
"Minum obat yah!"
Linggar mengangguk seperti anak kecil. Bahagia membanjiri hati saat Rindi terus melayaninya dengan lembut dan sesekali tersenyum.
Gigi ginsul dan pipi yang chuby dengan kulit halus lembut sesalu saja mampu mengalihkan dunianya.
Manis, tak lekang oleh waktu, pun dengan cintanya yang terus saja bertambah pada sang wanitanya tak berkurang sedikitpun.
Manja, mungkin memang dirinya manja. Tapi hanya pada bunda dan satu wanita ini.
"RIn, kalau berhadapan gini, aku pengen cium kamu."
Mereka yang duduk bersila di atas ranjang saling berhadapan hanya dibatasi nampan.
TOK.
Sendok berbahan stainless baru saja mendarat mulus di atas kepalanya.
"Awwww," keluh dengan mengusap pelan kepala yang baru saja digetok oleh RIndi.
Menatap Rindi dengan wajah memelas, kasihan.
"Awas di dengar ibu," Rindi dengan sangat pelan sekali, wajah dicondongkan ke arah Linggar, lengkap dengan mata yang melotot tajam. Seram.
Menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar. Di luar ibu dan bapak tengah menikmati makan siang di ruang makan.
Linggar masih mengelus kepalanya, dengan menunjukkan wajah merajuknya, bibir di majukan ke depan. Rindi tega padanya, padahalkan dia baru saja sembuh.
Kasi semangat dikit kek! Sun pipi juga boleh deh! Rutuknya dalam hati.
Rindi mulai mengambil bungkusan dari paper bag tadi.
"Obatnya yang mana?" Saat plastik terbuka menunjukkan beberapa macam obat.
"Kalau siang, semuanya di minum?" Linggar, wajah mulai normal.
"Semua?" Kejut RIndi. Obat lumayan banyak itu harus masuk ke dalam tubuh. Bayangkan saja, bahan kimia yang terkandung dalam satu pil saja sudah lumayan jika harus di konsumsi beberapa waktu lamanya.
Ini, hampir sepuluh jenis obat loh!
"Sampai kapan?"
"Ya sampai baikan lah," Linggar menjawab dengan entenganya.
\==========
" Eh bapak." Linggar baru saja keluar dari kamar RIndi dan berpapasan langsung dengan bapak yang baru saja selesai menyantap makan siang. Mengulurkan tangan untuk takzim.
Rindipun turut keluar dengan nampan yang isinya telah tandas dan akan dibawanya kembali ke dapur.
"Gimana? Udah baikan? Katanya abis sakit?" Bapak yang menyambut uluran tangan Linggar. Mulai berjalan ke arah ruang keluarga.
"Alhamdulillah. Tadi numpang tidur sebentar di kamar Rindi pak. Badan masih belum stabil benar, masih sering capek rasanya." Linggar turut melangkahkan kaki di belekang bapak.
__ADS_1
"Kan masih sakit, kenapa malah keluyuran?" Bapak yang mulai mendudukan diri di sofa depan tv.
"Ada perlu sama Rindi pak," Turut mendudukkan diri di sofa lain. "SAma bapak juga." Menatap bapak yang mulai memencet-mencet tombol remot.
"Ada apa?" Seketika itu langsung menoleh ke arah Linggar.
"Saya mau melamar RIndi pak." Ucapnya dengan tenang, tak perlu lagi menunggu waktu lama, toh semua restu telah digenggaman.
Bapak mengangguk-anggukkan kepala, "Buuuuu, Diraaaaa, sini dulu!" Langsung memanggil kedua penghuni lain, sepertinya pembicaraan akan sedikit lebih serius.
"Jadi gimana?" Pertanyaan bapak saat kedua orang tersebut telah duduk di samping pasangan masing-masing.
"Saya dan keluarga berniat melamar Dira pak." Linggar dengan mantapnya.
"Kapan?"
"Secepatnya pak."
"Secepatnya kapan?"
"Emmm, minggu,... depan?!" Agak ragu tapi jujur memang tak ingin terlalu berlama-lama. Di samping ia takut bunda akan berubah pikiran, iapun takut dengan rasa rindu yang selalu saja menghampiri.
"Apa tidak terlalu cepat? Nak Linggarkan baru saja keluar dari rumah sakit." Bapak dengan tenang meski sedikit khawatir. Mereka berdua telah dewasa, pun dengan pemikiran keduanya. Terlebih lagi pernah bersama mengarungi jembatan pernikahan yang akhirnya roboh hanya dalam hitungan bulan saja.
Apa tidak akan terulang kembali dengan keputusan yang terlihat mendesak ini.
"Gak pak, sambil menunggu minggu depan, aku janji akan istrirahat yang cukup, rajin minum obat juga biar cepat fit lagi." Rengeknya seperti anak kecil.
Ibu menutup mulut dengan tangan, memundurkan tubuh berlindung pada punggung bapak sambil terkekeh pelan.
"Kita udah sejauh ini Rin. Bunda juga udah ngasih kita restu."
"Bunda takut kita khilaf lagi." Masih dengan wajah memelas.
"Khilaf lagi?" Ibu yang kembali memajukan tubuh dengan kening yang berkerut.
Apa maksudnya khilafa lagi?
Apa mereka benar pernah khilaf sebelumnya.
"Maksudnya,.... Emmm. Kami berduakan pernah menikah, jadi pernah ngerasain bu." Sedikit terbata, tahu jika orang tua RIndi tak pernah mengetahui keadaan yang sebenarnya.
"Sekarang balik lagi, takut mengulang seperti masih menikah dulu." Kali bisa sedikit lancar, semoga tak menimbulkan kecurigaan yang lebih.
Ibu kembali bersandar dengan napas lega.
Sementara bapak terlihat mengangguk-anggukan kepala, mungkin setuju dengan alasan yang disampaikan Linggar. Beruntung jika permintaan melamar minggu depan bisa dikabulkan.
"Ya, terserah kalian saja lah." Jawaban bapak sambil memandang ke arah Linggar dan RIndi.
"Rin, mau yah?" Pinta Linggar kembali.
Rindi hanya terdiam, kini mulai menundukkan kepala.
__ADS_1
Entah mengapa RIndi justru seperti tak bersemangat membahas ini.
"Rin, sampai kapan kita begini terus."
"Kita hanya nambah dosa terus kalau sama-sama terus tapi gak nikah-nikah."
"Kata bunda yang nanggung orang tua kita juga."
Merasa disindir, bapak dan ibu saling melemparkan pandangan.
Benar memang, mereka turut andil dalam menumpuk dosa yang diciptakan kedua muda-mudi tersebut.
"Baiklah, kami tunggu keluargamu datang melamar minggu depan. Kalau bisa akhir pekan biar keluarga yang lain bisa hadir juga." Kata tegas bapak mampu mengangkat kepala RIndi yang sedari tadi menunduk dan terdiam.
Linggar tersenyum lebar, penuh kemenangan.
"Kenapa?" Pertanyaan ibu menghentakkan tubuh RIndi yang sedari tadi berdiri di ambang pintu.
Mobil yang Linggar tumpangi sudah tak terlihat, tapi wanita itu masih diam memandang lorong kompleks yang lumayan sepi di terik siang ini.
Rindi menyandarkan kepala di bahu sang ibu yang turut berdiri di sampingnya.
"Kamu lagi ada masalah sama Linggar?"
Rindi menggeleng namun tak berkata.
Sedikit sulit menggali sesuatu dari putrinya yang memiliki sifat yang tertutup ini.
"Kamu khawatir dengan acara lamaran kamu?" Tanya ibu lagi.
"Aku hanya gak mau terlalu berharap bu." Masih dengan kepala bersandar di pundak ibu.
"Kenapa?"
"Gak pa-pa. Cuma gak mau kecewa saja." Rindi. "Ibu juga jangan terlalu berharap yah!"
"Kamu tidak percaya Linggar?" Ibu.
Rindi menggeleng.
BUkan Linggar yang tidak ia percaya, tapi bunda.
Benarkah bunda telah memberikan restu pada mereka? Secepat ini kah?
Memberikan senyum pada ibu sebelum beranjak dari sana. Tak ingin ibunya terlalu memikirkan tentang ini.
Biarlah waktu yang menjawab.
To Be Continued!
Hari ini cuma satu bab aja yah.
Jangan lupa oleh-olehnya dong.
__ADS_1
Like, komen, hadiah sama votenya yah!