Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Pernikahan Batal?


__ADS_3

Sepatu hitam berkilau kini mengusik pandangan mereka, ternyata mereka tak hanya berdua di ruangan itu.


Serempak mengangkat kepala, ingin melihat sang pemilik sepatu hitam berkilau itu. Kedua pasang mata kini membola sempurna menatap pria yang telah berdiri dengan raut marah di depan mereka.


“Kamu gak hamil?” Kak Reno dengan kedua tangan terletak kokoh di pinggang, pandangan begitu tajam menusuk ke arah Rindi.


Rindi hanya mengangguk kemudian kembali tertunduk mengamankan jantung yang kini berdengup kencang. Takut, pasti!


Sementara Lilis turut menundukkan kepalanya, meskipun ia tak tahu apa yang sebenarnya menjadi masalah pokok di sini. Ia hanya ingin mencari aman saja.


Rasa kecewa, marah menjadi satu.


Adik yang ia ketahui sedang mengandung dan harus segera menikah demi menutupi aib ternyata hanya sebuah


settingan.


Rindi tidaklah benar sedang hamil.


Meskipun memang mahkotanya telah hilang karena direnggut oleh kekasihnya sendiri.


Tapi setidaknya bisa menunda pernikahan.


Bukan pernikahan yang digelar secara dadakan dan apa adanya seperti sekarang ini.


Rindi adalah adik semata wayangnya. Salah satu wanita yang ia sayangi.


Dia ingin menggelar pernikahan yang cukup mewah.


Inginnya Reno, menjadikan hari pernikahan adiknya sebagai salah satu hari terbaik dan terindah yang di kenang oleh seluruh keluarga dan kerabatnya.


Mereka bahkan tidak memberi tahukan handai taulan yang lain.


Hanya ijab kabul, tak ada pesta pernikahan wah. Terlalu sederhana menurutnya.


Memesan baju seragam keluarga mereka pada salah satu desainer handal di kotanya. Reno masih mampu kok.


Bukan dengan seragam dadakan yang di beli secara grosiran.


Dan juga memesan undangan cantik setebal lima centimeter.


Merancang konsep pernikahan sesuai keinginan hati adik dan ibunya seperti calon pengantin yang lainnya.


Menyewa tenda dengan rangkaian bunga, pita dan  yang menjulur di depan rumah untuk acara ijab kabul.


Dan menyewa hotel serta aula sebagai tempat diadakannya resepsi pernikahan.


Ribuan para undangan yang datang dari teman dan relasi kerjanya.


Saling menyapa dan melempar senyuman bahagia.


Mengundang artis lokal untuk meramaikan pesta.


Ingat keluarga mertua Reno adalah salah satu orang penting juga loh!


Mertuanya memiliki sebuah perusahaan besar, termasuk perusahaan yang ia pimpin sekarang.


Rindi saja yang masih betah dengan semua kesederhanaan ini.


Kesederhanaan yang sama seperti saat Reno belum menikah dengan orang kaya.


Lalu apa yang harus ia katakan pada keluarga istrinya nanti?

__ADS_1


Reno berpikir, ia akan dihina karena menyelenggarakan pernikahan seperti ini.


Dikatai pelit karena tidak mau mengeluarkan uang untuk pernikahan adiknya satu-satunya.


Reputasinya akan buruk dan jatuh.


Mereka akan berpikir, jika Reno telah meninggalkan keluarganya dan tak peduli dengan kebahagian keluarga.


Reno hanya baik pada keluarga istrinya saja.


Bukan!


Bukan seperti ini yang di mau Reno!


Terlebih lagi, sang mempelai pria yang sekaligus kekasih Rindi telah merenggut kehormatan adiknya itu secara paksa.


Selama beberapa hari ini, ia melihat adiknya itu hanya menangis dan mengurung diri.


Memaksa diri untuk tersenyum di hadapan kedua orang tuanya.


Pria itu telah merebut kebahagiaan adik kesayangannya itu.


Jika sudah seperti itu, bisa disimpulakan pria itu tidak menghargai adiknya sebagai seorang istri nantinya.


Pernikahan ini harus dihentikan!


Suasana ini sungguh tak mengenakkan.


Rima masuk bergabung dengan dengan ketiga orang yang hanya terdiam dengan pemikiran sendiri-sendiri.


“Sayang kamu siap-siap.” Mendekati Rindi, mengamati make up yang beberapa kali harus susut karena air mata.


“Pengantinnya prianya udah datang. Gak berantakan kan?” Rima meraih selembar tissu lalu mengusap pelan ke wajah Rindi.


sambil tersenyum di tengah-tengah orang yang sedang berperang batin.


“Pernikahannya di batalkan.”


Rima langsung menoleh demi mendengar kata yang baru saja ia dengar. Menatap tajam ke arah mata Reno.


“Dia gak hamil?” Reno membalas tatapan Rima, ingin marah tapi tak bisa.


“Terus kenapa?” Rima langsung ketus.


Disaat semua persiapan telah sempurna, hanya menunggu ijab kabul saja, pria ini justru ingin membatalkan pernikahan yang telah di depan mata begitu saja.


“Kamu tau?” Reno mengulurkan tangan ke arah lengan Rima yang ingin kembali melanjutkan aksinya merapikan


Make Up sang pengantin.


“Gak, yang aku tahu Rindi di rawat dan ada pria lain di sana selain keluarganya. Ya aku pikir aja Rindi hamil.


Aku belum periksa emang.” Ucapnya enteng menepis tangan Reno, seolah memang memancing kemarahan Reno.


“Pernikahan di batalkan, Kakak bisa carikan kamu pria yang lebih baik.”


“Gila.” Rima Langsung berbalik mendorong bahu Reno.


“Kamu tau mereka pacaran udah hampir tiga tahun? Sekarang mencoba bertanggung jawab atas apa yang telah


mereka lakukan. Lalu di mana salahnya?” Rima tak mampu lagi menahan diri untuk tetap terlihat anggun lagi.

__ADS_1


Berdebat dengan Reno ternyata membuat dirinya lebih memilih untuk menjadi dirinya sendiri meskipun sedang


berbalut kebaya pas body. Jika dirinya harus membanting tubuh Reno hanya agar pernikahan itu tetap terlaksana, ia siap.


“Tanggung jawab apanya? Siapa? Di sini hanya pria b3jat itu yang bersalah?” Menahan tubuh agar tak goyah karena dorongan dari Rima.


“Iya, kamu memang berbakat untuk menyakiti anggota keluargamu.” Rima dengan memicingkan mata menatap Reno.


“Padahal dulu kamu sudah lulus dalam menyakiti bapak, dan sekarang mau coba ilmu baru lagi hah?” Tak ada lagi


kata damai dalam raut wajah Rima.


Sedikit mengangkat songket yang menahan pergerakan kaki agar tetap anggun bagai putri keraton telah terangkat


sedikit demi melancarkan aksinya.


Tak peduli jika perut buncitnya mungkin saja akan menghalangi aksinya.


“Pengantin prianya udah sampai, kamu siap-siap.” Seorang wanita yang mengenakan balutan hampir sama dengan Rima terlihat ikut bergabung. Namun keningnya seketika mengerut saat melihat Rima sedang memasang kuda-kuda.


Dan Reno yang memandang nanar pada Rima hanya mampu berdiam diri.


“Ada apa yang?” Tanya sang istri pada Reno sambil meraih lengan suaminya.


“Nah, kebetulan pawangnya datang.” Tangan yang sedari tadi menggenggam songket terlepas. Meraih tangan


yang diketahui sebagai istri Reno itu, membawanya agar lebih menempel pada Reno.


“Ini, kendalikan suamimu. Awas aja kalau lepas, biar aku yang ikat di sudut kamar.” Ucapnya masih jauh dari kesan damai.


“Ayo sayang, kamu siap-siap.” Nadanya langsung melemah dan lembut saat berbicara dengan Rindi.


“Bentar lagi ada yang panggil untuk keluar. Itu artinya ijab kabul udah selesai.” Lanjut Rima.


“Kita keluar,” Reno meraih tangan sang istri hendak keluar dari kamar.


Baru selangakah kaki melangkah tangannya langsung di cekal, “ Tunggu! Awas saja pernikahannya batal. Pulang


tinggal nama kamu!” Ucapnya sengit.


Membuat Reno membalikkan tubuh kembali menatap Rima. Tak ada sikap lembut yang dulu ia rasakan di sana.


“Apa?” Ucap Rima lagi masih sengit. “Mau digantung terbalik di tower?


Kembali Reno melangkah dengan gelengan kepala disertai dengan hembusan napas yang kuat. Meninggalkan sang istri yang justru membolakan mata menatap Rima.


“Segitu bencinya kamu sama suamiku!” Ucapnya tertuju pada Rima.


“Terserah! Itu semua aku lakukan demi kebahagiaan keluarga ini.”


Hingga wanita itupun berlalu menyusul suaminya meninggalkan ketiga orang itu di dalam kamar.


Seketika itu kamar jadi hening. Hanya terdengar hembusan napas dari Rima yang masih berusaha mengendalikan emosi. Mengirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


TBC


Jangan lupa jarinya di goyang yah!


Mumpung masih awal pekan, sumbangin votenya dong!


Duh ngantuk.

__ADS_1


Ada kopi gak?


Sekalian sama bunganya buat camilan saat nulis.


__ADS_2