Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Sambutan Berselimut Petuah


__ADS_3

“Tapi jangan di sini.” Rindi sambil menutup bibirnya dengan tangannya sendiri.


Apanih maksudnya. Boleh?


Boleh nyium?


Ia serasa mendapatkan jackpot, dan tak boleh menyia-nyiakan waktu lagi sebelum Rindi berubah pikiran. Kesempatan yang tak boleh disia-siakan.


Segera ia melayangkan ciuman ke kening, kedua mata, hidung dan kedua pipi.


Ah, sayang yang satu itu tertutup.


Dasar, dikasi hati minta jantung.


“Udah.” Jawabnya sambil terus menatap wajah Rindi yang masih menutup mata.


“Udah?” Rindi.


Hemm, dan menganggukkan kepala.


Rindi mulai membuka penutup bibirnya dan kembali meletakkan tangannya melilit kepunggung Linggar.


Kesempatan kedua, Linggar segera meraih bibir itu melekatkan dengan bibirnya.


Setelah itu Linggar hanya melihat wajah Rindi yang cemberut mengisyaratkan kemarahan.


“Cuma dikit Rin.”


Saat Rindi menghempaskan tangan dan berbalik menjauh, Linggar justru tersenyum kemenangan.


“Kita ke mall?” Sambil kembali meraih bahu Rindi.


Rindi tak menolak, atau tak menghempas tangannya. Padahal Linggar telah mempersiapkan diri jika saja itu sampai terjadi.


Kirain marah, ternyata tidak. Mungkin karena harus berpisah tiga bulan, jadi gadis itu harus berpikir seribu kali untuk bertengkar saat pertemuan terakhir mereka.


Ah, andaikan tadi ia lebih lama merapatkan bibir pasti lebih seru!


Tempat ke dua untuk hari ini adalah mall.


“Makan dulu atau nonton dulu?” Linggar. Tangannya kembali bertengger di bahu Rindi.


“Nonto dulu aja, sambil makan camilan.”


“Ok, kita ke atas!”


Rindi memilih memeluk lengan Linggar saat mereka berjalan berdua. Hal yang baru Rindi lakukan selama kebersamaan mereka berdua.


Membuat Linggar seolah merasa melayang. Merasa dirinya sangat dicintai, dan seperti Rindi yang juga akan merindukannya nanti.


Mengapa kebahagian seolah datang pada hari terakhir mereka berpisah. Ah andaikan masih ada hari esok, sehariiiiiiiiiii saja. Ia masih ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama Rindi.


Ia masih ingin memeluk Rindi, tapi tak mungkin ia lakukan di sini. Terlalu terbuka dan  banyak orang.


Karena tak bisa memeluk Rindi, ia hanya mampu memeluk tangan dan menciumnya. Bahkan tangan itu tak pernah lepas saat berada di dalam bioskop. Menempatkan di wajah dan bibirnya secara bergantian.


Ahh, tangan nan empuk ini pasti menjadi salah satu anggota tubuh Rindi yang akan paling ia rindukan.


Mungkin membuat Rindi sedikit risih, karena Linggar yang tak henti mencium tangannya hingga menarik tangannya


dari Linggar.


“Kak.”


“Rin, tiga bulan rin. Tiga bulan.” Ucapnya lagi penuh penekanan.


Seolah tiga bulan itu memang akan menjadi tekanan tersendiri baginya.


Bahkan saat makan di sebuah restoran Linggar memilih untuk duduk berdampingan dengan Rindi dari pada harus

__ADS_1


saling berhadapan. Terlalu jauh pikirnya.


Rindi hanya bisa membiarkan Linggar.


Iya, memang tiga bulan cukup lama untuk mereka yang telah terbiasa bersama setiap hari meskipun hanya sebentar.


Sampai di sini ia bahkan belum melepas tangan Rindi, dan sesekali kembali mencium tangan itu.


Dan destinasi terakhir mereka kunjungi adalah.


“Rumah siapa?” Hanya ingin memastikan firasatnya. Ia memang tahu lokasi rumah Linggar dan tak tahu pasti yang mana. Dan sekarang mereka kini tengah berada di depan rumah.


Meskipun Rindi seolah tak ingin menerima jika kakinya kini menapaki lantai rumah Linggar.


Siap atau tidak, dirinya kini telah berada di sana.


Bertemu dengan orang tua Linggar untuk pertama kali mampu membuatnya merasa berada di puncak gedung tertinggi.


Seolah ingin lari tapi tak bisa, sebab tangan Linggar masih erat menggenggam tangannya.


“Rumahku.”


Jawaban yang memang telah Rindi ketahui tapi tetap saja tak ingin menerima.


“Kak, pulang yuk!” Ajak Rindi sedikit memaksa dengan memeluk lengan Linggar, menariknya kembali ke mobil.


“Bentar, masuk dulu! Bunda gak makan orang kok.” Linggar yang sedikit menenangkannya.


Ia tahu bunda gak makan orang, tapi buat berhadapan dengannya mungkin butuh keberanian dan mental yang  kuat.


“Lain kali aja yah! Udah sore kak, ibu pasti nyariin.” Sambil terus menarik lengan Linggar.


“Bentar dulu, gak enak aku bawa orang tapi gak masuk rumah. Bisa-bisa bunda marahin lagi.”


“Masuk dulu yuk! Please!” Linggar sambil menahan langkahnya, membuat mereka berada dalam adegan tarik-menarik.


“Gak papa kok. Ayo!”


“Bundaaaaa. Ada Rindi nih, tapi gak mau masuk!” Teriak Linggar yang membuat Rindi hanya mampu menatapnya kesal. Mata hitam keatas, menatap Linggar dengan bibir yang sedikit maju ke depan.


“Bunda, bun. Bundaaaaa.” Teriaknya kembali.


Meskipun telah melihat ekspresi Rindi, tapi ia tak peduli. Terlebih lagi mereka memang telah sampai di rumah ini.


“Kak.”


“Makanya masuk dulu!”


Tarikan Rindi melemah, membuat Linggar mampu menariknya masuk ke dalam dengan mudah.


“Duduk dulu, aku panggil bunda!”


“Bunda.” Dengan suara yang menggema.


“Gak usah teriak-teriak, bunda udah datang!” Akhirnya nyonya rumah telah muncul di depan mereka.


“Ada siapa nih?” Bunda.


“Bun, kenalin! Ini Rindi. Rin, ini bundaku.” Linggar yang tadinya berjalan masuk kembali ke arah tempat RIndi duduk. Raut wajah yang tadinya kesal kini telah berubah menjadi tersenyum meskipun terlihat sangat kaku.


Rindi berdiri dan mengulurkan tangan demi menyalami wanita yang katanya calon mertuanya.


“Sore tante.” Sapanya yang tiba-tiba kehabisan kata-kata.


Disambut baik oleh bunda dengan senyuman manis, “ Duduk aja!”


“Ooooh, ini yang nama Rindi. Cantik yah. pantes anak bunda gak berhenti ngomongin kamu. Billang cantiklah, baiklah, anak rumahan, gitu katanya.” Sesekali melirik ke arah Linggar lalu kembali menatap Rindi. Hanya untuk melihat ekspresi mereka secara bergantian.


Kedua sama-sama tersenyum.

__ADS_1


Linggar dengan senyuman sambil menggaruk tengkuknya. Sementara Rindi tersenyum sambil menundukkan kepala.


“Hehehehe.” Rindi tanpa kata, karena sebenarnya ia harus menata hati yang justru semakin berdetak kencang.


Rasa malu, takut, dan segan seolah bercampur dalam satu wadah. Ia tak tahu harus bagaimana dalam  menghadapi calon mertua.


Ia memang tahu jika Linggar pernah menceritakan dirinya pada bunda, bahkan dulu sempat melihat sosok bunda


saat mereka tengah melakukan vidio call. Namun Ia tak tahu sebanyak apa yang Linggar ceritakan pada bunda.


Harusnya Linggar memberi tahu sejak semalam jika ingin membawanya bertemu bunda, jadi ia masih punya kesempatan untuk berlatih di depan cermin dan merangkai kata terlebih dahulu.


Tidak seperti sekarang, pertemuan mendadak yang membuatnya kehilangan kepercayaan diri. Tak tahu harus harus menyapa.


“Tahan ya, sama anak bunda? Kalian pacaran sejak kapan sih?”


Mereka justru saling berpandangan. Kapan pastinya merekapun tak tahu. Apakah saat pertama Rindi menggapai tangan Linggar? Atau saat Linggar mengutarakan perasaan sayangnya saat Rindi yang ia ketahui sedang tertidur.


“Udah jalan dua tahun lebih kan?” Linggar yang menatap Rindi seolah mencari kebenaran dari perkataannya sendiri. Rindi mengangguk, ya memang seingatnya, sejak peristiwa di lapangan dan peristiwa nyatakan cinta dulu tidak terlalu jauh terpaut.


“Waaaah, dah lama dong! Tapi kalian gak ngapa-ngapain kan?” Bunda.


“Gak kok bun. Bisa-bisa dia marah selam tujuh bulan kalau aku ngapa-ngapain.” Sambil melirik Rindi yang masih tertunduk sambil mencerna ucapan wanita yang berada tepat di depannya.


“Iya, Rindi tolong bunda yah! Nasehatin dia kalau udah terlalu jauh melangkah. Kalau memang kalian udah gak


bisa menahan diri lebih baik menikah, dari pada salah langkah.”


“Perempuan itu juga harus bisa jaga diri. Kami sebagai orang tua, gak bisa memantau kalian selama dua puluh


empat jam, jadi kalian sendiri yang harus jaga diri. Bunda percaya kok, sama Rindi, yah Rindi ya.”


Suatu kepercayaan yang luar biasa tengah diembankan di pundaknya. Tapi apakah ia mampu mengemban tanggung jawab itu?


Percaya. Iya, ia juga percaya dengan dirinya dan Linggar. Sampai batas di mana mereka dalam merajut kasih yang belum halal ini.


“Tapi kalau memang kalian udah saling percaya, kalian bisa nikah sekarang!”


“Banyak kok yang menikah saat mereka masih kuliah. Bunda akan menjamin kuliah kamu. Karena saat kamu menikah dengan anak bunda otomatis kamu juga sudah jadi anak bunda.”


“Jadi bagaimana, kalian mau?”


Mereka hanya saling memandang, melontarakan peratanyaan yang tak terucap satu sama lain?


Baru pertama bertemu udah ditawari nikah?


“Coba bunda bilang dari kemarin-kemarin, aku mah siap nikahin dia. Lah ini aku besok udah berangkat, jadi harus nunggu tiga bulan lagi bunda.”


“Kita masih kuliah tante.” Ucapnya.


“Ya udah, bunda cuma ngingatin kalian aja. Tapi kalau memang udah ngebet banget lebih baik kalian nikah, jangan sampai salah jalan!”


“Ingat kalian masih tanggung jawab kami para orang tua, jadi kalau kalian salah langkah otomatis kami dulu yang nantinya diminta pertanggung jawaban baru kalian. Ngertikan?”


Ternyata bunda Linggar seseorang yang sedikit religi. Dan seorang gadis bertamu ke rumah laki-laki bisa jadi penilaian negatif.


“Ya udah, bunda tinggal dulu. Rindi kayaknya malu sama bunda deh. Iyakan Rin?”


To Be Continued!


Jangan lupa jarinya di goyang yah!


Mumpung masih awal pekan, sumbangin votenya dong!


Duh ngantuk.


Ada kopi gak?


Sekalian sama bunganya buat camilan saat nulis.

__ADS_1


__ADS_2