
"Kenapa di sini?" Tanya Rindi saat mobil berhenti tepat di depan rumah Linggar.
Sisa perjalanan yang mereka lalui dengan diam hingga tak sadar saat jalan yang di lalui bukan ke arah rumahnya.
"Ayo turun!" Linggar kini telah berada di samping Rindi membuka pintu dan tangan terulur demi meraih pergelangan tangan Rindi. Mengabaikan pertanyaan yang Rindi utarakan.
Tak ingin kecolongan, kunci kontak mobil berada dalam kuasanya.
Meraih tangan Rindi yang masih saja diam seperti enggan untuk masuk.
Sedari tadi di otaknya memikirkan tentang jawaban apa yang harus ia berikan untuk RIndi.
Dan jawabannya mungkin ada di rumah ini.
Setidaknya bunda bisa membuat Rindi berhenti merengek untuk tak mengadakan pesta pernikahan.
" Eh calon pengantin," Suara yang baru saja menyambut mereka dari dalam.
" Sini sayang! Sini sayang!" Semangatnya tante Mira saat melihat mereka yang datang dan terlihat sambil bergenggaman tangan. Kebetulan sekali, pikir Linggar. Semakin kuatlah alasannya membawa Rindi ke sini.
Tante Mira terus melambaikan tangan ke arah mereka. Menatap Linggar dan Rindi yang baru saja mengambil duduk di sofa sebelah mereka.
Rindi kembali bangkit, mendekat pada Bunda dan tante mira untuk takzim. berbeda dengan Linggar yang tetap enteng dengan duduknya.
"Kebetulan banget," Lanjut Tante Mira penuh antusias.
"Kita lagi bahas pesta kalian. Kalian mau konsep yang seperti apa?"
Di pangkuannya telah ada katalog tentang macam-macam dekorasi pesta. Sementara di meja tergeletak sebuah katalog undangan.
" Rindi dibilang, dia nggak mau pes,..."
Rindi cepat-cepat membekap mulut Linggar. Tahu tentang apa yang ingin pria itu sampaikan.
Dan Rindi merasa enggan menyampaikan inginnya itu pada dua wanita yang terlihat sangat antusias akan pesta pernikahannya, meskipun dari bibir Linggar.
Tangan kanan yang bertugas menutup mulut Linggar, sementara tangan kiri merangkul hingga ke dada. Menahan pergerakan Linggar dengan pelukannya dari belakang. Harus kuat, tenaganya tak sebanding dengan tenaga Linggar.
" Apa sih Rin? Ini kan kita lagi bahas pesta, sekarang kamu bilang mau yang kayak gimana! Sebelum semuanya diatur sama bunda sama tante mira!"
Benar kan, dengan sekali gerak Linggar mampu menyingkirkan tangannya yang membengkak mulut pria itu.
"Aku,.... aku nggak mau pesta adat tante," Hanya itu yang ada di otaknya demi menjawab rangkaian pertanyaan Linggar.
"Kenapa?" Tante mira.
__ADS_1
"Ribet tante, hehehehe!" Ucapnya bingung sendiri. Jawaban yang serba mendadak.
Tangan masih terkait di leher Linggar. Kedua lutut bertumpu di atas sofa menahan bobot diri.
"Iya juga sih, ribet memang. Banyak yang harus diurus juga. tapi bagus kan
"Eh tapi itukan terserah yang mau jadi pengantinnya. Mungkin Rindi ingin jadi seperti putri yah?" Tante Mira masih memperlihatkan semangatnya.
"Hehehehehe," Rindi tersenyum, berusaha ramah meskipun masih tetap bingung. Siap memutar otak jika pertanyaan mendadak kembali dilontarkan.
Melihat antusiasnya wanita itu, rupanya mampu menyulut ego Rindi. Tak ingin membuat semua kecewa.
Tak sadar jika kedua tangannya yang mengalung telah ditarik lebih erat oleh Linggar. Membuat dadanya kini telah Merapat di punggung Linggar. Kini mereka saling merasa kulit pipi yang turut merapat dan saling bergesekan.
Dan Linggar kembali menarik tangan Rindi semakin merapat, menoleh sedikit dengan lirikan matanya yang menggoda. Memajukan bibir seolah ingin mencium.
Tak sadar jika semua tindakannya masih berada dalam jarak pandang yang sangat dekat.
"Kayaknya kita memang harus mempercepat pernikahan mereka deh!" Tante Mira berbisik tepat di samping bunda.
"Tuh lihat, anak kamu tuh yang pengen nyosor duluan." Lanjutnya.
" Awas Kebablasan!" Masih berbisik di dekat bunda yang terdiam memperlihatkan kedekatan keduanya. Turut merasa was-was jika memang ke dua insan itu kembali terjatuh ke lubang yang sama.
Suara itu membuat mereka semua menoleh ke arah pintu.
Pertahanan Linggar melemah, pun dengan Rindi yang segera menjatuhkan diri kembali duduk di sofa.
Pak Adit? Ngapain di rumah Linggar?
Eh apa tadi beliau bilang, bikin rusuh di kantor?
Aduuuuh, sudah bisa dipastikan rusuh itu yang seperti apa. Benarkan semua orang akan tahu bahkan pemimpin Mereka pun tahu.
"Bikin rusuh bagaimana?" Bunda dengan kening terlipat bingung.
"Ck, biasalah anak muda," Pak Adit lengkap dengan kibasan tangan, sekolah tak ingin memperpanjang.
"Kenapa? Bingung?" Tanya Linggar saat menatap Rindi yang sedang memperhatikan Om Adit kembali ke bunda.
"Nah kenalin rin, ini tante mira, istrinya Om Adit."
"Dan wajib kamu tahu, Om Adit itu adik kandungnya Bunda." Linggar.
Lagi Rindi dibuat terkesan dengan berita ini. Pantas saja Linggar mendapatkan posisi yang baik di kantor, ternyata pria itu adalah keponakan dari pemilik perusahaan.
__ADS_1
Pantas juga, Bunda berbicara sangat luas saat di ruangan Pak Adit. Ternyata Bunda adalah kakak yang harus dihormati pimpinannya itu.
Rindi melongo mendapatkan penjelasan seperti itu. Itu artinya sebentar lagi ia juga akan menjadi keponakan sang pemilik perusahaan. Waaaah, gak nyangka banget dirinya kini.
" Jangan heran, setiap pemimpin seperti kami pasti membutuhkan orang kepercayaan. dan saya memilih keponakan saya sendiri, sebagai orang kepercayaan. nggak salah kan?" Pernyataan Pak Adit seolah memberitahu tentang kebingungannya saat ini.
"Waaaah ramenya, lagi bahas apa nih?" Ayah yang baru tiba Menjelang magrib, ikut duduk di sofa di sebelah Om Adit.
"Tuuuh!" mata Om Adit menunjuk ke arah Bunda dan tante mira. Hanya seperti itu telah mampu menjawab pertanyaan ayah.
"Mau mandi? Ada baju kok." Ayah yang memilih kembali bangkit sambil mengajak Pak Adit.
"Heem, gerah. Kayaknya lama pembahasannya kalau kayak gini." Pak Adit ikut berdiri dan mulai berjalan bersisian.
Sedekat itukah keluarga Linggar dengan Pemimpin perusahaan itu? Bahkan pakaianpun saling pinjam.
"Ya udah kita ke dapur yuk, bantuin bibi masak!" Ajakan bunda pada Tante Mira dan Rindi.
Sepanjang memasak hanya Tante Mira yang sebentar-sebentar mengajaknya berbincang. Membuat dapur lebih hidup.
Bisa dibayangkan jika di dapur ini hanya ada Rindi dan bunda.
Yang akan ada, mungkin hanya suasana kaku dan dingin.
Makan malam di rumah Linggar lebih ramai dibandingkan hari biasanya.
Dan Rindi hanya tertunduk, sesekali membalas pembicaraan yang menyangkut dirinya dengan kekehan.
Masih canggung.
Tak pernah terbayangkan jika dirinya akan duduk semeja dengan suami-istri sang pemimpin perusahaan tempat ia bekerja. Ternyata begini rasanya ya!
Kembali ke rumah dengan Linggar yang mengendalikan mobil.
\=======
Maaf yah, Upnya lambat.
Kadang bingung sendiri mau UP tiap hari tapi cuma satu bab. Atau dikumpulin bisa Up beberapa bab?
Saran boleh di kolom komentar.
Eh jangan lupa juga lupa kasi semangatnya juga yah.
SAma siapin kado buat Linggar dan RIndi juga!
__ADS_1