Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Obrolan malam


__ADS_3

**********


Raja Aaron dan ratu Rakila langsung kembali ke negara T. Mereka sudah merasa sangat senang karena Selin mendapatkan cinta masa kecilnya.


Selin baru selesai mandi dan hanya mengenakan bathrobe. Dia terkejut saat keluar kamar mendapati Didi dalam keadaan telanjang dada.



"Apa kau sudah selesai?" tanya Didi mendekat ke arah Selin. Wajah Selin memerah, debaran jantungnya bisa terdengar begitu jelas.


"A-aku .. su-sudah .. eh," Selin merasa gugup saat Didi mendekat ke arahnya dan mengukung tubuh Selin didinding.


"Ada apa dengan wajahmu sayang, apa kau demam?" tanya Didi sembari mengusap wajah Selin menggunakan punggung jemarinya.


"Bi-bisa-kah kau menjauh." Selin benar-benar tak dapat mengendalikan detak jantungnya yang seakan berlompatan dari tempatnya.


Didi menghirup aroma vanila yang menguar dari bibir Selin. Perlahan Didi mengecup lembut bibir Selin. Sedangkan Selin memejamkan matanya erat. Benda hangat dan kenyal itu perlahan bergerak dengan sangat lembut mel*mat bibir Selin.


"Bisakah malam ini menjadi milik kita?" bisik Didi dengan suara parau. Hasratnya mulai memanas seiring gerakan Selin yang seakan ingin melepaskan diri darinya tapi tanpa sadar justru menggesekkan pahanya ke pangkal paha Didi dimana naga apinya bersemayam.


Selin menatap Didi ragu. Ada ketakutan dalam dirinya mengingat malam kelam itu. Didi dapat melihat bola mata Selin bergerak tak beraturan.


"Aku berjanji akan pelan-pelan." Bisik Didi, dan Selin mengangguk. Didi sedikit melonggarkan Kungkungannya. Ia menarik tali bathrobe Selin hingga tampak pemandangan yang semakin membangkitkan pergerakan naga apinya. Nafas Didi semakin memburu saat melihat dua gundukan padat milik Selin. Ia menelan salivanya dengan susah payah.


Didi membenamkan lagi cium*n yang mampu membuat hasrat Selin ikut terbakar. Tangan Didi mere*mas dada Selin dengan lembut. Lenguhan panjang Selin menuntun hasrat Didi yang semakin menggebu. Didi membaringkan Selin diatas ranjang dengan hati², dan melepas sisa kain terakhir yang menutupi dua aset berharganya. Didi pun langsung melepas kain pembungkus bawah tubuhnya. Ia kembali memberi sentuhan-sentuhan di inti tubuh Selin bagian bawah. Wajah Didi sejajar dengan irisan buah peach milik Selin, lidahnya mulai menari memainkan biji selasih Selin yang berwarna pink kemerahan. Sesekali Didi menghisapnya. Membuat tubuh Selin bergetar hebat.


"Please lakukan sekarang, jangan membuatku terbang sendirian." Rancau Selin. Didi tersenyum mendengar ucapan Selin. Ia semakin gencar memainkan inti bawah Selin dengan tangannya masih terus meremas dada Selin yang terasa lembut ditangannya.


Didi mulai menggesek-gesekkan naga apinya yang sudah berdiri sempurna. Kelembaban inti tubuh bawah Selin tak membuat Didi begitu mudah menembus kedalam butuh sedikit dorongan hingga Selin memekik kesakitan.


"Aarggh .. stop ini sakit sekali." Ujar Selin menahan dada Didi. Namun dibawah sana naga api sudah sepenuhnya tenggelam dalam surga dunia milik Selin.


Didi mengusap air mata Selin. Ia kini memainkan lidahnya di pucuk dada Selin, sembari menggerakkan tubuhnya. Selin mulai menikmati permainan Didi, dia menatap malu wajah Didi yang tampak mempesona meskipun belum mandi.


Didi semakin cepat menggempur irisan buah peach milik Selin. Hingga rintihan-rintihan Selin seakan memenuhi ruangan. Tubuh Selin menegang, kakinya menjepit tubuh Didi. Merasakan dinding-dinding dalam inti tubuh Selin berkedut membuat Didi ikut mengerang dan menyebar bibit unggulan miliknya di ladang Selin.


.

__ADS_1


.


.


Didi tersenyum puas saat berada dikamar mandi, akhirnya setelah 5 tahun berpuasa dirinya bisa berbuka dengan yang manis.


Didi segera membersihkan dirinya. Ia membiarkan Selin beristirahat setelah dirinya kembali menggempur Selin hingga berkali-kali.


Selin merasakan tubuhnya seperti habis berlari maraton. Ia enggan beranjak dari tempat tidur. Saat tak lagi mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Didi keluar hanya berbalut handuk sebatas pinggang. Namun di mata Selin pria itu tampak begitu menggoda.


"Apa kau lapar?" tanya Didi pada Selin.


"Iya .. aku lapar sekali by." Rengek Selin. Didi mengusap rambut Selin dengan gemas.


"Baiklah tunggu sebentar! aku akan ambilkan untukmu." Kata Didi, ia memakai celana pendek Chino dan keluar kamar tanpa memakai baju.


"Aah .." Dian berteriak menutup Wajahnya. Gerry yang mendengar suara Dian segera berlari menghampiri istrinya di dapur.


Gerry melihat Dian menutup mata dan Didi menggaruk tengkuknya.


"Ada apa sayang? apa pengantin baru ini berbuat kurang ajar padamu?" tanya Gerry menuntun Dian menjauh dari Didi.


"Lain kali kalau keluar pakai dulu bajumu." Ketus Gerry memeluk istrinya dengan posesif.


"Mana aku tahu jika istrimu ada di dapur. Lagi pula ini pukul 12 malam. Aku kira semua sudah tidur.


Didi berjalan mengambil sesuatu dari dalam kulkas. Dia mengambil telur sosis keju dan juga paprika dan bawang bombai.


"Ini jam lapar istri dan calon bayi kita." Kata Gerry.


"Apa kau mau omelet. Aku akan membuat untuk Selin." tawar Didi. Dian mengangguk namun tak berani menatap pria itu.


"Kembalilah ke kamar, aku akan menunggu omeletmu." Kata Gerry dan Dian mengangguk.


.


.

__ADS_1


.


Gerry terus memperhatikan wajah Didi yang tampak begitu senang sekali. Setelah sekian tahun lamanya tak pernah ada senyumnya yang seperti saat ini Gerry lihat. Gerry merasa sangat bersyukur.


"Kau tampak sangat bahagia." Ujar Gerry.


"Kau tahu pasti jawabannya Ger." Jawab Didi.


"Aku senang melihatmu kembali ceria."


"Kau sudah seperti pacarku saja." Ujar Didi sambil memotong paprika dan bombai.


Didi kembali serius menyelesaikan masakannya hingga kemunculan Aldo mengagetkan keduanya.


"Kenapa dengan wajahmu bro?" tanya Gerry, ia hanya ingin mengejek Aldo sebenarnya karena ia tahu betul apa yang terjadi. Veni pasti mengusirnya dari kamar.


"Ck .. jika hanya ingin meledekku Dian saja." Gerutu Aldo. Didi mengernyit tak paham dengan pembicaraan kedua sahabatnya.


"Ada apa?"


"Apa kau tahu, istrinya sedang ngidam tidak mau dekat dengan Aldo." Kata Gerry.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Didi sambil menggoreng omelette.


"Entahlah hanya setiap malam. Jika aku mendekat dia akan marah dan terus menerus muntah." Jawab Aldo lemas.


Didi dan Gerry tergelak di keheningan suasana perkebunan. Aldo membenamkan wajahnya ke meja makan.


Gerry masuk mengantar omelette untuk Dian. Begitupun dengan Didi. Aldo bahkan mendapatkan satu porsi untuk diberikan kepada Veni. Setelah ketiga pria itu menyerahkan makanan untuk istri mereka. Mereka kembali bertemu di balkon. Didi membawa 3 gelas panjang dan sebotol wine dan sebotol brandy.


"Tidak terasa kita sudah masuk kepala 3 rasanya baru kemarin kita bermain-main dan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Sekarang kita disini dengan masing-masing keluarga kita. Aku tak menyangka akhirnya menikah. Padahal kalian tahu waktu itu pernah berkata tak akan menikah setelah kepergian Gita." Ujar Aldo, tatapan matanya menerawang di kegelapan malam.


"Aku juga, tak menyangka akan mendapatkan istri seperti Dian. Wanita yang penuh kelembutan dan memiliki sifat yang begitu baik." Kata Gerry menyesap brandy yang Didi tuang.


"Aku juga tidak menyangka akan menikahi seorang putri dan memiliki seorang anak perempuan." Kata Didi.


Ketiganya asik mengenang masa-masa mereka dulu.

__ADS_1


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


__ADS_2