
Mematikan kamera yang sejak tadi merekam seluruh aktivitasnya. Berdiri sejenak sambil memandang ke arah pohon yang menjulang tinggi menjadi tujuannya.
Ternyata bukan hanya rindu yang berat. Tapi mencari juga sinyal juga berat.
Mulai mengambil ancang-ancang untuk memanjat pohon tempatnya meluncurkan dua vidio yang telah direkamnya untuk sang ke kasih hati, juga untuk bunda.
“Gar, sekalian punyaku juga, please!” Seorang gadis yang menyadari tingkahnya yang siap untuk mengirim berita.
“Yang mana?” Linggar sambil menerima ponsel dari Vita.”
“Vidio yang ke dua buat, mama. Tapi tungguin yah, siapa tau mama ngirim vidio juga!”
“Hem, udah nih. Aku siap-siap!”
“Ok, thank’s!”
Ini bukan pertama kalinya Vita meminta bantuannya, mungkin beberapa kali. Sedikit lucu ketika gadis anggun harus manjat pohon, meskipun masih ada gadis lain yang mampu dan mau.
Beberapa teman wanita Linggar menghilangkan kata jaim hanya untuk berkirim pesan pada orang-orang terdekat mereka.
Bahkan membuat itu terlihat seru. Saat mereka dengan santai berdiri di dahan sambil berteriak sekencang-kencangnya. Saling sahut menyahut dengan yang lain.
Tertawa tanpa takut akan menerima teguran karena mengganggu orang lain. Bebas! Lepas!
Setelah Terkirim, ia memilih menikmati pemandangan dari atas pohon. Ternyata indah, setimpal dengan perjuangannya meraih tingkat dahan teratas. Terlebih lagi sambil menunggu balasan dari sang pujaan hati yang mampu membuat hati bersenandung.
Ting!
Ponselnya bergeratbeberapa kali. Pertanda pesan masuk hampir bersamaan.
Pesan berupa vidio dari sang bunda dan kekasih hati, mampu membuat senyumnya terlukis indah di wajah.
Download terlebih dahulu. Bawah tak ada signal.
Memilih membuka vidio RIndi lebih dahulu.
“Kak Linggarrrrrrr.” Sorak riuh dari sana.
“Duh, jangan teriak di telinga, bising tau.” Rindi sambil menjauhkan diri dari Dini yang baru saja berteriak di telinganya.
“Kak, liat deh! Rindi kurusan.”
Dini sambil mengangkat pergelangan tangan Rindi seolah menunjukkannya pada Linggar.
“Gak pernah dapat jatah katanya!” Lanjutnya.
“Sembarangan.” Wajah Rindi dibuat seolah marah dengan candaan Dini.
“Gak pernah dapat jajan kak.” Tantri.
“Ngaco.”
“Kak, pulangnya kapan? Jangan lama-lama, nanti ceweknya di embat orang.” Andini.
“Ingat jablay bisa membawa perselingkuhan!” Lalu terbahak-bahak.
“Udah ah, kamu makin ngaco deh!”
“Eh, dia marah. Kak, cewek kakak ngambek, tuh kan makin cantik kan.” Dini yang masih mencoba menggoda Rindi.
“Kak, udah yah, kita lanjut nanti!”
“Kak Linggar cepat pulang, Rindi kangen katanya.”
Sebelum vidio berakhir.
Ah Rindi, rasanya tak puas mendengar suaranya. Yang kedengaran hanya celotehan Dini, dan tawa teman-temannya.
Linggar hanya mampu menghembuskan napas panjangnya. Bersusah-susah ia manjat hanya mendapat kiriman vidio yang justru menjadikan Dini sebagai pemeran utama.
__ADS_1
Inginnya, Rindi membuat vidio yang menampilkan dirinya sendiri. Hingga Linggar puas dengan menatap dan mendengar suara Rindi.
Rindi yang menceritakan tentang semua kegiatan yang dilalui hari ini. menceritakan tentang bagaimana saat ia digoda oleh teman-temannya. Yang jelas suara Rindi terdengar lebih dominan dari pada yang lainnya.
Padahal vidio ini ingin ia jadikan sebagai pelepas rindu dan pengantar tidur. Gimana bisa dijadikan pengantar tidur, kalau suara Dini justru sedikit-sedikit teriak, sedikit-dikit meledek. Heh!
Tapi? Pc.
Linggar hanya mampu memcebik kesal.
Jika Linggar menyampaikan pada Rindi untuk membuat vidionya di rumah saja, apakah teman-temannya yang lain
tidak tersinggung. Pasti vidio yang telah Linggar kirim, ditonton bersama.
\=====
“Rindi, kangen tau!”
“Rin, sekali-kali kamu ke rumah dong, ketemu bunda! Bilang suruh bikin vidio sama kamu baru kirim ke aku, ya Rin ya!” Pintanya dalam hati.
Jika ini terwujud maka sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Rindi bisa dekat dengan bunda, dan Linggar bisa puas mendengar suara Rindi beserta mimik wajah yang lebih cantik. Dibandingkan jika vidio bersama teman-temannya yang hanya memperdengarkan suara Dini dan Tantri.
Dan raut wajah Rindi yang selalu merasa kesal karena ganguan dari teman-temannya. Lagian Rindi seperti gak tau
tempat aja.
“Gimana kuliahnya? Lancar kan?”
“Ada kegiatan apa di kampus?”
“Tadi kita ikut kegiatan merenovasi masjid, mungkin masih lanjut besok. Soalnya tadi Cuma bongkar plavonnya, besok mungkin baru pemasangan.”
“Rin, tau gak. Tiap hari kita mandi di sumur loh, rame-rame lagi.”
“Rin, udah ya. Rindi kamu ke rumah ya!”
Send.
“Apaan?”
Linggar hanya mampu memandangi sosok yang beberapa kali menghindari karena teriakan Dini di dekat telinganya.
Rin, senyum Rindi!
\=========
Telah beberapa hari Rindi kembali dengan kebiasaannya dulu, sebelum dekat dengan Linggar. Pergi dan pulang kampus menggunakan motornya yang dulu semi pensiun. Untung saja ada bapak yang rajin membawa motornya ke bengkel untuk diservice.
“Rindi,” Seorang lelaki yang memang sejak tadi menunggu kehadirannya, seraya mencoba berlari kecil agar bisa mensejajarkan diri dengan Rindi.
Rindi hanya membalas sapaan dengan senyuman tipis, begitu tipis hingga tak sempat memperlihakan gigi ginsulnya, namun sangat manis terlihat bagi sang pria.
“Ada kuliah?” Iqram yang mencoba membuka percakapan. Namun lagi-lagi Rindi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala, tak memandangnya, meski sekejap saja.
Ya jelas adalah, ngapain ke kampus kalau gak ada kuliah.
Sampai detik ini Rindi masih menganggap kehadiran Iqram sebagai sosok pengganggu.
Entah mengapa akhir-akhir ini ia sering bertemu dengan pria yang satu ini. Dan catatan yang terpenting adalah, pria ini dari fakultas sebelah, terlalu jauh. Sangat impossible jika mereka harus bertemu tiap hari tanpa ada alasan tertentu.
“Rindi,” Suara pria itu lagi-lagi terdengar saat ia baru saja merapatkan motornya. Untuk kesekian kalinya Rindi mendapatkan sosok Iqram di sana dan memanggil namanya, lalu dengan sigap berjalan di sampingnya hingga sampai ke tempat teman-temannya sedang berkumpul menunggu jam kuliah masuk.
Apa yang harus ia katakan pada pria ini? “Jangan ganggu aku!”
Nyatanya pria ini tak melakukan hal lebih, hanya menemaninya berjalan.
Atau,“Ada perlu apa?”
Toh ini kan kampus tempat orang mencari ilmu ya pasti belajar lah.
__ADS_1
Arrrggg, pusing tau. Biarkan sajalah, kalau lelah pasti pria ini akan berhenti juga.
Ingin protes tapi takut jika pria ini tersinggung. Apa benar yang temannya katakan tempo hari itu, “Sepertinya Iqram naksir kamu deh!”
Tidak!
Ia tak boleh terlalu dekat dengan pria ini. Telah ada Linggar yang selalu memberinya perhatian lebih.
Lagi pula Linggar hanya pergi sebertarkan? Hanya tiga bulan. Tidak akan lama, hanya butuh sedikit kesabaran dan penantian Linggar akan kembali.
Bahkan Linggar telah memperkenalkannya dengan bunda yang menandakan sebuah keseriusan, sangat lucu jika ia justru bermain-main dengan pria lain.
“Rindi, hari jum’at ada waktu gak?” Meskipun ia selalu menjawab pertanyaan Iqram hanya menjawab dengan anggukan kepala, pria itu akan tetap mengajukan pertanyaan lain kepadanya.
Mungkin inilah cara Iqram untuk terus mendekati Rindi meskipun gadis ini sedikit dingin plus cuek.
“Aku kira ada waktu, aku hanya ngajak kamu buat ikut pengajian sama teman-teman lain.”
What pengajian?
Dan ungkapan barusan mampu mengambil perhatian Rindi. Gadis itu kini menoleh ke arah samping tempat Iqram.
Apakah pria ini masuk komunitas ROHIS?
“Mau?” Pria itu sambil tersenyum ke arah Rindi.
“Emmm, boleh. Di mana?”
Meskipun dengan kening yang berkerut dengan tatapan tajam menelisik ke seluruh wajah pria itu. Tak ada maksud lain, hanya ingin menilai setiap perkataan yang terucap.
“Emmm, di mushola fakultas sasra.” Membuat Rindi terdiam.
Jawabnya cepat, nampaknya pria ini tak berbohong.
“Jauh ya?” Tanyanya penasaran dengan kediaman Rindi yang memang sedang berpikir.
Entah sadar atau tidak pria ini menatap Rindi tanpa berkedip, begitu dalam diiringi bibir yang melengkung ke atas. Membuat yang ditatap menjadi salah tingkah.
Rindi mampu menangkap ada yang lain pada tatapan pria yang berada di sampingnya ini. Namun ia bukanlah gadis
dengan kepercayaan diri yang tinggi. Hingga membuatnya bertanya tentang apa yang bisa ia andalkan untuk mampu berdampingan dengan seorang pria.
Untuk berada di dekat Linggar hingga detik inipun ia masih belum percaya sepenuhnya. Mendapatkan perhatian
dari seorang bintang kampus seperti Linggar kadang membuat dirinya bertanya apakah ini mimpi? Apakah ia layak? Meskipun Linggar memberikannya perhatian sepenuhnya, namun untuk bermimpi lebih tinggi lagi ia mungkin tak bisa.
Dan kini seorang pria dengan kepribadian berbeda dengan Linggar beberapa kali mendekati dirinya. Apakah ia
harus berbangga?
Ah iya, ia tak boleh lupa jika dirinya terikat hubungan dengan Linggar. Harus tetap menjaga perasaan prianya meskipun mereka berjauhan. Tak boleh terlalu dekat dengan pria lain, apapun alasannya.
Dan jangan lupakan perjuangan Linggar yang begitu berat hanya untuk mengirim vidio hampir tiap hari. Mungkin ini adalah salah satu ujian cinta mereka saat berjarak.
Tetap harus tegar walau kilauan menggoda.
Linggar, Love U!
To Be Continued!
Jangan lupa jarinya di goyang yah!
Duh ngantuk.
Ada kopi gak?
Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.
Yah!Yah!Yah!Yah!
__ADS_1
Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.