Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Malam Minggu Linggar


__ADS_3

“Enak banget yah, jadi kamu! Eh tapi kak Linggar gak ngapa-ngapainkan?” Lilis yang kembali mencondongkan kepalanya.


“Ngapa-ngapai gimana? Cuma pegangan tangan trus antar pulang, itu aja!” Rindi yang mulai mencari camilan untuk dirinya sendiri.


“Aman dong berarti! Tapi tetap waspada, dan jangan main hati! Takutnya nanti kak Linggar beneran masuk ke hatimu eh, taunya kamu gak pernah masuk ke hatinya.”


“Kalau main hati, sampai detik ini masih bisa tahan. Tapi gak tau besok-besok!” Rindi mengangkat kedua bahunya.


Diberikan perhatian setiap bertemu bisa-bisa membuat hatinya benar-benar terbuka lebar. Setiap hari loh ini. Apa gak tahan? Setidaknya pasti ada kata rindu saat tak bertemu. Mencari sosok dan kebiasaan baru yang ia jalani.


Pukul 20 lebih sedikit, ponsel Rindi berbunyi. Menampakkan nama Linggar di sana, tak ada alasan untuk menolak


panggilan, toh dirinya juga belum tidur.


"Kak Linggar," Dengan bibir berucap menghadap pada Lilis.


“Assalamu alaikum kak,” Rindi.


“Walaikum salam, Rin. Lagi ngapain?” Pertanyaan berbasa-basi yang sangat basi.


“Lagi nonton sama Lilis.” Sekenanya saja, sementara di sana terdengar sangat ramai dengan berbagai macam


suara.


“Benar-benar nginap di rumahnya Lilis nih? Cuma berdua?”


“Iya,” Satu jawaban untuk dua pertanyaan.Singkat dan jelas.


Rindi terlihat kebingungan saat panggilan suara berubah menjadi panggilan vidio. Apa yang harus ia lakukan?


Harus ya menerima panggilan itu? Sementara pakaiannya sedikit minim jika dibandingkan dengan penampilan biasa saat bertemu Linggar.


Begitupun dengan Lilis yang tak jauh berbeda dengan penampilannya. Hanya menggunakan tank top dan celana pendek diatas lutut.


Toh mereka sedang berada di kamar, tak ada seorangpun yang akan menggangu kegiatan mereka yang sedang


tiduran sambil nonton kecuali bibi yang bertugas di rumah Lilis, membawakan camilan untuk mereka berdua. Atau kadang ibu Lilis yang masuk dan turut bergabung meski hanya sebentar, mungkin hanya melihat kondisi dan kegiatan mereka di kamar.


Mungkin Linggar merasa tak puas dengan hanya mendengar jawaban seadanya dari Rindi, hingga memutuskan untuk melakukan vidio call.


“Lis, kak Linggar mau Vidio-an!?” Ucapnya gelagapan.


“Ya terima aja, apa susahnya.”


“Jaket, jaket, mana jaket? Sweatermu pinjam!”


Lilispun mulai beranjak mencari barang sesuai permintaan Rindi. Seketika itupun ia tersadar jika penampilan


mereka tak pantas untuk menerima panggilan vidio Linggar.


Panggilan terhenti, namun kembali berbunyi setelah beberapa saat. Sayangnya mereka masih belum siap untuk


menerima panggilan karena masih merapikan penampilan masing-masing.


Rindi baru menerima setelah panggilan ke tiga membuat yang di sana sedikit curiga.

__ADS_1


“Kok lama?” Linggar yang telah nampak di layar ponselnya.


“Emmm, gak papa?” Seolah otaknya sedang blank saat menatap wajah Linggar.


Tetap tampan, meskipun sedang berpakaian santai dengan rambut yang sedikit berantakan. Membuat sang gadis semakin merasa jauh jika harus di sandingkan dengan Linggar.


“Kakak ngapain?” Rindi harus tetap bisa mengendalikan diri, sebelum hatinya terserang penyakit cinta.


“Dirumah, lagi ngumpul sama anak-anak,” Linggar yang terlihat tetap stabil, jauh berbeda dengan Rindi yang


terlihat beberapa kali menyapu wajah dengan tangannya sendiri. Entah itu mampu


menghilangkan kegugupannya atau setidaknya menyembunyikan ekspresi gugupnya.


“Mau lihat?” Linggar, “nih!” Kini di layar telah menampilan penampilan yang lain selain wajah Linggar. Untung


saja! Setidaknya ada waktu untuk bernapas dan memperbaiki detak jantung yang sempat berlari kencang.


Telah nampak beberapa pria yang sedang duduk di sana. Ada yang sedang bermain gitar sambil bernyanyi, ada pula yang sedang bermain hp dengan beberapa kali berucap seolah berapi-api.


Pantas saja tadi terdengar riuh di sana.


Hanya beberapa orang yang ia tahu. Diantaranya Arman, teman dekat Linggar. Dan juga Erlangga, lelaki yang


juga pernah memberi perhatian lebih padanya. Tak ingin berharap lebih, tapi itulah yang terjadi, Erlangga pernah mendekati Rindi dan memberikan perhatiannya.


“Malam cinta! Lagi ngapain?” Arman yang sedang berada di depan layar ponsel Rindi.


Membuat gadis itu tersenyum. Apalagi saat mendapat panggilan cinta. Ia yakin kata itu sengaja buat menyinggung dirinya juga Linggar.


“Lagi nonton sama Lilis, tuh!” Rindipun turut memperlihatkan wujud Lilis.


“Nah, ini-nih. Tunggu ya, tunggu!” Arman yang sepertinya mengambil alih ponsel Linggar. Rindi yang hanya


tersenyum melihatnya menantikan apa yang akan diperlihatkan oleh Arman.


“Bunda, sini bun!” Terlihat Arman yang kini telah bersama seseorang wanita paruh baya yang sedang memeluk sebuah nampan. Mungkin baru saja mengantar hidangan buat Linggar dan teman-temannya.


“Bunda, lihat deh! Cantikkan?” Arman.


“Iya, cantik-cantik.”


“Nah, Rindi. Bunda cantik kan?” Kini Arman beralih bertanya pada Rindi.


“Iya cantik.” Jawabnya jujur, karena wanita itu memang masih tampak sangat cantik meskipun berusia tak muda lagi.


“Nah, bunda perkenalkan, ini Rindi calon menantu bunda, ceweknya Linggar. Rindi ini bunda calon mertua kamu,


bundanya Linggar.”


“Ciehhh-ciehhh.”


“Suit-suit.”


“Ada yang lagi kenalan sama calon mertua nieh!”

__ADS_1


Di sana semakin terdengar riuh, tentu saja sedang mengejeknya.


Ya ampun! Bundanya Linggar? Calon mertua, dan  ia calon menantu. Kini ia harus jawab apa lagi? Lagian Arman, kenapa juga perkenalkan dirinya sih?


Rindi langsung meletakkan ponselnya di atas kasur tanpa mengakhiri panggilan. Dan sebagian dari obrolan di sana masih terdengar di telinganya.


“Liat dong, ceweknya Linggar yang mana sih?” Masih dari seberang sana.


“Udah ah, malu pasti dia. Tuh kan gambarnya gelap.” Linggar yang telah mengambil kembali ponselnya dari tangan


teman-temannya. Dan lebih memilih untuk mengakhiri panggilan.


Lebih baik seperti itu. Menghadapi anaknya saja, kadang membuatnya harus menahan diri untuk tetap terlihat baik-baik saja. Nah ini bundanya?


Ia bahkan belum tahu apa yang bisa menjadi bahan percakapan dirinya dengan bunda Linggar. Lagi pula hubungan mereka tak terlalu dekat untuk mengenal keluarga Linggar. Mungkin terlalu jauh baginya.


“Kuliah yang benar, jangan kerjanya pacaran melulu!” Sang bunda.


“Siap nyonya besar!” Sambil bergerak hormat di hadapan bunda.


“Kamu benar jalan sama Rindi?” Erlangga.


“Sory bro! Bukannya mau nikung tapi Rindi sendiri yang datangin aku terlebih dahulu. Sory! Lagian kamukan udah


sama Mira.”


Iya Erlangga telah bersama Mira,tapi apakah benar ia harus menerima semua keadaan ini.


Inginnya ia protes bahwa, banyak gadis lain di kampus, kenapa mesti Rindi? Gadis yang pernah ia incar. Bahkan Linggar sendiri sangat tahu akan hal itu. Tikungan masih terasa meski telah jauh.


Setidaknya Linggar mengerti hatinya. RIndi dan Mira menempati tempat yang berbeda dalam hatinya.


“Ya udah, gak papa kok!” Ucap Erlangga. Tapi tidak dengan hatinya.


Sementara Rindi hanya mampu menatap lurus dengan bingung. Mereka harus memperjelas semuanya. Linggar yang selalu ingin mengantarnya pulang, perhatian, ditambah pengenalan sebagai calon menantu. Akhhhhh......


Ia tetap tak boleh mengharapkan sesuatu yang lebih dari Linggar. Bisa saja bunda telah hapal dengan beberapa gadis yang dekat dengan anaknya itu.


“Ini hati, bukan taman kota! Jangan bermain-main disana?”


To Be Continued!


Minta likenya dong!


Sekalian komentar yah!


Hanya sebuah sentuhan jari mampu membuat Dinda melayang.


Dan buat kalian yang telah memberikan sentuhan jari, Dinda ucapkan banyak-banyak terima kasih.


Saran dan kritik dinda terima dengan hati terbuka, tapi mohon untuk tetap menjaga kata-kata agar tak mengiris kalbu.


Lope Yu!


Lope Yu!

__ADS_1


Lope Yu!


Lope Yu!


__ADS_2