Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Stres Pranikah


__ADS_3

Rindi


Walaupun linggar telah menjelaskan dengan tutur kata yang lemah lembut, namun tak mengurangi gondok di dada.


Dengan alasan ingin menenangkan diri, Iya meminta waktu untuk sendiri.


Kembali menolak ajakan Linggar untuk pulang pergi ke kantor bersama.


Sayangnya, Linggar justru semakin berulah.


Ban motornya kempes karena ulah Linggar.


Ia segera berlari mengejar Kamil. Malas sekali untuk bertemu dengan Linggar, apalagi bersama dalam satu mobil.


Entah mengapa, emosinya sering saja menanjak saat bertemu calon suaminya itu.


Dan hari ini Iya ke kantor menggunakan mobil hadiah kelulusannya dari Reno dulu.


Rasanya keputusannya memang tepat.


Mengundurkan diri dari dari kantor tempat mereka bekerja, toh kehidupannya mendatang telah ada yang menanggung.


Setidaknya kejadian yang lalu-lalu tak terulang pada mereka.


\=============


" Ini apa?" Linggar dengan suara keras bersamaan dengan sebuah amplop berwarna putih yang dilayangkan. Menyambar tepat di tubuh Rindi.


Masuk tanpa permisi terlebih dahulu.


Bagaimana tidak Linggar emosi, ketika ia berusaha mencari celah agar Rindi bisa masuk dan tercatat sebagai karyawan tetap di perusahaan itu, wanita itu justru melayangkan surat pengunduran diri.


Rindu hanya mampu tertunduk dan berdiam diri. Bahkan tak mampu menatap Linggar yang kini tengah emosi.


Malu rasanya kembali berdebat dengan Linggar apalagi di depan rekan-rekan kerja mereka.


" Maksud kamu apa?" Kembali suaranya menggelengar mengisi ruang itu.


Rindi harus jawab apa? Hanya akan menambah pertikaian antar mereka.


Hanya sebuah surat pengunduran diri saja, membuat Linggar emosi seperti itu.


Tidak bisakah Linggar menahan sedikit amarahnya?


Setidaknya tidak dalam situasi kerja seperti ini?


Tepat pukul 17.00, Ia segera beranjak, berlari meninggalkan ruangannya.


Lagi-lagi hanya karena ingin menghindari Linggar.


Bug!


Bug!


Bug!


Dengan kedua tangannya, Linggar beberapa kali memukul kap mobil Rindi.


Segera berlari ke samping tepat di pintu kemudi tempat Rindi berada kini, dengan tangan yang terus menyapu setiap sisi yang ia lewati.


"Buka." Dengan suara yang sedikit lebih besar hingga mengalihkan perhatian orang-orang di sekitar basement.


Tapi linggar tak peduli, tujuannya kali ini ingin bertemu dan berbicara dengan Rindi.

__ADS_1


Cukup Sudah baginya rindi kembali mengacuhkan dan menghindarinya.


Rindi menurunkan kaca pintu mobilnya, namun enggan untuk menatap pria yang kini telah berada di sampingnya.


Pandangan masih lurus ke depan dengan raut wajah yang datar.


Masih kesal, tapi malu jika harus dilihat orang-orang.


Mengingat saat tadi Linggar yang memarahinya di kantor, harga diri seolah runtuh.


Belum juga jadi istri, Linggar telah berbuat semena-mena padanya.


"Bukan kacanya Rin, pintunya yang dibuka!" Nada yang Linggar perdengarkan masih saja judes, tangan kini telah menyelinap meraba kunci pintu mobil.


Klik, pintu mobil terbuka.


Linggar langsung saja menempatkan sebelah tubuhnya duduk di sebelah Rindi, menghimpit.


Sebelah kaki masih berada di atas lantai besment guna menahan tubuhnya.


"Geser!" Perintah Linggar disertai sedikit hentakan ringan di bahu.


Rindi bergeming, masih dengan raut wajah menahan emosi, bahkan untuk menatap Linggarpun enggan. Kedua tangan masih berada pada kendali mobil.


Kesal rasanya.


Klik, mesin yang tadinya menyala dan  siap melenggang kini mati. Lagi-lagi karena Linggar.


Linggar melingkarkan tangan di perut Rindi, dengan sedikit tenaga menarik wanita itu menuju pangkuan nya. Terhimpit antara kemudi dan tubuh.


Rindi berdecak kasar, semakin kesal Linggar berbuat sesukanya.


Pun demikian, ia terpaksa mengangkat tubuh menempatkan diri di kursi sebelah setelah menghempas tangan Linggar.


Rindi yang lebih setia menatap ke samping kiri menembus jendela kaca.


Masih enggan menatap Linggar meski hanya pada ujung mata.


Bibir masih terkatup rapat, menandakan wanita itu masih kesal.


Sementara Linggar, beberapa kali menarik tangan menuju ke mulutnya.


Sesekali menggigit Ibu jari sendiri, setelah itu mendaratkannya kembali pada kemudi. Sangat jelas jika pria itu minta sebuah perhatian.


Lirikan mata sebentar-sebentar ke arah samping kiri, menatap wanita yang masih diam membisu.


Beberapa kali terdengar napas yang menghembus keras dari keduanya.


Dinginnya ac tak sepandan dengan panasnya hati. Entah karena apa.


Linggar menghentikan laju mobil di tepi jalan. "Kita harus bicara kayaknya."


"Kamu,...." Mengulurkan tangan, menyentuh pundak Rindi guna menghadapkan wanita itu ke arahnya.


Sayangnya RIndi justru menepiskan tangannya, dengan kasar.


"RIN!" Hentaknya kembali pada bahu Rindi, kali ini mampu membuat wanita itu berbalik padanya.


Namun dari sorotan mata itu, ia justru melihat sebuah kemarah yang sangat besar yang terpendam.


"APA?" Suara keras RIndi membuat Linggar terkesiap.


"MAU MARAH?"

__ADS_1


"MARAH AJA GAK ADA YANG LARANG."


"AKU INI CALON ISTRIMU!"


"ISTRI YANG HARUSNYA TUNDUK PADA SUAMI."


"BIARPUN SUAMI MARAH, ISTRI HARUS TETAP TUNDUK KAYAK KEBO."


Serentetan suara yang Rindi lontarkan mampu membuat Linggar terdiam.


Lebih tepatnya terpaku, bingung dengan semua keadaan ini.


Hal sepele kenapa dibuat sulit dan berat.


APa yang salah?


Tanyanya dalam hati.


"Rin, kamu marah?" Linggar dengan suara yang melunak.


Selama bersama Rindi, ini adalah kali pertama Ia mendapatkan suara keras wanita itu.


Lengkap dengan kilatan amarah dari pandangan itu. Seperti bukan RIndi.


Yakin jika semua tak baik-baik saja.


"Kamu marah?" Tanyanya lagi.


Ia tak siap menerima kemarahan itu.


Rindi terdiam, tak berniat menjawab. Iya pun sebenarnya bingung dengan keadaan ini.


Semua terasa tergesa-gesa. turut menyalahkan Linggar yang memajukan hari pernikahan dari hari yang pernah ditentukan.


Ck, pernikahan semakin dekat, dan perdebatan seolah tiada henti.


Setelah menumpahkan keluh kesahnya, Rindi kembali berbalik ke arah kiri.


Masih dengan wajah marah, namun mata berembun seperti ingin menangis.


Hati melow wanita itu tak bisa di sembenyukan terlalu lama.


Tangannya Linggar terulur menuju ke pucuk kepala Rindi.


Berhenti sebelum benar mencapai tujuannya, tanggannya menggantung di udara.


Kembali menarik tangan, dan berakhir dengan menggigit kuku ibu jarinya.


Ia tak berani menyentuh Rindi saat ini.


Menutup wajah dengan kedua telapak tangan, kemudian kebelakang menyugar rambut.


Mengatur napas dan emosi.


Otak berpikir, kata apa yang harus ia ucapkan untuk membujuk RIndi.


Tak ingin keadaan semakin ruyam dengan salah berbicara.


Sebenarnya masih ingin meminta penjelasan tentang Pengunduran diri RIndi yang tak ia tak ketahui sebelumnya.


Tapi,....


Rindi terlihat seperti tertekan.

__ADS_1


Apakah semua karenanya?


__ADS_2