Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Mau Curhat


__ADS_3

Jika memang tak ada kelas, buat apa pria itu tinggal lebih lama di sini. Apalagi hanya untuk tidur? kan bisa pulang ke rumah, tidur dikamar dengan kasur empuk tanpa penggangu.


“Aku tunggu! Atau kalau mau cari, cari aja ke basecamp. Aku disana.” Linggarpun berlalu setelah membersihkan sisa bungkusannya.


“Ehem-ehem, cie-cie.”


“Gak bosan apa, udah dikasi waktu berduaan masih mau pulang bareng.” Tantri.


Hingga saat kelas terakhir selesai, ia lebih memilih menelpon Linggar dari pada datang menyambangi ke basecampnya. Bisa-bisa ia kembali di bully oleh teman-teman pria itu.


“Sudah?” Kini lelaki itu telah berada di hadapan Rindi yang telah menunggunya. Mengulurkan tangannya ke arah Rindi. Dan disambut baik oleh gadis itu.


Linggar sempat membola menatap Rindi hanya karena penyambutan hangat yang diterimanya. Betapa bahagianya


dirinya saat ini. Seolah kemenangan telah berada di hadapannya.


Dan buat Rindi, Linggar akan tetap meraih tangannya dan kembali menggenggam erat, jadi percuma saja kan.


Dan untuk beberapa hari berikutnya, pemandangan itu kembali terlihat. DI mana Linggar tidur berbantal paha Rindi. Nyaman dan empuk.


Makan berdua hasil dari titipan dari teman-teman. Meskipun konsep makan berdua sedikit melenceng karena teman-teman Rindi turut bergabung dengan dua sejoli itu meskipun hanya sebagai penonton.


Meskipun begitu tak membuat Linggar risih. Mungkin lebih baik seperti itu, ingat waktu mereka untuk berdua sangat terbatas. Jadi setiap ada kesempatan untuk bersama, why not?


Alasan begadang selesai, tapi tidak dengan pemandangan seperti itu. Kegiatan itu justru terus berlanjut. Membuat seluruh orang yang sering lalu lalang di sekitar taman menjadi terbiasa.


“Rin, aku tunggu di basecamp, kalau kuliahnya selesai kamu ke sini yah. Aku tunggu!” Linggar pada Rindi sebelum kembali masuk kelas.


Namun hingga saat ini, butuh keberanian tinggi menghadapi teman-teman Linggar, terlebih lagi jika harus menerima ejekan dari mereka. Ia harus memasang wajah tebal seperti kulit badak.


Mungkin lebih baik baginya untuk tetap menunggu di taman. Tapi saat menerima telpon dari Linggar, ia  memaksakan dirinya untuk tetap melangkah ke arah basecamp.


Mungkin ia akan kembali menelpon Linggar saat telah berada di dekat sana. Niatnya diurungkan saat melihat tempat itu terlihat lebih sepi, mungkin sebagian telah pulang.


Hingga ia memberanikan diri untuk tetap melangkah semakin mendekat dan memunculkan wajahnya di balik pintu yang sedikit terbuka. Mendapati Linggar yang sedang duduk sambil mengusap pelan kedua matanya, sepertinya pria itu lagi-lagi baru saja terbangun dari tidurnya.


“Kak,” sapanya sebelum masuk ke ruangang itu.


“Sory-sory aku tertidur.” Linggar seraya bangkit dari duduknya, meraih ransel dan menyampirkan ke pundaknya.


“Kenapa tadi gak langsung pulang saja! Aku bisa pulang sama Dini.”


“Aku mau antar kamu pulang.”


“Ayo!” Ajaknya namun tak seperti biasanya tangan terulur untuk menggengam tangan Rindi, kini tangannya telah bertengger di bahu kekasihnya itu. Linggar merangkulnya.


Bukankah hal ini sesuatu yang lumrah bagi sepasang kekasih.


Tapi mungkin tidak bagi gadis itu. Rindi sangat kaku menerima keberadaan tangan Linggar di bahunya, hingga harus mengedikkan bahu namun tak ditanggapi oleh Linggar.


Pria itu terus membawanya ke luar dari ruangan itu.


“Kak,” sambil menghadap ke arah Linggar yang tepat berada di sampingnya.


Mau bilang apa yah? Bilang tangannya di ambil dong! Tapi malu.


Pria itu menoleh dan tersenyum. Sekali lagi senyuman yang membuat Rindi tak mampu berkutik.

__ADS_1


Sementara dalam pikiran Linggar terlintas bagaiman jika pipi mulus itu bersentuhan langsung dengan bibirnya.


Emm, pasti empuk.


“Kak,” Pekikan Rindi membuatnya tertegun seketika.


Apa yang terjadi?


“Apa kakak lakuin ini ke aku?” Rindi mulai menghempaskan tangan yang sedari tadi bertengger di sana. Lepas.


“Loh, apa?” Linggar terlihat kebingungan dengan sikap tiba-tiba kekasihnya.


“Jangan karena kakak udah ngasi uang tiga ratus ribu, sampai bisa berbuat seenaknya. Aku bisa kembalikan uang


kakak kalau kakak mau. Tapi jangan gini dong!”


“Uang apa?” Tanyanya bingung.


“Gak usah antar pulang, aku bisa sendiri.” Jawabnya ketus sambil terus mempercepat langkahnya.


“Kok marah sih Rin? Aku salah apa?” Linggar yang tetap berusaha mengerjanya.


Alah, udah cium pipi juga. Masih tanya salahnya apa?


Rindi harus segera berlari untuk tetap menghindari Linggar. Pun saat mereka telah memeasuki area dimana tempat


mahasiswa lain sedang berkumpul.


Bukan tak bisa mengejar, Linggar hanya menghindari tatapan dari mahasiswa lain yang kini telah melayangkan


Oh, sungguh hari ini terasa terbuang sia-sia tanpa pulang bersama.


Rindi merasa linglung di tengah pelariannya. Selama ini ia tak pernah lagi menggunakan motor ke kampus. Jika tak pergi bersama kakaknya, Rindi memilih ikut di mobil Andini bersama Lilis, sementara kedua sahabatnya itu mungkin telah meninggalkan kampus sesaat jam terakhir selesai.


Ingin memesan ojek online, bahkan ia tak memiliki satupu aplikasi yang tengah viral itu.


Mungkin sesekali untuk menggunkan angkutan umum terasa seru, harus dicoba jika ia ingin pulang sekarang.


Ia terus berlari ke arah pangkalan ojek yang diketahuinya. Harus membuang muka jauh-jauh pada beberapa mahasiswa pria yang nongkrong di seberang sana. Sedikit siulan dan gombalan receh yang terdengar tiap kali ada mahasiswi yang lewat di depan mereka.


Ngak ada tempat nongkrong lain apa? Duh jarak ke sana seperti berkilo-kilo meter. Dan Linggar adalah orang pertama yang ingin ia cemplungin ke lautan karena telah membuatnya menghadapi semua ini.


“Pak ojek pak!” Ucapnya saat berhadapan dengan salah satu tukang ojek.


“Oh, gilirang abang sana neng!” Ucap sang tukang ojek.


Ohh, ia baru tahu ternyata tukang ojek juga punya nomor antrian.


Harus, untuk mencanangkan negara berpenduduk dengan rasa disiplin yang tinggi.


“Berapa bang?” Tanyanya saat telah sampai pada tujuannya.


“Lima puluh ribu neng?”


“What? Bang mahal amat bang?” Tanyanya terkejut mendengar harga yang telah di tetapkan sepihak oleh bang


ojek, namun tetap harus memberikan dengan harga seperti itu.

__ADS_1


Jika uang sebanyak itu dibelikan bensin, motornya sudah bisa dipakai berkeling-keling beberapa putaran.


Satu ilmu yang belum ia ketahui adalah bernegosiasi dengan tukang ojek sebelum menggunakan jasa mereka.


Lagi-lagi ia harus memberikan perhitungan pada Linggar, yang telah membuat uangnya melayang. Besok-besok ia


tak mau lagi jika di suruh untuk tidak membawa motor ke kampus.


“Assalamu alaikum!” ucapnya sambil mengetuk pintu sebuah rumah.


“Walaikum salam. Masuk aja Rindi!” Balas seorang ibu dari dalam yang melihat kehadirannya.


“Lilis ada tante?”


Rupanya ia lebih memilih mendatangi rumah Lilis dari pada pulang ke rumahnya.


“Ada di dalam, di kamar. Masuk aja, mungkin lagi mandi tuh anak!” Waktu memang telah menunjukkan pukul empat


sore hari. Saatnya menyegarkan diri setelah aktifitas seharian. Tidak seperti dirinya yang lebih memilih untuk berbaring di kasur Lilis.


“Napa?” Lilis yang terlihat lebih segar.


Heh! Hanya terdengar helaan napas dari orang yang berbaring di sana.


“Napa sih? Kusut amat?”


“Aku gak tau harus apa sama Linggar?”


Masa iya harus bilang kalau Linggar telah menciumnya? Kan malu.


“Pc, napa sih?” Mungkin karena kesal, Lilis melayangkan tepukan yang cupuk keras pada bokongnya.


“Sakit tau!” Jawabnya sambil mengelus-elus bekas tepukan Lilis.


“Abis ngomong gak jelas banget. Mandi sana!” Kini Lilis telah bergabung dengannya berbaring di kasur.


“Aku mau pulang aja!”


“Ya pulang aja! Susah amat.”


“Tapi mau curhat!”


To Be Continued!


Jangan lupa memberi like setiap membaca Bab Baru.


Hanya sebuah sentuhan jari mampu membuat Dinda melayang.


Dan buat kalian yang telah memberikan sentuhan jari, Dinda ucapkan banyak-banyak terima kasih.


Lope Yu!


Lope Yu!


Lope Yu!


Lope Yu!

__ADS_1


__ADS_2