Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Aku Membencinya


__ADS_3

S2. Aku Membencinya


******


Arya mengangkat tubuh Selin dan meletakkan tubuh lemah gadis itu diatas brankar. Suster jaga membawanya masuk ke ruang IGD dan Arya mengikutinya. Ia ingin memantau langsung kondisi Selin. Namun seorang perawat menahan Arya.


"Maaf Dokter Arya, dokter Bella sedang menangani pasiennya. Dokter diharap bersabar menunggu di luar." Kata perawat itu. Tak lama dokter yang menangani Selin menghampirinya dengan wajah yang sulit diartikan


"Ada apa dokter, aku hanya ingin memastikan langsung kondisinya." Ujar Arya, berusaha menerobos masuk.


"Kalo boleh tahu, dia ini siapa nya dokter Arya?" tanya dokter itu.


"Dia kerabatku dokter Bella."


"Saya akan melakukan Visum. Kemungkinan kerabat anda mengalami pelecehan seksual." Kata dokter Bella, rasanya seperti tersambar petir tubuh Arya membeku, kakinya terasa lemas.


"A-apa maksud anda dokter?" tanya Arya tergagap.


Dokter Bella menyingkap sedikit baju dibagian atas dada Selin. Mata Arya melebar melihat begitu banyak kissmark dan memar di bahu Selin. Tangan Arya spontan terkepal. Ia tak akan mengampuni siapapun yang telah menyakiti Selin.


Wajah Arya masih mengeras ia dengan resah menunggu hasil Visum Selin. Dia ingin menghubungi adiknya. Tapi dia harus memastikan sesuatu terlebih dahulu.


Tak lama dokter Bella datang membawa hasilnya. Ia menjelaskan dengan detil tentang kondisi Selin secara fisik. Arya tampak begitu syok mendengarnya saat dokter Bella menjelaskan organ kewanitaan Selin mengalami bengkak dan luka.


Dengan langkah gontai Arya mendatangi kamar rawat Selin. Hatinya berdesir nyeri, ia sudah menganggap Selin seperti adiknya sendiri. Arya duduk di samping brankar Selin. Wajah gadis itu benar-benar pucat.


"Siapa ba*jing*n itu? aku akan menghajarnya untukmu Selin. Bangunlah ..!!" Gumam Arya.


Kelopak mata Selin terbuka, matanya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya.


Ia melihat sekelilingnya, Arya terpaku melihat mata sayu itu terbuka, dengan buliran air mata yang siap jatuh.


"Kak .." lirih Selin.

__ADS_1


Arya mendekat, tangannya terus membelai wajah cantik Selin. Meskipun wajah gadis itu pucat tak sedikit pun mengurangi kecantikannya.


"Apa kau masih pusing? tanya Arya dengan suara parau, ia sedang menahan diri untuk tidak menangis.


Selin menggeleng, air mata yang sedari tadi ditahannya lolos begitu saja.


"Katakan padaku, siapa ba*jing*n yang telah menyentuhmu? Tanya Arya, membuat Selin semakin terisak. Arya yang tak kuasa melihat gadis itu menangis seketika memeluknya.


"Aku takut kak .." Kata Selin ditengah isakannya.


"Apa Didi yang melakukan itu padamu?" tanya Arya lagi.


"Jangan sebut namanya. Aku membencinya kak."


Arya tidak bisa lagi menahan amarahnya. Bagaimana bisa adiknya berbuat hal sehina ini.


Arya mengurai pelukannya. Ia mengusap air mata Selin. "Aku akan bawa ba*jing*n itu kemari. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya.


Selin menggeleng dengan kuat. Dirinya tidak mau bertemu dengan Didi.


"Baiklah aku tidak akan membawanya kemari. Tapi aku ingin tau kenapa tadi kamu bisa ada di bandara? dan siapa orang-orang yang mencarimu itu? Aku sempat mendengar mereka menyebut namamu." Kata Arya, Selin menunduk tak berani menatap wajah pria itu.


"Mereka orang suruhan ayahku kak. Dan sebenarnya aku ke Indonesia karena aku kabur dari rumah. Aku tidak ingin di jodohkan." Tutur Selin, sontak Arya semakin terkejut. Berati gadis ini bukan berasal dari negara ini.


"Darimana kamu berasal? kenapa bahasa Indonesia mu sangat fasih?"


"Aku dari negara T, tapi nenekku dari ibuku berasal dari Indonesia. Sebab itu aku fasih berbahasa Indonesia. Aku semoat bersembunyi dirumah peninggalan beliau, tapi baru dua hari aku tinggal disana mereka sudah menangkap ku. Lalu saat aku berhasil kabur aku langsung datang ke kota ini. Tapi siapa yang tau nasibku hari ini, esok dan nanti. Mungkin ini hukuman yang Tuhan beri untukku karena aku tidak patuh pada orangtuaku." Wajah Selin semakin sendu. Mengingat kejadian demi kejadian yang menimpanya.


"Selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Aku yakin kau gadis yang tangguh. Kau pasti akan bisa menghadapi semua masalahmu. Aku akan ada di sampingmu untuk melindungimu." Kata Arya menguatkan Selin. Gadis itu tersenyum meski matanya sembab. Bola matanya hampir tak terlihat karena terlalu banyak menangis.


"Terimakasih kak." Ujar Selin lirih.


"Sekarang makanlah, isi dulu perutmu agar tidak kosong." Kata Arya, ia meraih makanan yang disiapkan rumah sakit untuk Selin.

__ADS_1


Dengan penuh perhatian ia menyuapi Selin. Ia seperti melihat sosok adiknya di diri Selin. Itulah mengapa setiap bersama Selin dia selalu ingin melindungi gadis itu.


Setelah memberikan Selin minum Arya menyingkirkan bekas makan gadis itu.


"Terimakasih kak, kak Arya selalu baik padaku." Lirih gadis itu, matanya sudah berkaca-kaca.


"Kau boleh menganggapku sebagai kakakmu Aku akan melindungimu." Ujar Arya, Selin mengangguk senang. Setidaknya dia tidak sendirian disini.


"Kakak pulanglah, aku sudah baik-baik saja."


"Aku akan menunggumu sampai kau sembuh. Aku sudah mengajukan cuti." Kata Arya yang lagi-lagi membuat mata Selin berkaca-kaca.


.


.


.


Didi mengerahkan semua orang-orangnya untuk mencari keberadaan Selin, namun dua jam menunggu sama sekali tak membuahkan hasil.


Didi merebahkan tubuhnya di ranjang Selin, aroma gadis itu masih lekat menempel di sana. Didi tak tau ada apa dengan hatinya. Jika hanya rasa penyesalan kenapa dia begitu mencemaskan Selin. Tapi saat ini dirinya belum bisa berpikir jernih. Semua masih samar dan tampak abu-abu.


Perlahan tapi pasti kesadaran Didi mulai menurun. Ia jatuh terlelap dipelukan sang mimpi.


Di dalam mimpinya, Didi melihat Selin berdiri memakai gaun pengantin. Ia sangat cantik dengan riasan di wajahnya. Selin tersenyum kearahnya namun saat Didi mendekat ternyata senyuman itu bukan ditujukan kepadanya melainkan orang yang ada di belakangnya. Seorang pria tampan tersenyum bahagia ke arah Selin. Hati Didi langsung memanas ia ingin memukul pria itu namun tidak bisa berulang kali dia memanggil-manggil nama Selin namun gadis itu seolah tak mendengarnya. Didi tampak frustasi, saat Selin bergandengan dengan pria itu menuju ke tempat ijab qobul.


"Selin jangan ...!!" Didi langsung terbangun, matanya menatap disekelilingnya. Hatinya berdenyut nyeri melihat mimpi tadi. Ia masih mengatur nafasnya dan melihat jam di ponselnya. Pukul 3 pagi, dan anak buahnya belum ada satupun yang memberikan laporan kepadanya.


Didi mengusap wajahnya kasar. Bayangan wajah Selin yang tersenyum terus mengganggu pikiran. Didi tidak melanjutkan tidurnya. Dia meraih kunci mobilnya untuk pulang. Ia akan meminta Arya untuk membantunya mencari keberadaan Selin.


๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰


Hari minggu maunya libur tapi tangan gatel pengen ngetik terus.. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

__ADS_1


Entah mengapa akhir-akhir ini notifikasi viewer ku jarang kelihatan. Apakah karya ini mulai hilang peminatnya. Atau hape othor yang mulai lemot. Entahlah. Tapi othor tetep bakalan lanjut sampai ada tulisan The End.


__ADS_2