Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Kau Adalah Kekasihku!


__ADS_3

Ponselnya berbunyi saat ia tengah melangkah masuk ke alam mimpi.


Ugh, siapa lagi yang menelpon jam segini? Kesal rasanya karena tidurnya harus tergangu.


“Hemmm,” jawabnya entah pada siapa yang berada di sebelah sana.


“Dah bobo?” Suara itu, ia tahu. Sepertinya pria yang selalu mengantar dirinya pulang.


Meskipun berat untuk memastikan hanya dengan mengintip nama yang tengah tertera di layar telpon karena rasa


kantuknya sungguh sulit di tepiskan.


“Hemmm.” Menempatkan ponsel di atas telinganya, hingga benda itu tetap berdiam di sana meski tak harus terus digengam.


“Tadi pulang jam berapa?” Pertanyaan ini tak bisa dijawab dengan kata hemmm.


“Jam delapan.” Jawabnya terpaksa.


Eghh, sungguh ini semakin menyebalkan. Tak bisakah pria ini memberinya waktu untuk beristirahat?


“Malam?” Pekikan dari seberang mampu membuka matanya, meski hanya sebentar dan kembali tertutup rapat.


Sepertinya telpon sudah terputus.


Ah, syukurlah! Kini waktunya me time is bobo.


Ponsel yang belum ia sempat jauhkan dari telinganya kembali berdering. Membuat kekesalannya semakin menanjak ke puncak.


Dan tanpa melihat nama penolpon ia kembali menggeser tombol hijau.


“Halo.”


Arrrgggg, suara itu lagi. Apa perlu ia membanting ponselnya agar bisa tidur dengan tenang?


“Hemmmmmmmmm.” Panjang biar yang sebelah ngerti.


“Dah bobo?”


Udah tau naya!


“Rin, gelap. Aku gak bisa liat apa-apa?”


Gelap gimana maksudnya?


Rindi terpaksa membuka mata, melihat ke arah ponsel, ternyata vidio call. Ini tak bisa dibiarkan!


“Kak aku ngantuk banget. Udah dulu yah!” Walaupun kesal, ia masih bisa pamit secara baik-baik.


“Bobo aja! Simpan ponselnya di depan kamu! Ganjal pake bantal!”


Dan iapun mengikuti titah sang raja. Raja maksa maksudnya.


Setelah menempatkan ponsel dengan baik agar tetap terarah ke wajahnya meski tak harus di pengang, ia kembali


menutup mata tanpa menghiraukan sosok di hadapannya yang sedang memandang dengan begitu dalam.


Linggar.


“Rin.”


“Hemmm.”


“kamu dengar gak?Aku mau ngomong sesuatu.”


“Hem.” Suara itu semakin terdengar lirih.


“Rin.”


“Hem.” Semakin lirih.

__ADS_1


Mungkin ini saatnya sang gadis telah masuk ke ruang mimpi.


Saatnya untuk mengungkapkan sesuatu yang ia pendam. Rindi tak mungkin menolaknya kan, toh gadis itu sedang


tidur. Sesuatu yang sangat ia takutkan jika saja harus berhadapan saat gadis itu dalam keadaan sadar.


“Aku sayang kamu.”


Tak ada jawaban, mungkin di sana telah benar-benar terlelap.


“Kamu maukan terima aku?”


Di sana masih silent.


Hatinya berdebar. Takut jika  saja Rindi membuka mata secara tiba-tiba hanya untuk mengucapkan kata tidak. Lalu


apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Pasti ia akan patah hati.


Benar-benar gadis itu telah  masuk ke dalam hatinya. Bukan, tapi ia yang terlalu jauh masuk ke dalam sebuah permainan dan mengikut sertakan hati dalam permainan ini.


Ini harus segera dipastikan.


“Diam berarti iya.”


Di sana masih saja diam. Dan ia terus berbicara sendiri.


“Jadi mulai hari ini kamu gak boleh lagi dekat dengan laki-laki lain selain aku. Kalau gak aku akan marah, ok?”


"Mulai hari ini, kau adalah kekasihku!"


Ia terus memandang wajah polos yang sedang menutup mata.


Cantik. Inginnya ia menarik pipi chuby itu. Sayangnya sang gadis sedang tertidur higga ia tak bisa melihat gigi gingsul yang menjadi salah satu daya tarik gadis itu.


Dan baho putih hanya berhiasi seikat tali tak sebesar jari kelingking menjadi salah satu pemikat gadis itu malam ini. mungkin gadis itu tak sadar jika penampilan seperti itu mampu membuat pria ini kepan@s@n.


Ia terdiam, mengamati bah0 yang hampir polos. Ada apa disana?


Masih terdiam hingga akhirnya berdecak.


“Pc,” ia ingin mengeluh karena tak bisa berbuat banyak, padahal dalam otaknya sangat ingin merangkul bahu itu,


mungkin itu sudah cukup baginya. Betulkah?


Menutup mata sambil mengatur napas hanya untuk menghalau pikiran-pikiran kot@r yang sempat melintas.


Gadis itu terlihat menggeliat dan dan terlihat menarik selimut menutup bahunya. Ah, salah satu pemandangan indah


kini menghilang. Mungkin gadis itu kedinginan.


Tak apa asalkan ia masih bisa memandang wajah kekasinya itu.


Apa? Kekasih? Pacar? Hahahahaha.


Bukankah mereka telah jadian?


Ia telah mengungkapkan perasaannya terhadap Rindi, dan gadis itu hanya terdiam dan tak menolaknya, ya jadi mereka telah jadian kan?


Apapun alasannya, yang jelas mereka telah jadian. Telah pacaran, titik. No debat.


Dan Gadis itu kembali menggeliat, dan kini menutup kepala dan wajahnya secara utuh.


“Rin, Rindi. Kok di tutup? Buka dulu Rin! Aku cuma mau liat muka kamu.”


“Rin, Rindi, dikit aja. Mata deh mata aja buka dong! Aku juga udah mau bobo, tapi sambil liatin kamu. Buka dulu,


dikit aja dikit!” Pinta sambil memelas.


Hanya karena ingin melihat wajah seorang gadis ia harus memohon seperti ini.

__ADS_1


Rindi kembali kembali menggel!at, sepertinya mengeratkan pelukan pada guling. Selimutnya tersibak dan kini


menampilkan sebagian wajahnya.


Tak apalah, memandang mata dan hidung saja boleh sebagai pengantar tidur.


** Rindi**


Tidurnya terusik saat menampilkan wajah Linggar di layar ponsel. Meskipun dirinya memaksa untuk tertidur namun


sangat sulit.


Apalagi saat Linggar mengatakan jika ingin mengatakan sesuatu, apa itu? Pentingkah? Sepenting apa sih? Sedikit penasaran mungkin, tapi untuk membuka matanya ia masih malas.


Ia hanya menjawab semua pertanyaan Linggar dengan deheman, agar tidurnya terkesan natural.


Dan saat Linggar mengatakan kalimat sayang, ia hampir saja membuka mata karena terkejut, beruntung masih bisa ditahannya. Akhirnya pira itu mengatakan perasaannya.


Ia ingin sekali protes saat pria itu berkata diam berarti iya. Keputusan dari mana itu? Memang ada pria nembak cewek saat tidur. Ya adalah, salah satunya Linggar kan. Pria yang baru saja resmi menjadi pacar atau kekasihnya.


Ok, kita lihat besok saat bertemu di kampus, saat mereka dalam keadaan sama-sama sadar. Apakah pria ini berani


untuk mengungkap perasaannya atau tidak.


Malam ini, berarti ia telah memiki kekasih resmi lagi, dan bukan kekasih palsu. Entah apakah ia benar-benar


tersenyum saat ini, yang jelas ia merasa lucu dengan tingkah Linggar dan proses jadian mereka.


Ingin sekali mengintip melihat wajah Linggar, tapi disini ia baru saja tersadar jika bahonya terekspos karena


rasa dingin yang ia rasakan. Ya ampun, pasti Linggar sedang melihatnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?


Mencoba menggel!at, semoga saja terlihat alami. Ia berhasil menutupinya. Dan ini sangat memalukan. Ia kembali


menggel!at untuk menutup wajahnya. Alhasil pria diseberang sana tak hentinya memohon untuk membuka selimutnya, jika tidak pria itu mungkin terus mengoceh tanpa henti.


Arman  masuk menerobos kamar Linggar. Betapa kesalnya ia setelah menunggu beberapa lama ternyata mendapati pria itu tertidur dengan tenang di kamarnya.


Lah, ngapain dia suruh kita nunggu sementara dianya sendiri enak-enakkan tertidur.


“Ya, ampun ni bocah gak ada akhlak. Bilang kek kalau mau tidur! Susah amat.”


Tak berniat untuk mencari tahu lebih jauh, hanya ingin memindahkan ponsel sahabatnya ke nakas. Namun


pandangannya menangkap sosok wajah gadis yang kini sering bersama Linggar.


Rindi, gadis yang kini digosipkan telah menjadi kekasih Linggar. Dan peristiwa ini semakin menguatkan prasangkanya tentang hubungan Linggar dan Rindi.


“Dasar bucin. Padahal tadi udah ketemuan di kampus, gak ada puas-puasnya. Mau tidur juga harus saling pandang.”


“Coba-coba, siapa tau aku juga bisa tidur kalau liatin mukanya Rindi!”


Ia terus mengamati wajah kekasih sahabatnya itu.


“Emm, cantik. Pantas saja mereka klepek-klepek. Begonya aja si Fery sia-siain nih cewek.”


Sambungan telpon akhirnya terputuskan tanpa sepengetahuan para penelpon.


To Be Continued!


Jangan lupa likenya.


Hanya sebuah sentuhan jari mampu membuat Dinda melayang.


Dan buat kalian yang telah memberikan sentuhan jari, Dinda ucapkan banyak-banyak terima kasih.


**Emmuah! **


**Emmuah! **

__ADS_1


**Emmuah! **


__ADS_2