
Sementara Rindi hanya mampu terdiam dan menunduk.Ia tahu bahwa dirinya saat ini menjadi sorotan.
Rumah ini terasa sedikit gerah, padahal biasanya tak seperti ini. Nyaman dan damai.
Terlebih di bawah tatapan sang kakak yang justru memerintahkannya untuk menjauhi suaminya itu. Bagaimana bisa?
" Emm, pak, bu. Ada yang ingin aku bicarakan." ucap Reno setelah sarapan pagi.
"Ngomong aja langsung kayak ada yang penting aja!" Ibu yang terdengar sedikit Ketus.
Mereka masih berada di meja makan. Anak sulungnya itu Terdengar sangat mendramatisir padahal hanya ingin
berbicara hal yang biasa.
" Rima ingin minta tolong, agar Dira mau menemaninya merawat Aska." Lanjut Reno tanpa ekspresi di wajahnya.
Sementara semua orang yang berada di meja, mendengarkan dengan ekspresi wajah yang bingung tentunya.
"Kok bisa?" Ibu dengan kening berkerut.
"Mereka kan punya baby sister," Lanjutnya.
Sementara Linggar menatap Reno dengan tajam.
"Rencana konyol apa lagi yang akan di jalankan oleh kakak ipar tercintanya itu untuk keluarganya. Tepatnya untuk dia dan dan istri." Batinnya.
"Rima butuh teman bicara. Sekalian untuk menjaganya, dia kan sedang hamil tua." Lanjut Reno berusaha untuk mencari kepercayaan dari semua orang yang ada di sana.
"Kak Dihyan nggak ngomong ke aku?" Istrinya yang juga bingung dengan pernyataan dari Reno.
"Tapi dia ngomongnya ke aku," Nada mulai tinggi. Kesal sendiri karena ia tak dipercaya oleh keluarganya sendiri.
Tatapan sinis ke arah Linggar, seolah tatapannya itu mengatakan kan, “Jangan senang dulu kamu belum menang!”
Peperangan ini masih berlanjut.
Padahal peperangan ini, dia yang memainkannya sendiri.
"Nggak usah marah sayang," Istri Reno sambil mengelus pelan lengan suaminya.
"Nggak marah kok. Cuma kesel aja, Rima hanya ingin minta tolong sama kita. Apa salahnya untuk membantunya?" Reno lebih baik menurunkan pandangannya menatap kopi yang sedari tadi diaduk-aduk nya dengan sendok.
"Lagian kamu masa enggak percaya sama aku?" Membuat istrinya merasa bersalah.
Berusaha menenangkan diri yang terbawa emosi karena tingkah lakunya sendiri.
Ternyata sulit begini untuk berbohong di depan keluarga, tepatnya di depan bapak dan ibu.
Hanya demi kebahagiaan adiknya itu ia rela membohongi kedua orang tuanya.
Bukan hanya sekali tapi telah berkali-kali, dimulai saat insiden adiknya itu di rumah sakit.
"Ya semuanya kan terserah Dira. Diranya mau apa enggak?" Saran dari sang istri justru semakin memberatkan nya.
"Kamu juga harus minta izin sama Linggar, sekarang kan dia sudah jadi suami Dira." Lanjut istrinya.
"Istrimu benar, sekarang Linggar adalah suami Dira. dia berhak menentukan dan memutuskan semua tentang
Dira sekarang. Kamu harus minta izin dulu sama dia!" Pinta ibu yang semakin membuatnya kesal sendiri.
Heh, Linggar lagi Linggar lagi. siapa orang itu? Hanyalah seorang pria bejat yang memanfaatkan kan kepolosan adiknya.
Dan sekarang Ia harus minta izin pada pria bejat itu? Heh, Yang benar saja?
Tapi tak apalah, untuk sekarang ini ya memang harus mengalah.
__ADS_1
Mengalah untuk sebuah kemenangan besar.
Pc, Reno hanya mampu berdecak kesal di dalam hati. Seraya berusaha menunjukkan wajah yang biasa-biasa saja.
"Linggar bisakan, ngasih izin buat DIra untuk menemani Rima." tatapannya pada Linggar tanpa kedipan.
Ini menandakan bahwa yang ia katakan barusan adalah sebuah ketegasan. Bukan permintaan biasa.
Dan Linggar tahu akan hal itu, otaknya semakin berpikir bahwa kakak iparnya itu sedang menjalankan suatu misi.
Hanya tak ingin berdebat terlalu lama dan masih mencari satu kelakuan baik di depan keluarga istrinya. Linggar terpaksa mengiyakan diiringi dengan senyum meskipun sangat kaku dan terpaksa.
Yes! Yes! Yes!
Sorak Rino dalam hati. Kemenangan telah berada di dalam genggaman.
\========
“Aku mau minta tolong!” Setelah mendapatkan ijin Rindi untuk menemani Rima di rumahnya Reno sengaja menemui suami Rima di kantornya.
“apa?”
“Tolong tampung Dira di rumahmu. Kalau suaminya juga ingin ikut tinggal di sana, kamu pisahkan kamar mereka!”
Minta tolong yang terkesan memaksa.
“ Aku tidak ingin Dira satu kamar dengan suaminya.” Lanjutnya.
“Kamu ada masalah apa dengan Linggar, sampai membencinya seperti itu. Mereka sudah dewasa, biarlah mereka
belajar menjalani hidup, tanpa harus kamu ikut campur.” Dihyan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Apakah pria ini tidak punya pekerjaan lain, hingga mampu mengurusi rumah tangga adiknya itu. Padahal ia berpikir jika kedua pengantin baru itu telah sama dewasa. Setidaknya bisa mengatur kehidupan rumah tangga mereka.
Jika rumah tangga itu di usik oleh orang lain, meskipun saudara sendiri, yakinlah rumah tangga itu tak akan lama.
“Aku membiarkan pernikahan ini terjadi, hanya dalam waktu tiga bulan.” Entah hukuman apa lagi yang ada di otak Reno untuk Linggar dan Rindi.
“Kamu tega memisahkan mereka? Mereka sepasang kekasih.” Sedikit penekanan agar Reno mau berhenti dengan
aksinya yang terus berusaha memisahkan sepasang kekasih itu.
“Dira gak mau.” Juga dengan penekanan.
Mungkin ini adalah awal perang urat saraf antara mereka.
“Kamu mau liat adik kamu jadi janda? Setelah itu, sulit mencari lelaki yang mau menerimanya dengan tulus.”
“Ada, pasti ada!” Reno saat mengingat dirinya yang dulu mencintai seorang wanita, bahkan saat wanita itu masih berstatus istri orang. Tak membuat cintanya pupus hanya karena status semata.
“Gila.” Ingin memaki tapi masih menghargai.
Reno benar-benar menggunakan
rumah Rima untuk melancarkan aksinya.
Tak ingin sepasang pengantin baru itu terus berada di rumah ibu-bapaknya, jelas mereka akan berada dalam satu
kamar. Atau membiarkan Linggar membawa adiknya, Dira pasti tak bisa menghindar dalam hal kehamilan pastinya.
Tak mungkin pula ia membawa ke rumahnya. Ia yang tinggal bersama istri dan mertuanya pasti akan mendapatkan
banyak pertanyaan dan halangan untuk memisahkan Rindi dan Linggar.
Sementara Rima hanya hidup dengan keluarga kecilnya. Reno masih bisa meminta tolong pada suami Rima.
__ADS_1
Meskipun berat, suami RIma mengabulkan permintaa pria itu. Dari pada terlalu mengusiknya, pikirnya
\=======
Beberapa waktu belakangan ini, Linggar menghabiskan waktunya dengan menggerutu.
Iya tiba di rumah Rima seorang diri, sebelumnya pulang ke rumah dan mengangkut beberapa barang kebutuhan kuliahnya.
Sementara Rindi telah sampai terlebih dahulu diantar oleh Reno dan istrinya.
Lagi-lagi itu membuat Linggar menggerutu. Rindi istrinya sekarang, harusnya mereka sudah bisa pergi ke mana-mana berdua.
Tapi sekarang? Untuk berdua bersama Rindi itu itu lebih sulit dibandingkan masa mereka pacaran dulu.
Ada Reno yang selalu mengintai dan mengikuti Rindi.
Bahkan kesalnya semakin bertambah, saat tahu jika di rumah itu kamar yang disediakan untuk mereka ternyata dipisah.
Apa yang salah sih?
Dan ia yakin-seyakin-yakinnya semua ini adalah hasil kerja kak Reno, kakak ipar tercintanya itu.
Pc, Apa maksudnya ini?
Ingin protes tapi pada siapa?
Bukan seperti ini pernikahan yang ia mau.
Arrrhh, lagi-lagi ia hanya mampu mengeluh dalam hati.
Ia belum mendapat teman yang baik untuk mengutarakan segala keluh kesahnya.
Di rumah mertuanya saja, ia merasa asing. Apalagi di rumah ini?
Asing banget. Seasin ikan teri yang diberi garam terus dikeringkan di bawah sinar matahari.
Kesalnya semakin bertambah, saat melihat istrinya itu mengikuti semua perintah dan arahan Reno.
Harusnya!
Harusnya Rindi sebagai istri lebih memilih mengikuti perintah Linggar sebagai suami.
Reno tak berhak lagi mengatur rumah tangga mereka, meskipun dia adalah kakak dari Rindi.
Tanggung jawab Reno bahkan sudah lepas saat Linggar mengucapkan kabul di depan pak penghulu.
Tapi....?
Arrrrgggg.
Ia seolah ingin mengguncang dunia.
Memberitahukan kepada seluruh warga negara Indonesia tentang tanggung jawab yang siap ia jalani sebagai suami Rindi, tanpa kecohan dari orang lain termasuk kakak Rindi sendiri.
Ia yang harusnya menjaga Rindi.
Ia yang harusnya menuntun dan membimbing Rindi.
Meskipun untuk masalah menafkahi, belum bisa ia berikan sepenuhnya. Ia masih terus berusaha mencari.
Ini sama seperti hukuman untuknya.
=====
To Be Continued!
__ADS_1
Adakah semangat buat othor?