Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Islam Itu Indah


__ADS_3

"Kok pulangnya lama?" Belum pun Linggar benar-benar sampai di dalam rumah, suara bunda telah menyapa dari dalam.


"Kuliah Bun, kuliaaaah." Ucapnya dengan sedikit penekanan.


"Ya udah cepetan mandi, kita siap-siap ke masjid ada pengajian."


Linggar hanya mampu melongo, tersentak kaget saat bahunya ditepuk keras oleh Bunda.


"Cepetaaaannn!" Bunda tak kalah penekanannya. disertai dengan pelototan mata.


Linggar Mana berani membantah ucapan sang Bunda.


Mengenyampingkan rasa lelah. Berlalu dari hadapan Bunda, langsung naik ke kamarnya.


Rasanya belum apa-apa, teriakan Bunda dari luar kamar disertai dengan gedoran pintu membuat setiap gerakannya semakin cepat.


"Gaaaar, cepetaaaan!"


"Masjid udah ngajiiiii."


Ckckckc, apa gerangan yang membuat Bunda semangat seperti ini.


Dengan tergesa-gesa Linggar keluar dari kamar, masih dibawah pengawasan sama Bunda.


Sarung telah terpasang di pinggang menutupi hingga ke mata kaki.


Songkok bludru Hitam yang berada di kepala belum terpasang secara lurus.


Jari tangan masih bergerak bekerja mengancingkan baju koko putihnya.


Sajadah tersampir asal di pundak.


Menatap sang bunda yang telah terlihat rapi dengan gamis dan pasmina yang terpasang asal di atas kepala.


Tangan bunda menenteng sebuah paper bag yang Linggar yakini sebagai mukena.


Padahal bisa dipasang sejak di rumah, kenapa harus ditenteng segala. Toh masjid masih berada dalam komplekspun, dekat pula.


Pc, apa semua perempuan seperti itu?


Bagaimana kalau pria berlaku sama.


Mengenakan celana jeans sementara sarung di tenteng. Ribet bangeeetttt.


"Ayo!" Bunda yang terlebih dahulu melangkah dengan tergesa-gesa dan semangat.


Mengajak Linggar ke pengajian bukanlah hal baru. Tapi telah beberapa kali semenjak anaknya terperosok dalam duka.


Berjalan bersisian hingga ke pelataran masjid kumandang azan telah diperdengarkan. Membuat langkah mereka semakin cepat.


Linggar turut bergabung di barisan pria yang berada di lantai bawah. Sementara bunda naik ke lantai dua di mana tempat para wanita diperuntukkan.


Shalat magrib selesai, dilanjutkan dengan mendengarkan ceramah. Pengajian yang dilakukan rutin setiap malam sabtu dan minggu.


Masjid sedikit lebih lapang.


Sebagian orang memutuskan untuk


keluar atau langsung pulang ke rumah. Sementara anak-anak santri yang biasa


ikut mengaji di hari-hari biasapun memilih keluar berlarian dan bermain di sekitar masjid.


Pedagan kecil turut meramaikan di halaman dan seolah memanggil mereka yang sedikit lapar atau hanya sekedar ngiler saja.


Linggar memilih sedikit menjauh dari mimbar. Berada di depan membuatnya sedikit tak nyaman dan merasa tak pantas.


Assalamu’alaikum Warahmatullahhi Wabarakatuh.


Innal hamdalilah wasolatu wasalamu ala rosulillah syaidina Muhammad ibni abdilah waala alihi wahbihi wamawalah (amma ba’du).


Alhamdulillah, hari ini kita masih diberikan


kesempatan oleh Allah SWT untuk menjalani sebagian dari aktivitas kita.


Dan MaasyaAllah dari sekian hamba Allah yang


beraktivitas hari ini, ternyata bapak/ibu, teman-teman sekalian yang tepilih oleh Allah SWT untuk bisa diringankan langkahnya, dilembutkan hatinya, hadir di sini untuk mempelajari sebagian dari tuntunan agama kita.


Semoga yang hadir saat ini mendapatkan karunia Allah, seperti yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW sehingga keluar dari sini


mendapatkan petunjuk dan kebaikan dari Allah SWT.


Islam itu indah. That's right.


Dan membawa pada kedamaian.


Ceramah yang di dengar Linggar terasa bagai Simponi yang mengalun di telinga.

__ADS_1


Matanya bagai terasa di elus-elus, kepala serasa bagai dipijat-pijat ringan, menciptakan rasa tenang dan nyaman.


Memaksa diri untuk tetap terjaga di tengah orang yang tenang mendengarkan petuah-petuah dari pak ustadz.


Sebagian dari mereka terlihat  mengangguk-anggukan kepala, mungkin mengerti dengan penjelasan pak ustadz atau tengah merasakan hal yang sama seperti Linggar rasakan.


Duduk bersila dengan kedua tangan


bertumpu di kedua lutut, menahan kepala yang sejak tadi terasa berat.


Berhadapan dengan seorang berbaju


putih dengan sorban yang melilit melingkar di dada. Mereka hanya terpisah dengan sebuah meja kecil yang dibalut dengan kain putih mengkilap dengan lipatan-lipatan kecil hingga membuat meja semakin terlihat manis. Dengan


semangat Linggar mengulurkan tangan menjabat tangan pria paruh baya di hadapannya.


“Saya terima nikah dan kawinnya Rindiandira Ningsih Binti Khaeruddin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”


“Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.”


Salam menggema di seluruh ruang masjid.


Linggar tersentak kaget hanya karena mendengarkan yang bagai telah dikomandoi itu.


Mengelilingi ruang yang terang benderang dengan pencahayaan penuh dari beberapa titik bola lampu.


Linggar terbangun dari mimpi yang harusnya mendengarkan kata Sah setelah mengucapkan ijab kabul.


Beberapa kedipan mata menormalkan kembali pandangannya.


Bahkan mata terlihat memerah.


Heh, hembus kasar terdengar saat sadar bahwa mimpi indah itu ternyata benar-benar mimpi semata.


Dan ceramah pun telah selesai.


Lantunana Azan kembali dikumandangkan, membuat beberapa lainnya mulai bergerak masuk.


Sementara ia sendiri harus keluar terlebih dahulu. Tidurnya otomatis membatalkan wudhunya.


Selesai shalat ba'da isya kembali pandangannya mengelilingi masjid, sepertinya tengah  mencari seseorang.


“Bang Roy.” Teriaknya namun pelan saat menyadari dirinya masih berada dalam masjid.


“Kenapa?” Pria yang dipanggil bang Roy terlihat tersenyum dan mulai berjalan ke arahnya.


Bang Roy, seorang pria hampir seumuran dengan Linggar yang memilih pensiun dini dari julukan preman.


Tato yang tergambar di lengan atas terlihat samar di balik kemeja pendeknya. Tapi jangan anggap remeh pria itu. Linggar bahkan tak mampu bersaing dengan pria itu jika berurusan dengan ayat-ayat suci.


Pria itu telah menghapal juz 30 full, sementara Linggar hehehehe.....


Kepada pria itu pula sedikit banyak Linggar tahu tentang bunda yang selalu menguji Linggar sesaat setelah pengajian seperti ini.


“Tentang pernikahan Gar.” Menjawab sendiri pertanyaannya.


“Pernikahan bang?” Memastikan ucapan bang Roy.


Pria itu mengangguk.


“Mampus.” Linggar sambil membuka peci hitam dari kepalanya.


“Kenapa?” Bang Roy mulai berjalan keluar diiringi Linggar.


“Bunda sering minta buat nikah.”


“Lah kenapa emang? Usia udah matang, pekerjaan udah dapat. Mau cari apa lagi?”


“Ingat no body perfect.”


“Kalau kamu cari yang sempurna sampai matipun takkan dapat.” Berhenti sejenak, menunduk mencari sandal.


“Iya tau banggg.” Ikut menunduk memperhatikan jajaran sandal yang masih tertinggal karena pemiliknyapun masih tinggal


bercengkrama.


“Eh bang, isi ceramahnya apa bang?” Kembali bertanya, jangan sampai bunda datang dan memergoki dirinya.


“Ya itu, emmm,....” Bang Roy mulai berpikir apa inti isi ceramah tadi untuk dijelaskan ulang pada Linggar dengan waktu yang sedemikian singkatnya.


“Sebagaimana kita ketahui bersama jika jodoh itu ada di tangan Allah SWT. Dan emmm,....” Kembali berpikir.


“Terussss,  hal yang diketahui adalah jodoh yang akan menjadi teman hidup kita merupakan cerminan dari diri kita sendiri. Untuk itu, ada tiga hal yang membuat diri kita yakin pada seseorang yang akan kita nikahi


besok, yang sebetulnya menjadi pertimbangan dalam masa ta’aruf (perkenalan), yaitu:”


“Pilihlah, seseorang yang bisa memahami kita dalam kondisi apapun, baik susah maupun senang. Kemudian, pilihlah seseorang yang bisa memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Walaupun sulit mendapatkan pasangan dengan tipe pemaaf seperti ini.”

__ADS_1


“Lalu yang terakhir,....”


“Gar, Linggar.” Suara itu membuat kedua pria itu membalikkan badan menatap sang pemilik suara.


“Mampus. Belum selesai lagi.” Linggar hanya mampu berpasrah diri jika nanti ketokan mendarat di kepalanya saat tak mampu menjawab pertanyaan bunda.


Kening Linggar berkerut saat menatap bunda yang sedang menuntun seorang gadis turut berjalan menuju ke arahnya.


Siapa gadis itu? Linggar tak kenalpun?


“Adiba, kenalin ini Linggar anak bunda.” Sambil menatap gadis yang menggenakan mukena dengan sajadah digantungkan di tangan.


Nah gitukan simpel, gak kayak bunda. Gamisnya mana? Mukenanya di mana?


Gadis itu mengapit kedua tangan di depan dada, tersenyum namun menunduk. Entah malu atau apa?


“Gar, kenalin ini Adiba.”


Linggar turut mengapit kedua tangan di depan dada mengikuti sang gadis. Tahu jika gadis itu tak sembarang dalam menyentuh laki-laki.


“Kak Dibaaaaa.” Beberapa Anakbyang tengah menyapa sang gadis secara bersamaan. Membuat gadis itu tersenyum, tangan terayun dan mendarat ke kepala salah satu anak itu, mengelus pelan.


Ternyata gadis ini terkenal juga.


“Kalian ngobrol dulu yah,  bunda mau ke sana sebentar!” Bunda sambil menunjuk ke satu arah bersiap melangkahkan kaki.


“Nga ada kok, aku pamit yah!” Linggar mulai melangkah mengikuti bunda yang telah berjarak.


Mau ngobrol apaan, kenal aja gak?


Kembali berbalik ke arah belakan, “Bang aku pamit bang. Makasih.” Disertai dengan lambaian tangan ditujukan pada Bang Roy.


“Kamu kenapa gak ngomong sama Diba sih?” Bunda yang berbisik pelan sambil menggertakkan giginya. Kesal pastinya.


“Gak tau mo apa bun. Lagian bunda ada-ada aja. Kayak anak kemarin sore pake kenalan-kenalan segala.” Berjalan cuek sambil mengibas-ibaskan sajadahnya.


“Kamu tahu, Adiba itu gadis solehah. Baik dijadikan calon istri.”


“Dia itu guru di – menyebutkan salah satu Sekolah Islam Terpadu, dimana para orang tua harus menyiapkan budget tersendiri untuk biaya sekolah yang lumayan. Sekolah yang memiliki program belajar khusus utamanya tahfiz.”


“Dia itu salah satu penghafal Qur’an. Dia juga yang ngajar anak-anak di sini kalo hari-hari biasanya. Dia bisa sambil ngajarin kamu juga kalau kalian nikah nanti.” Bunda yang bersemangat.


Heemmmm, pantas saja anak-anak tadi menyapanya dengan sangat akrab.


Linggar hanya menggeleng-gelengkan kepala terus melangkah cepat, tak terima.


Apa yang ada di otak bunda?


Memperkenalkan seorang yang gadis


suci pada seorang pria br3ngsek seperti dirinya. Meskipun korbannya hanya satu,


tetap saja dia adalah pria brengs3k. Tak pantas bersanding dengan gadis sesuci embun seperti Adiba. Ia tahu diri.


“Eh tunggu dulu!”


Linggar berbalik menatap bunda, raut wajah berbubah saat mendapatkan tatapan tajam dari bunda.


“Ceramah tadi,....”


Oh, ini mah gampang. Kan tadi udah kursus kilat.


“Siapa yang ceramah?”


Mampus.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


To Be Continued.


Terima kasih buat dukungan para pembaca.


Novel ini mendapat kesempatan Promo sebagai Novel Berpotensi.


Untuk selanjutnya mohon doa dan dukungannya buat Dinda agar bisa menjadikan cerita yang berkualitas.


Segala jenis saran dan kritik author terima dan pertimbangkan, namun mohon untuk tetap berbahasa yang santun karena hati autor ini sangat lembut selembut sutera, cieeee-cieeeee.


Jangan lupa juga semangatnya.


Like n komen.


Sama kopi juga buat teman begadang, sama bunga buat pengharum ruang biar ketiknya semakin semangat.


Trus itu juga, votenya dong.


Dih, Dindanya banyak mintanya yah? Hehehehehe.....

__ADS_1


__ADS_2