
Sang surya sudah terbit dari ufuk timur, menghantarkan pagi pada dunia yang telah terpijaki. Saat semua aktifitas hari dimulai.
Kembali membuka hari dengan berjuta rasa berbeda pada tiap insan.
Ada yang terbangun dengan semangat, ada yang terbangun dengan penuh cinta dan ada yang terbangun dengan rasa sakit. Bahkan ada pula yang terbangun dengan penuh tanda tanya di dada.
Seperti sepasang suami istri yang sedang duduk berdampingan dengan canggungnya.
Hanya lirikan mata yang sebentar-sebentar mereka lemparkan. Mengapa tak langsung menyapa satu sama lain?
Kantung mata terlihat jelas bawah mata Rindi dan Linggar, apakah mereka sedang janjian?
Tidur masih terasa kurang, tapi hari seolah memaksa mereka tuk terbangun.
“Kalian kenapa? Begadang lagi?” Pertanyaan dari sang pria pendukung Linggar. Mereka kini kembali berkumpul di meja makan sambil menikmati sarapan pagi.
Tentu saja dengan senyum terukir jelas di wajah. Namun entah mengapa senyum itu terlihat sangat menyiksa.
“Kalau begadang lagikan artinya gak usah sungkan-sungkan gitu. Ini malah saling lirik-melirik.”
Artinya kelakuan mereka terlihat oleh dua orang itu?
“Harusnya wajah kalian bahagia. Bukan cemberut kayak gitu?”
Apa iya wajah mereka cemberut?
“Bertengkar?” Masih dari orang yang sama.
“Yah, kamu kok selalu kepo sih?” Nah sang istri ikut menyahut.
“Gak kepo. Tapi pengen tau aja.”
“Nah, apa tuh judulnya. Sama ajakan?” Meskipun membela, tapi senyuman Rima lagi-lagi senyuman mengejek yang tertuju pada Linggar dan Rindi secara bergantian.
“Kak, mas aku duluan yah.” Pamit Linggar yang mulai mengangkat diri dari tempat duduknya.
“Gak ada. Makan dulu!" Ucapnya Ketus.
"Kamu sering banget lari dari kenyataan. Gak boleh gitu. Kalau ada masalah itu di hadapi bukannya di tinggalkan begitu saja.” Kali ini tatapan pria itu tajam ke arah Linggar. Membuatnya mau tak mau kembali mendudukkan diri.
“Iya mas,” Linggar pasrah.
“Saat ini hubungan kalian masih rawan. Kalau memang ada masalah yang gak bisa diselesaikan sendiri bisa bicarakan sama kita. Kamu juga.” Kini sendok yang berada di tangan pria itu menunjuk ke arah Rindi.
“Kalau ada apa-apa, ngomong sama dia.” Kali ini menunjuk pada Rima.
__ADS_1
“Iya mas.” Jawaban yang sama dari orang yang berberda dengan tingkah yang sama. Sama-sama menggangguk lalu menunduk. Setelah itu mereka saling memandang dan melemparkan senyum merekah.
Seolah mendapat sebuah dukungan membuat mereka semangat.
Linggar lebih lama menyumbangkan waktunya hanya untuk menunggu Rindi menyelesaikan jam kuliahnya lebih memilih nongkrong di cafe depan kampus.
“Rin, sekali-kali kita nginap di rumahku yah. kamu mau kan?” Kini mereka telah berada di mobil setelah menjalankan aktifitas di kampus.
“Emmmm, tapi......”
“Rin, kita belum pernah nginap di rumahku Rin. Sekali ini saja, please!”
Bahkan demi mengajak Rindi untuk menginap di rumahnyapun harus dengan memelas.
Seperti inikah yang dikatakan sebuah kebahagiaan dalam berumah tangga?
“Tapi kak,...”
“Rin, mereka orang tuaku. Mertuamu. Posisinya sama dengan posisi orang tuamu dihadapanku. Setidaknya tolong tunjukkan pada orang tuaku bahwa kita bahagia.”
“Kak.”
“Rin, ....”
“Iya, aku tau. Aku cuma mau bilang gak punya baju ganti."
Mengalihkan pandangan ke samping kiri, menembus jendela. Sosok yang di samping kanannya ternyata mampu membuatnya kesal setengah mati. Merasa tak dipercaya dan seolah tak menganggap keluarga suami adalah keluarganya juga.
Salah tingkah, itulah yang dirasakan Linggar saat ini. Namun jawaban yang didengarkan dari kursi sebelah mampu membuatnya tersenyum lebih lebar.
Setidaknya semua yang ada di otaknya tak keseluruhan benar adanya. Rindi masih menyisakan sedikit ruang untuk dirinya dan keluarganya.
Mungkin hanya keadaan yang membuat mereka menghadapi semua ini dengan keterpaksaan.
“Iya—iya, maaf! Kamu pakai bajuku saja yang di rumah, gimana?” Tangannya terulur ke arah kepala Rindi, mengacak pelan rambut istrinya. Gemas rasaya.
“Terus besoknya aku pakai apa dong? Masak iya aku pakai ini lagi?” Sambil memegang baju yang melekat di tubuh.
Membayangkan dirinya kembali mengenakan pakaian yang sama tanpa dicuci terlebih dahulu, emmm gimana yah?
"Pakai baju Kak Lirna, mau? Pasti cocok deh."
"Tetap aja gak cocok. Style-ku sama style kak Lirna itu beda. Lagian dari postur aja udah beda, Kak Lirna tinggi, aku kan,.... bulet."
"Terus dalamanku gimana?"
__ADS_1
Kembali senyum Linggar hanya karena mendengar ocehan dengan mode cemberut dari sang istri. Apakah pria itu sedang bahagia sekarang?
Gadis itu menjelaskan panjang lebar dengan wajah masih di tekuk, membuatnya semakin imut di mata Lingar.
“Iya-iya. Kita ke rumah kak Rima dulu ambil baju kamu.”
“Rin, kamu aja yah yang masuk. Aku tunggu di sini.” Kini mobil mereka telah mendarat mulus di depan teras rumah Rima.
“Aku malu kalau harus ketemu lagi sama mereka.” Mengingat beberapa kali interaksi diantara mereka berempat yang mampu menjatuhkan harga dirinya. Setidaknya menghindar sedikit tak apalah.
"Hemm," Jawaban Rindi sebelum turun dari mobil.
“Udah pamit sama mereka kan?” Saat Rindi kembali dengan membawa tas tambahan berisi pakaiannya.
“Hemm,” Rindi sambil memasang seatbeltnya.
“Mereka bilang apa?” Linggar penasaran.
“Gak bilang apa-apa?”
“Terus kalau kak Reno datang?”
“Kak Reno gak datang, malam ini mereka ke rumah ibu.”
Mobil mulai melaju. Perlahan lalu semakin kencang menuju ke arah rumah Linggar. Rumah yang dulunya selalu ramai dengan anak muda, kini sedikit sunyi.
Bukan sedikit sunyi, tapi sangat sunyi untuk ke dua orang tua penghuni rumah.
Terbiasa dengan kebisingan dan keriuhan membuat mereka merasakan kesepian. Jika dulu ayah yang sesekali meninggalkan bunda di kamar hanya untuk bergabung tidur dengan Linggar dan teman-temannya. Kini beliau seolah kehilangan tempat pelarian.
“Eh kalian datang?” Bunda yang baru saja nampak dari dalam, hendak menunggu kedatangan ayah dari kantor.
Mereka masih berada di teras.
“Gak suka bun? Kita balik nih, kita balik.”
"Ayo Rin!" Linggar yang sedang menarik tangan Rindi yang sedang melakukan takzim pada Bunda. Beracting untuk meninggalkan tempat itu.
“Pc, dasar baperan.” Melirik dengan senyuman. “Memang kamu gak kangen sama bunda?”
Linggar langsung saja merengkuh dalam bunda. Menenggelamkan tubuh itu ke dalam pelukannya, sambil menggoyang ke kiri dan ke kanan, “Kangenlah. Kangen banget malah.”
Ini adalah pertama kali Linggar dan Rindi berkunjung ke rumah itu selama mereka menikah. Apakah ini terlalu kejam untuk Linggar? Bukan hanya untuk Linggar tapi juga untuk Rindi yang tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.
Rindi hanya tersenyum memandang interaksi ibu dan anak itu. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya. Tapi ia bisa apa? Berharap semua bisa terlalui dengan baik.
__ADS_1
“Kalian masuk aja dulu, mandi! Jangan lupa turun kalau makan malam. Bunda mau tunggu ayah dulu.” Saat bunda telah lepas dari pelukan Linggar. Meskipun rindu masih ada, namun keadaan sekarang memang berbeda.
Putra sulungnya itu kini memiliki status lain selain anaknya. Linggar yang telah berumah tangga, memiliki tanggung jawab lain. Tak boleh lagi terlihat lemah ataupun manja.