
"Bunda," Linggar pelan, namun dari intonasi dan ekspresinya seperti memendam sesuatu yang sangat penting.
Berkumpul dengan keluarga setelah makan malam adalah sesuatu yang jarang dilakukan Linggar. Masuk kamar, mengerjakan apa saja, termasuk chat-an dengan Rindi adalah rutinitas yang sesungguhnya.
Menarik napas dalam, berupaya mengendalikan ekspresi sambil mengatur susunan kata yang akan ia ucapkan.
"Bun," Masih ragu dengan maksud yang hendak diutarakannya.
"Kenapa sih?" Bunda yang rupanya merasakan dirinya akan diinterogasi. Tahu jika yang ingin dibicarakan putranya itu mengenai apa.
"Bunda suka samaaa,.... Siapa sih namanya? Lupa aku." Ucapnya jujur apa adanya. Nama itu benar tak pernah singgah di hati dan otaknya.
"Ck, namanya A-DI-BA, cantikkan orangnya? Lembut, berpendidikan, terus agamanya bagus lagi. Apanya yang kurang coba?" Nadanya langsung saja kesal.
Linggar yang telah dua kali menolak hanya untuk berkenalan dengan gadis andalannya itu, membuat bunda geram sendiri.
"Bunda ngebet banget sih?" Mencolek sedikit, senyum dan lirikan menggoda dipersembahkan biar kesalnya bunda minggir sedikit.
Tak ingin bunda menebak sendiri dengan segala kemungkinan asumsi yang bisa tercipta.
"Bun, jangan terlalu nampak gitu dongggg. Kayak aku gak laku aja." Linggar.
"Emang gak laku." Suara bunda terdengar sangat bersemangat, padahal Linggar adalah putranya.
Heh, gak gitu juga kali bunnnn. Selow kan bisa.
"Bukan gak laku bun. Tapi memang pintu jodoh belum terbuka, ya sabar aja!" Linggar.
"Tapi jangan digituin juga dong. Akukan malu."
__ADS_1
"Halaaaah malu apaan. Bunda hanya ingin kamu segera menikah, dan menjalankan rumah tangga seperti yang lainnya. Ingat umur akan terus bertambah. Semakin hari kamu semakin tua, semakin susah nyari jodohnya." Bunda ngoceh puanjaaan banget.
"Iya--iya, Linggar ngerti bun." Mengalah, demi keutuhan negeri.
"Nanti Linggar carikan anak menantu yang baik buat bunda. Tapi bukan bu guru bun." Mulai bernegosiasi.
"Kenapa?" Lirikan mata semakin terasa mengiris.
"Bu guru terlalu sempurna buat Linggar." Pujian harus tetap ada, biar bunda gak langsung nyalahin dia.
"Belum tentu juga Bu guru menyukaiku. Jika aku yang ditanya, aku suka bun tapi tidak Mencintainya."
Bunda hanya mencibir mendengar kata-kata Linggar.
" Ada apa sih?" Ayah yang belum tahu apa sebenarnya yang terjadi.
"Bunda mau jodohin aku sama bu guruuuu,.... Siapa bun?" Kembali nama sependek itu ia lupakan.
"Benaran bun, lupa. Sumpah deh!" Mengacungkan simbol dua jari dengan raut wajah serius. Nama itu terlalu susah bagi lidahnya.
" Coba bayangkan jika Bunda menjadi orang tua bu guru. apa bunda mau menikahkan anak perempuan Bunda dengan seorang pria brengsek seperti aku?"
"Maksudnya aku duda loh bun." Ralat, tak ingin ayah bunda mengetahui masa lalunya yang sesungguhnya, meski sebenarnya bunda telah mengetahui.
"Dia gak tahu kamu duda juga." Bunda.
"Ya, trus gimana kalau dia tau kalau aku duda?" Nada pelan, tapi ada yang teriris di dalam sana.
"Orang tuanya udah ngasih yang terbaik buat putrinya, berharap bisa mendapatkan pendamping yang baik pula. Bukan seperti aku bun. Aku sadar, gak pantas buat dia." Nada semakin menurun, baru kali ini ia merasa insecure dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Kepala telah menunduk, benar kini ia tak percaya diri. Hanya berharap sebuah pengertian dari kedua orang tuanya.
Sang ayah mampu menangkap kegelisahan putranya, menggenggam tangan bunda. Entah itu adalah bentuk suport, memberikan kekuatan atau tengah menahan bunda berkata.
"Sudah biarkan dia memilih pasangan hidupnya sendiri. Linggar sudah dewasa, tau mana yang baik untuk dirinya sendiri. Terlebih lagi, kehidupan itu dia akan menjalaninya, bukan kita bun."
"Bunda suka, belum tentu Linggar suka. APalagi rumah tangga bukan hanya sekedar suka, tapi butuh cinta, pegertian dan saling menghargai." Ayah panjang lebar masih menggenggam tangan bunda, bahkan semakin erat di kalimat terakhir.
"Ya udah, bunda gak akan jodoh-jodohin kalian lagi deh. Tapikan bunda suka sama bu guru." Bunda sambil memasang wajah selimut mungkin. Berharap Lingga memikirkan dulu dan menerima permintaannya.
"Linggar janji akan segera bawa calon mantu buat bunda sama ayah." Wajahnya kini kembali berseri.
"Hemmm, ayah percaya sama pilihanmu. Bunda?" Ayah hanya ingin mengikut sertakan bunda, jangan sampai merasa tak dihargai.
"Iya, bunda juga. Akan terima dia." Meski wajah masih cemberut tapi tetap mendukung sang putra sesuai permintaan suaminya.
"YESSSS, tunggu aja. Bunda pasti suka." Ucapnya dengan kerlingan mantap ke arah sang bunda.
Ayah hanya mencibir saat mendengar anaknya dengan penuh percaya diri.
Suka, ya pasti sukalah, jika wanita itu nanti benar menjadi menantu mereka.
\=========
To Be Continued!
Lagi-lagi dinda kasi double up.
Jangan lupa semangatnya temang-temang semua.
__ADS_1
Buat yang udah kirim bunga sama kopi, Lope Yu! Lagi dong! Hihihihihi.