
Kaki terhenti tepat di samping tempat tidur. Linggar menjatuhkan diri berikut Rindi yang berada tepat di atasnya. Bibir tak lagi saling menempel.
Dengan tenaganya, Linggar membenarkan posisi Rindi yang menurutnya sedikit bergeser. Ia ingin Rindi tepat berada di atasnya.
“Rin, sentuh aku!” Pintanya dengan mata yang telah berkabut sejak tadi.
“Aku bukan lagi pacarmu, tapi suamimu.” Lanjutnya sambil meraih rahang Rindi.
Membelai pipi dan bibir sesuka hatinya. “Aku berhak atasmu dan kamupun berhak atasku.”
Apa yang diinginkan Linggar kali ini, membuat Rindi bingung. Apa yang harus ia lakukan?
Diam.
Hanya mata yang saling berbicara.
“Rin, sentuh aku. Sekali saja!” Suaranya sudah terdengar sangat berat. Tak bisa tertahankan lagi, namun ia ingin mencari sensasi lain. Sensasi dari rasa yang seolah ingin dicintai dan didamba. Tak melulu dirinya yang memimpin permainan.
“Aku gak tau.” Ucap Rindi sedikit lirih. Ingin mengalihkan pandangan tapi tak bisa. Tangan Linggar masih menahan pipinya, membelai lembut dengan ibu jari.
Malu rasanya jika ia yang harus memulai, terlebih lagi mendengar pinta Linggar yang seolah menginginkan dirinyalah yang menjadi subyek dan Linggar sebagai objek.
“Seperti yang biasa aku lakukan ke kamu.” Sambil tersenyum manis. Semakin membuat hati seolah ingin langsung menyerang.
“Mulai dari sini.” Linggar mengarahkan tangan Rindi di dadanya. Sedikit tekanan di berikan karena tangan RIndi terasa kaku.
Merapatkan bibir, dengan satu tekanan lagi di belakang leher istrinya. Kemudian sedikit menuntun Rindi dengan ucapan dan tindakan. Merasakan sensasi dari sebuah kata disentuh.
Indah.
Indah dari sisi lain.
Hingga pada titik tertentu, Rindi tak lagi mendengarkan perintah dan tuntunannya.
Gadis itu seolah berkerja sendiri sesuai dengan nalurinya. Ke sana kemari dengan perintah hati sendiri.
Terlihat sedikit agres!f memang, tapi ini seolah di luar kendalinya.
Rindi, istri pemalunya dan cenderung penurut kini berubah 180 derajat menjadi wanita sepsi Dan berani.
Sekarang Rindi yang membawa Linggar dalam menikmati surga dunia.
“Wow, hebat!” Kalimat pertama yang keluar dari bibir Linggar saat Rindi mengakhiri aksinya.
Kini mereka telah terbaring berdampingan saling memeluk. Dengan Rindi yang lebih memilih membenamkan wajah di dada suaminya.
Rasa malunya terlalu besar untuk mengangkat kepala membalas tatapan suaminya.
“Capek yah?" Linggar masih mengusap punggung p0l0s Rindi.
"Kasihan.” Lanjutnya.
“Kamu telah bekerja keras.” Sambil mengangguk-anggukan kepalanya sendiri, seolah Rindi sedang menatapnya.
__ADS_1
Lalu terkikik karena ucapan formalnya.
“Belajar dari mana sih? Kayaknya fasih banget gak ada cela.”
“Nanti kita ulang yah. Aku masih pengen sebenarnya. Tapi kayaknya kamu capek banget yah?”
Kali ini kepalanya sedikit menunduk untuk memastikan apakah Rindi benar-benar tertidur. “Rin, udah bobo yah?”
“Hemm.” Rasanya Rindi ingin mengamuk, karena Linggar terus saja mengusiknya padahal tahu dirinya sangat lelah setelah bekerja keras.
Ya ia telah bekerja keras untuk membahagiakan suami.
Dan juga untuk dirinya sendiri, hihihi.
“Ya, udah kita tidur aja.” Kali ini tangannya telah berpindah mengusap kepala Rindi dengan lembut.
“Terima kasih sayang!” Dilengkapi dengan kecupan singkat dan manis di kening. Menandakan Cintanya begitu dalam dan berat.
Wanita yang berada dalam pelukannya ini telah mengambil seluruh hatinya, tanpa tersisa sedikitpun.
Tertidur dengan senyuman yang tersungging di bibir. Mengeratkan pelukan, mempertemukan kulitnya dan kul!t Rindi. Begitu nyaman dan tenang.
Apalagi setelah mendapatkan obat tidur alami dari Rindi.
Rasa gerah merasuki tubuh Rindi yang berada di bawah selimut. Ditambah sebuah tangan tangan panjang yang melilit di perutnya. Membatasi pergerakan dan pernapasannya.
Gelap.
Hanya cahaya lampu dari luar yang menambah intensitas penglihatannya.
Bukan mereka, tapi dirinya sendiri.
Ya ampun...... malu jika harus membayangkan diri beraksi sendiri di atas Linggar. Jika boleh ingin lupa ingatan dulu untuk sementara waktu.
Ah, masa iya hal seperti itu harus dilupakan.
Jangan! Jangan!
Jangan ingatannya. Ingatan Linggar saja yang dihapus tentang peristiwa itu.
Ah.... Bagaimana nanti jika Linggar bangun? Pasti pria itu terus saja menggoda dan mengejeknya seperti tadi sebelum ia tertidur.
Perlahan menyingkirkan tangan itu. Sangat pelan, agar tak membuat sang empunya terbangun.
“Sudah bangun?” Tanya sang pemilik tangan saat meresakan pergerakan.
Pc, kenapa harus terbangun sekarang sih. Kan bisa sebentar lagi saat Rindi sudah masuk ke kamar mandi.
Meskipun dalam pencahyaan yang sedikit ia masih mengetahui jika Linggar sedang tersenyum ke arahnya.
Membuatnya harus semakin menekankan rasa malu, meskipun senyuman itu mampu membuatnya terhanyut.
“Jam berapa?” Rindi harus mengalihkan pembicaraan sebelum Linggar kembali membahas dirinya yang tadi.
__ADS_1
Linggar beranjak sedikit hanya untuk meraih ponsel yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya.
“Jam delapan.” Lalu kembali tidur dan memeluk Rindi.
“Hah, dah malam?” Pekiknya saat mengingat waktu magrib telah terlewati begitu saja karena tertidur.
“Bentaran Rin.” Menahan perut Rindi agar tetap tertidur.
“Mau mandi kak, gerah.” Rindi yang kembali menggangkat tangan yang justru semakin menekannya.
“Satu kali lagi yah, cuma bentaran kok. Mandinya sekalian aja bentar.” Linggar mulai mengecup bahunya.
Bahu yang dalam pikiran Linggar memiliki titik hitam.
“Kak, lapar.” Ucapnya jujur saat merasakan perutnya yang sedikit perih karena kosong.
“Iya aku juga. Tapi aku masih pengen Rin. Bentar aja yah. Bentaaaaaar aja!” Linggar penuh penekanan dan pengharapan.
Bisa pusing kepalanya kalau tidak menuntaskan sekarang juga.
“Janji bentar malam aku gak akan kayak gini lagi. Asli tidur beneran.”
Memulai sentuhan lembut yang mampu membungkam Rindi dari segala keluh kes@hnya. Melenakan, menghanyutkan dan segala perasaan yang seolah terus beranjak naik.
Linggar mulai memposisikan diri tepat dihadapannya. Dengan sedikit tekanan hingga mampu membawanya seolah terbang ke awan, lembut dan dingin. Menikmati pemandangan kebun bunga yang memancarkan warna-warni tapi dengan mata tertutup dan kepala menengadah.
Bahkan seolah Rindi tak ingin mengingat segalanya, hanya ingin menikmati setiap sentuhan yang diberikan Linggar. Mungkin seperti inilah yang tadi Linggar rasakan saat dirinya beraksi. Pantas saja Linggar tadi sangat menyanjungnya.
Jika boleh ia juga ingin menyanjung Linggar dengan segala bentuk puji yang terucap. Berterima kasih karena telah memberikan rasa yang begitu indah padanya.
Tapi terlalu malu untuk mengungkapkannya. Ia bukan orang yang percaya diri dalam mengekspresikan segala sesuatu. Biarlah Linggar yang mengartikan sendiri.
Rasa lapar yang tadinya teramat sangat kini terbang berganti dengan rasa n!kmat.
Lupakan tentang malu! Ia ingin menikmati lagi dan lagi.
“Mandi bareng?” Saat mereka masih mengatur napas.
Pc, pikiran dari mana itu? Mandi bersama? Itu hanya akan menambah porsi malunya dihadapan Linggar.
“Kakak duluan.” Sejujurnya ia masih ingin berbaring sebentar saja, sambil mengatur napas dan jantung yang seolah masih berlomba.
Tapi tangan Linggar telah berada di leher belakang dan lipatan kulitnya. Mengangkat tubuh tanpa menutupnya terlebih dahulu. Sama-sama p0l0s, kan mau mandi.
Rasa indah yang tadi Rindi rasakan seketika berubah menjadi rasa malu dan kesal. Kesal tak diberi waktu untuk mengutarakan perasaannya.
Linggar tampak sumringah setelah acara mandi bersama. Sempat memohon untuk kembali mengulang, tapi wajah lelah dan kekesalan Rindi menjadi pertimbangan penting baginya.
Jangan sampai karena hasr@tnya membuat Rindi menjadi ilfeel.
To Be Continued!
Jangan lupa like and komennya yah.
__ADS_1
Emmuah!