
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu kamar Rindi diketuk dari luar.
"Kakak masuk ya dek?"
Belumpun sempat Rindi menjawab gagang pintu itu telah ditekan dari luar. Rindi membuka mata, saat Reno masuk ke kamarnya. Kepala masih menyisakan pusing meskipun tak seperti rasa yang kemarin.
"Sarapan dulu!" Ucap pria itu sambil tersenyum.
Mungkin ini salah satu alasan pening kepalanya sedikit mereda, kehangatan dan perhatian keluarga.
"Kakak mau kerja dulu, gak bisa suapin kamu. Kamu makan sendiri aja yah! Bisa kan?" Meletakkan nampan yang di atasnya ada piring yang berisikan nasi goreng beserta telur ceplok dan tempe goreng. Tentu saja harus ada sambal buatan bapak yang teristimewa.
Rindi hanya mengangguk, membangunkan diri yang tadinya kembali berbaring setelah shalat subuh. Ingin tidur, tapi mata tak bisa terpejam, mungkin karena sudah cukup tidur sejak kemarin.
"ingat pesan dokter, gak usah terlalu banyak mikir. Pekerjaan disimpan dulu, fokus istirahat aja dulu!"
"Emang kerjaan kamu di kantor apa sih? Berat yah?" Kali ini tubuh Reno telah terduduk di dekat adiknya setelah membantu memperbaiki letak bantal untuk adiknya.
"Kalau kamu mau pindah, bilang aja. Kakak carikan posisi yang cocok untuk kamu di kantor, bagaimana?"
"Sayang, ayo! Nanti telat lagi!" Suara itu berada tepat di gawang pintu. Iparnya tengah melemparkan senyuman.
"Ara mana kak?" Rindi memandang ke arah kakak iparnya.
"Bobok lagi, tadi ikut bangun waktu shalat subuh sama ibuk." Diiringi kekehan ringan dari wanita itu.
Reno kembali menatap Rindi pun sambil tersenyum.
"Pasti ngantuk lagi dia. Ibu sih, heboh benget bangunin nya."
Kali ini kepalanya mengeleng-geleng ringan saat mengingat ibu yang membangunkan mereka dengan menggedor-gedor pintu kamar, disertai kata, "BANGUUUUNNNN," Dengan nada yang sedikit naik.
Padahal ini jaman modern, cukup dengan menyetel alarm di ponsel masing-masing sebagai pengingat waktu. Yang kadang di bisa dimatikan sendiri oleh sang pemilik ponsel lalu kembali tidur.
"Ya udah, kakak berangkat yah?" Sambil beranjak, mulai berjalan mendekati sang istri yang masih berada di pintu kamar.
"Jangan lupa minum obat!" Reno kembali berbalik.
"Gak usah mikir macam-macam! Gak usah mikirin cowok dulu, berkarier aja dulu!" Itu petuah dari kakak iparnya.
"Ngomong apa sih?" Reno menyentil hidung istrinya, kembali berbalik menatap Rindi yang seketika itu terlihat menatapnya dengan sendu.
Dari pada menatap mata kakaknya, Rindi lebih memilih menundukkan kepala. Pandangan ke arah jemari yang saling bertautan memijit-mijit. Memang benar itu karena ulah seorang pria.
Bully-an yang ia terima lagi-lagi karena Linggar.
Melihat tingkah adiknya itu, terang sekali sedang menyembunyikan gugup.
__ADS_1
"Benar gara-gara cowok?" Mendengar pertanyaan itu, Rindi terlihat salah tingkah. Pun dengan kakak iparnya. Padahal tadi pertanyaan itu hanya digunakan untuk bercanda saja. Tapi nada bicara Reno telah berubah, menjadi dingin dan sedikit marah.
"Bu-bukan, kemarin aku salah input. Salah pencet nomor, jadi kena audit. Dibilang mau korupsi!" Nadanya sudah terdengar serak. Matanya sudah tergenang.
Padahal peristiwa itu, sudah lumayan lama. Tapi ia tak memiliki alasan lain selain itu.
Sementara Reno tak melemah sedikitpun, terus memandang sejurus mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.
Kepala Rindi sedang bekerja keras, bimbangpun melanda.
Apa ia jujur saja, jika sekantor dan kembali dekat dengan Linggar?
Atau minta tolong saja, untuk membayar penalty pada perusahaan agar ia bisa mengundurkan diri saja.
"Udah ah, jangan nambah beban Rindi, kasihan dia. Nanti sakit lagi gimana? Kan kamu juga yang repot suapin dia lagi kalau mau makan!"
Ck, iparnya itu sama sekali tak tahu cara bercanda. Mungkin memang hidupnya terlalu kaku seperti besi.
Tapi berkat wanita itu, Reno akhirnya menghilang, seiring dengan kedipan mata wanita yang disampingnya.
Selamat! Selamat! Selamat!
Hati sedikit melega melihat sepasang suami istri itu berlalu dari kamarnya.
Oh ya, apa kabar dengan ponselnya.
Sejak kemarin, ia tak pernah memegang barang kebutuhan sehari-hari itu. Jaman seperti ini, tak afdhol rasanya melewati hari tanpa memegang ponsel.
Beranjak meraih tas yang telah bunda sampirkan di belakang pintu. Ponselnya masih di sana.
Terlihat di layar banyak sekali panggilan masuk, pun dengan pesan.
Membuka pesan, ada apa di sana?
Kamil mendominasi. Dibukanya, terlihat serentetan pesan diterima. Kebanyakan kata maaf.
"Rindi, maaf! Aku gak tahu!
"Rin, kamu marah yah sama kita-kita, maaf!"
Dan masih ada beberapa lagi, yang initinya ada kata maaf dari tiap pesan tersebut.
Lalu apa yang harus ia tulis untuk membalas pesan itu?
\========
"Rindi mana?" Linggar yang telah memasuki ruangan accounting staff B, yang dulu juga merupakan tempat kerjanya. Kini tidak lagi.
"Rindi sakit, ada Surat Keterangan dari Dokternya." Mbak Tia dengan ketusnya. Hanya sebentar saja, wanita itu melirik Linggar kembali larut dalam pekerjaan yang seolah sedang kejar-kerjaran.
"Nggak usah macam-macam kita kekurangan tenaga." Masih dengan nada ketus.
Pekerjaan menumpuk, dan mereka tengah kekurangan tenaga, kepindahan Linggar dan ketidak hadiran Rindi menjadi penyebabnya.
__ADS_1
Ditambah lagi ia yang ditunjuk Sebagai Pejabat Sementara, menggantikan Linggar yang dimutasi dengan posisi lebih tinggi. semakin membuat emosi serasa menanjak ke ubun-ubun.
Linggar terus berjalan menuju ke sudut kanan ruang. menghempaskan tubuh pada mantan kursi kerjanya.
Mungkin pria itu sedang Lenggang, memiliki waktu untuk sekedar berjalan-jalan.
"Kalau memeng masih ada cinta kenapa gak rujuk aja?" Nadanya masih sedikit kesal. Sedikit lirikan mata ke arah pria yang pernah menjadi bosnya itu.
"Ini juga lagi usaha mak. Eh, gak tau ada masalah kayak gini lagi." Linggar memutar-mutar mantan kursi kerja yang belum berpenghuni itu. Menyandarkan kepala menatap awang-awang. Rasanya masih ingin berada di ruangan ini, bekerja sambil melirik ataupun mencuri ciuman pada Rindi.
"Makanya gak usah terlalu tebar pesona." Kali ini penuh dengan penekanan, entah kenapa kesal semakin melanda. "Gak usah PHP-in anak gadisnya orang jugaaaaaa." Setiap kata diucapkan dengan wajah yang beberapa kali maju ke depan.
"Sok ganteng! Sok Laku!" Masih dengan nada kesal bin jutek.
"Hehehehe," Linggar hanya tersenyum melihat Mbak Tia yang mengomelinya. Apa tadi yang dia bilang? "Sok ganteng! Sok Laku!"
Heh, meskipun sekarang dia tidak laku tapi setidaknya pernah laku kan.
"Kalian gak ada niat jengukin RIndi?" Ucapannya itu seolah menjadi aba-aba pada semuanya. Berharap ia bisa ikut menyelinap pada barisan itu saat menjenguk mantan istrinya itu. Rasa rindu dan bersalah kian menyiksa jiwa.
Mereka berhenti sejenak dari pekerjaan, memandang ke arah Linggar dengan tak merubah posisi masing-masing, seperti terhipnotis.
"Kenapa?" Memandang satu persatu warga yang berada di sana. "Apa RIndi bukan teman kalian lagi?"
Semuanya seperti mematung, napas tertahan.
Hari-hari kemarin mereka menjauhi RIndi karena menyebut Rindi sebagai teman yang tak setia, yang tega menikung teman sendiri.
Bahkan mereka adalah salah satu dari sekian banyak orang yang membully Rindi. Hingga gadis itu sakit. Sangat meyakinkan pemikiran yang banyak, membebani gadis itu.
Itu Sebelum mengetahui yang sebenarnya bahwa Rindi adalah mantan istri Linggar.
Tak bisa membela diri masing-masing, mereka semua salah.
"Kenapa?" Lirih Linggar saat tak mendapati satupun jawaban. Justru yang ada, Kamil memilih menundukkan kepala, mengalihkan pandangan dari Linggar yang tengah menyebarkan pandangan satu persatu pada mereka.
"Pak Linggar, maaf!"
Hanya kata maaf yang ia terima dari Kamil, telah mampu menggiring opininya kemana arah pembicaraan pria tersebut. Konflik yang terjadi diantara Citra dan Rindi berujung pada pecahnya team kerja.
Mereka yang di sana lebih memilih merapat ke Citra dari pada Rindi.
Heeeh.
Hembusan kasar terdengar seiring bangkitnya Linggar dari tempat duduknya.
Kecewa pasti ada.
Rasa bersalahpun tetap bertamu.
Kesal kenapa teman-temannya lebih memilih Citra dari pada Rindi.
Biar bagaimanapun, ia masih lebih mengutamakan Rindi.
__ADS_1