
"Kaaaak,...." Sambil mendekat ke arah kakaknya, berusaha membekap mulut kakaknya yang justru tertawa.
Tia hanya mampu melirik Ayu sesekali.
Ngadu apa maskudnya tuh?
"Katanya,...." Kalimat terhenti karena Rindi kembali berusaha membekap mulut kakaknya.
"Apaan sih dek? Kamu gak malu apa dilihat sama teman kantormu?" Dengan kedua tangannya Reno meraih dan menahan tangan Rindi yang telah menegakkan duduknya demi melindungi mulut Reno yang akan mengadukan dirinya.
"Kemarin dia ngadu, katanya dimarahin sama bos karena salah input angka. Hahahaha...."
"Matanya bengkak abis nangis, sampai demam." Setiap kata diucapkan dengan cepat, masih menahan pergerakan tangan Rindi.
Puuufffh....
Lega rasanya.
Dikiranya Reno akan mengadukan hal yang lain?
Begitupun Tia dan Ayu yang hanya tersenyum canggung.
Rindi menjadikan alasan lain pada keluarganya. Jelas jika Rindi menyembunyikan tentang permasalahan Linggar pada keluarganya.
"Kasihan adeknya kakak, baru liat dunia luar. Gitu itu aja sampai harus sakit segala." Sambil mengelus lembut kepala adiknya. Kasih sayang jelas terpancar di wajah Reno untuk Rindi, adik semata wayangnya.
\=\=\=\=\=\=\=
Setiap hari adalah baik.
Hari ini hari senin, dan hari ini adalah pengingat bahwa hari libur telah lewat.
Libur yang telah membawa banyak kesenangan tersendiri pada beberapa orang yang memilih melewatkannya dengan keluarga. Menumpuk semangat baru untuk seminggu kedepan.
Rindi berjalan menyusuri lorong-lorong kantor, menuju ke ruangannya. Memilih menunduk saja. Meskipun keadaan dianggap setengah membaik, namun ia masih sedikit tak percaya diri untuk mengangkat wajah, memperlihatkan pada semua.
Pandangan manusia di sana telah sedikit berubah, meski tak semuanya.
Masih ada yang sekedar menyapanya.
"Hay Rindi, apa kabar?"
"Gimana? Udah baikan?"
"Udah sembuhnya Rin?"
Serentetan pertanyaan yang ditujukan padanya sejak memasuki loby hingga menutup pintu ruangannya, hanya dijawabnya dengan anggukan kepala disertai senyuman kaku karena terpaksa.
Sambil mengatur napas yang sejak tadi ditahannya.
Apakah berita sakitnya yang dua hari itu telah melebar ke segala penjuru kantor?
Sungguh luar biasa....
Padahal ia hanya seorang karyawan staff biasa.
"Rindi, kamu udah baikan?" Itu pertanyaan pertama saat ia baru saja duduk di mejanya.
__ADS_1
Menengadahkan kepala memandang pria yang tengah berdiri di hadapannya, Kamil.
Lagi-lagi Rindi hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Rin, maaf!" Ucapnya lagi. Kini pria itu menampilkan wajah sendu. Entah, itu memang menggambarkan hatinya saat ini atau hanya mengharapkan simpati saja.
Melihat balasan Rindi yang seperti itu, membuat Kamil yakin jika temannya itu tak tulus memaafkannya. Terlebih lagi tak ada ucapanpun yang keluar dari mulut Rindi.
"Rin,...." Ucapnya lagi lebih memelas. Lagi-lagi hanya mendapat anggukan yang diiringi senyum.
"Rinnn,.... aku minta maaf!" Pria itu nampak tak puas dengan jawaban Rindi. Sekarang dia berdiri tepat di samping kursi Rindi. Mengoyang-goyangkan lengan yang baru saja menekan tombol power komputer, berusaha mencuri perhatian Rindi.
"Iya, gak pa-pa. Aku juga minta maaf buat kalian semua karena sudah menutupi semuanya." Senyum sekilas lalu kembali menatap meja kerjanya yang telah ditumpuki berkas-berkas. Dua hari tak masuk saja, pekerjaan nya telah menggunung.
"Iiih, tapi kamu kayak gak ikhlas gituuuu!" Pria itu terdengar sangat manja kali ini.
"Kamu kenapasih Mil?" Kesalnya Tia saat melihat Rindi yang sedikit kesulitan memulai pekerjaannya dan diganggu oleh Kamil.
"Aku cuma mau minta maaf sama Rindi mbaaaak." Ucapnya lagi-lagi terdengar manja. Pun dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
Rindi hanya mampu menatap Kamil tanpa ekspresi. Dari pada berlama-lama, dan pekerjaannya akan semakin menumpuk saja. Menghela napas perlahan sembari memikirkan bagaimana ia harus berkata.
"Iya, udah gak pa-paaaa...." Ucapnya penuh penekanan. Senyum dilebarkan semaksimal mungkin, memamerkan gigi sebanyak yang ia bisa. Mungkin dengan begini Kamil mau percaya bahwa dirinya sudah memaafkannya.
Pria itupun tersenyum menangguk, "Kita temenan lagi yah?" Senyum terpancar bahagia saat Rindi menganggukkan kepala.
Saat ini mereka telah berjalan beriringan menuju ke kantin.
Demi memperbaiki hubungan, Rindi memilih makan bersama teman-temannya di kantin. Meskipun dalam otaknya kini tengah memikirkan bekal yang masih berada dalam tasnya. Mungkin saja bekal itu telah basi saat ia pulang ke rumah sore nanti.
Rindi terhentak kaget, saat seseorang terus mendorong tubuhnya ke belakang. Entah Sejak kapan Linggar berada di depannya. Terlalu asik bercengkrama tanpa mempedulikan apa yang ada di hadapan.
Membuka sebuah pintu, dan kembali ditutup setelah mereka berdua berada di dalam, hanya berdua.
Seluruh ruangan terlihat berwarna putih. Hanya beberapa langkah saja terdapat tangga, mereka berada di tangga darurat.
"Rin,...." Ucapnya tertahan. Karena memang ia tak memiliki bahan untuk berbicara dengan Rindi. Hanya ingin mengungkapkan maaf, namun kata itu terasa sulit diucapkan.
Terus menatap Rindi yang masih menunduk tak mau menatapnya.
Lama mereka terdiam, hanya deru napas yang terdengar. Bahkan cicakpun tak menyahut.
Ck, situasi macam apa ini?
"Rindi, maaf!" Akhirnya kata itu terucap meskipun harus memaksakan diri dalam berucap.
Rindi hanya terdiam menunduk. Rasa bersalah masih ada, tak ingin hadir diantara Citra dan Linggar.
Kembali hening untuk sekian lamanya.
Mereka berdiri dalam diam.
Rindi tak kunjung mengangkat kepala, apalagi mau membalas ucapannya.
Linggar hanya mampu memandang kecantikan alami anugerah Ilahi di hadapannya.
Bibir minimalis menjadi daya tarik Rindi. Terlebih jika wanita itu tersenyum memamerkan gigi ginsul yang akan membuat wajah itu semakin manis saja.
__ADS_1
Tak bisa dipungkiri kedekatan mereka akhir-akhir ini membuat rasa cinta mungkin kembali mengetuk.
Pun tak bisa dipungkiri, ada rasa bahagia setiap bersama dengan Rindi. Berseda gurau, saling menggoda, pun saling menjahili.
Namun bagaimana dengan Rindi?
Adakah rasa yang dirasanya pun terasa oleh sang wanita?
Atau mungkin hanya bayang semu yang mungkin kembali akan menyakiti hatinya untuk yang kesekian kali.
Linggar memilih membuka pintu," Pergilah!" ucapnya penuh dengan rasa kecewa. Kebersamaan mereka kala ini hanya menghimpit dadanya.
Kediaman Rindi terasa menjadi penyebabnya.
Pengalaman memaksakan kehendak pada orang yang sama hanya membuat hatinya justru terluka dengan sangat dalamnya. Tak ingin lagi.
Jika memang Rindipun menyukainya wanita itu tak akan membuatnya bersusah payah
Rindi hanya menunduk dan terus menunduk, diri tak mampu hanya sekedar menatap wajah Linggar.
Pria yang singgah di hatinya setelah sekian lama, namun hanya mampu membawa luka. Tak tahukah Linggar jika selama beberapa hari ini ia terbangun dan mendapati diri tengah menangis karena ulah lelaki itu.
Bantalnya basah bukan karena iler, tapi air dari sudut mata yang selalu menghampiri saat ia membuka mata. Pria itu terlalu tinggi untuk ia raih. Hanya mampu menghindar untuk menjaga hati agar tak kembali tersakiti lagi dan lagi.
Linggar keluar setelah mempersilahkan Rindi terlebih dahulu untuk melangkah. Memperhatikan langkah Sang Mantan yang justru kembali ke ruangan.
"Kamu nggak ke kantin?" Tanyanya prihatin. Jangan sampai Rindi mengabaikan makan siangnya.
"Aku bawa bekal." Ucap Rindi masih dengan menunduk.
Linggar tersenyum hanya karena mendengar suara Rindi.
"Mau makan bareng?" Tanya lagi penuh harap, meskipun ia harus kembali kecewa karena penolakan Rindi.
"Nggak usah macam-macam deh! nanti dilihat orang lagi." Lirikan maut Linggar dapatkan.
Namun itu membuat Linggar semakin melebarkan senyum.
Yang Rindi takutkan hanya pandangan orang-orang saja. Termasuk saat tadi ia mendorong Rindi. Ya benar, saat itu lorong kantor tengah ramai dengan orang-orang yang bersiap ke arah kantin.
Linggar memang salah. Salah dalam mengambil waktu Rindi.
"Rin,...."
"Please!" Hanya kata itu yang terucap dari bibir Rindi. Bahkan sebelum Linggar menyambung ucapannya. Semakin terlihat memohon dengan kedua mata yang tertutup erat. Berharap Linggar mau mengerti keadaannya saat ini.
Masuk kerja setelah dua hari ijin karena bully yang ia terima berimbas pada kesehatannya. Hanya ingin kembali fokus pada pekerjaannya.
Suara hembusan keras terdengar dari hidung Linggar, semoga bisa meringankan sedikit beban dan kerinduan di dada.
Rindi melanjutkan langkah ke arah ruang kantor, dengan Linggar yang masih terus memperhatikan setiap langkah.
Kemudian berjalan ke pantry.
Memasukkan kotak bekal yang terbuat dari kaca tahan panas ke dalam microwave, hanya sebentar.
Nasi putih, ayam goreng kecap, capcay dan acar menjadi menu makan siang hari ini. Menu yang tak jadi basi karena mengikuti temannya yang makan di kantin.
__ADS_1
Subuh tadi, Ibu telah mengorbankan waktu dan tenaganya hanya untuk menyiapkan ini untuknya. Mungkin Tuhan mengirimkan Linggar hari ini hanya untuk menyelamatkan kan perasaan ibu yang kecewa karena usahanya sia-sia.