Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Numpang Bobo


__ADS_3

Masuk ke dalam kamar Rindi dengan pintu yang terbuka lebar-lebar seperti yang ia katakan tadi.


Mendapati Rindi yang duduk di depan meja, dengan laptop yang menyala. Tak lupa beberapa lembaran kertas yang dibuat sedikit berantakan, seolah benar-benar sibuk.


Linggar melirik ke arah meja, sedikit tersenyum namun hati kembali gundah.


Hanya karena tak ingin bertemu dengannya, RIndi memanipulasi kesibukannya.


Bahkan sebagian kertas yang bertebaran itu, ia tahu jika itu laporan lama masa-masa kuliah.


Rindi menunduk dengan dalam, kedua tangan sesekali bergerak menghapus sesuatu di pipi.


Tak menyadari jika Linggar telah beberapa menit duduk di sisi ranjang dan mengamatinya dengan sangat dekat.


Piyama satin lengan pendek semakin memperlihatkan lengan putih mulus Rindi.


Bukan hanya itu, celana dengan pendek maksimal turut memperlihatkan paha putih bersih dan berisi.


Bagaimana jika ia berbaring di sana, pasti empuk, pikiran Linggar terbang melayang tak tentu arah.


Sejenak pikiran miring yang sempat bertamu ia singkirkan. Harus berusaha memperbaiki kembali hubungan mereka.


"Kamu kangen sama aku sampai nangis kayak gitu, tapi nggak mau temuin aku."


Rindi terhentak kaget mendapati suara itu sangat dekat. Tak mengangat kepala, bisa saja wajahnya sedikit basah.


Hanya terdiam, tak tahu beralasan.


" Aku rasanya capek banget, Rin. Boleh bobo sini kan? Aku ngantuk banget kayaknya." Linggar telah membaringkan tumbuh di atas kasur empuk milik Rindi, tanpa menunggu persetujuan sang pemilik.


Mengulurkan tangannya pada wanita yang selalu mengecewakan hidupnya.


"Rin, " Dengan tatapan sayu, Linggar terlihat benar-benar mengantuk.


" Aku cuma mau megang tanganmu,Rin."


"Aku kangen. Kamu kayak nggak peduli sama aku lagi."


Bukan Rindi tak peduli, tapi memang menghindar demi memenuhi permintaan Bunda dulu.


Rindipun luluh, iba melihat tatapan itu. Pria itu kini terlihat lemah dan tak berdaya. Tubuh yang dulunya atletis itu  kini seperti tak bertenaga. Ditambah dengan wajah tirus semakin membuat penampilan pria itu terlihat perlu dikasihani.

__ADS_1


Rindi menyambut uluran tangan Linggar.


Linggar mulai memejamkan mata, dengan membawa tangan Rindi yang digenggamnya ke arah dada, masuk ke dalam pelukannya


Mungkin linggar telah tertidur. Tangannya seperti dijadikan obat tidur untuk pria itu.


Rindi berniat melepaskan tangannya yang telah terasa hangat dari dekapan Linggar.


"Rin, Jangan Pergi." Mata yang tadinya tertutup seketika kembali terbuka.


"Aku nggak akan pergi ini kan rumahku. Pengen mandi dulu Gerah." Sedikit tepukan ia berikan di punggung tangan Linggar.


"Hemmmm," Linggar kembali memejamkan mata tanpa, ikhlas melepas tangan Rindi. Toh ini memang rumah wanita itu. Tak kan kemana.


"Bu, Kak lingkar tidur di kamarku nggak papa kan. dia kelihatannya capek banget." Rindi yang baru saja keluar kamar, dengan baju ganti di pelukan. Menutup pintu dengan sangat pelan, berusaha tak menimbulkan suara apapun.


"Kan baru keluar dari rumah sakit, wajar kalau tumbuhnya cepat merasa lelah." Ibu sambil mengelengkan kepala.


"Coba lihat di mobilnya. Kayaknya sama sopir deh. Kasihan pak sopirnya nungguin, eh yang tunggu malah molor." Perintah ibu pada Rindi.


"Aku mandi dulu ya bu. Lagian malu keluar pakaianku kayak gini."


Menunduk memperlihatkan pakaiannya sendiri.


Duuuuuh, malunyaaaa.


Ah, sudah terlanjur.


"Aku mandi dulu bu. Siapa tau abis mandi kak Linggarnya bangun."


Setelah cantik dan wangi dengan tampilan sederhana ala rumahan, ternyata pria yang tertidur itu belum tebangun jua.


Rindi keluar rumah menghampiri mobil yang sedari tadi menepi.


Mengetuk pintu kaca mobil Linggar, pria- yang diyakini tengah duduk di balik kemudi adalah pak Bur menunggu anak majikan yang justru sedang terbuai di alam mimpi, kasihan sekali.


"Kenapa Neng?" Pak Bur, saat jendela kata telah turun dan mereka saling bertatapan.


"Bapak turun dulu yuk ngopi di dalam!" Ajakan Rindi.


"Nggak apa-apa Neng Saya di sini saja." Sambil mengangguk sopan.

__ADS_1


"Tapi kak Linggar nya lagi tidur pak."


" Waduh kok bisa Neng. Padahal ibu bilang jangan lama-lama disuruh istirahat." Mulai gusar sendiri.


" Ya itu kan udah istirahat di dalam."


"Saya telepon Ibu dulu ya Neng, takut ibunya nanti marah."


Rindi mengangguk, mengambil jarak dengan mobil kembali ke teras. Panas juga berdiri terus di luar di jam yang hampir tengah hari itu.


" Neng saya pamit sebentar, disuruh Ibu pulang ambil sesuatu katanya. Saya titip Pak Linggar nya ya Neng." Pak Bur yang baru saja turun dari mobil, menghampiri RIndi yang mengiranya mengikuti ajakannya untuk ngopi sejenak.


"Ya udah gak pa-pa pak."


Bel rumah Rindi kembali berbunyi setelah beberapa saat lamanya. Menampilkan Pak Bur dengan paperbag di tangan.


"Ini ada makanan buat Pak Linggar katanya enggak boleh telat makan sama obat-obatnya juga disuruh minum setelah makan Neng. Mohon bantuannya yah."


"Udah bangun?" Rindi mempersembahkan senyum manis pada pria yang baru saja dilihatnya tengah mengerjapkan mata. "Enak banget tidurnya."


"Hemm," Sambil meregangkan otot-otot yang sempat diam tak bergerak. Mengusap-usap mata dengan bibir yang tersenyum.


Tidurnya memang sangat nyenyak kali ini. Mungkin karena pembaringan ini bekas kekasihnya, tertinggal aroma Rindi di sana.


"Aku cumi muka dulu!" Mulai beranjak ke kamar mandi.


Kamar mandi di kamar Rindi yang tidak terlalu luas tanpa bathtub, namun tetap ada shower.


Keluar dari kamar mandi hampir bersamaan dengan Rindi yang baru saja masuk dengan nampan besar di tangan.


" Ini makanan kiriman dari Bunda nya kak Linggar." Mulai duduk berhadapan di ranjang dengan perantara baki besar yang berisikan beberapa menu masakan.


Mendengar itu Linggar menganggukan kepala.


"Takut banget anaknya nggak dikasih makan di sini.'' Rindi mulai menyendokkan nasi beserta lauk ke hadapan Linggar.


Yes! Rindi menyuapinya lagi, tapi ngomel.


" Positive thinking Rin, Bunda bukannya takut aku nggak dikasih makan di sini. Siapa tahu makanan di sini belum matang padahal aku sudah lapar. Aku nggak boleh telat makan, nggak melulu mengikuti jam makan pada umumnya. laper sedikit aku udah wajib makan."


Dibalas dengan omelan pula.

__ADS_1


Lebih tepatnya memberi Rindi pengertian, jangan sampai salah paham lagi.


Rindi mangut-mangut, dia sudah tahu tentang hal itu.


__ADS_2