
"Pagi kak," Sapaan Rindi di pagi itu lengkap dengan senyuma manis.
Menatap Linggar yang terlihat lebih baik seperti hari-hari sebelumnya. Infus di tanganpun tak melekat lagi.
"Seger banget kelihatannya Rin, bawa apaan cantik?" Menatap goodie bag yang baru saja diletakkan RIndi di atas nakas.
"Kakak sudah makan?Kari ayam, kakak kebagian kuahnya aja yah." Rindi dengan terkekeh pelan. Memutuskan sarapan di sana menemani sang kekasih.
"Selamat pagi pak." Perawat yang baru saja masuk dengan senyum di bibir, membawakan perlengkapan mandi dan baju ganti pasien.
"Pagi juga sus." Turut menyumbangkan senyum hangat pada perawat.
"Ini baju gantinya ya pak," Meletakkan semua kebutuhan Linggar pada tempat biasa Kemudian segera keluar dari ruangan tersebut, tugasnya telah selesai dan diambil alih oleh RIndi.
Dengan sigap Rindi mulai membuka kancing baju pasien Linggar satu persatu.
"Udah gak gemetaran lagi?" Dengan mengerlingkan mata dan senyum yang dibuat menggoda ke arah RIndi.
"Gak," Rindi yang masih membuka kancing terakhir, "Diginiin juga udah bisa." Mencolek dada Linggar yang telah terpampang nyata dihadapannya.
"Eh, berani-beraninya," Wajah di buat seperti orang yang sedang marah. Kaget memang, Rindi berlaku seperti itu, seperti bukan Rindi yang ia kenal kalem, pendiam dan pemalu.
"Mau aku balas juga?" Muka jahil ditampakkan, jari telah terangkat dan siap mendarat di tempat yang sama pada bagian tubuh Rindi.
"Eh, eh, eh," Gelagapan Rindi menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil beringsut mundur dengan tertawa.
Pun dengan Linggar yang turut tertawa, menarik lengan Rindi yang terus mundur menjauhinya padahal ia hanya bercanda saja.
Tanpa mereka sadari seseorang yang sedari tadi berdiri di ambang pintu enggan melangkah. Pintu yang dibuka oleh sang perawat ternyata tak ditutup setelah ia keluar tadi.
Bunda mendekat perlahan, sudah cukup menatap interaksi yang sangat dekat antara Linggar dan RIndi.
Senyum yang diperlihatkan putranya menjadi bukti nyata jika pria itu bahagia jika bersama dengan RIndi.
Bunda yang semalam seolah mendapat serangan dari ayah.
"Bunda tau siapa yang jagain Linggar selama bunda sakit?" Pertanyaan ayah enggan beliau jawab. Berharap nama yang ada di otaknya bukanlah nama yang akan disebutkan ayah.
"Ayah gak bisa karena harus temani bunda. Lirna juga gak bisa karena hamil. Reza harus menjaga anak dan istrinya." Ayah seperti sedang bermain teka-teki.
Gampang namun enggan.
"RIndi." Nama itu akhirnya keluar juga.
__ADS_1
"RIndi yang mandiin Linggar. Rindi yang suapi Linggar."
"Lalu alasan apa lagi yang harus bunda pakai untuk memisahkan mereka?"
"Alasan apalagi yang bunda gunakan mengatakan Rindi tak pantas untuk Linggar?"
Penuturan ayah seolah mulai membebaninya.
"Bund, masak Linggar sama Rindi pelukan sambil tidur di ruang perawatan?"
Lirnapun turut membuat hatinya semakin gundah.
\==============
Linggar telah beberapa kali menghempaskan tubuh secara kasar di rumah sakit hingga menciptakan decitan dari kaki ranjang yang beradu dengan lantai.
"Linggar." Pekik Bunda sambil membulatkan mata menatap putranya.
" Berhenti menyakiti diri sendiri." Bunda masih dengan amarahnya.
Lalu apa yang harus Linggar lakukan selain menghukum diri sendiri. Bahkan saat sakit begini pun, Bunda masih berusaha memisahkannya dengan wanita yang ia cintai.
Sementara Rindi hanya mampu melirik ke arah Linggar, tak bisa berbuat banyak.
Namun saat ini ia tak bisa berbuat banyak. pengusiran Bunda menandakan jika Restu belum datang untuk dirinya.
" Sekarang kamu makan, terus minum obat."
"Bunda yang suapin," Di tangan telah ada mangkuk berisikan bubur yang rasanya hambar.
Semakin hambar, karena tak menatap Rindi ketika akan makan nanti. terlebih lagi Rindi akan pergi dengan keadaan seperti ini.
" Sudah kenyang." Linggar memalingkan wajah saat sendok yang berisi bubur berada tepat di hadapannya.
Tadi turut menikmati makanan yang RIndi bawa, apalagi suapan dari tangan sang kekasih semakin menambah rasa nikmat. Mengacuhkan pesan dokter yang harus mengkonsumsi makan lunak.
Bunda menghela nafas kasar, kembali menurunkan tangan yang sedari tadi mengambang.
"Rindi kamu pulang!" Suara Bunda kembali terdengar menyakitkan.
"Bilang sama orang tuamu, kami akan datang melamarmu setelah Linggar sembuh nanti."
Rindi yang masih membereskan barangnya seketika berhenti, mencerna ucapan Bunda.
__ADS_1
Hanya sebentar, kembali meneruskan pekerjaannya. Mungkin tadi pendengarannya salah menangkap ucapan Bunda. Terlalu cepat rasanya jika Bunda langsung memberikan mereka Restu.
"Dan kamu!" Sendok digunakan sebagai alat untuk menunjuk Linggar.
"Makan yang banyak, istirahat yang cukup, dan berhenti menyiksa diri sendiri. Kalau mau cepat jadi pengantin, harus sembuh dulu!"
Ucapan Bunda membuat mata Linggar melotot, dan Rindi kembali menghentikan aksinya. Benarkah ucapan Bunda ini?
Apa Bunda hanya memberikan iming-iming, agar Linggar mau makan tanpa Rindi? Dan belajar hidup tanpa Rindi lagi.
"Aku pamit!" Rindi mulai melangkahkan kaki dengan barang bawaannya di kedua tangan.
"Rin, Rindi." Tanpa peduli pada suara Linggar yang memanggilnya.
Mungkin ini adalah yang terakhir dirinya berada di sini. Tak ingin terlalu lama menjadi beban pemikiran Bunda, ya harus tetap pergi dari kehidupan Linggar.
Menutup pintu ruang perawatan, dan juga pintu hatinya untuk Linggar. mulai berJalan menjauh dari segala yang berhubungan dengan Linggar.
" Bunda bohong kan?" Linggar saat pintu ruang telah tertutup.
" Bohong gimana? Kamu nggak percaya sama Bunda?"
"Bunda cuma mau mengusir Rindikan? Bunda nggak suka Linggar masih sama Rindi kan?" Berucap dengan dada yang tertekan.
" Iya. Bunda nggak suka, kalian sampai peluk-pelukan, tidur bareng padahal kalian nggak ada hubungan. Dosanya tuh kami yang tanggung, para orang tua Linggarrrrrr!"
"Enggak ada jalan lain selain menikahkan kalian. Makanya kamu harus nunggu dulu!"
" Bunda bohong kan? Cuma mau Linggar sembuh, tapi nggak ada pernikahan setelahnya." Linggar masih berusaha menata hati yang seolah porak-poranda. Rindi pergi tanpa menatapnya tadi, sudah cukup membuat hatinya teriris.
" ada. kalau kalian memang benar-benar berjodoh."
" Bunda bohong kan?" Masih belum percaya dan semua yang Bunda utarakan.
"Satu minggu Setelah kamu keluar dari rumah sakit kita melamar Rindi."
"Beneran?" Suaranya pelan, masih mencari kejujuran bunda.
"Iya beneran. kalo gak percaya kamu boleh minggat dari rumah, tinggal di rumah kakakmu saja!"
Pc, solusi macam apa itu?
To Be Continued!
__ADS_1