Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Mencari Kekasihnya


__ADS_3

Ada apa? Salahnya apa? Rindi kenapa?


Hingga membuat Rindi seolah menghindar padanya.


Begitu banyak pertanyaan yang kini berterbangan di atas kepalanya.


Rindi hanya beberapa kali terlihat menyisipkan tubuhnya di antara kerumununan mahasiswa. Atau menuju ke


kelas saat dosen telah masuk terlebih dahulu.


Bahkan hanya untuk bertatapanpun seolah sulit bagi Linggar. Dan beberapa kali ia melihat sosok pria yang sama


berada di samping Rindi. Atau berdiri tak jauh dari Rindi sambil mengawasi gerak-gerik Rindi lalu berganti menatap wajahnya.


Ada apa lagi ini? Siapa pria yang


sok-sok-an menjaga kekasihnya itu?


“Rindi mana?” Pertanyaan yang beberapa kali ia lontarkan pada teman-teman Rindi. Namun ia tak mendapatkan


jawaban yang memuaskan.


“Lagi sama Lilis kak.” Tantri.


Iapun tahu jika Rindi lebih banyak menghabiskan waktu dengan Lilis tapi di mana? Dan juga bersama dengan


arrrggggg...... mengesalkan!


“Kamu yakin mereka gak punya hubungan spesial gitu?” Arman saat Linggar meminta pendapatnya tentang kelakuan Rindi saat ini.


Sudah hampir seminggu mereka seolah tak bersua.


“Gak tau juga. Mungkin tuh cowok sepupunya atau tetangganya, atau apalah?”


“Apa dia selingkuh? Kalau memang cowok itu hanya sekedar teman atau sepupu atau apa kek, Rindi gak perlu


menghindar kayak gitu deh!” Arman mengeluarkan statementnya.


“Aku masih percaya Rindi sebelum itu keluar dari mulutnya sendiri.” Yang masih meyakini kesetiaan kekasihnya.


Duduk dengan menopang kepalanya dengan kedua tangan yang bertumpu pada ke dua pahanya. Menunggu sosok Rindi meskipun hanya melintas karena dosen telah terlebih dulu masuk ke kelasnya.


Apa yang ada dipikiran gadis itu?


Dia pikir, dia anak pemilik kampus harus masuk setelah dosen masuk terlebih dahulu?


Ini tak boleh dibiarkan.


Sudah terlalu lama baginya. Dan terlalu berlarut-larut.


Linggar masih mencari kekasihnya.


Dengan berani akhirnya iapun datang menyambangi rumah Rindi. Meskipun akhirnya ia harus kecewa mendengar


penjelasan ibu yang katanya Rindi sedang ke kampus bersama Lilis karena sebuah acara.


Hah, yang benar saja.


Acara apa? Saat mereka semua libur di akhir pekan?

__ADS_1


Tapi tak mungkinkan ibu Rindi berbohong hanya karena mengikuti pinta anaknya.


“Acara apa ya bu?” Tanyanya penasaran.


“Pengajian di masjid besar kampus katanya. Akhir-akhir inikan memang di rajin tuh ikut pengajian. Pengen insaf


kayaknya.” Sambil tertawa membayangkan tingkah Rindi.


Linggarpun turut tertawa meskipun sedikit terpaksa meskipun dalam otaknya masih memikirkan banyak hal tentang kekasihnya.


Tapi tunggu. Apa kata ibu tadi? Pengajian? Masjid besar kampus?


Kini ia harus menjemput kekasihnya itu di sana.


“Emm, saya pamit pulang dulu ya bu.”


“Di minum dulu tehnya nak!”


“Terima kasih bu.” Ia akhirnya menghabiskan teh hangat yang masih benar-benar hangat itu. Emmm, manis. Cukuplah buat meredam rasa penasarannya pada Rindi. Namun ia bersyukur masih mendapatkan perlakuan hangat dari wanita yang baginya calon mertuanya itu.


Ia sedikit tercengang melihat keadaan parkiran masjid besar kampus yang memang terlihat lebih ramai dari biasanya.


Sedikit bingung harus memarkirkan mobilnya di mana? Untuk mencari posisi motor Rindipun mungkin membutuhkan waktu yang tidak sedikit, saking ramainya.


Setelah memarkirkan mobilnya di luar pintu gerbang masjid, Linggarpun turun dengan kepala yang terus berputar-putar mengamati situasi di sekitaran masjid. Langkahnya yakin menapaki jalan paving blok menuju ke dalam masjid.


Seseorang telah mengarahkannya untuk ikut duduk bersama mahasiswa lain di lantai dua. Namun ia harus kecewa


karena ternyata kaum perempuan bertempat di lantai dua.


Pandangannya menangkap satu sosok yang ia kenali. Seorang pria yang juga sempat mengusik hatinya. Mengusik dengan rasa cemburu karena pria ini beberapa kali terlihat di dekat Rindi.


Entah apa hubungan mereka. Ah ia lupa untuk menanyakannya tadi pada ibu saat berkunjung ke rumah Rindi.


Pc, hatinya kembali di hantui dengan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan baru.


Rindi mengikuti pengajian ini hanya untuk pria itu? Benar kah?


Beberapa waktu lamanya bertahan di antara para jamaah sambil mendengarkan kata perkata dari sang pensyarah


ternyata membuat matanya seolah di elus-elus.


Ditambah lagi dengan keadaan ruangan yang terasa sejuk, seolah menambah kesan tubuhnya yang terasa tertarik


ke alam mimpi. Mungkin ini adalah salah satu devinisi jika agama itu indah.


Linggar memilih ke luar menuju ke teras masjid sebelum kepalanya terserang pening karena menahan kantuk, toh yang ia cari juga tak bisa ia temui di sana.


Mendudukkan diri sambil bersandar di dinding. Ternyata menunggu itu sangat membosankan. Merogoh saku celananya mencari pegangan buat teman saat menunggu.


“Assalamualaikum kak, gak masuk?” Seorang gadis berhijab dengan terusan rok hingga menyentuh lantai.


“Gak, cuma nungguin pacar.” Jawabnya jujur.


“Oh."


“Silahkan dinikmati kak,” Gadis itu kembali dengan meletakkan sebuah kotak makanan di samping Linggar.


“Terima kasih,” dibalas dengan anggukan dan senyuman manis dari sang gadis.

__ADS_1


Tak ada kegiatan lain, membuat Linggar membuka kotak kertas yang berada di sampingnya hanya ingin mengobati


rasa penasarannya.


Nasi lengkap dengan ayam goreng kecap dengan sayur dan air minum kemasan gelas. Linggar memilih mengambil air mineral untuk menghilangkan dahaga saat berhadan dengan area parkir yang menyilaukan mata.


Entah berepa lama ia menunggu hingga satu persatu manusia dari dalam masjid keluar dengan membawa kotak yang sama seperti yang berada di sampingnya.


Rasanya cukup lama, ia menunggu sambil menatap satu persatu orang yang terus keluar dari arah dalam masjid.


Namun orang yang justru ia nantikan tak kunjung terlihat, membuatnya berdecak kesal.


Ia sempat menoleh ke dalam masjid tinggal beberapa orang yang terlihat sibuk membereskan sisa-sisa acara.


Apakah Rindi ikut jadi panitia juga?


Ataukah pandangannya tadi sempat lalai hingga tak melihat tubuh Rindi yang memang mini diantara kerumunan orang?


Heh, ia kembali berdiri dari duduknya yang entah sudah beberapaki terulang saat menangkap sosok Rindi dan


Lilis berjalan keluar dari arah pintu samping bersama......?


Pria itu lagi.


Ia harus menanyakan langsung pada Rindi tentang siapa dan apa hubungan mereka berdua. terlalu akrab untuk di


sebut sebagai teman biasa.


Dalam beberapa waktu terakhir ini, Rindi lebih sering terlihat bersama pria itu dibandingkan dengan dirinya yang justru harus membutuhkan tenaga dan waktu ekstra hanya untuk mencari keberadaan Rindi.


Menurutnya, Rindi benar-benar keterlaluan. Ia yang setengah mati menahan bosan karena menunggu, justru


mendapatkan Rindi sedang berjalan dengan pria lain.


Ingatannya melayang pada Arman yang meyakini jika Rindi dengan pria itu terlibat satu hubungan. Yang justru


tak diterima oleh akalnya sendiri.


Tidak mungkin Rindi selingkuh darinya. Itulah kepercayaan yang ia pegang hingga saat ini.


Iapun mulai melangkahkan kak lebih panjang. Tanpa permisi tubuhnya menyerobot barisan diantara Rindi dan


Iqram. Langsung menyambar tangan dan menggenggamnya erat segera berlalu tanpa kata membawa Rindi ke arah mobilnya.


Yang di tarik hanya terdiam dalam bingunggnya, mengapa bertemu Linggar di sini?


 


To Be Continued!


Jangan lupa jarinya di goyang yah!


Minta sumbangan likenya dong!


Duh ngantuk.


Ada kopi gak?


Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.

__ADS_1


Yah!Yah!Yah!Yah!


Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.


__ADS_2