Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Pengharapan Tak Pasti


__ADS_3

Pagi hari, pakaian yang dititipkan oleh Linggar pada petugas laundry telah diantar ke kamar mereka.


Mereka masih memiliki kesempatan untuk bisa menikmati layanan breakfast di restoran hotel.


Keluar kamar demi merenggangkan otot-otot yang masih lelah karena beberapa ronde pertempuran. Dan mencari pemandangan berwarna lainnya selain dinding, ranjang dan sofa kamar hotel.


Di dalam lift, Linggar mendapatkan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Memandang lekat pada anggota tubuhnya sendiri melalui pantulan dinding lift. Maju ke depan lebih dekat dengan dinding lift.


Satu cetakan berwarna merah tergambar jelas di lehernya.


"Rin, lihat ini Rin!" Dengan telunjuk yang diletakkan tepat di tempat cetakan.


"Apa?" Rindi penasaran. ikut maju ke samping Linggar, berjinjit dan menengok ke atas tepat di telunjuk Linggar.


" Ini apa ya?" Tanya Linggar lagi dengan telunjuk masih di leher.


Kepala di miringkan ke kiri lalu ke kanan, kembali ke kiri lalu ke kanan lagi. Barang kali ada lagi bekas yang tertempel di anggota tubuhnya yang lain. Bibirnya dikulum untuk menahan senyuman yang bisa saja menjadi tawa.


Rindi terlonjak kaget, "Hah Ini apa?" Sambil menutup gambar merah di leher Linggar dengan tangannya.


Padahal dia tahu bahwa Tanda itu hasil karya ciptanya. Gambar yang mencerminkan betapa @gres!fnya Ia semalam.


"Iya ya Ini apa?" Tanya Linggar pura-pura bego. Pun dengan wajah yang dibuat lugu dan polos.


" Kamu juga nggak tahu ini apa?" Ucapnya lagi menyingkirkan tangan Rindi yang masih menutupi lehernya, beberapa kali melirik ke arah Rindi dan kembali mengamati tubuhnya.


Rindi mencebikkan bibir Jengah, menghembuskan napasnya keras, kesal.


Ia tahu jika Linggar pun pasti tahu itu bekasnya.


Heh, Linggar mempermainkannya.


Salah sendiri, terlalu membawa Rindi menghanyut dalam lautan asmara yang dibuat oleh pria itui, hingga membuat Rindi seolah lupa daratan.


Dan tanpa sadar meninggalkan cetakan khusus di anggota tubuh pria itu. Ia yakin masih ada cetakan lain di sana. Mungkin saja daerahnya tertutup dan tak terlihat sekarang. Tapi jika pria itu membuka baju,....


Aduuuuh, betapa malunya ia.


" Merah Rin, merah." Linggar kembali pura-pura mengamati lehernya di pantulan lift.

__ADS_1


" Kak, isssh, udah,...." Rindi mulai merengek.


Memilih memeluk Linggar dari belakang. Melingkarkan tangannya hingga ke perut Linggar, menahan pergerakan suaminya yang terus saja mengganggunya. Menenggelamkan wajahnya yang merah merona menahan malu di punggung suaminya.


Kesal dirinya, Linggar terus saja membahas itu. Memalukan sekali!


Linggar yang tahu istrinya sedang malu tak membuat aksinya berhenti untuk terus menggoda istrinya.


"Rin," Ucapnya sambil terus menarik Rindi yang masih bersembunyi di belakangnya.


"Kak, sudah ih. Aku ngambek nih! Aku ngambek!" Rindi masih dengan menenggelamkan wajah di punggung Linggar. Masih berusaha menahan pergerakan suaminya yang masih terus menarik tangannya.


Mereka masih dalam keadaan yang sama ketika pintu lift terbuka. Menampilkan sepasang manusia dan seorang gadis kecil. Mengerutkan kening ketika melihat tingkah mereka berdua. Mereka seperti sedang bertengkar dalam keadaan mesra.


" Maaf Om, istri saya malu." Linggar kikuk. Ketiga pasang mata itu memperhatikan mereka dengan sangat lekat.


" Pengantin baru?" Tanya sang pria disertai dengan senyuman.


"Hehehe iya Om, baru sebulan lebih." Menjawab dengan menyertakan senyuman pula. "Iya kan sayang!" Mungkin dengan begini Rindi mau melepaskan tangan yang sedari tadi sedikit menghambat pernapasannya. Tapi tidak Rindi hanya mengeleng masih mempertahankan posisinya.


Sang pria mengangguk-anggukan kepalanya kecil, " Lagi bulan madu?" tanyanya lagi.


dalam pikiran Linggar bulan madu yang dimaksud adalah berlibur di luar kota hanya bersama Rindi. tapi sekarang mereka tidaklah sedang hanya sekedar bolos kuliah dan menghabiskan waktu berdua.


Hingga lift berbunyi menandakan mereka telah sampai pada lantai yang di tuju. Ketiga orang itu keluar terlebih dahulu dengan menyinggung senyum pada Linggar.


"Sayang udah, kita sampai. Nanti pintunya kembali tertutup." Sepertinya ia mulai suka dengan panggilan untuk istrinya itu.


"Rin, nanti makanannya habis. Kita bisa kelaparan, gak bisa lanjut lagi gimana?" Ucapnya sedikit menggoda istrinya.


Rindi menghentakkan tangannya lalu mendorong punggung suaminya hingga sedikit terhuyung kedepan. Nampak bibirnya sedikit maju ke depan, wajahnya ditekuk menunjukkan ekspersi marah.


Hahahah, istrinya itu sedang merajuk. Lucu sekali.


\========


"------------''


Baru saja Linggar meletakkan ponselnya di atas kasur, berikut dengan hembusan berat yang terdengar dari mulutnya.

__ADS_1


"Katanya kamu pulang naik taksi saja. usahakan kita nggak bersamaan sampai di rumah. katanya Kak Reno sering meminta rekaman CCTV di rumah Kak Rima."


Kini sepasang suami istri itu saling memandang begitu lekat. Tatapan yang menampilkan satu kepasrahan.


Linggar menghempaskan tubuhnya keranjang. tangannya terulur, membelai lembut punggung Rindi yang masih duduk terdiam di sampingnya.


Bisa dipastikan pikiran mereka sekarang sama, mengerah ke hal hubungan rumah tangga mereka yang sampai detik ini tak memiliki kejelasan.


Ingin berharap menempuh rumah tangga seperti yang lainnya, kehidupan sepasang suami istri yang saling melengkapi satu sama lain.


Menyelesaikan setiap masalah yang ada secara bersama-sama.


Meninggalkan kamar hotel setelah menyentuh dan memberikan keindahan lagi pada Rindi.


Hari ini mereka belum masuk kampus. Melupakan sejenak aktivitas harian mereka.


Berjalan beriringan menelusuri lorong yang kemarin terasa memberatkan langkah. Namun kali ini terasa lebih ringan dan dekat.


Di sana telah ada taksi pesanan Linggar untuk Rindi. Membuat jarak terasa semakin dekat saja. Masih ingin berjalan dan menghabiskan waktu bersama dan orang yang dicintai.


Linggar membukakan pintu penumpang, beralih memandang sang sopir yang akan membawa istrinya pulang.


Bahkan hatinya pun terasa berat untuk melepaskan Rindi saat itu.


Badannya dibukukan masuk ke dalam Taksi, Sedikit belaian di puncak kepala hingga ke pipi sang istri.


Seolah menggambarkan betapa besar rasa sayang yang tersimpan di dalam hatinya, hanya untuk wanita yang semalam menghabiskan waktu dengannya.


Rindi istrinya tercinta.


"hati-hati dijalan, langsung pulang aja! Nggak usah nongki-nongki lagi!" Segenap petuah ia ucapkan terlebih dahulu. Sebelum memajukan wajah merapat pada wajah istrinya. Beberapa wilayah wajah Rindi menjadi sasaran bibirnya.


Kembali menjauhkan wajah hanya beberapa senti untuk melihat kembali wajah Rindi.


Berusaha kembali menghafal lekuk dan seluruh bentuk wajah Rindi. Berusaha mengambil seluruh pandangan wajah Rindi agar memenuhi hatinya. Mungkin saja beberapa hari ke depan, mereka tak bersua.


Menimbulkan kembali Gejolak Rindu yang menyiksa jiwa dan batin.


Rindi tersenyum, entah mengapa semakin hari terlihat semakin cantik saja. Membuat jantungnya selalu saja, berdegup kencang hanya dengan memandang gigi ginsul dan pipi tembem istrinya.

__ADS_1


Tangan kembali terulur, mengelus peran perut istrinya," mudah-mudahan di antara ratusan ribu bibit ada satu yang tumbuh di sini." Ucapnya penuh harap.


Hembusan keras terdengar dari mulut Linggar. Saking kerasnya hingga mampu membuat nyiur melambai-lambai.


__ADS_2