
Ia terhenti di depan pintu pagar yang baru saja tertutup dengan satpam yang melongo memandanginya dengan binggung.
Dengan memeluk pintu pagar, akhirnya tubuhnya luruh ke bawah. Ia tak lagi mungkin bisa mengejar Linggar.
Suaminya itu telah pergi!
Ah mungkin ia lupa, jika Linggar bukan lagi suaminya. Ia baru saja di ceraikan.
Kini dirinya menyandang status janda.
Janda muda.
Sementara sang satpam hanya bisa memandangnya tanpa berbuat apa-apa. Bingung antara harus membuka atau tidak pintu gerbang yang ia jaga. Sebenarnya ia hanya menunggu perintah, tapi perintah dari siapa?
Dari orang yang sedang duduk dengan tangisan yang terdengar memilukan itu?
Ataukah harus memandang saja?
Ataukah ia kembali saja ke posnya, meninggalkan wanita itu? Hah, tega sekali dirinya itu.
Berdiri kaku menatap pilu pada gadis yang sedang terisak dalam tangisannya.
Jika seperti ini terus, tak menutup kemungkinan ia akan turut menangsi dalam beberapa detik selanjutnya.
Mengalihkan pandangan keluar gerbang, di mana beberapa kendaraan telah hilir mudik mungkin mampu mengalihkan sedikit perhatiannya. Meskipun suara tangisan itu tak mampu ia cegah hingga turut menembus ke dalam dada kekarnya.
Rindi masih terduduk di lantai yang kotor itu. Dalam pekat malam yang mampu menyembunyikan wujud.
Sesal mengapa selalu datang terlambat.
Mengapa ia tak bisa membantu Linggar?
Linggar yang berdiri sendiri dengan kedua kakinya berharap Rindi ikut berdiri menguatkan langkah mereka.
Sayangnya angin berhembus terlalu kencang, menggoyahkan kaki Linggar yang sedang bertumpuk dengan membawa Rindi.
Linggar tak mampu menahan, hingga membuat mereka berdua terjatuh. Tapi apa yang dilakukan Rindi justru hanya
terdiam menikmati kejatuhan mereka.
Tak sedekitpun ada usaha untuk kembali berdiri bersama.
Malam semakin dingin, hingga mampu menusuk ke dalam tulang. Di sana Rindi masih betah dengan duduknya.
Meskipun air mata telah habis dan tenggorakan terasa mengering.
Rindi telah menyelesaikan ritual tangisnya, mungkin air matanya telah habis, lelahpun mulai terasa dan kantuk mulai menyerang. Namun belum ada niat sedikitpun untuk beranjak dari sana.
Mungkin masih menanti benda beroda empat menghampirinya dan mengeluarkan sosok Linggar dari dalam.
Ia akan memeluk Linggar dan mengucapkan kata maaf.
“Neng, silahkan masuk neng! Sudah malam, waktunya istrirahat.” Satpam yang harus menjungkir balikkan otaknya terlebih dahulu untuk merangkai kata demi kata agar Rindi mau beranjak dari sana.
__ADS_1
Takut jika setiap kata akan menyinggung gadis muda itu, bisa saja tangisan pilu itu akan kembali ia dengar.
Ini saja ia sudah mengucapkan sukur karena telinganya telah sembuh dari pendengaran yang tadi menyakiti telinga.
Rindi menurut.
Hah, semudah itu?
Coba sedari tadi saja ia menyapa gadis itu.
Rindi berjalan gontai, kakinya terasa berat bahkan harus memaksa hanya untuk satu langkah saja. Pandangan
mengarah ke bawah bahkan sangat ke bawah dan tangannya dibiarkan terkulai lemas di samping tubuhnya.
Di depan teras, Rima yang kini berada di pelukan suaminya hanya mampu memandang Rindi yang berjalan
terseok-seok. Tontonan ini terlalu memilukan. Dengan kedua tangan yang berada di wajah menahan suara yang ditimbulkan karena tangisannya, sesekali menghapus tetesan demi tetesan yang kini menghiasi wajah cantiknya.
Membiarkan Rindi merasakan sakit adalah salah satu cara agar Rindi mengakui kesalahannya sendiri. Namun jujur,
Rima tak tega berlama-lama membiarkan Rindi seperti itu.
Melepas dekapan sang suami dan mulai berjalan mendekati Rindi. Kedua tangannya terbuka untuk memeluk Rindi.
Rindi justru terdiam dalam langkahnya, tetesan air mata kembali menghiasi pipi sebelum masuk ke dalam
dekapan Rima.
Mendapatkan tempat sandaran yang nyaman justru membuatnya semakin rapuh. Tangisnya kembali pecah saat berada dalam pelukan Rima. Seketika itu pula bahunya sampai terguncang.
Apakah Rima juga sedang menghukumnya dengan mengucapkan kata-kata itu?
Ia yang harusnya mendapatkan dukungan dan bukan tuduhan. Meskipun tak bisa dipungkiri jika kesalahan itu dari pihaknya.
Apa yang harus ia lakukan sekarang agar Linggar kembali dalam pelukannya?
Apakah mengakui perasaan cinta mampu membalik keadaan?
Ah, kepergian Linggar ternyata mampu menyisakan luka perih yang semakin dalam.
Dalam pelukan Rima, Rindi menghentak-hentakkan kaki, menggeleng-gelengkan kepalanya keras.
Berupaya mengusir sakit yang kian mendera.
Ingin ia meraung, berharap mampu meringankan semua beban yang terasa memberatkan pundaknya.
Sesampainya di rumah Linggar telah disambut oleh sang bunda yang telah mendengar kabar kepulangannya dari
sang sopir. Namun sangat terkejut saat melihat sang buah hati pulang ke rumah seorang diri, tanpa istrinya.
Tak memperdulikan pak Bur yang membawa kopernya masuk, membuat sang bunda semakin bertanya-tanya.
“Bunda.” Memeluk bunda dan kembali air matanya luruh yang memang belum berhenti sama sekali.
__ADS_1
“Aku kalah.” Ucapnya lirih, pelukannya semakin terasa erat.
“Semua telah berakhir.”
Bunda mencoba mengerti keadaan ini. pulang sendiri tanpa istri, dan menyebut dirinya kalah. Apalagi, jika bukan perceraian apalagi?
Bunda yang sempat tertegun menyambutnya, mencoba tetap tenang dalam hati yang turut menangis menahan air
matanya agar tak turut tumpah.
Kini ia harus tetap berdiri tegak demi mampu menopang sang buah hati yang tengah terperosok dalam jurang
kesedihan. Beliau tak boleh lemah. Anaknya membutuhkannya.
“Kita duduk di sana!” Ajaknya sembari perlahan membawa tubuh Linggar yang mulai luruh. Meskipun sebentar lagi
ia akan turut terjatuh karena tubuh Linggar yang tinggi dan berat tak mampu ia tahan.
Dan begitu dirinya duduk, Linggar langsung menempatkan kepala di pangkuannya. Melingkarkan tangan diperutnya, membenamkan wajah diperutnya.
“Aku telah menceraikan Rindi.” Tercekat.
Kalimat yang begitu sangat dihindari namun tetap harus terucap. Bunda hanya mampu menggigit bibir mendengarkan putranya bercerita.
Sesungguhnya Linggar tak ingin mengadu pada bunda, tak ingin melihat air mata bunda tumpah karena dirinya.
Tapi jika bukan bunda pada siapa lagi tempatnya pulang?
Bunda, tempat pulang yang paling ia rindukan.
Bunda, tempat bersandar paling kokoh.
Bunda, tempat mengadu paling nyaman.
“Aku masih sayang dia bun,” ucapnya masih ditengah-tengah isak tangisnya.
“Kenapa sulit untuk kami bersama?” Meskipun secara lirih bunda mampu menangkap semua maksud yang Linggar
ucapkan.
Mendengar kata-perkata yang terucap dengan sangat berat turut menggoreskan luka di hati seorang bunda.
Hati mana yang tak terluka ketika mendapatkan buah hatinya terluka karena orang lain?
Jika boleh ia membenci orang yang telah membuat anaknya tersakiti. Haruskah ia membenci Rindi?
“Kalian tidak jodoh.” Bunda, sambil membelai lembut rambut putranya.
“Mungkin Tuhan telah menyiapkan jodoh yang lain, yang lebih baik dari dia.” Bahkan bundapun tak mampu menyebut nama mantan menantunya sendiri. Ingin sekali dirinya memarahi gadis yang telah menyakiti hati anaknya itu.
Kini bunda tak mampu lagi menahan diri untuk tidak menangis. Sekuat apapun ia bertahan untuk tak menangis namun tetap saja air mata itu luruh tanpa bisa dicegah.
Tak mungkin untuk bunda tak merasakan sakit yang sama yang Linggar rasakan. Nyatanya bukan hanya sebatas kata sakit, namun juga perih dan sesaknya bagai dihujam seribu anak panah.
__ADS_1
To Be Continued!