Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Halalin Dulu


__ADS_3

*********


Ketegangan benar-benar terjadi di kediaman Dian. Semua orang bisa mengerti mengapa Veni begitu tidak ingin memaafkan ibunya.


"Saya rasa pembicaraan ini cukup kita sudahi sampai disini. Jika kau benar-benar menginginkan aku memaafkan dirimu. Maka sesuai keinginanmu aku memaafkanmu. Tapi untuk melupakan apa yang kau lakukan padaku mungkin butuh waktu seumur hidupku. Veni berdiri, dia berusaha sekuat tenaga untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Aldo terpaku, ia merasa telah salah membawa Maria ke hadapan Istrinya. Ia seakan telah mengorek luka lama Veni yang mengering. Luka yang entah berapa tahun berusaha Veni kubur.


Mata Aldo membulat saat tubuh Veni limbung. Gerry yang saat itu berada tidak jauh dari Veni reflek menangkap tubuh wanita itu. Veni tak sadarkan diri, Aldo dengan panik mendekati istrinya.


"Cepat hubungi dokter Fany sayang. Katakan untuk membawa obat-obatan lengkap. Jika perlu datang kemari dengan ambulans agar lebih cepat." Ujar Gerry pada Dian.


Aldo membawa Veni masuk ke kamar tanpa memikirkan apa-apa lagi.


"Baby bangunlah. Maafkan aku, aku berjanji setelah ini tidak akan mempertemukan dirimu dengan ibumu lagi. Bangun baby .. !!" Aldo terus bergumam seraya mengecup jemari Veni.


Tak lama dokter Fany masuk diikuti dua perawat yang satu mendorong tabung oksigen dan yang satunya lagi membawa perlengkapan dokter Fany.


Dokter Fany mulai mengeluarkan stetoskop dan memeriksa Veni. Seorang perawat juga sedang memeriksa tensi Veni.


Dokter Fany bahkan mencoba mengecek area inti tubuh Veni. Karena khawatir jika wanita itu mengalami pendarahan. Seorang perawat membawa masuk alat monitor USG yang terhubung dengan sabuk Doppler. Dokter Fany mencoba mengecek denyut jantung janin Veni. Wajahnya tampak serius. Aldo duduk lemas melihat pemandangan itu. Ia seperti de javu seperti saat dulu Veni koma karena penyakitnya. Jantung Aldo serasa direm*s dengan kuat.


"Ku mohon bertahanlah baby. Maafkan aku sekali lagi aku mengecewakanmu."


Dokter Fany mulai memasang infus di tangan Veni, dan memasang selang oksigen. Aldo semakin cemas melihat itu semua.


"Apa semuanya baik-baik saja Dokter?"


"Kondisi istri anda lemah, dan denyut jantung janin juga lemah, semoga saja masih ada keajaiban janinnya masih bisa tertolong. Saya sudah menyuntikkan obat untuk penguat kandungan. Selama semalam saya akan observasi dan memastikan kondisi nyonya Veni." Kata dokter Fany.


"Terima kasih dokter .. "


.


.

__ADS_1


.


Ara sedang memotong kue yang Arsen bawa untuknya. Ia tampak sangat kelaparan padahal baru saja mereka selesai makan.


"Ada apa dengan wajahmu itu Ra? Kau seperti ingin memakan kue itu bulat-bulat." Ujar Arsen yang sejak tadi tak mengalihkan pandangannya dari wajah calon istrinya. Ara tersenyum lalu mengangguk sambil menggigit ujung sendok.


Rasanya Arsen ingin menggantikan sendok yang saat ini sedang dimainkan Ara di bibir tipisnya. Arsen bahkan menatap tanpa berkedip. Ara yang merasa terus diperhatikan menjadi salah tingkah.


"Aa kenapa lihatin Ara seperti itu?" Ara menatap tajam wajah Arsen. Seraya memakan sedikit demi sedikit kue yang Arsen belikan untuknya.


"Ra boleh DP dulu ga sih?"


"DP apa A' ..? Arsen duduk mendekati Ara, melihat bibir Ara yang sedikit belepotan membuat hasrat Arsen tiba-tiba meninggi.


Arsen memiringkan wajahnya mendekat kearah Ara. Gadis itu mendadak langsung terpaku saat bibir merah nan lembut milik Arsen menempel sempurna di bibirnya. Arsen terus menggerakkan bibirnya dan menggigit bibir Ara agar terbuka. Arsen menerobos masuk memainkan lidahnya. Menyesap aroma tiramisu yang baru saja dimakan oleh Ara. Ara gelagapan mendapat serangan dari Arsen. Ia berusaha mendorong tubuh Arsen. Arsen melepaskan ciumannya karena Ara sudah tersengal-sengal. Dengan kesal Ara memukuli dada Arsen. Beraninya lagi-lagi pria itu mencuri ciumannya.


"Aa .. Ara beneran ga suka aa kaya gitu tadi." Mata Ara mendelik kesal namun justru membuat Arsen semakin gemas.


"Iya iya maaf ya cantikku. Habisnya lihat kamu rasanya pingin nyerang terus Ra." Kata Arsen.


"Kalo gitu kita nikahnya besok aja ya Ra, udah ga tahan."


"Dasar aa nih otak mesum." Ara memukul dengan keras lengan Arsen, pria itu terbahak.


"Aa ga pulang? Udah malem lho."


"Kamu ngusir aku Ra?"


"Lha kan emang bener udah malem, lagian mendingan aku ngusir kakak dari pada aku diusir warga se komplek A'.."


"Ga akan ada yang berani ngusir kamu, percaya deh sama aku." Kata Arsen, namun Ara hanya diam dan mengacuhkan Arsen. Ia sibuk membereskan sisa kue dan memasukkan ke dalam kulkas. Arsen hanya memperhatikan setiap apa yang Ara lakukan.


"Aa ga punya kerjaan selain ngelihatin aku?" tanya Ara, Arsen hanya tersenyum dan menggeleng ia menopang wajahnya dengan kedua tangannya senyuman diwajahnya tak pernah surut sedikitpun dari wajah tampannya.

__ADS_1


"Aa udah ih Ara malu dilihatin kaya gitu." Ara menghentakkan kakinya kesal.


"Nanti tidur bareng ya Ra?" anggap aja latihan ujian." Kata Arsen. Ara melotot jengkel pada pria itu. Ara berjalan menuju kamar. Arsen langsung berdiri dan mematikan saklar lampu ruang tengah dan menyusul Ara.


"Ra tunggu .."


Ara membalikkan badan tepat di depan pintu.


"Belum muhrim, aa tidur di kamar Abah sana. Tadi mobil sudah dikunci belum. Ara udah ngantuk selamat malam calon suamiku." Ara berbalik badan dan menutup pintu kamarnya lalu menguncinya.


Mendengar Ara memanggil dirinya dengan sebutan calon suami membuat Arsen kegirangan. Bahkan tingkah nya seperti anak kecil. Tapi Arsen tak peduli, dia sangat bahagia saat ini.


Arsen masuk ke dalam kamar yang seharusnya ditempati oleh kakek. Arsen meraih foto usang di atas meja ia mengusap foto itu. Namun ada yang mengganggu pikiran Arsen setelah melihat foto itu. Ia ingat pria yang ada difoto itu pernah membantunya dulu saat dirinya di keroyok sekolah lain waktu SMA. Apakah ini ayah Ara?


Arsen membaringkan tubuhnya di ranjang itu. Tak lama matanya terpejam karena lelah seharian.


.


.


.


Keesokan paginya Ara sudah sibuk di dapur. Selama dua minggu kedepan jadwalnya kosong. Jadi Ara bisa bersantai. Ara hari ini memakai kaos oblong besar dan celana legging warna nude.


Ara sibuk membuat nasi goreng untuk dirinya dan Arsen sarapan. Setelah selesai membuat nasi goreng Ara berjalan menuju kamar yang Arsen tempati. Berulang-ulang Ara mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Jadi Ara berinisiatif membuka pintu kamar itu. Ara membuka tirai jendela agar sinar matahari dapat masuk. Matanya membulat melihat Arsen tertidur tanpa memakai baju dan hanya mengenakan boxer.


Bagaimana ini? ya Allah Ara kamu bodoh banget dijadikan tadi ga lihat-lihat dulu pas masuk. --- gerutu Ara dari dalam hati.


Saat Ara sedang berperang dengan hatinya Arsen membuka mata saat merasakan hangatnya sinar matahari mengenai tubuhnya. Ia tersenyum melihat Ara sedang memukul kepalanya sendiri.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Hay hay maafkan othor yang kembali tertidur dan akhibatnya kesiangan.

__ADS_1


jangan lupa vote dan kopi atau mawar buat othor ya..


__ADS_2