
“Rin, aku titip ini yah!” Citra yang telah menyodorkan sebuah kotak segi panjang pada
Rindi.
“Ini apa?” Tangannya terulur mengambil kotak dari Citra. Telah tertebak itu untuk siapa.
Linggar, sang mantan suami yang sekarang menjadi gebetan Citra. Dan dirinya kini berada di tengah sebagai perantara. Bukankah ini terdengar lucu.
Tak bisa dipungkiri ada rasa tak terima dalam hatinya. Bahkan ingin protes tapi mau bilang apa?
“Puding buah.” Sedikit berbisik namun masih terdengar oleh yang lain. Rindi, Kamil, Ayu, Citra dan Mbak Tia.
Mereka kini telah berada di depan pintu devisi Citra setelah makan bersama di kantin. Meskipun tadi Linggar juga ikut bergabung dengan mereka, tapi Citra tak membawa seserahannya itu.
Jadilah kini mereka berdiri hanya untuk menerima titipan Citra untuk sang pujaan hati.
“Ckckckckc. Kamu gak capek apa bikin kue buat pak Linggar?” Kamil dengan kepala yang
mengeleng-geleng.
“Gak usah bilang-bilang, kan kita juga yang nikmatin nantinya.” Mbak Tia yang langsung menyikut tepat di perut Kamil.
“Oh, iya sampai lupa.”
“Kalian apa-apaan sih. Masak pemberianku di makan sama kalian.” Citra yang kini memberengut. Tangannya kembali terulur ingin mengambil kotak yang telah berada di tangan Rindi.
Namun sedikit ditepis oleh Kamil.
“Eh, kalau pak Linggar habisin semua bisa-bisa gebetanmu itu kena penyakit gula. Mau?” Mencoba mempertahankan kotak agar tetap berada di tangan yang tepat, yaitu tangan Rindi.
“Lagian pak Linggar tuh orang baik, dan gak pelit. Gak mungkinkan dia makan sendiri dan membiarkan kita ileran hanya jadi penonton doang.”
“Gak kayak kamu, pelit. Baiknya cuma sama pak Linggar doang.” Meskipun Citra telah melepaskan tangannya dari kotak yang kini menjadi rebutan, Kamil masih tetap berceloteh.
“Iya—iya bawel. Ya ampun.” Meskipun dengan bibir yang sedikit maju ke depan.
“Ok, bay cantik! Cantiknya pak Linggar.” Dengan Tangan yang mengibas ke depan Citra.
Kini mereka berlalu meninggalkan Citra yang senyum mengembang di wajah setelah mendengarkan sapaan dari Kamil.
Cantiknya pak Linggar.
Kalimat itu terasa indah terdengar di telinganya. Mendayu-dayu mengisi gendang telinga, merambat hingga ke dalam rongga dada. Sampai di hati lalu meledak menciptakan ribuan kelopak bunga yang bertebaran. Lalu jatuh ke jantung.
Berbeda dengan seseorang yang sedang membawa kotak di tangannya. Walaupun ia hanya berdiam diri tanpa kata, namun hatinya justru dipenuhi dengan kata-kata protes.
Ingin mengungkapkan diri jika ia adalah mantan istri Linggar, tapi itu mungkin hanya
__ADS_1
membuatnya malu.
Toh Linggar seolah acuh padanya. Bukan lagi Linggar yang mencintainya dan merelakan
segalanya untuknya.
Mungkin memang benar, kali ini dia telah kehilangan Linggar. Tubuh dan hatinya.
Ingin menangis tapi harus ditahan. Ia tak punya alasan yang akan diutarakan di hadapan teman-temannya.
Hembusan napas keras beberapa kali terdengar dari arah Rindi.
Wanita itu masih mencoba membenahi hati, menyamarkan rasa cemburu.
Cemburu?
Entahlah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
“Rindi, tolong bantuin pilah-pilah laporan ini!”
Rindipun berdiri, berjalan menghampiri meja Linggar.
Berdiri di sisi kiri meja, memperhatikan berkas-berkas yang ada di sana. Hanya satu berkas yang harus di bawa, kenapa membuatnya memilah-milah?
Melihat meja yang berantakan di sana entah mengapa jiwa kebersihan Rindi meronta. Terlalu banyak berkas yang tercecer. Padahal bisa di satukan dalam satu tumpuk, jika memang belum di gunakan.
PAAK.
Berkas yang berada di sebelah kiri Linggar terjatuh, mungkin tersenggol oleh sikut Linggar. Seolah memberontak ingin di bereskan.
Tuh kan baru juga dipikir untuk merapikan, berkasnya main jatuh-jatuh segala. Kayaknya mejanya memang butuh perhatian.
“Rin, tolong dong!” Linggar yang masih tetap fokus menatap layar di depannya. Mengabaikan berkas yang berantakan di bawah kakinya.
Rindi hanya mendesah, namun kemudian
melangkah di belakang kursi Linggar menuju ke samping kiri, tepat di sudut ruangan.
Berjongkok meraih beberapa berkas yang tergeletak di lantai.
Sedikit tarikan terasa di rambut kuncir kudanya membuat kepalanya menengadah. Menatap Linggar sang pelaku penarikan rambut.
Linggar tersenyum.
Lalu mendekat.
__ADS_1
Semakin dekat.
Bibirnya terbuka saat Linggar mencicipi pipi kini lalu beralih ke pipi kanan
Siapa yang tahan melihat bibir sepsi tepat di hadapan?
Seluruh pandangannya hanya ada wajah Linggar. Hingga sesuatu lembut kembali terasa di bibirnya.
Linggar mendarat tepat di bibirnya.
Wajah itu terlihat menjauh dan kembali tersenyum kearahnya. Lalu kembali mendekat, dan rasa itupun kembali ia rasakan di bibirnya.
Rindi membulatkan mata sepenuhnya
saat merasakan gigitan di sana sebelum Linggar melepaskan rambut dan menjauh.
Si alan. Linggar semakin berani padanya. Mungkin karena selama ini ia hanya berdiam diri saat Linggar menyerangnya secara sembunyi-sembunyi dan mendadak.
Hemmm, tunggu saja pembalasku.
Linggar menyapu bibirnya dengan tissu, lalu merenggangkan tangan ke samping kiri dan kanan.
“Egggghhhh. Sepertinya aku butuh semangat dari anggotaku.” Ucapnya tanpa menghiraukan wajah cemberut Rindi yang masih berjongkok di balik mejanya.
Semua mata kini beralih menatap Linggar. Ada yang tersenyum, namun adapula yang menatap kaget saat mendengarnya
“Semangat buat pak Linggar!” Ucapan nyaring dari Kamil sambil mengepalkan tangan.
“Ck. Aku suka gayalo!” Linggar menunjuk
Kamil dengan telunjuk dan jari yang keatas —simbol menembak.
“Semangat buat pak Linggar.” Mbak Tia.
“Semangat pak!” Ayupun tak tinggal diam.
“Thank’s buat dukungan kalian. Pastinya energiku sudah terisi penuh.”
Bersama dengan Rindi yang bangkit dengan berkas di tangan lalu di letakkan di meja kerja Linggar.
Wajah itu sudah tak cemberut lagi. Meskipun rasa kesalnya belum juga hilang, namun wajah harus tetap dikondisikan. Jangan sampai membuat yang lain curiga padanya.
“Kamu belum ngasi aku semangat.” Ucapnya pada Rindi yang telah beralih ke sisi kirinya.
Rindi berbalik, kini pandangan mereka kembali bertemu.
Linggar masih tersenyum. Tak merasa berdosa dengan apa yang baru dilakukannya pada wanita itu.
__ADS_1
“Semangat pak!” Ucapnya dengan mengepalkan tangan. Memberikan semangat pada Linggar meskipun dengan mata melotot tajam. Rasa siap jika dia harus mengulek-ulek kepala itu sekarang juga.
Sementara Linggar menahan tawanya saat melihat ekspresi Rindi. Pasti ada rasa kesal tertahan di sana.