Mama ayo pulang saja." Ujar Zafa cemas.

__ADS_1


"Iya mama ayo kita pulang. Biar Zayn disini saja kita tinggal." Ujar Zayana. Dian justru merasa tak enak hati pada Selin. Pada akhirnya anak-anaknya ingin pulang karena mencemaskan kondisi papanya.


"Maaf ya Selin .. " Ujar Dian benar-benar tak enak hati.


"Tenang saja kak Dian jangan sungkan. Toh Judy juga mau mengerti pada akhirnya." Judy tersenyum seraya melambaikan tangannya ke arah mobil yang membawa Dian dan anak-anaknya kembali ke mansion.


*


*


*


Ara dan Arsen sibuk di panti hari ini. Karena orang-orang yang Arsen rekrut telah tiba sejumlah 5 orang akan membantu Ara mengurus panti asuhan itu. Bahkan Arsen membayar guru khusus untuk homeschooling anak-anak itu.


"Capek A' .. " rengek Ara, Arsen tersenyum lalu menarik tangan Ara agar mendekat kearahnya. Saat ini keduanya sedang duduk di sofa ruangan Ara. Ara menyandarkan kepalanya di bahu Arsen, matanya sudah sangat mengantuk ia berkali-kali menguap tertahan karena tak enak hati pada Arsen yang lebih banyak mengeluarkan tenaga sedangkan dia hanya menunjuk-nunjuk saja apa yang harus Arsen lakukan.


"Kamu istirahat dulu saja ya." Ujar Arsen mengusap kepala Ara, gadis itu menggeleng lemah. Namun tak lama terdengar bunyi dengkuran halus Ara, Arsen menatap Ara sekilas lalu mencuri ciuman bibir Ara yang sedikit terbuka dengan mata terpejam.


Arsen merebahkan tubuh Ara dan menutupinya dengan selimut.


"Sleep tight my love." Bisik Arsen. Pria itu keluar untuk melihat kesiapan panti itu agar secepatnya bisa beroperasi sebagaimana fungsinya.


"Apa kalian sudah makan?" tanya Arsen pada ke 13 anak itu. Mereka semua mengangguk serempak.


Arsen tampak puas dengan hasil para pekerjanya yang mendesign setiap sudut ruangan menjadi terkesan lebih hommy.


"Apa kalian menyukai tempat ini?" tanya Arsen pada anak-anak itu yang sibuk mengecat hiasan.


"Iya kami suka kak." Jawab semuanya. Senyum Arsen mengembang. Bisa membahagiakan anak-anak itu adalah sebuah kepuasan tersendiri bagi Arsen. Meskipun awalnya dia hanya ingin menyenangkan hati Ara.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨


Duh beribu maaf buat kalian ya .. 🙏🙏😔


Othor seharian sibuk banget ada tetangga punya hajat. Mau tak nampak ga enak. Begitu nampak mau pegang HP buat nulis pun sungkan.

__ADS_1


"


__ADS_2