
Cerita ini hanya fiksi belaka.
Cerita ini berdasarkan hasil pemikiran dan ide-ide author.
Ambil baiknya dan buang buruknya.
Konflik yang diciptakan hanya untuk menambah daya tarik pembaca. Dan tidak untuk di tiru.
Dosa dan hukuman pembaca tanggung sendiri.
Halusinasi, imajinasi dan segala bentuk yang bersifat hayalan dan mimpi di perkenankan.
Dan mohon maaf, jika konflik yang tercipta hampir mirip dengan beberapa kisah nyata di luar.
Selamat membaca!
Dan jangan lupa oleh-olehnya.
\===========
Maaf, kali ini ia tak bisa menahan diri untuk tidak menanamkan diri kembali.
Perlahan namun pasti ia mulai menyibak tirai pembungkus Rindi bagian atas. Berikut sentuhan pelan nan lembut yang entah mengapa membuat seluruh tubuh meremang dan menggigil.
Bahkan jantungpun mulai berpacu dengan dentingan jam yang tertempel di dinding.
Hati memberontak, namun tubuh menginginkan lebih.
Tanpa adanya perlawanan atau bahkan larangan semata dari sang pemilik diri.
Hingga akhirnya Rindi benar-benar telah menjadi miliknya seutuhnya, sepenuhnya dan keseluruhan tanpa batas.
Dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, Rindi adalah milik Linggar.
Nampak dari wajah Rindi jika iapun turut menikmati rasa aneh nan menggelikan yang menyerang seluruh titik organ, membuat Linggar semakin semangat dalam aksinya. Dan tanpa butuh waktu lama penyemaian keduapun diselesaikan dengan baik.
Rindi
Linggar pria baik, itu tak bisa dipungkiri. Dia juga tampan, dan paling mengagumkan adalah dirinya adalah seorang yang juga masuk dalam daftar incaran para gadis-gadis kampus.
Tapi jika boleh jujur, meskipun pria itu sangat perhatian dan menyayanginya, Linggar bukanlah tipenya. Tak pernah menyinggung tentang ibadah. Dan cenderung bersikap seenaknya.
Bahkan beberapa kali ia mendapatkan sebungkus rokok tergeletak di mobil. Memang tak pernah melihat pria ini mengkonsumsi tapi dengan melihat perwujudan benda itu, bisa dipastikan pria ini doyan atau bahkan telah menjadi candu.
Sangat jauh berbeda dengan Iqram.
Pria pendiam yang selama ini bukan hanya memperhatikan dirinya. Tapi juga mampu menarik diri dan hatinya untuk turut memberi perhatian balik dan seolah ingin memiliki.
Salahkan dirinya jika membandingkan ke dua orang ini?
Apakah dirinya salah jika menginginkan jodoh yang jauh lebih baik dari yang ada di hadapannya sekarang menurut sudut pandangnya.
Sama seperti gadis lain yang menginginkan seorang pria yang baik pula untuk menjadi suaminya. Ia ingin pria yang jauh lebih memahami agama, yang mampu mengayomi dan mampu jadi teladan bagi dia dan anak-anaknya kelak.
Yang menegurnya ketika khilaf dan membimbingnya ke jalan yang lebih baik.
Terbayang saat indah jika kelak jodohnya seperti yang ia inginkan.
Lelaki yang mampu berdiri di depannya seraya mengumandangkan takbir sementara ia berdiri di belakang
mengikuti setiap gerakan sang imam hanya dengan mendengar kata komando.
Setelah itu, duduk sambil mendoakan seluruh keluarga. Dan lalu imamnya itu berbalik ke arahnya sambil mengulurkan tangan kanan, maka akan ia sambut dengan uluran tangan pula. Tak lupa mencium punggung tangan imamnya. Setelah itu, giliran sang pria yang mengecup keningnya.
Dan jika mereka kelak memiliki anak, maka suaminya akan mengajarkan anak-anak mengaji. Lalu ia bertugas menyiapkan makan malam untuk seluruh keluarganya.
Ahhhh.... Romantis ala khayalannya.
Dan Linggar bukanlah lelaki yang patut ia tempatkan dalam posisi itu. Linggar tak layak, bahkan tak kan mampu
__ADS_1
seperti itu.
Linggar tampan, tapi bukan itu yang kini menjadi tolak ukurnya. Tapi lebih mengharapkan Iqramlah yang jadi
pendampingnya.
Namun dengan keadaannya seperti sekarang ini. apakah Iqram mau menerimanya?
Mungkin tidak. Iqram juga pasti mencari seorang wanita yang layak untuk dirinya, bukan wanita kotor seperti dirinya kini.
Mereka kini telah berbeda.
Tangannya terlalu hina untuk mampu menggapai seorang seperti Iqram.
Nasi telah menjadi bubur.
Dirinya kini telah milik Linggar. Jika ingin lari, apakah masih ada yang mau menampungnya.
Betapa besar yang harus Rindi bayar, hanya karena sempat bermain dengan kesetiaan.
Dan entah setan apa yang kini merasukinya hingga dengan bodohnya ia membiarkan Linggar menyentuhnya berkali-kali. Menyemai benih di dalam rahimnya. Bahkan Linggar yang tanpa ragu mengharapkan bibit yang ditanam itu tumbuh di sana.
Diantara rasa sakit, lelah dan ia lebih memilih menikmati setiap sentuhan Linggar pada dirinya. Bukan munafik tapi sentuhan itu sangat lembut jauh lebih lembut dari sebelumnya.
Ini gila!
Sungguh gila!
Ia tak lagi mampu menolak pesona Linggar.
Memabukkan, melenakan.
Terlebih saat kedua pandangan mata bertemu, seperti terhipnotis.
Senyuman yang disuguhkah Linggar membuat diri semakin tenggelam dalam pusara keindahan.
Setelah itu, wajah kembali saling menempel.
Bahkan mampu menyambar gairahnya hingga hanya mampu memasrahkan diri tanpa menghalangi atau melarang Linggar meneruskan aksinya. Ia lupa jika sebelumnya ingin menekan leher Linggar. Kini ia berharap Linggar tetap melanjutkan aksinya, tanpa berhenti.
Ah...., Indah!
Nikmat!
Meski sadar jika semua ini adalah kesalahan.
Kesalahan yang sangat fatal, dan ia mungkin tak tahu apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya.
Kehamilan? Mungkin saja.
Dan kembali membuatnya lelah hingga rasa kantuk kembali menyerang. Apakah semua orang seperti dirinya yang
kelelahan setelah melakukan hal seperti itu?
Padahal jelas sekali jika tak melakukan apa-apa selain pasrah. Ia tak bisa lagi menahan matanya untuk tidak tertutup. Meskipun untuk kembali tidur berdampingan dengan Linggar ingin sekali ia hindari.
\====
Dengan pakaian lengkap Linggar telah duduk di samping Rindi, menunggunya terbangun dari tidur. Menatap lekat tubuh polos yang terbalut dengan selimut hingga ke lehernya.
Rindi menggeliatkan tubuh membuat selimut bergerak turun hingga memperlihatkan pundak putih mulusnya.
Hanya dengan sekali pergerakan saja, mungkin Linggar akan disunguhkan pemandangan indah nan menggoda jiwa. Dengan segera Linggar memperbaiki letak selimut Rindi agar kembali menutup hingga ke lehernya. Ia mungkin akan kembali lepas kontrol jika saja pemandangan itu sampai terlihat.
Sentuhan ringan di pucuk kepala, berikut kecupan singkat di kening lalu berpindah ke pipi.
Wanita yang masih terlelap ini bukan lagi pacarnya melainkan calon istrinya.
Linggar tersenyum saat melihat Rindi membuka mata dan menatapnya.
__ADS_1
Tak adakah rasa bersalah pada pria ini?
“Sudah bangun?” Ucapnya dengan lembut tak lupa kecupan singkat kembali di kepala Rindi. Tak pernah bosan, dan tak kan bosan.
“Mau mandi?” Kembali bertanya dan kembali mendekatkan diri pada Rindi. Kini kecupan saja tak cukup baginya.
Perlahan namun pasti menyibak selimut yang menutup tubuh Rindi dan dirinya kini telah bergabung masuk ke
dalam selimut dengan keadaan bertumpuk.
Setelah mendapatkan Rindi seutuhnya, dirinya seolah ingin terus mendapatkan dan mengulang hal yang indah bersama. Apalagi setelah melihat ekspresi Rindi yang turut menginginkan dirinya.
Mulai kembali memposisikan diri, tak lupa sentuhan menghanyutkan diri yang sulit untuk dicegah. Terlebih lagi
keadaan Rindi yang masih polos, sangat menyiksa jiwa jika dilewatkan begitu saja.
Entah ini menjadi candu tersendiri baginya atau hanya memang ia adalah pemuja berat RIndi.
Namun tidak bagi Rindi, sudah cukup kebodohannya membiarkan Linggar. Ia tak ingin jatuh kembali dalam lubang
yang sama. Meski tak bisa ia pungkiri, sentuhan itu sangat menyesatkan, memabukkan dan kembali melenakan.
Bahkan ia harus mencoba memaksakan diri untuk tidak ikut masuk ke lembah kenikmatan.
“Kak, sudah cukup!” Lirih Rindi.
“Kumohon hentikan!” Kembali harus memaksakan untuk mengeluarkan suara yang berarti. Setelah sekian lama yang terdengar hanya suara tanpa arti namun semakin menyesatkan pendengarnya.
“Kak, aku akan bunuh diri kalau kakak tidak berhenti!” Karena Linggar tak terlihat ingin menyudahi aksinya. Terus menyapu, menggenggam dan merem@s.
Haruskah ia mengancam hanya untuk menghentikan Linggar, andaikan ia tahu sejak awal mungkin ia akan mengancam seperti ini terlebih dahulu.
Linggar masih menatap Rindi dengan sendu, meski harus menekan gelora yang kembali beranjak naik.
“Aku capek, aku lelah!” Rindi yang mulai mengeluhkan keadaannya. Dan kini hampir menangis.
Namun bukan hanya itu saja. Ia ingin mengeluh tentang statusnya saat ini.
“Maaf, aku tak bisa mengendalikan diri.” Kembali merebahkan diri di samping Rindi dengan tangan menjulur di perut gadisnya.
Meskipun masih harus mengatur napas dan menata detak jantung yang sangat keras namun ia harus segera bangkit dari sana, karena pesona Rindi sungguh sangat memikat.
“Mau mandi?” Linggar mulai beranjak, memberikan bathrobe untuk Rindi.
Dengan perlahan dan masih dibantu oleh Linggar, mencoba memakai bathrobe untuk menutupi tubuhnya.
“Aku bantuin!” Mengulurkan tangan membantu Rindi menuju ke kamar mandi.
Sayangnya usahanya seolah tak disambut baik oleh sang kekasih yang lebih memilih menepis tangannya. Membuat Linggar hanya terpaku memandang setiap tingkah dan perilakunya.
Rindi berusaha bangkit meski harus memaksakan diri. Ia harus segera meninggalkan tempa luck nut ini. Berlama-lama di sini, bisa membuat dirinya kembali diterkam oleh singa kelaparan.
Pelan-pelan melangkahkan kakinya meninggalkan kasur yang telah terhiasi warna merah miliknya.
Ah... perih! Sakit!
To Be Continued!
Jangan lupa jarinya di goyang yah!
Minta sumbangan likenya dong!
Duh ngantuk.
Ada kopi gak?
Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.
Yah!Yah!Yah!Yah!
__ADS_1
Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.